
Dua Minggu telah berlalu semenjak Gentayu menghilang bersama batu berbentuk trisula tidak jauh dari tepi Jurang. Mahatih Dangku dan Benduriang akhirnya sepakat dan memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut guna memulai gerakan menggalang kekuatan. Mereka berdua meyakini bahwa saat ini kekuatan aliran hitam sekalipun besar namun sebenarnya mereka tidaklah solid dan kompak.
Kenyataannya, memang di dalam aliansi itu terdapat bermacam-macam faksi atau kelompok yang saling bersaing untuk mencapai tujuan masing-masing. Tak jarang, bahkan dalam satu kelompok sekalipun terdapat persaingan dan perebutan pengaruh antar tokohnya. Sebut saja misalnya dalam kelompok Segoro Geni, di mana Mpu Jangger sekalipun tak mampu menyatukan masing-masing pendekar sakti yang dibawanya dari tanah seberang. Masing-masing mereka nyaris bergerak sendiri-sendiri, terutama yang memiliki jabatan sebagai komandan.
Sebaliknya saat ini tentu akan lebih mudah bila ingin menyatukan aliran putih. Setidaknya, seluruh kelompok aliran putih sedang menghadapi ancaman dan musuh Bersama, yaitu aliansi aliran hitam yang menguasai istana dan memerintah kerajaan Lamahtang.
“Kalau perlu, kita meminta bantuan dari kelompok-kelompok aliran putih dari negeri tetangga” Mahapatih Dangku menyampaikan gagasannya. Menurutnya, tidak ada salahnya melibatkan kelompok aliran putih dari negeri tetangga mengingat sepertinya ancaman bahaya dari kelompok aliran hitam tidak akan berhenti setelah menguasai Lamahtang saja. Cepat atau lambat, mereka pasti akan bergerak menuju kerajaan lainnya. Lamahtang, hanyalah satu tahapan sebelum mereka benar-benar menguasai seluruh Pulau Emas Besar ini.
“Saya setuju Gusti Mahapatih. Tapi, tetap saja, masalah di Lamahtang adalah tanggungjawab utama bagi kita dan kelompok aliran putih di Lamahtang ini. Adapun negeri lain, mereka hanya membantu sekaligus mengantisipasi dan membendung meluasnya kejahatan kelompok-kelompok aliran hitam ke wilayah mereka..” Benduriang memberikan tanggapannya.
Keduanya keluar dari lembah tersebut menuju ke wilayah hulu di utara. Mereka berniat menjumpai kelompok Ki Geringsing. Setidaknya, Benduriang pernah bersama mereka selama dalam perjalanan menuju Muara Sabak sehingga sedikit banyak mereka telah saling kenal.
Matahari telah tergelincir di bagian barat bumi saat ketiganya tiba di Ujung Miang. Sebuah perkampungan kecil di wilayah hulu dari Batang Asai, nama sungai yang sedang mereka susuri. Mereka sengaja memilih jalur darat karena memang lebih aman daripada jalur sungai yang seringkali dilewati para prajurit Lamahtang.
“Pantas saja, ki Geringsing menyebut tempat ini sebagai dusun. Memang tidak banyak penduduk yang tinggal di sini” Benduriang berujar demikian setelah mengamati sekelompok perumahan sederhana yang berjumlah tak lebih dari 20 rumah itu. Bahkan, rumah itupun tak bisa disebut rumah karena terlalu sederhana.
Mereka menanyakan nama ki Geringsing kepada seorang wanita muda yang kebetulan mereka jumpai di dusun tersebut. N ama Ki Geringsing ternyata cukup dikenal di kampung tersebut karena berkali-kali orang tua tersebut pulang dari luar kampung dengan membawa banyak bahan makanan yang dibagikan secara gratis kepada setiap penduduk. Karenanya, penduduk mendaulatnya sebagai Kepala Dusun. Mahapatih Dangku dan Benduriang yang menggendong Lokajaya segera menuju ke salah satu rumah yang ditunjukkan oleh wanita itu setelah berterimakasih sebelumnya.
