
Sebuah perisai energi berbentuk kubah segera terbentuk di tempat jatuhnya tubuh Mislan Katili akibat ledakan dari bola hitam Xin Long.
Iblis itu nampaknya tak lagi berani meremehkan kekuatan dari senjata aneh milik Xin Long, sang dewa Alkemis besar. Bagaimanapun, ratusan tahun sebelumnya, Mislan Katili harus menelan pahitnya kekalahan dari gabungan tujuh pendekar, dan salah satu dari pendekar itu hanyalah murid dari Xin Long.
Xin Long dan Lous Shisan sama-sama menyandang gelar ‘dewa’ di depan namanya adalah karena kemampuannya yang belum tertandingi di bidang pengobatan dan alkimia. Namun, level kependekaran mereka masih sebatas Pendekar Suci, belum mencapai level dewa.
Meskipun telah menyelimuti dirinya dengan kubah perisai energi, Mislan Katili terlihat panik di dalamnya. Saat dirinya tengah mengumpulkan kembali energinya dalam naungan perisai energi itu, ternyata Xin Long dan tiga pendekar lainnya tak membiarkannya begitu saja.
Mereka terus meledakkan bola-bola hitam tersebut, berusaha menghancurkan perisai energi miliknya. Tak memberikan kesempatan pada iblis itu untuk tenang memulihkan diri.
Bola-bola hitam yang terlihat sepele itu terus menerus menghantam lapisan kubah perisai milik Mislan Katili. Awalnya, ledakan demi ledakan itu sepertinya tidak memberikan efek apapun. Namun, ekspresi yang ditunjukkan muka seram Mislan Katili menunjukkan sebaliknya.
Walau samar-samar, ledakan yang menimbulkan gempa bumi dan meruntuhkan hampir separuh puncak gunung itu nyatanya berhasil membuat retakan-retakan pada kubah energi Mislan Katili.
Kondisi itu memaksa Mislan Katili terus menerus memperbaiki pertahanannya dengan mengalirkan energi daht dalam jumlah sangat besar terus menerus. Namun semuanya sia-sia.
Tepat saat bola hitam ke empat puluh diledakkan, kubah itu tidak lagi mampu bertahan.
‘BLAR!!!’
Kubah energi itu hancur berkeping-keping. Ledakan kehancurannya menimbulkan gelombang kejut yang menyapu segala sesuatu dalam radius lebih dari dua kilometer.
Sebuah bukit kecil di tempat itu kini rata dengan tanah setelah terkena hempasan energi kejut tersebut.
Salju tebal yang menyelimuti puncak gunung dalam area luas turut longsor dalam volume yang sangat besar, berubah menjadi tsunami salju dan menghancurkan wilayah -wiayah di bawahnya.
Ribuan pendekar Dipantara yang tengah berada di bagian bawah lembah terpaksa harus menggunakan segenap kemampuannya guna menyelamatkan diri dari bencana itu. Mereka sebenarnya telah berlari menjauh ketika mendengar suara ledakan yang diikuti gempa bumi sebelumnya. Namun, mereka sama sekali tidak menduga bahwa kehancuran yang akan dialami sedahsyat ini.
__ADS_1
Suara gemuruh yang menggoncang mendahului datangnya luruhan salju. Menghapus kehidupan satwa dan tumbuhan pegunungan tersebut dalam timbunan salju.
Di pusat kekacauan itu, sosok bercahaya merah membara melayang keluar dari pekatnya asap ledakan. Kondisinya sangat menyedihkan, karena setelah kubah energinya hancur, Xin Long, Gola Ijo, Lou Shisan dan Dana Setra justru meledakkan lebih banyak bola-bola hitam kepadanya.
Sebuah kawah baru segera terbentuk akibat ledakan-ledakan tersebut.
Mislan Katili meraung kesakitan saat sebuah cambuk petir turun dari langit dan menghantam kepalanya.
“TIDAAAAAKKKKK!!! JANGAN LAGIIII….!!”
Kepala Mislan Katili segera meledak dan hancur berkeping-keping akibat terkena sambaran cambuk tersebut.
Tapi keanehan berikutnya terjadi. Kepala yang meledak hancur itu tiba-tiba berubah menjadi cahaya merah kehitaman dan melesat secepat kilat ke angkasa lalu menghilang.
Para pendekar itu segera menghentikan diri dari meledakkan bola-bola hitam milik Xin Long begitu melihat cambuk petir raksasa yang menghantam kepala Mislan Katili. Mereka mengenali cambuk itu dan pemiliknya.
