JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kalian Meremehkanku?


__ADS_3

Ternyata, lempeng baja pada sumur mati itu berfungsi sebagai alat pengangkut, lebih mirip lift di era modern. Saat lempeng baja itu menyentuh dasar sumur, tiba-tiba saja ada pintu yang terbuka pada dinding dasar sumur. Itulah pintu menuju markas sekte Naga Merah. Ternyata, alasan sekte Naga Merah kerap disebut sebagai sekte misterius adalah disebabkan letaknya sangat tersembunyi, berada di bawah tanah.


Begitu memasuki pintu bawah tanah itu, dua orang penjaga menyambut mereka berdua dengan mata penuh selidik.


“Orang ini membawa pesan dari tetua Shou untuk disampaikan kepada Matriark. Tolong izinkan dia masuk!” gadis bernama mei menjelaskan kepada penjaga pintu masuk yang seolah hendak menghalangi langkah mereka.


“Tunggu dulu, Nona. Aku ingin memastikan bahwa dia benar-benar bukan mata-mata..” salah satu penjaga pintu itu segera meminta Gentayu berbalik ke menghadap ke belakang untuk diperiksa setelah menunjukkan lencana pengenal tetua Shou.


Setelah diperiksa dan tidak terdapat hal yang mencurigakan, penjaga itu mempersilakan keduanya memasuki markas. Markas itu ternyata sangat luas. Hampir sama luasnya dengan sebuah desa kecil. Jarak antara dasar tanah dengan langit-langit markas tersebut setinggi kira-kira cukup untuk dibuat bangunan hingga empat lantai bahkan lebih.


Di dalam markas tersebut ternyata tidaklah pengap walaupun terletak di bawah tanah. Sirkulasi udara mereka ternyata dihubungkan langsung dengan permukaan melalui pipa-pipa bambu, yang di bagian permukaan tanah disamarkan dengan tanaman hutan.


Penerangan di dalamnya juga cukup baik, dengan mengandalkan sesuatu yang bercahaya sangat terang di dalam tabung kaca besar. Sepertinya cahaya itu dihasilkan dari sesuatu yang sangat panas di dalam tabunh menggantung di tengah-tengah langit markas. Berfungsi memberikan kehangatan sebagaimana hangatnya matahari pagi.


Terdapat banyak bangunan-bangunan didalamnya. Tak ubahnya bangunan di desa-desa lainnya di tempat itu juga terdapat beberapa bentuk bangunan dengan arsitektur yang sangat unik.


Di dalam markas tersebut, bahkan ada beberapa lahan yang dimanfaatkan sebagai kebun tanaman obat dan sedikit tanaman pangan. Semuanya mengandalkan hangat dan cahaya dari sesuatu yang berfungsi sebagai sumber cahaya di dalam tabung di tengah-tengah langit markas. Beberapa tanaman pohon juga tampak timbuh baik di halam tiap-tiap rumah yang ada.


Setelah berjalan cukup jauh menyusuri jalanan pemisah antar blok, tibalah mereka berdua di sebuah komplek bangunan paling besar dan paling megah. Pada halamannya yang cukup luas, banyak pemuda dan pemudi yang sedang bermeditasi, sebagian berlatih beladiri dan fisik, dan beberapa orang tampak membersihkan beberapa bagian halaman.


Gentayu memasuki pelataran luas itu sebelum akhirnya menaiki anak tangga menuju ruang besar yang difungsikan sebagai aula pertemuan. Terdapat sebuah meja bundar di salah satu sudut aula, dengan kursi kayu sejumlah 12 buah. Mungkin, itulah tempat biasanya para petinggi sekte menggelar pertemuan. Sisanya, ruangan luas tersebut hanya berupa hamparan lantai luas yang kemungkinan adalah tempat berkumpulnya anggota sekte saat diadakan pertemuan besar.


Gentayu di minta menunggu di depan pintu aula pada sisi bagian dalam, namun tidak dipersilakan untuk duduk. Hanya diminta menunggu dengan berdiri. Sementara gadis bernama Mei pergi untuk mengabarkan kedatangan dan maksud Gentayu kepada pengurus sekte. Tak menunggu lama kemudian, seorang wanita cantik berambut putih dengan jubah yang juga berwarna putih memasuki ruangan itu diikuti dua orang lelaki paruh baya berpakaian seragam yang serupa dengan wanita tersebut. Terdapat lambang naga merah kecil pada punggung ketiganya.