“Ah, selamat datang di gubuk kami tuan-tuan.. Aih, bukankah tuan adalah sahabat dari saudaraku, Gentayu?” Sosok laki-laki tua menyambut mereka dari ujung jalan setapak dan langsung mengenali Benduriang.
__ADS_1
“Benar, Ki. Saya temannya Gentayu…” jawab Benduriang.
Mantan Senopati ini sebenarnya cukup heran dengan sosok Gentayu yang terlalu muda namun disebut sebagai ‘saudara’ oleh pak tua di hadapannya ini. Tentu saja Benduriang tidak mendengar perbincangan Gentayu dan Ki Geringsing saat keduanya berpisah karena Benduriang telah turun dari kapal terlebih dahulu saat itu.
Keduanya segera dibawa masuk ke rumah ki Geringsing yang sangat sederhana tersebut. Tidak ada perabotan apapun di dalam rumah berdinding geribik itu. Hanya ada sebuah meja pendek dengan sebuah kendi air minum di atasnya. Benduring membaringkan Lokajaya di balai bambu tak dii ruang tersebut sebelum ikut duduk mengitari meja.
“Aku mendengar, bahwa baginda raja Prabu Menang dan permaisurinya telah terbunuh. Apakah itu benar atau hanya propaganda kelompok aliran hitam saja?” Ki Geringsing membuka pembicaraan dengan pertanyaan paling penting yang ingin diketahuinya sejak mendengarnya pertamakali dari para pendekar.
Benduriang dan Mahapatih Rambang Dangku saling pandang. Mereka merasa canggung untuk menjawab. Pendekar tua ini sama sekali tanpa basa-basi, bahkan tidak menanyakan identitas mahapatih Rambang dangku.
“Benar, Ki. Yang mulia raja, telah terbunuh. Hanya kami saja yang selamat dalam penyerbuan tersebut..” Akhirnya Benduriang berinisiatif menjawab.
“Itulah tujuan kami kemari, Ki. Karena hanya saya, Mahapatih Dangku, Gentayu, dan ini putra mahkota saja yang selamat. Gentayu sendiri menghilang begitu saja di hadapan kami se….” Belum sempat Benduriang melanjutkan kalimatnya, ki Geringsing Kembali menyela.
“Menghilang bagaimana? Apakah maksud kalian, Gentayu terbunuh? Dia.. Dia…” Nampak raut wajah penuh kekhawatiran membayang di wajah ki Geringsing. Bagaimanapun, Gentayu baginya adalah harapan, setelah mengetahui identitas pemuda itu sebagai pewaris Matahari Emas.
“Tidak, Ki..” Benduriang kemudian menceritakan semua yang terjadi dengan Gentayu. Membuat lelaki tua dihadapannya manggut-manggut walaupun keningnya tetap berkerut. Tak lupa, Benduriangpun menjelaskan maksud kedatangan mereka menemui Ki Geringsing ini.
“Tak lain tak bukan, Ki. Kami berharap Ki Geringsing bersedia menyatukan kekuatan Bersama menghadapi musuh yang nyata di depan mata.. Ini bukan tentang raja, kerajaa, istana maupun politik. Ini menyangkut masalah masa depan rakyat Lamahtang…” Mahapatih Dangku akhirnya bersuara untuk meyakinkan Ki Geringsing.
__ADS_1
“Bahkan, bila kalian datang atas nama paduka raja sekalipun, aku pasti akan bersedia..” Jawaban ki Geringsing cukup mengejutkan Benduriang. Bagaimanapun, dia mendengar sendiri ketidaksenangan pendekar tua ini terhadap politik dan lemahnya raja di matanya.
“Prinsipku belum berubah. Namun, mendengar Gentayu bersedia bertarung di sisi kalian, tak ada alas an bagiku untuk tidak mengikuti langkahnya..” Pernyataan ki Geringsing semakin membuat keheranan Benduriang dan juga Mahapatih Dangku. Apa istimewanya Gentayu? Fikir mereka. Namun mereka tidak ingin menanyakan lebih jauh. Persetujuan ki Geringsing, setidaknya menambah kepercayaan diri keduanya bahwa Lamahtang masih memiliki harapan.
