
Para prajurit dan anggota kelompok Bintang Merah yang semula mengepung lelaki berbaju putih itu semuanya menyingkir saat lelaki paruh baya yang bersama bangsawan bernama Tian mengibaskan tangannya.
"Hahaha.. Kenapa harus menunggu anak buahmu banyak yang tewas baru kau turun tangan, Wanadri? Aku sering mendengar bahwa kelompok Bintang Merah selain sombong juga rakus. Tapi ternyata hari ini, aku melihat satu hal lagi dari kalian, kalian terlalu bodoh dengan hanya menurunkan cecunguk kemarin sore yang kencing saja belum lurus!" Lelaki itu mengejek Wanadri di depan orang-orang yang menyaksikan perseteruan mereka malam itu.
"Setan alas! cari mati! Kau tau sedang berhadapan dengan Wanadri tapi masih bisa tertawa?! Tinggi juga nyalimu!. Malam ini kupastikan kau tidak akan keluar dari bandar ini dengan nyawamu!" Wanadri berseru lantang sebelum kemudian menerjang dengan kekuatannya yang terpancar sebagai Pendekar Sakti.
Wanadri adalah pendekar yang termasuk diantara yang terkuat di Sei Asin. Keberadaan organisasinya yang didukung penuh oleh penguasa kota tersebut membuat mereka merasa di atas angin. Senang berbuat onar dan selalu mengatasnamakan kedekatannya dengan keluarga bupati penguasa wilayah sekitar membuatnya tak tersentuh.
Tentu saja banyak penduduk yang tidak menyukai kelompok ini, namun karena segala tindakan kelompok ini selalu mendapat dukungan penguasa, masyarakatpun hanya bisa pasrah.
Selama ini Bintang Merah memang kelompok yang menjadi kekuatan sekaligus pendukung utama bhupati Jalamandana. Mereka tak segan untuk terjun menumpas kelompok pengacau yang mengancam kedudukan penguasa setempat maupun kelompok perusuh lainnya. Kedudukan mereka sudah seperti pasukan khusus bagi Sei Asin, di luar struktur prajurit resmi yang keberadaannya dikontrol kerajaan. Bupati Jalamandana akan berkelit dan beralasan bahwa jumlah prajurit yang dikirimkan Raja sangat sedikit saat dilakukan audit oleh militer kerajaan.
Maka pada malam itu, Wanadri marah besar saat tiga anggotanya diantarkan pulang oleh prajurit penjaga yang lewat di sekitar penginapan dalam kondisi babak belur. Segera digerakkannya anggotanya untuk menggeledah penginapan. Pengurus penginapan tak bisa berbuat banyak saat kelompok tersebut masuk dan melakukan perusakan bahkan pembakaran.
Kini di depan pelataran penginapan yang terbakar, Wanadri melancarkan pukulan dan tendangannya ke arah pria tua yang sejak tadi tetap tersenyum mengejek kepada Wanadri sembari menghindari serangan yang mengarah kepadanya dengan santainya. Tentu saja Wanadri semakin marah karena diremehkan.
Melihat lawannya yang seolah masih cukup santai menghadapi serangannya, Wanadri segera meningkatkan kekuatan serangannya. Pancaran kekuatannya meningkat tajam. Perubahan aura kekuatan tersebut membuat lawannya menjadi waspada. Bagaimanapun, ini adalah pertamakali pria tua itu berhadapan langsung dengan pimpinan Bintang Merah yang terkenal. Maka, lelaki itupun meningkatkan kewaspadaan.
Serangan berikutnya berlangsung lebih cepat dan lebih bertenaga. Pancaran energi dari pertarungan keduanya menimbulkan desiran angin kencang yang melontarkan benda disekitarnya ke segala arah. Gerakan mereka nyaris tak terlihat saking cepatnya, namun keduanya sama-sama belum mengeluarkan kekuatan penuh dan senjatanya.
Gentayu yang menyaksikan keduanya menjadi sangat tertarik. Bahkan dia tidak menyadari bahwa kini tinggal dirinya sendirian yang menonton pertarungan dari jarak sedekat itu. Sedangkan para prajurit, sisa kelompok Bintang Merah dan masyarakat lainnya telah menjauhi arena karena takut menjadi sasaran energi pukulan nyasar pertarungan itu. Tentu saja kehadirannya yang mencolok segera menarik perhatian para penonton lainnya. Sebagian menganggap pemuda itu gila. Yang lain menganggap pemuda itu bosan hidup dan sebagainya karena melihat tampilannya yang masih sangat muda.