Wanita itu menoleh kepada Gentayu, memperhatikan seperti sedang menyelidikinya dari ujung rambut pemuda itu hingga ke ujung kakinya. Lalu kembali lagi dari ujung kaki ke ujung rambut. Gentayu sebenarnya merasa risih diperlakukan seperti itu, namun dia hanya mendiamkannya saja. Dia menduga, wanita inilah matriark atau pemimpin sekte ini.


“Apa kau pemuda yang disebut membawa pesan dari Saudara Shou?” wanita itu kemudian membuka percakapan.

__ADS_1


“Benar, Nyonya. Maaf, Apakah saya sedang berbicara dengan Matriark Sekte Naga Merah?” Gentayu bertanya jujur karena dia memang tidak mengenali lawan bicaranya.


Namun ternyata, respon yang diterimanya dari wanita itu di luar dugaan. Wajahnya mendadak berubah masam dan cemberut.


‘Apakah aku salah bicara?’ Gentayu segera mencari dan mengingat-ingat kesalahan pada kalimatnya barusan. Namun dia tidak berhasil menemukannya.


Di belakang wanita itu, kedua orang laki-laki yang mengiringinya terlihat menahan tawanya dan berusaha menyembunyikannya. Sepertinya ada yang salah, tapi apa?


“Perkenalkan, aku Nona Hao Lim. Matriark Sekte Naga Merah!” Wanita itu akhirnya memperkenalkan diri dengan penekanan pada kata ‘nona’ di depan namanya.


“Maafkan ketidaksopananku, Nona. Namaku, Gentayu. Murid Ki Brajawana, pendekar Matahari Emas. Aku datang karena membawa amanat dari tetua Shou...” Gentayu memberikan penghormatannya sekaligus meminta maaf karena menyadari kesalahannya dalam memanggil matriark itu.


“Silakan duduk, tuan Gentayu” Matriark Lim mempersilakan tamunya untuk duduk dan berbincang di meja besar.


Meja besar dan biasa dipergunakan para petinggi sekte untuk melakukan pertemuan itu segera diiisi oleh mereka berempat di keempat penjuru mata angin berbeda. Gentayu duduk pada sisi yang berhadapan dengan Matriark Lim sedangkan kedua tetua yang menemaninya duduk pada kedua sisi berbeda.


Setelah menghela nafas panjang, Gentayu mulai menceritakan semua yang diketahuinya. Diawali dari saat pertama melihat tetua Shou di depan penginapan di kota Sei Asin, kejadian malam saat menghadapi orang-orang Bintang Merah, hingga tentang Tabib Mo yang berakhir di tangan Karang Setan. Semua perjalanannya diceritakannya, tentu dengan tetap merahasiakan pertemuannya dengan Samhuri, sang Pendekar Syair Kematian serta identitas Pendekar Jari Petir yang baginya tidak harus diketahui orang lain.


“Jadi, sebenarnya aku belum mengetahui bagaimana nasib beliau terakhir kali. Namun sepertinya, tewasnya Tabib Mo yang merawat beliau cukup untuk menjelaskan nasib yang dialaminya. Namun begitu, aku tidak berani memastikannya, nona..” Gentayu mengakhiri ceritanya.


“Beliau, hanya menitipkan dua benda ini..” Gentayu mengeluarkan dua benda titipan tetua Shou. Satu lencana pengenalnya dan satu buntelan kecil dalam kain berwarna putih.


Semua mata yang hadir di ruangan itu terbelalak saat Matriark membuka buntelan kecil tersebut.


“ini.. ini.. ternyata, tetua Shou benar-benar berhasil merebut kembali segel itu” seru seorang di antara tetua yang mendampingi Matriark.


Gentayu yang tidak tahu menahu hanya memandangi tiga orang petinggi sekte tersebut dengan kening berkerut. Sebuah segel, apa istimewanya? Direbut kembali dari siapa?tapi semua pertanyaan itu tidak jadi diutarakan dalam pertemuan tersebut.

__ADS_1


“Satu lagi, nona matriark dan tetua sekalian. Ada informasi penting lain yang harus kalian ketahui. Dalam perjalananku dua hari lalu, aku bertemu dengan salah satu teliksandi kerajaan. Dia mengabarkan bahwa padepokan Bambu Hijau telah diserang dan dihancurkan kelompok aliran hitam. Sayangnya, target mereka berikutnya adalah sekte Naga Merah ini". Gentayu menghela nafas sebelum melanjutkan, "Dan saat ini mereka telah mulai bergerak menuju kemari. Sepertinya itu berkaitan dengan segel atau apalah yang dicari oleh Karang Setan. Aku yakin pendekar sepuh itu memiliki hubungan dengan sekte Rambut Iblis!” alih-alih menanyakan tentang seluk beluk segel yang dibawanya, Gentayu justru menyampaikan informasi lainnya.


