JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Aku Bangkit!


__ADS_3

“Malam ini, ketika malam tiba dan terbit purnama, iblis itu akan bangkit. Tak ada yang bisa mencegah. Tapi, kita bisa merusak prosesnya. Dengan begitu, dia akan kehilangan hampir seluruh kekuatannya dan akan butuh waktu baginya untuk pulih. Sisanya, kita fikirkan nanti saja..” Dewa Alkimia Besar itu segera meraih kantong dari pinggang Lou Shisan.


“Ikuti aku..!” Lanjutnya sembari melangkah ke sebuah kolam kecil membeku tak jauh dari sana.


Xin Long meminta Montawiraba untuk menarik sebuah tuas terbuat dari logam berkilau di sudut kolam beku. Begitu tuas ditarik, sebuah tungku yang mengeluarkan hawa keabadian muncul dari dalam kolam beku.


Tanpa ragu, Xin Long menumpahkan kantong berisi tujuh bola sembilan arwah ke dalam tungku. Saat ketujuh benda segel iblis itu memasuki mulut tungku, api berwarna biru kehitaman segera menyala. Hawa sangat panas menyebar cepat sekalipun saat ini mereka berada di wilayah bersalju. Beberapa lapisan es mulai mencair, termasuk danau kecil beku di hadapan mereka.


Tangan kanan Xin Long segera menuangkan cairan dalam botol giok berwarna hijau ke mulut tungku, menyirami ketujuh bola sembilan arwah.


Suara berderak seperti bebatuan saling membentur segera terdengar.


Makin lama semakin keras terdengar.


Cairan dari botol hijau telah menyelimuti permukaan masing-masing bola sembilan arwah.


Saat itu, baik Lou Shisan, Dana Setra, maupun Montawiraba tidak bermaksud menanyakan apapun yang dilakukan oleh sang Dewa Alkimia Besar. Mereka hanya menyaksikan dengan wajah harap-harap cemas.


Berharap bahwa upaya mereka ini akan berhasil sebagaimana tujuan awal, sekaligus cemas karena mengetahui sosok seperti apa makhluk yang tersebel di dalam bola sembian arwah itu.


Api menyelimuti tungku, dan melelehkan ke tujuh bola sembilan arwah, menyatu dengan cairan dari botol giok hijau lalu mengeras membentuk satu bola gabungan dengan cairan giok hijau sebagai pelarut.


Saat menegangkan segera tiba.


Matahari telah terbenam, dan kemudian purnama terbit dengan kemewahannya dari ufuk timur.


Wajah tegang keempat orang itu memandangi bola berselimut cairan batu giok yang terus ditambah oleh Xin Long ketika cahaya merah mulai muncul.


“Cairan ini, akan menghancurkan tubuh fisiknya dan semoga dapat merusak Tentiennya. Dengan begitu, sekalipun angkit, kita akan punya waktu untuk mempersiapkan diri menghadapinya nanti..” Xin Long tampak begitu yakin dengan cara kerja cairan di tangannya.


Saat malam semakin larut, suara gemerotak terdengar dari balik selimut cairan giok hijau yang mengeras. Tungku bergetar hebat. Bahkan getarannya kini merambat di tanah sekitarnya.


Goncangan ini lebih mirip sebagai sebuah gempa lokal dengan skala besar. Dalam jarak seratusan meter dari tungku, salju menggunung pecah dan hancur. Pepohonan gunung beku juga bertumbangan, tanah tertutup salju tebal membentuk retakan-retakan dan akhirnya rekahan hingga kedalaman menakutkan.

__ADS_1


Cahaya merah membara memancar kuat dari dalam tungku. Intensitas cahaya itu semakin terang seiring waktu. Bersamaan dengan itu, hawa panas segera menyelimuti tempat itu hingga radius beberapa kilometer.


Tak ada lagi lapisan es beku yang bertahan. Semuanya meleleh menjadi air dan air panas!


Para pendekar yang baru bebas dan tengah bermeditasi memulihkan diri terkejut merasakan hawa panas menyengat yang tiba-tiba mereka rasakan.


Sedangkan Dana Setra dan Montawiraba terpaksa membuat tanah di sekitar mereka naik ke perukaan, membentuk benteng tanah guna menangkal hawa panas yang menyengat kulit mereka.