Selang beberapa saat kemudian, irama pertarungan berubah. Wanadri dengan kekuatan yang terus meningkat tersebut tampak mulai mampu memojokkan lawannya. Energi Wanadri terasa semakin kuat sedangkan lawannya, mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa energinya memang telah banyak terkuras selama pertarungan.
Melihat lawannya yang makin melemah, Wanadri tersenyum. Dia kemudian mengubah pola serangannya. Sesaat kemudian, Wanadri kembali meningkatkan kekuatannya. Badannya kini memancarkan energi yang lebih hebat dari sebelumnya. Serangannya semakin cepat, namun kekuatannya meningkat dua kali lipat.
Hingga pada pertukaran jurus yang ke sekian, Wanadri melihat sebuah celah terbuka dari lawannya. Sebuah pukulan beruntun dari kombinasi pukulan dan tendangan dapat dihindari lawannya, namun sebuah sundulan kepala yang disusul hentakan siku dan lutut mendarat dengan mulus pada tiga bagian berbeda dari tubuh lawannya.
Lelaki berbaju putih lawan Wanadri terpental menerima serangan telak sundulan yang mengenai dadanya dan siku yang menghajar wajahnya serta lutut yang berhasil mematahkan dua tulang rusuknya. Wanadri ternyata tidak berhenti sampai di sana. Saat tubuh lawannya baru saja menghempas tanah, Wanadri telah melayang ke udara dan melancarkan rangkaian pukulan jarak jauh berkekuatan dahsyat. Serangannya berhasil menghajar dada lawannya dengan telak.
'DHUAR!!'
Lelaki berbaju putih itu terhempas jauh.
__ADS_1
Kekuatan pukulan itu bahkan sebenarnya bisa menghancurkan batu karang besar seukuran kereta, namun lelaki itu hanya terhempas menabrak pohon, lalu jatuh dan berguling ke belakang, memuntahkan darah segar sebelum berdiri kembali dengan sedikit goyah.
"Kemana senyummu tadi? Hah? Sekarang terima kematianmu..!!" Wanadri mengangkat tangan kananya yang kemudian dikepalkan sejajar daun telinga. Dia sepertinya tak ingin berlama-lama lagi dalam pertarungan tersebut. Tangan yang terkepal itu terlihat mengeluarkan asap putih. Sesaat kemudian, Wanadri melayang dan melepaskan pukulan pamungkasnya tersebut kepada lawannya yang sedang berusaha berdiri lebih tegak menyambut serangannya..
'WHUZZZ... DHUAR!!'
Kelebat sinar berwarna merah melesat dari tangan wanadri menuju lawannya dengan kecepatan kilat, lalu menghantam tubuh lawannya menimbulkan suara ledakan dan menimbulkan asap tebal sesaat kemudian.
"Apa-apaan??"
Ekspresi terkejut tampak di wajah Wanadri. Seharusnya suara yang ditimbulkan tidak sekeras itu dan tidak ada asap tebal dari pukulannya. Saat asap tebal menghilang, semua keterkejutannya terjawab.
Seorang pemuda menghadang serangannya. Pemuda yang terlihat belum berusia 20 tahun itu diingatnya sebagai orang yang sama yang menghajar prajurit dihadapannya saat di penginapan beberapa saat lalu..
"Ternyata kini aku yang harus jemput bola untuk menyelesaikan urusanku dengan kalian. Kalian membuat hal mudah menjadi sulit seperti ini. Kalian membuatku tidak bisa menikmati tidur malamku hari ini, jadi sebagai gantinya, kau, kau, dan kalian harus kubuat tidak bisa tidur!!" Pemuda itu tak lain adalah Gentayu yang bicara lantang sembari menunjuk Wanadri, bangsawan Tian dan anggota Bintang Merah.
Awalnya dia tak ingin ikut campur. Namun kemarahannya pada kesewenang-wenangan yang dipertontonkan dalam pembakaran penginapan membuatnya hilang kesabaran ketika melihat laki-laki asing berbaju putih itu hampir menemui ajalnya.
"Tinju Naga Api!!"
Ledakan lain kini terdengar. Namun dalam posisi yang berbeda.
Tanpa basa-basi, sebuah kilatan bola api berhawa sangat panas menghantam tubuh Wanadri dan melemparkannya hingga memasuki api yang sedang membakar penginapan.
Semua mata tercengang kaget.
Anak muda itu bahkan menyerang tanpa menggerakkan badannya. Hanya kepalan tangannya yang tertuju pada Wanadri dan wanadri terlempar tanpa sempat menangkis serangan yang dilakukan bahkan dengan santai itu.
Semua menunggu Wanadri keluar dari api yang berkobar. Namun hingga beberapa saat lamanya, wanadri tidak kunjung muncul.