Informasi Gentayu itu berhasil menghapus wajah antusias para tetua dan matriark ketika melihat segel beberapa detik lalu. Wajah tegang kini menghiasi masing-masing petinggi sekte itu. Sepertinya, bahkan informasi musnahnya padepokan Matahari Emas juga belum sampai di tempat ini.


“Benarkah yang kau sampaikan, tuan Gentayu?” Tetua berjanggut putih bertanya seolah tidak mempercayai informasi tersebut. Entah pada bagian yang mana.


“Semua yang kusampaikan adalah benar. Baik tentang tetua Shou, maupun tentang penyerangan kelompok aliran hitam. Perguruan Matahari Emas bahkan telah musnah sebelum Bambu Hijau..” Gentayu meyakinkan.


“Kuharap, Matriark memikirkan cara mempertahankan sekte. Saranku yang terbaik adalah mengungsikan seluruh sekte. Sebab, menghadapi mereka bukan pilihan yang bijak saat ini mengingat besarnya kekuatan mereka. Selagi kalian mengungsikan sekte, aku akan menghadang mereka. Tentu saja aku akan butuh bantuan pendekar terkuat untuk melakukannya..” Gentayu menyampaikan pandangannya.


Dia melanjutkan penjelasannya dengan membandingkan kekuatan masing-masing. Bagaimanapun mengetahui perbandingan kekuatan mereka jika harus berhadapan dengan aliansi aliran hitam itu penting. Tetua Shou-pun bahkan terluka parah saat menghadapi ketua Bintang Merah. Sedangkan Karang Setan, kekuatannya seorang diripun tak sanggup dihadapi oleh Gentayu yang dengan mudah mengalahkan ketua Bintang Merah. Bahkan setelah Gentayu bersama dengan orang-orang terkuat dari Bambu Hijau sekalipun.


Ada sorot mata tidak senang pada tetua berkumis. Tentu saja dia meragukan klaim kemampuan Gentayu dan perbandingannya dengan tetua Shou, Bintang Merah, Bambu Hijau dan Karang Setan barusan. Dia bahkan berfikir pemuda dihadapannya ini sedang membual dan mengarang cerita. Tapi dia berusaha menyembunyikan sikapnya yang meremehkan Gentayu.


“Apa tidak berlebihan menganggap kami tidak mampu menghadapi musuh yang kau bilang bisa kau robohkan, anak muda. Aku yakin, saat itu tetua Shou hanya sedang dicurangi saja dan kau hanya kebetulan saja bisa mengalahkan ketua kelompok Bintang Merah itu, bukan? Tentu saja ketua itu sudah lemah karena menghadapi tetua Shou!” Tetua yang terlihat meremehkan Gentayu itu menampakkan keraguannya atas pilihan untuk mengungsi dari Gentayu.


“Baiklah. Mari kita buktikan!” Gentayu bicara dengan yakin. Dia memahami arah dan maksud dari tetua berkumis tersebut. Wajar bila orang meragukan kemampuannya karena usianya yang masih sangat muda itu.


Gentayu segera berdiri dan memberi hormat kepada sang matriark.


“Maafkan saya nona Lim. Tapi saya kira, pembuktian adalah jalan terbaik atas pendapat saya untuk mengungsi saja barusan. Silakan, para tetua mengajari saya cara bertahan, atau para tetua boleh juga mengajari saya cara melawan musuh yang akan datang nantinya..” itu adalah kalimat menerima tantangan dari Gentayu atas ucapan tetua berkumis untuk membuktikan kemampuannya.


Kalimat itu tentu saja ditujukan bukan hanya kepada para tetua saja, namun juga kepada sang matriark. Tapi Gentayu mendapati informasi dari tetua Shou bahwa sang matriark bukanlah yang terkuat di antara para tetua sekte. Maka pandangannya kemudian dialihkan kepada dua orang tetua tersebut.


Sang tetua berkumis memberi hormat terlebih dahulu kepada matriarknya sebelum melompat menyusul Gentayu yang telah terlebih dahulu keluar dari ruangan pertemuan itu.


Nb. Terimakasih atas segala bentuk dukungan kalian..

__ADS_1


__ADS_2