Tungku itu bergetar semakin hebat, dan..


‘DAM!!’


Tungku meledak berkeping-keping menjadi serpihan, dan sesuatu membulat bersinar merah membara melayang keluar dari dalam tungku!


Itu adalah gabungan dari tujuh bola sembilan arwah!


“Hahahahahaha....!!!”


Suara tawa yang berat dan parau terdengar membahana di seluruh puncak gunung. Gemanya bahkan terdengar hingga beberapa kilometer jauhnya.


Nasib tak jauh berbeda dialami Lou Shisan dan Dana Setra. Bedanya, Lou Shisan segera menelan pil penyembuh untuk memulihkan diri dan menghindari kerusakan organnya lebih jauh.


Adapun Dana Setra, dia hanya terhuyung mundur namun tidak terluka sama sekali.


“Bantu Aku!! Serang bola itu dengan kekuatan bersifat merusak aliran energi! Dia tengah menyerap energi di sekitar!” Xin Long tanpa ragu meminta bantuan kepada muridnya dan dua rekannya.


Mereka segera melancarkan berbagai serangan nyaris tak kasat mata ke arah benda bulat yang bersinar layaknya matahari merah di malam hari itu. Hanya kelebat cahaya dan ledakan yang terlihat di sekitar bola sembilan arwah yang telah menyatu itu!


“Kurang Ajar!! Apa yang telah kalian lakukan??!!” suara tawa yang terdengar sebelumnya kini berubah menjadi suara penuh kepanikan.


“AAAAAAARGHKKKKKK...!” Suara melolong kesakitan terdengar, jelas berasal dari gumpalan bulat bersinar merah tujuh bola sembilan arwah!


“Saaaaaa.... Kiiiiit...!! Awas kaliaaaaaan....!!” Suara itu terdengar semakin menggila.

__ADS_1


Tapi, suara ancaman itu hanya dibalas dengan suara ledakan demi ledakan di sekitar tujuh bola sembilan arwah yang melayang itu. Benda itu, kini mulai berputar diiringi suara-suara ledakan yang susul menyusul.


‘DAM!’


‘DUM!’


‘BLARR!


Putaran bola besar merah dengan sinar terangnya terus meningkat kecepatannya. Dana Setra, Montawiraba, bahkan Lou Shisan dan sang guru sendiri kini menghentikan serangan.


Berkali-kali serangan mereka berbalik akibat mengenai bola besar merah bersinar terang membara yang tengah berputar cepat seolah memiliki poros tak terlihat. Mereka tak ingin mengambil resiko lagi.


Tapi tepat di saat itulah, sebuah bayangan lain berwarna hijau muncul tak jauh dari bola merah bersinar membara itu. Bayangan itu juga berputar seperti halnya bola sembilan arwah berputar. Sekilas, keduanya mirip dengan dua buah gasing yang siap beradu. Satu merah dan satunya hijau, dengan ukuran berbeda.


‘CRAK!’


‘BDEBAM!!


Suara ledakan sangat keras diikuti goncangan dahsyat terjadi.


Saking kerasnya, suara itu bisa didengar dari jarak puluhan kilometer ke segala penjuru lembah. Gelombang kejut tercipta dari benturan keduanya.


Sang sosok ‘gasing’ berwarna hijau jatuh bebas dari udara tepat di hadapan Xin Long dan para tamunya. Sementara bola sembilan arwah terlihat berhenti berputar, dengan sinar redup. Sebelum..


‘BLAR!!’


Bola merah membara itu meledak!


Enam bola arwah terbang melayang dengan bebas ke angkasa, sementara satu bola lainnya hancur menjadi serpihan.


Keenam bola itu melayang dan bergerak seolah memiliki fikirannya sendiri, kemudian bersatu di udara dalam sebuah formasi.


Enam bola arwah di angkasa perlahan membentuk satu wujud utuh serupa manusia. Satu membentuk kepala, satu tubuh, dua tangan dan dua kaki, dalam balutan cahaya merah membara yang mulai meredup kembali setelah wujud manusia itu terbentuk.

__ADS_1


“Aku Bangkit!! Hahahahahaha....”


__ADS_2