
“Tuan putri baik-baik saja. Baginda tak perlu terlalu mencemaskannya. Dia hanya butuh istirahat saat ini. Besok pagi, mudah-mudahan dia akan kembali pulih..” Kata tabib Istana melaporkan kondisi
Cendrawani pada prabu Jayadilaga selepas memeriksa kondisinya.
Penjelasan singkat dari tabib ini cukup melegakan keluarga istana.
Tabib juga menjelaskan bahwa dia tidak menemukan ada tanda-tanda serangan secara fisik. Namun untuk lebih jelasnya, tabib itu menyarankan agar pemeriksaan lanjutan dilakukan kembali setelah putri cendrawani siuman.
Selama menunggu sang putri siuman, beberapa kali patih Mangkubumi menemui kaisar untuk menyampaikan beberapa laporan.
Raja memang memerintahkan teliksandi istana menyelidiki latar belakang Gentayu. Setelah mengetahui Gentayu bukanlah bangsawan, rasa penasaran prabu Jayadilaga terhadap sosok pemuda itu semakin besar.
Pada malam itu juga, akhirnya patih mangkubumi memahami alasan sang prabu begitu menghormati dan menuruti segala perkataan Manik Baya.
“Dia adalah sang dewa gunung..” begitulah Prabu Jayadilaga menjelaskan sikapnya.
Menurut raja, dalam catatan keluarganya, sosok dewa gunung selalu muncul sepanjang sejarah kerajaan Giri Kencana sejak ratusan tahun lalu.
Kemunculanya selalu dalam wujud yang berubah-ubah, namun ciri utamanya selalu sama. Memiliki kendaraan berupa awan dan tidak pernah menampakkan diri sendirian. Selalu akan ada seseorang yang mendampinginya.
Tak banyak rakyat jelata yang mengetahui sosoknya, namun seluruh penghuni istana mengenal dan memuja Dewa Gunung sebagai pelindung kerajaan.
Bahkan patung raksasa di alun-alun itu adalah patung sang dewa gunung itu sendiri, dalam wujud seorang penguasa yang gagah.
Dan akhirnya, di masa pemerintahan prabu Jayadilaga saat ini, sang dewa gunung muncul sebagai seorang begawan dengan murid yang bernama Adipati Gunung Padang sebagai pendamping.
Orang lain akan mempercayai bahwa sosok adipati Gunung Padang itu nyata adanya sebagai murid Begawan Manik Baya.
Tapi raja yang telah mencapai level pendekar suci itu mengetahui bahwa adipati yang digadang-gadang sebagai murid Manik Baya itu hanyalah klona atau wujud lain dari Manik Baya sendiri.
Maka saat Gentayu datang bersama Manik Baya, kepercayaan Jayadilaga bahwa sang Dewa Gunung dan Adipati Gunung Padang itu sebagai satu orang yang sama nyaris luntur.
Rupanya, Manik Baya benar-benar memiliki seorang murid.
__ADS_1
Sayangnya, kemampuan teliksandi istana dalam mengumpulkan informasi terkait jati diri murid
Manik Baya sama sekali nol. Tak ada informasi apapun yang mereka peroleh, bahkan setelah sebulan berlalu.
Cendrawani sendiri hanya butuh waktu istirahat semalam untuk kondisinya bisa benar-benar pulih.
Tabib Istana kembali mendatanginya guna memeriksa kondisi putri cantik jelita itu lebih lanjut. Dan hasilnya sesuai dugaan sang tabib sebelumnya, tak ada gejala serangan apapun terhadap sang putri.
Menyadari sang putri baik-baik saja, tabib istana segera pamit dari kaputren.
Tapi setelah semua peristiwa tersebut, perubahan sikap terjadi pada diri Cendrawani.
Putri Istana yang awalnya selalu terlihat anggun, cerdas, dan penuh percaya diri sehingga kadang terkesan angkuh itu kini jadi pendiam.
Waktunya lebih banyak digunakan melamun di sela-sela kebiasaan barunya merajut benang di halaman istana kaputren. Iya, Cendrawani memang tengah menekuni hobi barunya, merajut.
Namun kemampuannya tak kunjung meningkat setelah sayembara usai. Padahal, Cendrawani awalnya sangat bersemangat dan cukup cepat memahami seni merajut yang diajarkan guru seninya.
Mereka akhirnya mengadukan perubahan sifat dan sikap sang putri kepada permaisuri, namun permaisuri juga telah kehabisan akal untuk memulihkan kondisi Cendrawani kebali menjadi gadis yang periang dan penuh percaya diri.
Sebuah kejadian menghebohkan seisi istana terjadi sepuluh hari setelah sayembara berakhir.
Putri Cendrawani dilaporkan oleh emban dan para dayang telah menghilang dari kamarnya. Segera saja, seisi istana menjadi geger. Seluruh prajurit penjaga dikerahkan memeriksa seluruh sudut istana hingga keluar tembok kotaraja.
Pencarian terus berlangsung hingga seminggu berikutnya. Namun belum ada tanda-tanda sang putri bakal ditemukan. Permaisuripun kemudian jatuh sakit karenanya.
Akhirnya, raja memerintahkan sebuah pasukan khusus terdiri dari para prajurit pilihan untuk memperluas pencarian ke seluruh wilayah kerajaan.
