JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Merampok


__ADS_3

Mata semua orang di panggung kehormatan beralih kepada Putri Cendrawani yang menjerit.


Menggunakan tusuk konde gading miliknya, putri cantik itu menyerang Gentayu.


“Sekalipun kau mendapatkan cincin itu, jangan harap bisa memilikiku!!” katanya setengah berteriak. Serangannya terhadap Gentayu semakin sengit. Gadis cantik itu terlihat serius ingin membunuh Gentayu.


Melihat keributan itu, para pengawal segera mengepungnya.


Mereka mengira, Gentayu adalah penyusup. Tapi mereka segera sadar bahwa orang yang dikira penyusup itu adalah orang yang sama yang telah berubah menjadi sepuluh sosok dan berhasil mengambil cincin sayembara di kepala patung raksasa. Dia adalah pemenang sayembara.


Dalam pandangan orang-orang, Gentayu muncul di tempat itu setelah kesepuluh duplikatnya menghilang menjadi asap pasca berhasil merebut cincin.


Mereka tidak melihat secara detail pastinya, karena perhatian mereka terpaku pada patung batu dan sepuluh sosok duplikat Gentayu yang mengeroyoknya.


Bahkan sebagian baru menyadari keberadaan Gentayu di panggung kehormatan setelah mendengar teriakan Cendrawani yang menyerag Gentayu dan berakhir dengan pengepungan ini.


“Ho,ho, ho.. beginikah pemenang sayembara mendapat sambutannya?” Gentayu tersenyum mencibir ketika beberapa mata tombak dan pedang menempel di leher dan tubuhnya.


‘Plok! Plok! Plok!


Terdengar suara tepukan, begitu mengetahui itu adalah sang prabu Jayadilaga, para pengawal segera beringsut melepaskan Gentayu.


Wajah Putri Cendrawani sangat kesal. Dia merasa Gentayu mencuranginya dalam sayembara ini. Mengejutkannya hingga dirinya kehilangan kendali atas patung dan kekuatannya.


Lagipula, gadis jelita ini memang tidak tertarik menjadi pendamping pangeran dan putra mahkota berbagai kerajaan yang berbondong-bondong melamarnya. Mengapa pula kini dia harus menerima seorang adipati yang tidak jelas wilayahnya?


Isu tentang Gentayu telah menjadi perbincangan di antara para penghuni istana. Para pejabat dan pangeran merasa bahwa keberadaan kadipaten Gunung Padang yang diaku sebagai wilayah Gentayu tidak benar.


Secara faktual, Gunung Padang memang berada di bawah kadipaten Darmaraja. Hanya sebuah Gunung, bukan kadipaten seperti diaku oleh Manik Baya.


Isu memanas, bahkan ada beberapa bangsawan yang berusaha mengompori baginda untuk menghukum Manik Baya karena dianggap memberontak dan mendirikan wilayah perdikan sendiri. Untungnya, baginda tidak terpancing emosinya dan segera meredam masalah itu.


“Ayahanda, maafkan anandamu ini. Ampuni kelancangan hamba. Tapi, hamba tetap tidak akan mau menikah dengan adipati abal-abal ini! Sekalipun dia memenangi sepuluh kali sayembara!”

__ADS_1


Kalimat yang diucapkan Cendrawani mengagetkan semua orang.


Bangsawan di dalam istana dan kerabat raja menduga alasan sebenarnya di balik penolakan ini adalah status Gentayu tak memenuhi syarat sebagai bangsawan yang layak menjadi peserta sayembara sejak awal.


Sedangkan dalam hati Cendrawani, dia tak mau menjadi istri adipati Gunung Padang ini karena dirinya telah mencintai orang lain. Sayangnya, orang tersebut bahkan tidak menjadi salah satu peserta sayembara ini. Beruntung, dia menemukan alasan penolakan yang kuat. Gentayu bukanlah adipati yang sah!


Gentayu yang menerima penolakan ini hanya tersenyum. Akalnya tengah bekerja memanfaatkan momen ini untuk mendapatkan keuntungan sekali lagi.


Sejak awal, dia memang tidak berminat dengan Sayembara ini. Dia mengikutinya hanya karena ingin membuktikan pada Manik Baya bahwa dirinya tidak lemah. Dan sebenarnya, hadiah utama yang diidamkan telah diraihnya. Menembus level pendekar langit.


“Baiklah, kalau tuan putri tidak berkenan. Saya tidak akan memaksakan hak saya” ucap Gentayu lantang dengan penekanan pada kata ‘hak saya’.


“Tapi saya tahu, gusti prabu orang yang bijak sana dan memiliki nama besar seantero negeri. Dan di sini, ada banyak perwakilan dari negeri jiran dan negeri-negeri jauh selain para adipati dan raja bawahan. Maka, saya akan menerima penolakan tuan putri ini, yang telah menyinggung harga diri guru saya dan juga rakyat Gunung Padang. Tapi dengan syarat, saya akan menerimanya hanya apabila saya mendapatkan ganti rugi yang sesuai. Bukan begitu, guru?” Gentayu melontarkan kaimatnya dengan lantang dan meyakinkan. Lalu menyeret nama besar sang prabu dan Manik Baya yang difikirnya akan melindunginya.


