JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Jubah Perak


__ADS_3

Gentayu tak sempat menghindari serangan itu. Tiga bola api super panas menghantam punggungnya disusul puluhan pisau terbang lainnya. Sedangkan matriark Lim, tetua janggut putih dan tetua De Wu sudah terlanjur masuk ke dalam pusaran hitam di dalam cermin. Gentayu terhempas belasan meter ke dalam Kuil Dewa Naga setelah menerima hujan serangan tersebut. Dia tidak menyangka, bahwa ilmu ‘perisai naga api’ miliknya bisa ditembus oleh bola-bola api tersebut, sedangkan puluhan pisau beracun tersebut hanya terpental ke segala arah saat menyentuh kulitnya.


Dia menoleh, dan sangat terkejut melihat sosok yang menyerangnya dengan bola api tersebut. Ternyata memang bukan sosok manusia yang telah melancarkan serangan bola-bola api itu. Bola api itu panasnya bahkan membuat logam penyangga kuil meleleh seketika terkena semburannya itu. Ternyata, bola-bola api itu berasal dari hewan sejenis kadal raksasa bersayap. Makhluk aneh itu dikendalikan seseorang berjubah perak bertopeng merah yang berdiri tegak di atas kepala makhluk tersebut. Auranya sangat mengintimidasi. Tidak kalah dengan Karang Setan.


“Jadi, apa kau ini yang telah mencuri segel kelima dari putri Pandan Wungu?! Sungguh licik!” Lelaki berjubah perak itu menatap tajam menunjukkan kemarahannya kepada Gentayu. Namun Gentayu yang ditatap justru menunjukkan wajah bingungnya yang apa adanya. Sungguh polos benar pemuda itu.


“Hei! Jawab pertanyaan tuanku Panunggul Sewu!” Bentak seorang pengawal berkumis tebal di sebelah kanan jubah perak, pengawal ini tampaknya sedang mencari muka di sepan tuannya.


Gentayu berdiri. Kemudian diperhatikannya rombongan penyerbu tersebut. Ada yang janggal dari mereka. Mereka ternyata bukan kelompok aliansi aliran hitam yang seharusnya menyerang! Mereka kelompok berbeda. Entah apakah memang kelompok ini bagian dari aliansi atau kelompok yang benar-benar berbeda. Gentayu segera memutar otaknya. Tampaknya, bertarung dengan kelompok ini akan sangat merepotkan.


“Eh, maaf tuan Panung.. apa? Panunggul Suwi?” Gentayu seolah sedang mengingat-ingat nama si jubah perak yang disebutkan pengawalnya. Namun dia benar-benar gagal mengingatnya.


Pengawal yang barusan membentaknya segera menimpali dengan sedikit jengkel “Panunggul Sewu!” serunya sambil melirik ke arah tuannya.


“Oh, iya! Tuan Panunggul Sewu.. Apakah tuan sedang mencari sesuatu berbentuk seperti batu berkilau warna hijau dan berbentuk bintang bersegi lima? Tapi tentu saja, bukan aku pemiliknya apalagi yang mengambilnya..” Gentayu mulai berakting.


“Berarti benar! Kau yang mengambil segel itu! Pantas saja kau tahu detailnya, bukan?!” Pengawal itu menyerobot saat tuannya hendak bicara.

__ADS_1


‘Begh!’


Sebuah pukulan yang berasal dari sabetan ekor hewan tunggangan Panunggul Sewu melemparkan pengawal itu jauh ke sisi lain pelataran kuil.


“Pengawal Cerewet!” si jubah perak bernama Panunggul Sewu mendengus kesal.


“Maaf tuan..” Gentayu memanfaatkan kesempatannya untuk bicara lebih jauh. Menjawab pertanyaan akan lebih sulit daripada mengarang sebuah cerita, fikirnya. “Orang yang mengambil segel atau apapun itu dengan ciri seperti yang saya bicarakan tadi, jika memang benar itu benda yang tuan maksud, telah tewas! Pembunuhnya seorang bangsa Huang. Lelaki tua yang bertubuh kekar. Namanya.. Karang Setan. Iya, benar! Namanya Karang Setan. Aku tau karena aku yang berusaha menolong lelaki pembawa benda aneh itu, seorang bangsa Huang lain bernama Xie Shou. Sayangnya, kami dikalahkan dengan mudah. Tuan bisa menanyakan kepadanya! Sepertinya, lelaki itu gemar mengkoleksi barang-barang pusaka. Dan Kemungkinan, benda itu juga bagian dari koleksi yang diincarnya untuk dijual kepada kelompok aliran hitam sekutunya!” Gentayu memainkan kata-katanya dengan meyakinkan.


Panunggul sewu tampak berusaha mencari-cari tanda-tanda ketidakjujuran dari ucapan pemuda ‘lugu’ dihadapannya. Namun dia tidak menemukan pertanda itu. Sorot mata, mimik wajah dan gerak tubuh Gentayu sangat meyakinkan. Tentu saja, karena sebgaian besar ceritanya adalah benar. Sisi tidak benarnya adalah Karang Setan mengambil segel tersebut dari tetua Shou. Selebihnya adalah kebenaran. Gentayu hanya ingin mengadu domba keduanya. Setidaknya, Karang Setan akan menemukan lawan yang sedikit merepotkan.


