
“Ah.. dasar bocah lemah..” keluh kakek cempreng melihat Gentayu tidak sadarkan diri ketika mendarat.
Lelaki itu mengibaskan kuasnya sekali lagi, melukis di udara kosong sekali lagi.
Tiba-tiba, awan hitam seukuran lima ekor gajah tercipta di atas tubuh Gentayu yang tergolek pulas. Dalam hitungan tiga tarikan nafas, awan hitam itu mengucurkan air hujan cukup deras.
Bahkan, hujan lokal itu juga disertai petir yang sekali lagi menyambar tubuh Gentayu.
Kombinasi hujan dan petir itu akhirnya menyadarkan Gentayu dari pingsannya. Pemuda itu kaget saat siuman karena menemukan seluruh tubuhnya basah kuyup.
Ketika melihat si kakek cempreng tertawa terkekeh melihatnya, Gentayu ingin melompat dan menghajar manusia eksentrik tersebut. Sayangnya, kesadarannya yang telah pulih membuatnya maasih bisa berfikir waras.
Melawan orang yang mampu memanggil hujan lokal jelas bukan pilihan bijak, begitulah fikirnya.
Akhirnya, Gentayu hanya mengumpat dalam hati. Mukanya jelas terlihat masam tak sedap dipandang.
Kakek cempreng justru tertawa semakin keras melihat ekspresi Gentayu saat itu. Membuat Gentayu semakin kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.
“Tak usah marah, anak muda. Dengan wajahmu yang sekarang, nenek-nenekpun akan melengos melihatmu, apalagi para gadis.. hehehehe..“ seolah tak mempedulikan Gentayu, kakek cempreng melangkah menuju gerbang yang besar dan terlihat mewah itu.
Ketika itulah Gentayu baru menyadari bahwa dirinya tengah berada di sebuah pintu gerbang kotaraja sebuah kerajaan.
Tak memiliki pilihan lain, dengan malas Gentayu bangkit mengikuti sang kakek. Dengan pakaian yang basah kuyup dan wajah awut-awutan.
“Heh, kau mau kemana? Mau mengikutiku dengan penampilanmu yang awut mawut ini? Sana, sana.. jauh..!” si kakek cempreng mengusir Gentayu. Sikap yang benar-benar membuat Gentayu naik pitam hingga ubun-ubun.
“Hei Kakek tua jelek! Bukankah kakek yang membuat penampilanku berantakan seperti sekarang??” tapi kata-kata ini hanya tersangkut ditenggorokan dan tidak jadi dikeluarkan.
__ADS_1
Gentayu memilih diam, apalagi setelah sesaat kemudian sang kakek mengarahkan kuas lukisnya ke arahnya dan menggerakkan kuas itu seolah tengah melukis dirinya.
Ajaib!
Penampilan Gentayu telah berubah dalam sekejap.
Pakaian dan tubuhnya yang semula basah kuyup seketika kering seolah tak pernah terkena percikan air.
Bukan hanya itu, pakaiannyapun telah berganti. Tidak lagi menggunakan jubah hitamnya, melainkan menggunakan pakaian sejenis rompi tanpa kancing. Menampakkan dada bidangnya.
Celananya juga telah berubah menjadi celana khas pasukan perang. Gentayu telah disulap menjadi seorang berpakaian prajurit, entah untuk tujuan apa.
“Kakek, apakah ini tidak berlebihan?”kali ini Gentayu benar-benar protes. Didandani ala prajurit kerajaan, yang benar saja?
Dia tak ingin lagi terjebak dalam kehidupan prajurit kerajaan yang serba diatur.
Gentayu hanya bisa menarik nafas dalam. Kini, dirinya merasa benar-benar terjebak bersama si kakek misterius di negeri antah berantah ini.
Tanpa memiliki pilihan lain, Gentayu mengekor di belakang kakek cempreng yang kini tampak berjalan dengan berwibawa sekalipun postur tubuhnya yang kurus dan botak terlihat tak mendukung.
Ketika tiba di depan gerbang, enam prajurit jaga menghadang mereka, bermaksud hendak menanyakan identitas keduanya. Namun ketika si kakek cempreng batuk berdehem, ke enam prajurit segera menyingkir dengan ketakutan.
Gentayu tentu saja keheranan dengan cepatnya perubahan sikap keenam prajurit tersebut.
‘Hanya dengan berdehem?’ Gentayu menggelengkan kepalanya. Kagum sekaligus penasaran.
“Buka Gerbang!!” teriak salah satu dari keenam orang prajurit jaga kemudian.
__ADS_1
Tak lama, suara berderik keras terdengar. Pintu gerbang setinggi lebih dari sepuluh meter berlapis baja dengan ukiran keemasan perlahan terbuka. Menampakkan bagian dari kotaraja yang ternyata sangat semarak di bagian dalam.
Bukan hanya prajurit jaga di luar gerbang yang kini menunduk penuh hormat, bahkan para prajurit di bagian dalam gerbang juga melakukan hal serupa.
‘Tampaknya, identitas kakek ini sangat tinggi di sini..’ Gentayu membatin melihat sekeliling.
Pintu Gerbang kembali ditutup di belakang mereka. Kakek cempreng sedikitpun tidak memperhatikan sekeliling sebagaimana Gentayu bersikap.
Kakek tua itu tampak fokus pada satu titik di bagian alun-alun kotaraja, di mana sebuah patung pahlawan entah siapa tegak berdiri.
Geantayu lebih asyik memperhatikan lingkungan di sekitarnya.
Kota ini cukup ramai, padahal dia yakin ini baru bagian pinggirannya saja. Namun kemewahan tampak di setiap sudut. Orang berlalu lalang, semuanya dengan pakaian yang cukup baik. Menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang dengan kehidupan makmur.
Tak terlihat pengemis maupun orang berpakaian kumal di tempat ini. Para pedagang berjajar rapi dan teratur di sisi jalan. Kota ini benar-benar tertata dengan rapi.
Beberapa kali mereka berpapasan dengan para prajurit yang lalu lalang. Semua prajurit tampak menunduk hormat ke arah mereka. Membuat Gentayu semakin yakin identitas kakek cempreng ini tidak main-main.
Ada keinginan untuk bertanya dalam fikiran Gentayu, tapi tidak dilakukannya. Diam. Itulah perintah yang diterimanya dari kakek cempreng. Sekalipun terlihat tidak berbahaya, Gentayu memiliki firasat ada bahaya tersimpan dalam diri kakek tua ini. Dan Gentayu tak ingin memantik kemarahan itu terarah padanya.
Setelah mereka melewati tugu bergambar sosok pahlawan, Dari kejauhan, seorang berpakaian ksatria nampak tergopoh-gopoh berjalan ke arah mereka, diiringi belasan prajurit.
Melihat sosok orang tersebut, fahamlah Gentayu kenapa para prajurit jaga dan juga prajurit yang bertemu mereka sepanjang jalan tampak menunduk dengan hormat.
Gentayu terlihat berpakaian sama dengan sosok yang dikawal belasan prajurit ini.
Tapi Gentayu segera menyimpan kesimpulannya tersebut di kepalanya dan mengabaikannya karena melihat pandangan sosok gagah itu lebih banyak terfokus ke arah kakek tua cempreng daripada kepada dirinya.
__ADS_1
End Arc II: Dunia Para Danyang