JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Persiapan Mengungsi


__ADS_3

Matriark Lim lalu mengajak Gentayu menuju pelataran di mana banyak murid sekte berlatih. Ini adalah sisi berbeda dari pelataran tempat “menguji” kemampuan Gentayu oleh tetua De Wu beberapa saat lalu. Matriark mengangkat tangan kanannya, lalu bertepuk tiga kali. Melihat hal itu, seluruh murid yang melihat dan mendengar matriark mereka menepukkan tangan segera menghentikan aktivitasnya. Mereka yang belum menyadarinya juga diingatkan oleh rekannya yang lain. Semua murid itu berdiri dan mendekat. Mereka membentuk kerumunan menghadap matriark Lim karena sudah faham bahwa akan ada hal penting yang akan disampaikan.


“ Terimakasih, kalian memperhatikan isyaratku. Ada pengumuman penting yang harus kami sampaikan dan harus segera dilaksanakan tanpa ada bantahan secepatnya” matriark Lim membuka kalimatnya dan segara disambut riuh rendah suara para murid yang berbisik sesama mereka. Suara mereka lebih mirip lebah ketika bergumam. Rasa penasaran mereka tentang hal penting yang akan mereka dengar sebentar lagi membuat suara riuh itu segera berhenti tak lama setelah matriark Lim terlihat akan kembali bicara.


“Di sampingku ini, adalah pendekar sakti yang bahkan lebih kuat dari guru-guru kalian..” Kembali suara riuh terdengar, namun segera berhenti kembali.


“Mohon jangan ada yang berbicara atau berkomentar sebelum kami selesai bicara. Dengarkan! Di sampingku ini, adalah pendekar sakti yang bahkan lebih kuat dari guru-guru kalian. Saudara Gentayu ini, gurunya tewas di tangan aliran hitam. Lalu perguruannya, Matahari Emas juga diserbu dan dimusnahkan. Menyusul kemudian tiga hari lalu, perguruan Bambu Hijau juga dihancurkan. Ratusan murid dibantai. Dan saat ini, para penyerbu dari gabungan kelompok aliran hitam itu sedang menuju kemari dan akan sampai dalam waktu tidak akan lama! Pendekar disampingku ini, pernah bertemu, bertarung, dan dikalahkan hanya dengan salah satu anggota mereka! Padahal beliau ini bertarung bersama dua orang pendekar lain dari Bambu Hijau yang sekarang sudah musnah” Suara lebih riuh segera terdengar kembali saat mariark Lim mengambil jeda. Ada wajah penuh khawatir si setiap murid yang mendengar pengarahan sang matriark.


“Kita tak akan sanggup melawan mereka, dan kita juga tak ingin jatuh lebih banyak korban! Untuk itu, setelah ini segera kembali ke asrama dan rumah kalian! Kemasi pakaian kalian, kita akan tinggalkan tempat ini! Waktu kalian kurang dari satu jam! Beritahukan kepada seluruh penghuni markas yang lain, waktu kita hanya sejam! Semuanya, kita akan berkumpul sebelum sejam dari sekarang di depan kuil dewa naga! Faham??!” Matriark menjelaskan.


“Kami Faham!” Jawab mereka serentak.


Lalu mereka membubarkan diri dengan sedikit tergesa-gesa.


Gentayu kemudian mendekati matriark Lim guna menanyakan langkah selanjutnya untuk mengungsikan seluruh sekte serta transportasi yang akan digunakan.


“Tuan Gentayu. Tadi aku menyaksikan bahwa kekuatanmu benar-benar luar biasa. Sebenarnya, awalnya aku menolak mengungsi karena berfikir kekuatan kami tidak memadai untuk melakukannya..” Matriark menjawab pertanyaan Gentayu.


“Kekuatan?? Tidak memadai?” Gentayu membeo.


“Iya. Kami memiliki sebuah warisan pusaka yang bisa memindahkan kami dalam sekejap ke tempat yang kami inginkan. Sayangnya.. karena para tetua sekte sedang menjalankan misi di luar, kami kekuarangan orang untuk bisa mengaktifkan pusaka tersebut” matriark Lim menjelaskan, namun Gentayu justru makin penasaran.

