JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Jerangkong Ke Lima


__ADS_3

Kabut hitam terus menggumpal dan membentuk sesosok manusia jangkung yang smar.


Namun, kabut sepertinya terus mengalir hingga keberadaan sosok tubuh itupun tertutup oleh kabut hitam yang menyelimuti. Manyiratkan suasana misterius yang melingkupi kehadiran sosok tersebut.


Melihat penampakan sosok jangkung ini, Lei Ziang segera berlutut dengan sati lututnya menyentuh tanah.


“Lei Ziang, menyambut senior Jerangkong Kelima!” Kata Lei Ziang, seraya berlutut dan menundukkan muka ke lantai. Tak berani menatap sosok yang disebutnya sebagai Jerangkong Kelima di hadapannya.


“Apa kau sudah berhasil mendapatkan segel petir kepala Klan?” Suara sedikit serak terdengar dari sosok hitam di balik kabut.


“Belum, senior”


“Lalu mengapa kamu memanggilku?” kali ini, ada nada tidak senang dalam kalimat sosok hitam tersebut.


“Ada hal yang lebih penting daripada segel kepala Klan itu, Senior Jerangkong. Ini mengenai anak Sabrang Geni yang tengah diinginkan kepala Sekte..”


“Anak Sabrang Geni? Bukankah laporan menyatakan bahwa dia kemungkinan telah tewas karena tidak pernah muncul semenjak lebih dua tahun lalu di Dwipantara? Lalu di mana dia?” Mata Jerangkong ke lima menyapu ruangan, mencari keberadaan seseorang.


“Hahahaha.. itulah masalahnya, senior. Siapa sangka, hari ini tikus itu telah muncul di depan mulut singa.. hahahaha.. Dia dan temannya, putri Nakano baru saja memasuki hutan petir.”


“Apakah dia datang karena isu munculnya awan petir misterius itu? Kenapa tak langsung kau tangkap saja? Bodoh!”


“Tidak, senior. Dari kelihatannya, dia tidak menyadari isu yang disebarkan para junior klan.. dia hanya menyatakan meminjam tempat di dalam hutan petir untuk berlatih. Hah, ita..”


“Lalu, kenapa tak kau tangkap dia saja?”


“Itulah masalahnya senior. Meskipun masih muda, tak disangka kekuatannya tidak lebih lemah dari kekuatanku saat ini. Saya khawatir, hal-hal akan berujung menjadi tak terduga bila para orang tua itu menyadarinya” Lei Ziang hanya menggeleng tidak berdaya.


Sekalipun telah berlatih sejak ratusan tahun, dia bahkan gagal menyusul adiknya Lei You Won. Posisinya sebagai salah satu tetua luar saat ini diperolehnya berkat keberuntungan karena istrinya adalah putri kepala klan dari salah satu selirnya.


Di sisi lain, dia tidak ingin memancing kecurigaan dari para sesepuh Klan Petir dengan bertindak sendiri.


Saat Jerangkong ke lima nampak mengerutkan kening mendengar alasan Lei Ziang, Lei Ziang sendiri tersenyum pahit mengingat insiden berita awan petir beberapa tahun lalu.

__ADS_1


“Hah! Isu itu benar-benar memalukan! Bagaimana mungkin ada awan petir muncul tiba-tiba?


Bahkan di Great Lightening Mountain range Klan Lei hal seperti tiu tidak pernah muncul, bagaimana kehadiran benda ilahi seperti itu mungkin muncul di tempat seperti ini?” Lei Ziang kembali menggelengkan kepala.


Ada rona kesal di wajahnya karena gara-gara peristiwa itu dirinya nyaris dicopot dari posisinya saat ini.


Andai berita itu benar, Lei Ziang akan dianggap berkhianat karena menyembunyikan hal penting dari klan. Atau paling ringan, dia akan dicap sebagai orang yang tidak memperhatikan urusannya.


Untunglah, semua berita tentang munculnya awan petir misterius ternyata tidak terbukti dan hanya isapan jempol belaka.


“Lagi pula, para tetua klan juga telah memeriksa berkali-kali kebenaran isu tersebut sebelum menyegel berita bohong itu agar tidak menyebar. Ini benar-benar memalukan dan memukul reputasi Klan petir jika berita konyol seperti itu tersebar keluar!”


Lei Ziang ingat betul saat dirinya diinterogasi oleh dewan tetua di bawah ancaman pencopotan dari jabatannya sebagai tetua luar yang mengurusi hutan petir ini. Dewan tetua bahkan mengancamnya dengan hukuman berat karena dianggap menyembunyikan informasi dari Klan.


Semua bermula, dari gagalnya sembilan dari empat puluh generasi muda klan petir dalam latihan luar yang digelar tiap tiga tahun sekali.


Mereka yang dikirim ke hutan petir di Hidama ini adalah para individu kurang berbakat, namun masih memenuhi syarat sebagai keluarga klan dalam. Sementara mereka yang lebih berbakat, akan menikmati pelatihan di great Lightning Mountain Range di dalam wilayah Klan Petir.


Sembilan orang itu mengaku gagal mencapai tingkat minimal sebagai generasi muda klan dalam, yaitu level pendekar langit, setelah berlatih selama delapan bulan.