Manik Baya manggut-manggut sambil tetap tersenyum lebar. Mulai mengagumi kecerdasan Gentayu.


Sementara sang raja terlihat cemas melihat ekspresi Manik Baya. Senyum lebarnya seolah meremehkan namun juga mengancam menurut sudut pandang Jayadilaga.


Dia segera maju hendak menampar putri Cendrawani, namun langkahnya dicegah oleh Patih Mangkubumi dan pangeran Jatilaga.


Wajah penuh kemurkaan tampak jelas pada mimik muka sang raja. Bahkan Cendrawani yang semula terlihat berapi-api pun kini menunduk ketakutan karenanya.


Raja terlihat menghela nafas panjang. Lalu dengan suara bergetar berkata “Katakan, apa bentuk ganti rugi yang kau inginkan, nanda adipati. Aku akan mengabulkannya jika itu berupa benda berharga sekalipun. Katakan, emas, intan, berlian atau apa?.” akhirnya, prabu Jayadilaga berhasil mengendalikan emosinya.


“Terimakasih yang Mulia. Untuk permintaan ganti rugi dimaksud, biarlah guru hamba yang memutuskan untuk hamba, gusti..” Kata Gentayu sembari menghaturkan sembah terimakasih. Lalu beringsut mundur.


Sekali lagi Manik Baya merasa kagum dengan kecepatan berfikir Gentayu.


‘Sepertinya, pemuda ini lebih pintar dari yang terlihat. Dia sengaja menyuruhku memilihkan hadiah untuknya karena minimnya pengalamannya. Benar-benar cerdas..’ batin Manik Baya sambil beranjak berdiri.


Sedikit kericuhan di atas panggung kehormatan itu jelas sekali tertangkap oleh mata para hadirin. Namun segala sesuatu yang dibicarakan selanjutnya di atas panggung itu sama sekali tidak diketahui. Mereka hanya akan tahu, bahwa pemenang sayembara tidak jadi menikah dengan sang putri.


“Yang Mulia. Putri anda tentu lebih berharga dari apapun yang baginda miliki saat ini. Kira-kira, apakah sepadan kalau murid saya menginginkan Sampur (selendang) Jalasutra milik baginda?” Prabu Jayadilaga mundur dua langkah.

__ADS_1


Sampur atau selendang Jalasutra adalah salah satu pusaka berharga yang dimiliki. Seharusnya, tak ada yang mengetahui dirinya menyimpan pusaka itu selain sang permaisuri saja. Merasa tak akan bisa menarik ucapannya di hadapan begawan ini, dengan berat hati prabu Jaya dilaga melepas mahkotanya.


Di balik mahota tersebut, kepala Jayadilaga dibalut oleh selendang yang membentuk ‘udeng’ di kepalanya. Itulah sampur jalasutra yang dimaksud Manik Baya.


Jayadilaga melepas lilitan demi lilitan dari Sampur Jala Sutra di kepalanya dengan berat hati. Lalu diserahkan dengan takzim kepada begawan Manik Baya.


Manik Baya segera meraihnya, lalu menyerahkannya kepada Gentayu.


“Ini. Kau jaga dia seperti kau menjaga Cendrawani yang kau impikan sejak lama..” Manik Baya sengaja membuat seolah-olah Gentayu belum menerima ganti rugi sepadan karena harus melepaskan pujaan hatinya.


Gentayu menerima sampur tersebut dengan wajah seolah dirinya merasa berat hati dan tidak rela. Wajahnya dilipat seolah dirinya masih dirugikan dengan pertukaran itu. Padahal dalam hatinya, dirinya girang bukan main.


Sampur Jala Sutra adalah sebuah selendang sakti. Kemampuannya sebagai senjata dan pertahanan nyaris tiada banding. Di perpustakaan kerajaan Lamahtang, Sampur Jala Sutra bahkan disebutkan sebagai sebuah pakaian dewa yang membuat dewa pemakainya tak tertandingi.


“Kenapa, nanda adipati. Apakah masih kurang?” tanya Sang Raja selanjutnya melihat mimik muka guru dan murid dadakan yang tengah bersandiwara itu seolah menunjukkan ketidakpuasan.


“Baginda. Kami akan pulang dengan perasaan malu setelah ini. Bisakah baginda memberikan salah satu Wilmana baginda agar kami bisa pulang tanpa bertemu manusia?” Pinta Manik Baya tanpa ragu.


Wilmana adalah sejenis pusaka yang bisa digunakan terbang dan mengangkut manusia serta senjata. Permintaan Manik Baya ini benar-benar membuat kepala jayadilaga berdenyut.


Satu wahana Wilmana atau walimana, itu lebih berharga daripada seratus ekor gajah, serta menandingi seratus siluman burung pengangkut dalam perang!


Dan Giri Kencana saat ini hanya memiliki lima buah Wilmana tersebut.


**Nb. Jiiaaaah.. Kemalaman Up-nya..


xixixixixi...


Semoga berkenan.


Jangan lupa dukungannya..


Terimakasih atas semua voters

__ADS_1


Akhirnya, bisa juga lolos dari jebakan rangking 400 besar😁**


__ADS_2