
“Jadi, apa kalian masih akan melanjutkan kebisingan ini?” Hao Lim melirik kearah Gentayu dan Anjani dengan sorot mata aneh yang hanya diketahui maknanya oleh dirinya sendiri, lalu melangkah kembali ke kediaman Joh kaiman tanpa menoleh lagi, meninggalkan Gentayu dan Anjani.
Bersamaan dengan itu, para penduduk yang semula berada di luar rumah karena berisiknya suara Gentayu dan Anjani juga telah kembali masuk ke rumah masing-masing.
Tampaknya, perkampungan ini begitu terisolasi dengan dunia luar sehingga tidak terbiasa dengan suara gaduh sedikit saja di tengah malam, sekalipun hanya suara percakapan dengan nada tinggi. Dan Gentayu menyadari kesalahannya itu.
Tapi pemuda itu tidak berniat untuk kembali ke kamar.
Sebaliknya, Anjani hendak melangkah menyusul Hao Lim kembali ke kamarnya. Namun Saat dirinya melintas di depan Gentayu, pemuda itu meraih pergelangan tangannya.
“Tunggu..” Kata Gentayu dengan raut wajah seperti memohon kepada Anjani. Tangannya mencengkeram lengan kiri Anjani.
Anjani menghela nafas Panjang, lalu melirik pergelangan tangannya yang dicengkeram Gentayu. Gentayu menyadari kesalahannya, tak ingin timbul masalah baru tangan itu buru-buru dilepaskannya.
“Maaf..” Katanya buru-buru. Dengan suara lirih.
“Kau ingin tahu lebih banyak tentang dunia ini, bukan?” Anjani ternyata dapat menebak dengan tepa tapa yang difikirkan Gentayu. Pemuda itu hanya mengangguk.
“Tapi jangan memandangku dengan pandangan aneh seperti tadi..”Anjani berkata dengan nada sedikit tegas, lalu kembali duduk di bawah pohon kecapi itu.
“Aku tadi mendatangimu, memang ingin menjelaskan beberapa hal. Sebagian, mungkin akan sulit untuk kau cerna dan kau percayai. Tak masalah. Karena semuanya akan dijawab oleh waktu yang bergulir..” Kali ini Anjani berkata dengan lebih serius. Matanya memandang kearah purnama yang kini mulai ditutupi oleh awan tipis. Suasana terasa mulai lebih dingin di sana.
“Kau mungkin penasaran dengan asal-usulmu. Pertapa tua itu mungkin tak berani mengambil resiko untuk memberitahu asal usulmu. Tapi, biarlah. Engkau tahu lebih awal, kurasa akan lebih baik sekalipun mungkin akan membahayakanmu..” Anjani mulai berkisah tanpa menunggu respon Gentayu lebih jauh.
“Dunia ini, terbagi menjadi Empat benua. Benua yang kita tempati ini bernama Lemuria.
Di Selatan dunia ini adalah benua Mauritian, orang kadang menyebutnya Benua Es Selatan. Rumah bagi bangsa Mor.
Benua kedua, ada di ujung utara bernama Benua Osean. Orang juga menyebutnya Benua Es Utara walaupun wilayahnya lebih luas sebenarnya berupa lautan.
__ADS_1
Bangsa samudra adalah penduduk benua ini dengan banyak nama. Yang paling terkenal adalah suku Viking.
Tapi keturunan dan klan bangsa Samudra menyebar ke seluruh penjuru.
Legenda mengatakan bahwa beberapa dari bangsa ini bahkan bisa bernafas di dalam laut serta ada yang memiliki tubuh sebagian ikan.
Tanah yang kita pijak sekarang adalah bagian dari kerajaan bernama Sindur Kuntala, berada di Benua Lemuria bagian barat. Kadang Lemuria ini juga disebut Erosia.
Benua terakhir disebut sebagai benua Hitam, sering juga disebut Gurun Barat. Namun aku tidak mengetahui apapun tentang benua itu.
Marga Api adalah asal leluhurmu. Bahkan, kedua orang tuamu masih hidup dan tinggal di sana. Orang tuamu, adalah tokoh berpengaruh dalam klan api. Pertapa tua itu, adalah kakek buyutmu. Kurasa kau sudah tahu semua ini bukan?” Anjani kembali menyebut Datuk Rajo Narako dengan sebutan Pertapa Tua. Namun demikian, Gentayu mengangguk, membenarkan ucapan Anjani.
“Apa aku boleh bertanya?” tanya Gentayu menyela.
“Nanti dulu.. biarkan aku selesaikan ceritaku. Aku khawatir, esok atau nanti hatiku menjadi malas untuk mengungkapkan kebenaran ini..” Anjani menolak untuk memberi Gentayu kesempatan bertanya, dengan nada bicara datar dan tegas. Seolah ada kemarahan dalam nada bicaranya. Hal itu disadari Gentayu dari irama nafas Anjani yang menjadi lebih cepat. Sikap Gadis cantik di hadapannya ini benar-benar dingin.