Mereka mengaku, bahwa bukan saja mereka tidak mampu menyerap Qi ke dalam tubuh mereka, bahkan Qi di tubuh mereka justru diserap oleh awan petir misterius.


Awan petir misterius sendiri, diyakini hanya sebatas mitos dan ditulis di buku-buku legenda Klan Petir karena tidak adanya catatan dan bukti kemunculannya sejak puluhan ribu tahun.


Penyelidikan lanjutan oleh klan kemudian menemukan bahwa kesembilan generasi muda itu ternyata keracunan sejenis jamur merah dengan efek halusinasi parah.


Beruntung para tabib di dalam klan menemukan kehadiran spora jamur dalam nadi mereka dan segera memblokirnya. Jika tidak, tubuh kesembilan orang tersebut akan berubah menjadi inang baru dari jamur merah tersebut.


“Kalau dia datang bukan karena isu awan petir misterius, lalu karena apa?” Jerangkong hidup nampak meragukan motif kedatangan Gentayu dan putri Nakano untuk hanya berlatih.


“Saya tidak tahu pasti. Tapi dia dan perempuan itu menyebut bahwa mereka ingin berlatih./”


“Hah! Pemuda yang rakus! Berlatih apa? Apakah dia berfikir bahwa petir bisa berdamai dengan elemen lain? Bahkan si jenius Alehah leluhurnya tidak bertahan lebih dari satu jam diguyur petir saat itu.

__ADS_1


Aku telah hidup cukup lama, dan menjumpai banyak orang konyol. Tapi seorang yang tidak berasal dari afinitas petir ingin berlatih di hutan petir? Hahahaha...” tawa keras Jerangkong kelima terdengar menyeramkan dri balik kabut asap hitam itu.


“Baiklah. Karena itu masalahnya. Aku hanya harus menunggunya di sini, dan menangkapnya begitu dia keluar sesaat lagi. Tak perlu payah-payah masuk dan berurusan dengan petir!” Jerangkong ke Lima menyuarakan ide sederhananya.


Menurutnya, Gentayu dan putri Nakano jelas akan keluar dalam kondisi lemah setelah dihajar oleh lautan petir di hutan petir tersebut. Berurusan dengan mereka saat itu, pasti akan semudah membalik telapak tangan, daripada dia harus menerobos masuk dan ikut menderita oleh keganasan petir.


Jerangkong ke lima juga tampak tidak mempermasalahkan Lei Ziang tidak berupaya menangkap Gentayu dan putri Nakano lagi. Dia memahami, bahwa sesuatunya bisa berubah menjadi buruk jika berita Lei Ziang berusaha menangkap orang-orang Marga Ap menyebar andai Lei Ziang gagal.


Resiko itu tidak perlu diambilnya.


Setidaknya, tidak untuk saat ini karena Lei Ziang harus tetap terlihat tidak terlibat urusan apapun dengan faksi di belakang Jerangkong ke Lima ini.


“Tenang saja, kamu tetap akan mendapatkan anugerah besar dari ketua Sekte saat aku kembali membawa bocah itu nanti. Hahahahahaha...”


Sosok hitam dalam kabut itu perlahan-lahan memudar saat tawanya yang menyeramkan terdengar.


Lei Ziang baru bisa bernafas lega setelah manusia di balik kabut perlahan menghilang di dalam bayangan salah satu sudut ruangan tersebut.


‘Dengan kehadiran orang-orang Tengkorak Merah ini, aku tidak perlu repot-repot turun tangan sendiri untuk menuntaskan dendamku pada Klan Api sialan itu!


Mereka telah menyebabkan adikku berakhir dengan kondisi menyedihkan! Bocah itu juga pangkal dari kemalangan adikku!'


Kepalan tangan Lei Ziang menjadi sangat keras saat matanya berubah menjadi merah penuh amarah sekali lagi. Niat membunuh melintas di dalam kedua mata merah itu.


+++ +++ +++


Sementara itu, kelompok Gentayu baru saja di pintu gerbang hutan petir yang berwujud dua pilar batu perak setinggi seratus meter lebih.


Lei Wei dan Lei Ming menggunakan sejenis token giok yang berfungsi juga sebagai lencana untuk membuka tirai energi yang menutup pintu gerbang dari pilar tinggi itu.


“Anak muda! aku tidak peduli apa statusmu yang membuat tetua Ziang memberimu izin memasuki hutan ini. aku hanya berpesan, berhati-hati pada para penjahat tua di dalam sana. Mereka memang sangat lemah sekarang, tapi mereka tetap saja ancaman. Semoga kalian bisa keluar nanti dengan nyawa kalian..”


Meskipun terkesan ketus dan acuh tak acuh, Lei Ming sebenarnya sangat tulus saat mengatakan pesannya sebelum membiarkan Gentayu dan putri Nakano memasuki hutan petir.

__ADS_1


Gentayu dan putri Nakano mengangguk dan berterimakasih atas nasehat yang disuarakan secara kasar tersebut. Mereka tak banyak bicara sebelum berbalik dan mulai memasuki hutan petir tersebut.


__ADS_2