"Kalian tak perlu berharap dia masih hidup! Kalaupun dia selamat dari api yang membakar penginapan itu, dia tidak mungkin selamat dari api pukulanku!" Suara Gentayu membuat ciut nyali orang-orang yang tadi ditunjuk.
"Mulai saat ini, Bintang Merah telah lenyap dari dunia! Ada yang keberatan?? Yang keberatan, MAJU!!" Tantangnya sekali lagi. Tak ada satupun yang berani maju. Bahkan, sisa anggota Bintang Merah mulai berlutut dan menanggalkan senjata mereka..
__ADS_1
" Ampuni kami, Pendekar..! kami menyerah! Kami bersedia menerima dibubarkan!" Ucap mereka serentak.
"Iya. baiklah. kali ini Kalian kuampuni. Tapi jika kalian masih berlaku sewenang-wenang lagi, kalian tahu akibatnya! Faham??!"
"Kami Faham pendekar! Kami berjanji atas nama keluarga kami! Terimakasih atas kemurahan hati , pendekar! Kami akan berubah!" Mereka kemudian segera bersujud.
Setelah diizinkan Gentayu, mereka kemudian segera pergi dari tempat itu. Mereka benar-benar bertemu dengan hantu pencabut nyawa malam ini. Mental mereka terguncang melihat pimpinan mereka bahkan mati tanpa sempat berteriak.
"Kau, bangsawan Tian, bukan?"
"i... Iya tuan.. Aa.aaa..." pemuda yang semula angkuh itu, kini tergagap dengan lutut yang tak berhenti gemetar. Kesombongannya beberapa saat lalu luruh.
"Sebagai bangsawan, kau sungguh memalukan! Kau lihat tanda ini baik-baik!!" bentaknya sembari telunjuknya mengarah kepada pemuda bangsawan yang ketakutan itu seraya memperlihatkan lencana perwira prajurit kerajaan miliknya.
"Kau kenal arti lencana ini bukan?? Pilihanmu hanya dua, kau perbaiki penginapan itu, berhenti berbuat sewenang-wenang kepada penduduk, dan jadilah pengayom mereka! Atau aku sendiri yang akan mengobrak-abrik dan memusnahkan keluarga Jalamandana dari muka bumi!
Kalau kalian tidak mengenalku, seharusnya kalian mengenal Ayahku Panglima Wiratama!" Gentayu membuka jatidirinya sebagai anak dari Panglima perang kerajaan.
Tentu saja semua pejabat mengenali panglima itu dan satu-satunya anak angkatnya yang dikabarkan menjadi kapten ternuda kerajaan. Orang yang waras akan berusaha untuk tidak menyinggung keluarga itu.
Gentayu mengatakan bahwa Bangsawan tersebut hanya memiliki dua pilihan, tapi syarat yang diajukan sebagai pengampunannya bukan satu, melainkan tiga sekaligus. Di bawah ancaman, pemuda bangsawan tersebut hanya menunduk pasrah.
"Aku mau, saat aku kembali kemari sepuluh hari lagi, Penginapan ini sudah kau bangun kembali. Apa kau menolak??" Tegas suara Gentayu menekan Pemuda bamgsawan yang kini telah berlutut. Kesombongannya beberapa saat lalu lenyap entah kemana.
"Tidak tuan. Saya tidak berani menolaknya. Saya akan menperbaikinya besok pagi!" Pemuda bangsawan itu bersujud mengharapkan nyawanya tetap diampuni.
"Baiklah. kau boleh pergi" Tangan Gentayu memberi isyarat kepada pemuda itu untuk segera pergi dari hadapannya.
Pemuda bangsawan itu bersujud sekali lagi sebelum bergegas meninggalkan tempat itu dengan rasa syukur nyawanya masih selamat bersama para prajurit pengawalnya.
Gentayu kemudian beralih kepada orang tua lawan Wanadri yang masih duduk berusaha menstabilkan kondisi luka dalamnya.
"Tuan, maafkan aku ikut campur.." katanya singkat. Orang tua itu mengangguk dan membuka matanya.
__ADS_1
"Anak Muda.. , Terima... kasih... kau telah ...menolong... orang tua ini. Aku berhutang... nyawa... padamu... heh... heh...Namaku.... Shou. ....Xie... Shou. Aku adalah..... salah satu... tetua ... dari sekte Naga... Merah. Maksudku,... mungkin ... kalian ...menyebutnya..... padepokan Naga ... Merah. Aku.... ingin ... meminta pertolonganmu... sekali lagi anak muda.."
Lelaki tua yang ternyata bernama Shou akhirnya berbicara dengan suara sangat lemah. Tampaknya, lukanya sangat parah.