“Pertapa Tua itu adalah pemimpin Klan di masanya. Sebutan kami untuk kepala klan adalah Datu Buana. Kau tak usah tanyakan kenapa dinamakan Datu atau Datuk Buana. Yang jelas memang begitulah kami menyebut kepala Klan. Lengkapnya adalah Datuk Buana Api.
Pendekar Alam ini, adalah tingkat selanjutnya setelah Pendekar Langit. Di atas Pendekar Alam ada tingkatan bernama pendekar Suci. Itu adalah tingkat terakhir bagi manusia, karena di atas tingkat itu adalah tingkat mandiwata atau moksa itu sendiri bagi bhakta, dan tingkat iblis bagi aliran hitam.
Biasanya, kedua jalur ini, yaitu jalur keturunan Datuk Buana sebelumnya dan Jalur Keturunan Pendekar Terkuat dipegang oleh orang yang sama. Datuk Buana biasanya sekaligus juga pendekar terkuat dengan level tertinggi.
Sedangkan Jalur ketiga, yaitu Jalur pemilihan khusus. Jalur ini berlaku bila dari dua jalur yang pertama tidak memenuhi syarat. Orang yang bisa dipilih dari jalur ini harus berkekuatan paling rendah Pendekar Alam tingkat 5.
Inilah yang terjadi sepeninggal Datuk Buana Rajo Narako.
Ayahmu, adalah pendekar terkuat. Bahkan lebih kuat dari kakek buyutmu. Tapi, beliau tidak bisa diangkat menjadi Datuk Buana Api selanjutnya, karena Kakekmu, ayahnya ayahmu yang menjabat sebagai Datuk Buana sebelumnya terbunuh oleh Penjahat bernama Mislan Katili..”
“Mislan Katili??” Gentayu terlihat sedikit terkejut mendengar nama itu.
__ADS_1
“Iya.. Mislan Katili. Pasti kau pernah mendengar Namanya..” Anjani mengalihkan pandangannya kepada Gentayu.Tentu saja, nama itu adalah nama yang sama yang disebut-sebut sebagai raja kegelapan dalam cerita salah satu gurunya, Pendekar Bulan Perak maupun dalam Kitab Matahari Emas.
Itulah sebabnya, Kakek Buyutmu, rajo Narako turun ke duniamu, maksudku Dunia kita bertemu, dengan tujuan memburu Mislan Katili. Dengan demikian, Ayahmu saat itu masih muda. Belum mencapai puncak pendekar langit, sehingga posisi Datuk Buana kemudian diambil dari jalur pemilihan khusus.
Datuk Rajo Narako, mengejar dan memburu Mislan Katili bersama enam Datuk Buana dari Marga lainnya. Keberhasilan mereka membunuh Mislan Katili membuat seluruh keturunan ketujuh orang itu, termasuk ayahmu dalam bahaya karena diburu oleh pasukan kegelapan bentukan Klan Iblis Selatan. Ayahmu yang belum terlalu kuat akhirnya memutuskan mengungsikanmu ke Dunia Dipantara berada.
Ayahmu berfikir, Datukmu akan melindungimu lebih baik daripada dirinya waktu itu.
Sayangnya, Datukmu itu terluka parah serta kehilangan terlalu banyak energi dewa atau Qi ... ”
“Maksudmu energi Alam?” Gentayu tak tahan untuk menyela.
“Ya. Energi Alam, Qi, Prana, atau energi dewa kalau menurut bahasa orang-orang di dunia ini... “ Anjani mengambil jeda setelah Gentayu menyela penjelasannya.
Gentayu menyadari kesalahannya dan segera menutup mulutnya dengan kelima jari tangan kanannya.
“Datukmu, beserta keenam kepala marga lainnya melemah terlalu jauh hingga sulit dipulihkan dengan kondisi kepadatan energi dewa di dunia itu yang sangat tipis. Hingga saat ratusan tahun kemudian ayahmu menitipkanmu padanya, ayahmu tidak dapat melacak pancaran energinya.
Ayahmu sedang dalam pengejaran musuh waktu itu. Dan.. portal ke dunia Dipantara hanya bisa bertahan kurang dari satu jam. Akhirnya, guna menyelamatkanmu Ayahmu menitipkanmu pada orang tuamu yang mengasuhmu sejak bayi.
Ayahmu berhasil selamat. Tapi, Klan Api tak lagi sama. Mereka berhasil menghabisi kekuatan iblis dan menekannya hingga mereka harus menyembunyikan diri. Itu terjadi sekitar dua puluh tahun lalu..”
“Aaah.. ceritamu terlalu panjang! Kenapa tak kau bilang saja, Ayahku berhasil menjadi pendekar terkuat belum lama ini, sementara posisi kepala Klan atau Datuk Buana tak lagi bisa diambilnya. Begitu khan lebih simpel daripada ceritamu mengalir ke mana-mana..”
“_”
“Huh! Sok Tau! Padahal, aku mau menceritakan, bahwa Ayahmu mengabdi pada orang yang salah!”
“Apa Maksudmu?”
__ADS_1
“Marga Api, para pendekarnya mulai berubah sepeninggal buyutmu dan kakekmu...”