Saat senja mulai datang , ketiganya mencapai sebuah kesepakatan. Mereka akan membentuk sebuah aliansi pendekar dan bergerak secara sembunyi-sembunyi sebagai kelompok perlawanan bawah tanah. Mahapatih dan Benduriang wajib menanggalkan identitas mereka sebagai petinggi Lamahtang agar tercipta kesetaraan di antara anggota. Ki Geringsing dan ketiga muridnya adalah modal awal sebelum mereka bergerak untuk menemukan lebih banyak anggota lainnya. Setidaknya, beberapa kelompok perlawanan aliran putih telah diketahui keberadaannya oleh ki Geringsing dan para muridnya.
Mulai saat itu, mereka bergerak sebagai sebuah tim dari kampung ke kampung dan dari bandar ke bandar lainnya merekrut anggota. Menemui para pendekar terutama mantan anggota perguruan aliran putih yang telah dihancurkan. Selain mereka, tidak sedikit pula pendekar-pendekar hebat tanpa padepokan yang dijumpai dan bersedia bergabung dengan beragam alasan dan pertimbangan.
Mereka yang bersedia bergabung, kemudian berjanji untuk menghadiri sebuah pertemuan yang akan di laksanakan di Kota Bandar Agung. Kota ini dinilai relatif aman untuk dilakukannya pertemuan karena di sana adalah markas dari perguruan Imau Gading. Guru Besar perguruan ini dikenal sebagai pendekar paling sakti di Pulau Emas Besar membuat bahkan Karang Setan sekalipun segan untuk menyerangnya. selain itu bagi Karang Setan sendiri perguruan ini tidak berbahaya karena dikenal bukan sebagai kelompok pendukung Kerajaan.
Hingga dua bulan kemudian, kelompok ini telah memiliki hampir seratus anggota yang kesemuanya adalah pendekar-pendekar sakti. Mereka terdiri dari beragam latar belakang. Lebih dari dua puluh orang di antaranya adalah Pendekar-pendekar sakti kenamaan yang hanya pernah terdengar namanya, namun tak pernah muncul ke tengah khalayak.
Mereka seolah mengasingkan diri. Sebut saja misalnya Pendekar Pedang Hantu. Sosok yang benar-benar misterius ini hanya dua kali terdengar namanya muncul. Pertamakali adalah sekitar enam tahun lalu. Saat itu dirinya menghancurkan kelompok perampok terbesar di Lamahtang seorang diri , yaitu kelompok Jelatang Kelat. Sisa anggota dari kelompok ini kemudian bergabung dengan kelompok Bajing Abang. Gabungan dua kelompok inilah yang sekarang menjadi kelompok Bajing Kelat, salah satu kekuatan utama aliran hitam yang menguasai kerajaan Lamahtang. Nama Pendekar Pedang Hantu muncul terakhir kali beberapa waktu lalu saat penyerbuan aliansi aliran Hitam ke perguruan Pedang Hibu. Saat itu, dirinya sendiri menewaskan lebih dari seratus orang pendekar aliran hitam yang menyerbu saat itu.
Bagaimana dengan Pangeran Lokajaya?
Atas saran dari Ki Geringsing, pageran Lokajaya kemudian dititipkan pada dua orang pendekar perempuan bernama Nyi Mendahara dan Nyi Pemayung. Keduanya tinggal di wilayah pedalaman bernama Jabung, sekitar sehari perjalanan dari Muara Sabak.
"Rahasiakan identitasnya sebagai pangeran Mahkota.." pesan Rambang Dangku pada keduanya sebelum bergegas menuju Kota Bandar Agung bersama Benduriang dan Ki Geringsing.
__ADS_1
Nb. Mohon maaf kemarin tidak rilis update karena sedang dalam perjalanan