
Gentayu tiba di tepi hutan dan melihat salah satu kadal api yang dilepaskannya beberapa waktu lalu tengah memangsa seekor singa bersurai merah.
Singa ini hanya hewan biasa, belum bermutasi menjadi siluman sebagaimana kadal api raksasa miliknya. Gentayu menelisik kondisi kadalnya sebentar, dan menemukan fakta bahwa kekuatan hewan tersebut telah meningkat signifikan sekalupun belum sama sekali menyentuh level pendekar bumi seperti Sempati.
Gentayu segera beranjak dari tempat itu menuju ke bagian tengah hutan dengan melayang di antara pepohonan, mengamati hewan-hewan siluman yang dilepaskannya lima hari yang lalu. Sempati tetap bertengger di bahunya. Belum bisa terbang karena bulu-bulunya belum sepenuhnya tumbuh sempurna.
“Kau boleh berburu sendiri hewan-hewan kecil di sini kalau mau..” Gentayu berkata kepada Sempati seraya mengelus kepala burung tersebut.
Sempati seolah mengangguk, lalu merosot begitu saja dari bahu Gentayu yang tengah melayang di udara. Awalnya, burung itu terlihat seperti jatuh bebas di udara, tapi beberapa jengkal sebelum menyentuh tanah, burung itu mengepak-ngepakkan sayapnya dan berhasil mengurangi kecepatan jatuhnya, walaupun tetap jatuh di atas rerumputan.
‘gusrak.. gusrak..!’
Terdengar suara berisik di semak-semak tempat jatuhnya si anak garuda.
Tak lama, anakan burung raksasa itu telah keluar dari semak-semak itu, tapi dengan menyeret seekor ular di mulutnya.
__ADS_1
Ular berwarna hitam legam itu memiliki corak unik di bagian kepala, dengan sebuah batu mustika berwarna merah di keningnya, menunjukkan bahwa ular itu jelas seekor siluman. Tapi, di hadapan Sempati, siluman ular itu tampak tak berdaya,
‘Ada siluman juga rupanya di tempat ini. Masuk akal! Pasti siluman-siluman Danyang yang lemah akan datang kemari krn butuh makanan. Lalu, yang lebih kuat di depan sana akan memangsa siluman-siluman yang lemah ini dan seterusnya. Semakin ke dalam hutan akan semakin kuat silumannya.. aku mengerti!’ Gentayu seolah mendapat pencerahan.
Kali ini, Gentayu melayang turun ke sisi Sempati yang tengah mematuk daging ular tangkapannya.
“Penglihatanmu yang tajam, bisa membantuku mengenali siluman danyang. Kufikir, kita harus bekerja sama. Sempati, tunda dulu makanmu, kita kumpulkan dulu daging-daging ini. Sementara itu, tunjukkan aku posisi siluman-siluman Danyang di antara hewan-hewan ini..” Gentayu sedikit membungkuk ke arah Sempati yang segera meninggalkan makannannya.
Gentayu segera menyimpan daging ular hitam itu ke dalam gelang gerobok, sementara Sempati kembali bertengger di bahu kanannya. “Kita akan jadi tim yang hebat..!” seru Gentayu kepada Sempati sebelum melangkah masuk ke dalam hutan.
Sebenarnya, Gentayu dengan kekuatannya saat ini sudah mampu mengenali dan membedakan hewan biasa dan hewan siluman. Hewan biasa, tidak akan memiliki energi dath yang terkumpul dalam jumlah tertentu. Sedangkan hewan siluman danyang, mereka pasti memancarkan aura siluman yang kuat, dan energi dath yang terkumpul di salah satu bagian tubuh mereka.
Baru saja Gentayu melangkah kurang dari sekitar seratus meter, Sempati berteriak nyaring ke salah satu dahan kayu. Gentayu segera mengamati titik di mana Sempati memandang dengan antusias sembari mengepak-ngepakkan sayap seolah ingin melompat.
Tak jauh dari ranting hijau aneh itu, seekor kijang seukuran anak sapi melompat kemudian berlari kencang menjauhi mereka ketika mendengar teriakan Sempati.
__ADS_1
Setelah sang kijang menjauh, terlihat ranting kayu yang tengah diamati Gentayu bergerak-gerak. Meninggi. Membesar. Menampilkan sepasang mata bulat besar dengan tubuh berwarna hijau.
Ranting kayu itu ternyata seekor belalang sembah raksasa berkekuatan pendekar bumi awal.
Tungkai depan serangga itu bermutasi membentuk sepasang alat pertahanan yang kokoh, sepasang pedang!
Tapi jelas, pedang itu tidak terbuat dari logam melainkan bagian dari tubuhnya sendiri. Dilihat dari ukuran dan tingkat kematangannya, setidaknya serangga ini telah berumur ratusan tahun.
Belalang sembah itu bermaksud hendak menyergap seekor kijang saat Gentayu datang.
Kijang itu akhirnya berlari karena mendengar teriakan Sempati. Akibatnya, kini kemarahan sang belalang sembah sepertinya ditujukan pada sempati dan Gentayu.
Tanpa menunggu, salah satu dari sepasang tungkai depan belalang setinggi empat meter itu menyabet Gentayu.
Udara berdesing terdengar saat tungkai yang lebih mirip pedang itu menyambar ke arah leher Gentayu. Telat sedikit menghindar, kepala Gentayu mungkin akan berpisah dari badannya karena kuatnya sabetan hewan ini.
__ADS_1
Gentayu berhasil menghindar dengan melopat ke belakang, menciptakan jarak antara dirinya dengan serangga raksasa itu. Tapi, sepertinya si belalang sembah tidak mengizinkannya bernafas lega. Karena hanya diperlukan waktu kurang dari dua detik kemudian, sebuah serangan kaki depan lainnya mengarah dari sisi samping belakang gentayu.
Rupanya, ada belalang sembah lainnya di tempat itu. Sepasang belalang sembah dengan ukuran hampir tiga kali manusia biasa!