__ADS_1


Akhirnya, matriark Lim mengajak Gentayu pergi menuju bagian gedung di mana Tetua De Wu dan tetua berjanggut putih berada. Bangunan itu berada di sisi paling ujung dari markas sekte ini. Ternyata, itu adalah bangunan sebuah kuil. Kuil Dewa Naga. Terdapat dua patung naga berukuran besar dengan kedua kepalanya saling berhadapan. Di antara kepala keduanya, terdapat sebuah cermin besar. Cermin itu baru saja selesai dipasang oleh kedua orang tetua yang mendahului sang matriark dari ruang pertemuan, yaitu tetua berjanggut putih dan tetua De Wu.


“Cermin itulah pusaka yang kami maksud. Sayangnya, untuk mengaktifkan kekuatan ruang dan waktu yang dimiliki pusaka itu, dibutuhkan tenaga dalam sangat besar! Itulah alasan kami harus menguji kekuatanmu sebelum setuju mengungsi menggunakan pusaka ini. Karena kami butuh kekuatan besar. Kami bertiga tidak akan mampu..” matriark Lim menjelaskan maksudnya untuk meminta bantuan Gentayu mengaktifkan pusaka itu.


“Bagaimana cara kerja pusaka cermin ini, nona?” Gentayu bertanya lebih lanjut. Ini adalah kali pertamanya mengetahui ada pusaka yang bisa memindahkan sesuatu ke tempat lain. Bukankah itu artinya dia bisa kemanapun yang diinginkan dengan pusaka ini?


“Pusaka ini, sebenarnya memiliki syarat untuk digunakan. Syarat pertama adalah energi yang besar untuk mengaktifkan pusaka ini. Kami memiliki sumber energi cahaya sangat besar yang selama ini digunakan untuk menerangi seisi markas. Sumber energi cahaya dan panas itu seharusnya cukup untuk mengaktifkan pusaka ini. ‘sesuatu’ dalam tabung cahaya itu dinamai Plasma Plasma Rakurai Yang artinya perangkap petir. Masalahnya adalah, orang yang harus membawa tabung kaca itu kemari. Orang tanpa kekuatan memadai akan meleleh saat menyentuhnya. Sedangkan pendekar sakti umumnya, akan kehilangan kekuatannya untuk sesaat setelah menyentuhnya. Untuk itulah kami butuh bantuan tuan Gentayu, guna membantu kedua tetua kami membawanya kemari.


Syarat kedua adalah menentukan tujuan. Syarat ini tidak bisa kita penuhi karena pusaka ini kehilangan salah satu bagian terpentingnya, yaitu Pasagi Kubuk. Pasagi kubuk itulah yang menjadi penentu kemana orang yang memakai pusaka ini harus dikirim. Tanpa itu, pemakai pusaka akan dikirim secara acak. Tapi itu masih lebih baik daripada seluruh sekte harus musnah, bukan?


Syarat ketiga, tentu saja seseorang yang memastikan agar pusaka ini tidak rusak sebelum proses mengirim orang ke tujuan selesai dengan sempurna. Dan kukira, tuan Gentayu adalah orang yang tepat bersama kedua tetua.” Walaupun cukup terkesima dengan penjelasan Matrairk Lim tentang kehebatan pusaka cermin itu, namun Gentayu dapat memahami cara kerja pusaka yang akan digunakan. Menurutnya, sebaiknya proses mengaktifkan pusaka ini memang harus dimulai sekarang karena tentu akan memakan waktu tidak sebentar.


Matriark Lim setuju. Wanita cantik yang sebenarnya cukup berumur itu kemudian mengajak Gentayu beserta kedua tetua sekte untuk segera bergegas pergi mengambil Plasma Rakurai. Plasma Rakurai ini ternyata adalah sebuah sumber energi yang cukup untuk menggantikan energi matahari di dalam ruang bawah tanah yang luasnya hampir dua puluh kali lapangan bola itu. Wajar saja disebutkan bahwa menyentuhnya secara langsung mampu melelhkan tubuh pendekar biasa.


Pada bekas hentakan kakinya tersebut, kini muncul sebuah pilar dari batuan berwarna hijau kebiruan berbentuk persegi. Pilar itu terus memanjang ke atas dari dalam bumi dan berhenti setelah sejajar dengan Plasma Rakurai.