“Hemh! Aku sebenarnya jarang mengampuni nyawa orang lain yang menjadi targetku! Tapi aku bisa mengampinimu, karena kulihat kau tidak ingin berurusan denganku walaupun aku yakin kau tidak selemah yang terlihat. Bagus, bagus! Siapa namamu anak muda? Aku perlu tau namamu dan asalmu, agar mudah mencarimu bila ternyata kau main-main denganku!” Panunggul Sewu berkata dengan suara pelan namun penuh ancaman.


“Ah, tuan. Mana berani saya main-main dengan nyawa saya. Nama saya Tetunggak Karang. Murid dari padepokan Kelabang Hitam. Saya sebenarnya sedang terburu-buru mengejar orang-orang dari Naga Merah ini, tuan! Bila tuan tidak keberatan, saya akan melanjutkan pengejaran.. “ Gentayu asal sebut nama.


Dia sengaja menyebut dirinya dari Kelabang Hitam agar bila nanti Panunggul sewu menyadari dia telah dibohongi, sasaran kemarahan berikutnya adalah kelompok Kelabang Hitam. Misi pengejaran yang disebutkannya hanyalah alasannya agar bisa segera pergi dari tempat itu. Dia segera mengeluarkan pedang kembar, senjata yang memang digunakan anggota ‘kelabang hantu’ (bagian dari Kelabang Hitam) dan memancarkan energi hitamnya agar Panunggul Sewu semakin yakin.


Trik itu ternyata berhasil.

__ADS_1


Gentayu melenggang pergi begitu saja tanpa hambatan dan segera tersedot masuk ke dalam pusaran di tengah cermin. Beberapa tarikan nafas kemudian Cermin dan cahaya terang di bawah tanah itu menghilang. Lenyap begitu saja. Panunggul Sewu bahkan tidak mencegah Gentayu pergi karena berfikir kelompok Naga Merah yang sedang dikejar pemuda itulah yang telah menghabisi anak buahnya hingga gosong saat memasuki tempat ini.


“Kenapa aliran hitam di pulau ini senang sekali membuat masalah dengan aliran hitam pulau kami?? Tidak cukupkah mereka membuat segoro geni terpecah?” Panunggul sewu berkata lirih. Hanya dia dan pengawal terdekatnya yang mendengarnya. Tentu yang dimaksud adalah Karang Setan dan kelompoknya.


Sebuah sinar kemudian muncul dari tangan salah satu pengawal di barisan belakang. Tampaknya ada beberapa orang sakti di antara kelompok ini. Rombongan berjumlah lebh dari duapuluhan orang itu segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan, hewan aneh yang ditunggangi PanunggulSewu terus menyemburkan api dan membumi hanguskan bekas sekte Naga Merah itu. Ruangan bawah tanah super besar itu segera menjadi lautan api yang panas saat rombongan itu keluar melalui gerbang berbentuk sumur.


++++ ++++ ++++ ++++ ++++


Di tempat lain, jauh di pulau Padi Perak. Dari sebuah bangunan yang cukup megah di pulau kecil tengah lautan. Seorang wanita bergaun ungu dengan sebilah pedang di tangannya melayang keluar dari lingkungan pulau tersebut menuju ke bibir pantai tak jauh dari pulau karang tinggi tempat tinggalnya itu. Wanita itulah yang bernama Putri Pandan Wungu. Setelah kehilangan ‘segel kelima’ yang seharusnya dia jaga, Pandan Wungu mendapatkan hukuman. Dia dihukum keluarganya untuk mempelajari sebuah ilmu peninggalan Nyai Tapak Walik.


Ilmu itu adalah sebuah ilmu hitam tingkat tinggi. Penguasaan secara sempurna ilmu itu dipercaya membuat pemiliknya tidak akan bisa dibunuh dengan senjata dan ilmu apapun selama setetes darahnya masih menempel di tanah. Namun efek samping dari ilmu ini sungguh mengerikan. Pemiliknya, tidak akan bisa memiliki jodoh dan merasakan nikmat senggama. Karena setiap terjadi persenggamaan, maka laki-laki yang menjadi lawan mainnya itu akan mati mengering.


Putri Pandan Wungu hanya pasrah saja menerimanya. Bagaimanapun, dia adalah putri dari seorang pemimpin kelompok aliran hitam ternama di Pulau Padi Perak. Kelompok ini dijuluki Sembilan Iblis Darah. Bukan merupakan sebuah perguruan atau padepokan, namun kumpulan sembilan kelompok aliran hitam yang bergabung menjadi sebuah kekuatan besar yang ditakuti. Pengaruh mereka bahkan mengalahkan tiga kerajaan di pesisir barat pulau Padi Perak. Iblis Pencabut Roh, adalah julukan yang diberikan kepada Ki Ranggolo, nama ayah Pandan Wungu.


Hari itu, Pandan Wungu berangkat untuk mempelajari ilmu peninggalan Nyi Tapak Walik. Tujuannya adalah Gunung Tikoro, di bagian barat pulau Padi Perak ini. Di sanalah berdiam Nyi Tapak Walik dalam wujud Rohnya.


**Nb. Maafkan masih belum bisa on time update chapternya. Masih sangat disibukkan dengan rutinitas harian.

__ADS_1


Terus pantau dan dukung kisah ini ya..


Jangan lupa, jaga kesehatan 😷**


__ADS_2