“Dewa Hurata, sang pemilik cambuk petir!” Seru Gola Ijo, sedikit ketakutan dan segera berusaha melarikan diri dari tempat itu.
Langkahnya untuk kabur tidak berhasil karena sebuah gelang berbentuk emas tiba-tiba muncul di lengan kanannya dan seolah mengunci pergerakannya.
“Sialan! Tubuhku tidak bisa digerakkan!” gerutu Gola Ijo sedikit putus asa. Kekuatannya benar-benar terkunci di tubuhnya. Bahkan, untuk menggerakkan kedua tangan dan kakinya saja, Gola Ijo kini tidak berdaya.
Di sisi lainnya, tubuh Mislan Katili sendiri kemudian juga berubah menjadi lima cahaya merah yang terpisah dan melesat berusaha pergi menjauh secepat kilat.
Namun berbeda dengan cahaya pertama yang berhasil lenyap, kelima cahaya merah itu berhenti mendadak di udara, seolah sesuatu menahan mereka untuk pergi meninggalkan tempat ini.
Dewa Hurata segera mengibaskan jubah keemasannya dan kelima cahaya merah itu tersedot lalu masuk ke dalam lengan jubahnya.
__ADS_1
Bagi Lou Shisan dan Dana Setra, ini adalah pertemuan kedua kali mereka dengan Hurata. Namun, tetap saja semua yang berada di sana merasakan intimidasi yang dahsyat dari kekuatan sang Dewa Cahaya.
Hurata, adalah salah satu dari dua orang dewa cahaya yang pernah muncul di Dipantara dan berperan penting dalam melemahkan kekuatan Mislan Katili.
Berkat perannya bersama Maruta, sang dewa cahaya lainnya itulah, Tujuh Pendekar Penjaga Gerbang berhasil mengalahkan Iblis Mislan Katili.
“Kalian, manusia.. mengapa tidak bisa sama sekali diandalkan? Hari ini aku terpaksa turun tangan hanya untuk mengatasi iblis ini, Iblis yang kembali bangkit karena kecerobohan kalian!” Dewa Hurata berkata dengan pelan, penuh wibawa dari angkasa. Namun, suaranya terdengar jelas di telinga Xin Long dan lainnya.
Xin Long, Lou Shisan maupun Dana Setra ingin menyangkal dan berargumen membela diri, namun semua akhirnya menahan diri untuk tidak berkata apapun. Tekanan yang diberikan oleh kehadiran dewa cahaya ini sudah cukup membuat tubuh mereka tak bisa bergerak.
Mereka tak ingin, karena kesalahan bicara dan menyangkal ucapan dewa, nyawa mereka justru melayang sebagai gantinya. Akhirnya mereka hanya diam menerima kalimat-kalimat pedas yang meluncur dari Dewa Cahaya ini kemudian.
“… Generasi kalian benar-benar memalukan! Payah! Aku tidak pernah menemui generasi yang lebih buruk dari kalian, yang kerjanya….”Dewa bernama Hurata ini sepertinya memiliki hobi berbicara. Dia terus memberikan khotbah panjangnya tanpa jeda, membuat para pendengarnya merasa lebih baik andaikan terus bertarung melawan Mislan Katili daripada harus berlutut mendengarkan ceramah ruhani ini.
Hingga tiba-tiba kalimat Hurata terhenti ketika Gola Ijo dengan enteng menyela ucapannya.
“Eh, Dewa! Kenapa kalian senang sekali memberi tugas berat kepada manusia jika kalian bisa menanganinya sendiri dengan mudah? Apakah untuk menunjukkan bahwa kalian kuat dan perkasa, lalu kalian membebani kami dengan tanggungjawab yang berat ini?”
Hurata menoleh dengan terkejut. Tidak lagi berniat melanjutkan wejangannya.
Dia tidak menyangka bahwa iblis gagal di hadapannya memiliki nyali menyela ucapannya. Seumur hidup, ini adalah kali pertama dialaminya, khutbahnya dipotong seorang manusia.
Wajah kesal sempat terlihat walau hanya sedetik dan kembali berubah menjadi tenang.
Saat ini, satu-satunya alasan dirinya tidak membinasakan Gola Ijo tadi adalah karena perannya membantu melawan Mislan Katili. Ya, tugas utama Dewa Cahaya memang membasmi iblis. Dan Gola Ijo, adalah Iblis Gagal.
“Ah, aku hampir melupakanmu..” katanya sambil tersenyum. Namun, bagi Gola Ijo, senyum dewa ini adalah alarm bahaya selanjutnya.
__ADS_1
Saat itulah, gelang di lengan kanannya mendadak bersinar terang..