Perintah raja kepada mereka jelas, “temukan atau tidak pernah kembali”.
+++++++
Ketika istana Giri Kencana tengah digegerkan dengan berita menghilangnya sang putri Cendrawani, di daerah bernama Darmaraja, Gentayu tengah bermeditasi untuk menstabilkan kekuatan baru di dalam tubuhnya.
__ADS_1
Kekuatan Pedang Naga Api meluap luap dalam dirinya, membuatnya harus dibantu Manik Baya untuk melakukan penyelarasan agar kekuatan yang terlalu besar itu tidak membunuhnya.
Saat masih di Girinata (nama ibu kota Giri Kencana), Gentayu mendapatkan kekuatan tersebut tanpa sengaja. Nyaris kehilangan kesadaran bahkan nyawanya nyaris melayang andai Manik Baya tidak segera bertindak dengan menyegel kekuatan tersebut.
Kini, kekuatan yang meluap-luap itu sedang berusaha ditaklukkan oleh tubuh Gentayu. Manik Baya, lagi-lagi turun tangan mengatasi hambatan yang dialaminya.
Segel pada tubuhnya dibuka perlahan, sehingga lonjakan kekuatan Naga Api dapat diserap secara berangsur angsur. Meskipun tetap sama menyakitkannya terlalu memaksakan dirinya menyerap kekuatan maha besar tersebut, namun akhirnya Gentayu berhasil menaklukkan kekuatan itu di dalam tubuhnya.
Berkat dorongan dari kekuatan Pedang Naga Api dan bantuan Manik Baya, Gentayu akhirnya berhasil mencapai kekuatan puncak pendekar langit. Hal yang hampir mustahil dan tak pernah terbayangkannya diraih hanya dalam waktu kurang dari sebulan petualangannya.
“Bukan keberuntungan, Nak Gentayu. Bukan.. Tapi kau yang menarik ksemua keberhasilan itu datang pada dirimu sendiri. Kau menciptakan peluangmu sendiri. Dan kau telah menyiapkan wadahmu sendiri untuk menerima takdirmu. Tidak, tidak, tidak.. Bahkan kau menciptakan takdirmu sendiri..” Manik Baya memberikan petuahnya saat Gentayu selesai dengan aktivitas meditasinya.
“Kau hanya memerlukan sedikit dorongan dari luar sekali lagi untuk menembus level pendekar langit dan mencapai level pendekar alam. Kondisimu cukup unik. Elemen petir dalam dirimu sepertinya mulai mengaktifkan diri terpicu dari gejolak akibat pengaruh Naga Api dalam dirimu.. yang tak kau sadari juga, selain api dan petir, kau juga memiliki elemen tanah yang berpotensi berkembang jika mendapatkan guru yang tepat..”
Manik Baya masih menyembunyikan identitasnya kepada Gentayu. Dia tetap berperan sebagai seorang begawan, sekalipun seluruh istana telah mengenalinya sebagai dewa gunung.
Gentayu sendiri tak ambil pusing dengan latar belakang Manik Baya, sebagaimana diapun tak ambil pusing dengan lidentitas misterius Gola Ijo. Baginya, kebaikan adalah kebaikan walaupun didapatkan dari seorang penjahat sekalipun.
Mantan anggota militer Lamahtang ini sama sekali tak menyadari, bahwa selama hampir tiga minggu ini dirinya dilatih oleh dewa gunung, salah satu puncak kekuatan tertinggi dari penguasa elemen tanah.
Manik Baya menyarankan Agar Gentayu juga mulai membiasakan melatih elemen petir di tubuhnya. Saat ini, kekuatan energinya masih sangat kecil, namun cukup besar jika digunakan untuk mengaktifkan Karambik halilintarnya.
Kekuatan energi elemen petirnya, baru hendak memasuki level pendekar bumi. Sangat tipis.
Untuk melatihnya, Gentayu disarankan untuk pergi ke salah satu puncak pegunungan bersalju yang sepanjang tahun disambar petir. Tapi itu adalah tempat yang jauh. Berada di daratan yang berbeda dengan tatar sunda atau sunda besar.
“Guru, kalau begitu, maka perjalanan ke sana akan memakan waktu setidaknya dua tahun, guru..” Kata Gentayu pada Manik Baya ketika mengetahui bahwa gunung petir itu berada di daratan yang tidak sama dengan daratan yang sekarang ditinggalinya.
“Sebenarnya, ada satu lokasi yang pasti lebih mudah kau jangkau. Selain itu, tingkat gangguan di sana juga lebih ringan untuk diatasi. Kebetulan tempat itu letaknya justru di duniamu berasal. Sebuah wilayah bernama Hidama..” Ucap Manik Baya sembari mengelus janggutnya.
Mendengar kata ‘Hidama’ yang berada di Benua Tengah pada dunia di mana dirinya dibesarkan, Gentayu menjadi antusias.
“Aku ingin memberikanmu Kumolo, si awan putih serupa asap itu.. tapi Kumolo itu adalah kenang-kenangan dari guruku ketika aku berada di level pendekar alam. Lagipula, dia tidak bisa digunakan menembus batas dimensi dua alam. Maka, kufikir aku akan mengajarkanmu ilmu Halimunkasa milikku saja..” Pungkas Baya
__ADS_1