Matriark Lim Kembali bergerak pada sisi berlawanan dari pilar tersebut dan Kembali menghentakkan kakinya dengan kekuatan tenaga dalamnya seperti sebelumnya kemudian melompat menjauh. Kembali pilar lain muncul dari bekas hentakan kaki Matriark tersebut. Hal tersebut dilakukan berulang hingga enam kali pada titik-titik berbeda dan membentuk formasi pilar heksagonal.


Setelah keenam pilar berdiri sejajar dengan Plasma Rakurai, Matriark melompat ke salah satu pilar tersebut.


Saat telah di atas pilar itu, hawa panas sangat terasa menerpa tubuhnya. Namun matriark Lim telah mempersiapkan diri dengan melapisi dirinya dengan perisai energi.

__ADS_1


Tangannya dengan cepat membentuk segel. Lalu tangan kanannya berubah membesar menjadi seperti tanah keras yang dialiri lava berwarna merah kekuningan dan mengeluarkan asap putih. Itu adalah ilmu 'Tangan Lava'. Salah satu kekuatan miliknya yang jarang digunakan kecuali hanya beberapa kali selama hidupnya saat kondisi terdesak.


Tangan yang menyala merah itu dihantamkannya ke bawah, menekan pilar yang dihinggapinya. Dan..


‘Triiiiiink…..!’


Terdengar suara yang memekakkan telinga.


Tak lama kemudian, dari pilar tersebut memancar cahaya kebiruan kearah lima pilar pilar lainnya. Sedangkan Setiap pilar lain yang terkena sinar kebiruan tersebut kemudian memancarkan sinarnya sendiri yang berbeda warna dan menyorot lima pilar lainnya. Begitulah hingga seluruh pilar itu memancarkan warna berbeda-beda. Ke setiap pilar lainnya.


Setelah keenam pilar itu saling terhubung dengan sinar masing-masing kepada pilar lainnya, cahaya dan energi panas pada Plasma Rakurai mulai meredup. Meredup dan terus meredup, hingga separuh sekte kini telah menjadi wilayah remang-remang karena kehilangan cahaya. Cahaya redup itu tak lagi menjangkau titik terjauh sekte. Sinar itu terus makin meredup hingga akhirnya padam. Tak lama kemudian plasma rakurai atau perangkap petir itu meluncur turun ke lantai tanah dengan perlahan seolah ada sesuatu yang menahannya.


Saat kondisi menjadi gelap, terdengar suara kepanikan dari sebagian penghuni sekte yang belum sempat mengindahkan atau belum mendengar perintah matriark mereka. Kondisi sempat sedikit riuh dan mulai pengap. Namun para pendekar tingkat madya ke atas segera membuat cahaya dari kekuatan tenaga dalam maupun pusaka mereka guna mendapatkan cahaya. Mereka menjadi semakin bergegas mempersiapkan pengungsian.


Plasma itu kini telah ada di tangan Gentayu dan ketiga tetua. Mereka hanya tinggal membawanya menuju Kuil Dewan Naga saja.


“Serahkan padaku! Tetua siapkan saja pusaka cerminnya!” Gentayu meminta izin agar urusan membawa plasma itu diserahkan kepadanya saja. Tentu saja kedua tetua dan sang patriark menolak. Mereka berfikir bahwa Gentayu akan kehilangan kekuatannya untuk waktu yang lama jika nekad membawa sendiri plasma rakurai itu. Ketiganya jelas saja tidak mengetahui, bahwa meskipun belum sempurna tetapi Gentayu adalah murid didikan pendekar jari petir, sehingga memiliki dasar-dasar ilmu berelemen petir. Seharusnya plasma Rakurai itu tidak akan menjadi terlalu bermasalah baginya, begitu fikirnya.


Benar saja, saat menyentuh Plasma yang ukurannya sangat besar itu, tubuh Gentayu tidak bereaksi apa-apa selain merasa berat karena memang bobot plasma Rakurai.


Gentayu mengeraskan giginya dan mengerahkan segenap kekuatannya agar dapat mengangkat benda bercahaya yang telah padam itu, lalu segera melesat secepatnya menuju kuil Naga Merah.

__ADS_1


**Nb. Terimakasih atas kunjungan, like, komen, dan Vote nya.. Semoga semua tetap sehata yaa...


Terus dukung Novel ini dengan memberikan kritik dan saran agar penulisannya semakin baik dan makin enak buat dibaca**.


__ADS_2