
Keramahan yang ditunjukkan oleh Lei Ziang cukup mengejutkan Gentayu dan putri Nakano.
Mereka awalnya datang dengan penuh antisipasi bahwa rencana mereka akan sedikit mengalami hambatan. Bahkan Gentayu telah mempersiapkan skenario untuk sebuah kondisi terburuk jika harus bertarung andai mereka harus menyusup diam-diam dan ketahuan.
Namun keadaan ternyata berbanding terbalik dengan yang mereka fikirkan.
Lei Ziang terus memasang senyum saat mereka berbincang beberapa saat setelahnya.
Selang sepuluh menit berlalu, akhirnya Lei Ziang mengajak kedua orang itu ke sebuah bangunan sederhana tak jauh dari sana.
Selama berbincang, Gentayu dan putri Nakano sama sekali tidak menyebutkan identitas Gentayu, selain memperkenalkannya sebagai seorang dari Dwipantara saja.
Mereka memasuki pintu yang tinggi, namun tidak terlalu lebar.
Bangunan tua tersebut terlihat cukup kokoh sekalipun nampak kurang terawat. Tak ada kursi tamu ataupun meja di dalamnya.
Namun di tengah ruangan terdapat lubang persegi empat tidak terlalu dalam. Tampaknya, di tepi lubang itulah biasanya orang yang berkunjung ke tempat ini duduk. Ada api unggunkecil di tengah-tengah lubang tersebut, yang sepertinya digunakan sebagai pengusir dingin bagi manusia biasa.
Lei Ziang mempersilakan Gentayu dan putri Nakano untuk duduk, namun Gentayu dengan halus menolak karena ia ingin segera mendapat kepastian diizinkan memasuki hutan petir.
Lei Ziang pun akhirnya tidak lagi berbasa-basi.
Wajahnya segera berubah menjadi cukup serius saat berkata, “Adik kecil dan Nona Nakano. Klan petir kami dan Marga Api tidak pernah memiliki sejarah permusuhan. Bahkan, klan kita adalah sekutu dalam Tujuh Penjaga Gerbang. Secara otomatis, aku yang tua ini perlu memberikan nasehat kepada adik kecil dan Nona Nakano.
Meskipun latar belakang kita tidak akan menghalagiku dari mengizinkan kalian, tapi hubungan pribadi antara adikku dan Nona Nakano dan Marga Api mengharuskanku mengatakan ini demi keselamatan kalian.
Hutan ini adalah aset dari Klan Petir kami. Kalian juga pasti telah mendengar bahwa, hutan petir ini bersifat menekan kekuatan Qi seseorang. Bahkan pada tahap tertentu, mampu menghapusnya sama sekali.
__ADS_1
Karena kalian ingin memasukinya, kuharap kalian telah memiliki persiapan dan kekuatan yang cukup untuk bisa bertahan di dalamnya.
Bukan sebuah kesombongan, bila aku yang tua ini berani mengatakan bahwa selain mereka yang memiliki afinitas elemen petir dalam dirinya seperti orang-orang klan Lei kami, tidak akan ada yang bisa bertahan hidup di dalam hutan petir ini. apalagi, bila kalian mengatakan untuk berlatih..”
Suasana hening sejenak saat Lei Ziang mengatakan perkataannya. Jelas maksudnya adalah membujuk Gentayu dan putri Nakano agar membatalkan niatnya.
Tidak ada yang salah sebenarnya dengan semua ucapan Lei Ziang. Karena begitulah kenyataannya.
Hutan Petir adalah bagian dari fasilitas unik milik Klan Petir. Hutan ini memberi dukungan dan manfaat nyaris tak terbatas kepada Klan Petir dalam aspek sumber daya energi untuk pelatihan. Tentu saja, ini hanya berguna bagi mereka yang berada di bawah pendekar langit.
Sementara Energi petir di sini bermanfaat bagi mereka, klan petir, bagi orang lain dengan afinitas selain api dalam dirinya akan menemui kehancuran akibat pengekangan dan pemusnahan Qi mereka di dalam lautan petir.
Gentayu hanya mengangguk tanpa komitmen mendengarkan perkataan lelaki setengah tua berjubah warna perak tersebut. Sementara putri Nakano memang tidak berniat memasuki hutan petir sejak awal andai bukan karena kebutuhan akan energi petir guna mengaktifkan tombak kristal.
“Senior benar. Terimakasih telah mengingatkan kami, para junior. Dan seperti juga senior katakan, aku memang telah mempersiapkan diri sebelumnya. Mohon berkenan memberikan izin..” Gentayu tampaknya telah siap untuk mendengarkan ucapan dari Lei Ziang sebelumnya.
Lei Ziang menyampaikan nasihat sebelumnya dengan mimik wajah dan bahasa tubuh yang tulus. Namun entah mengapa, Gentayu menangkap ada sesuatu yang janggal. Namun dia mengabaikan perasaan tersebut saat ini.
Saat Gentayu mengatakan hal tersebut, sebuah kilatan aneh muncul begitu saja di mata Lei Ziang. Namun sangat sulit bagi orang lain untuk melihatnya karena hal itu hanya berlangsung sekejap.
“Baiklah bila itu yang kalian mau. Kalian harus hati-hati dan menjaga nyawa kalian selama di dalam. Ada beberapa Iblis tua yang masih terpenjara di dalam sana. Aku harap, kalian tidak menemui masalah dengan mereka..” Lei Ziang hanya menggeleng saat menyatakan persetujuannya.
Dia menepuk tangannya sendiri, dan tak lama dua orang bawahannya segera muncul. Keduanya berjubah perak, persis sama dengan jubah Lei Ziang. Kecuali ada simbol teratai kecil di kerah baju Lei Ziang yang tidak dimiliki kedua orang di hadapannya.
Keduanya adalah Lei Wei dan Lei Ming, dan sepertinya memiliki kekuatan sedikit lebih lemah di bawah Lei Ziang.
“Apakah tetua Ziang memerlukan bantuan?” salah satu dari keduanya, Lei Ming yang berwajah brewok lebat bertanya dengan santai.
__ADS_1
Dari sikap bawahannya ini, terlihat bahwa ketiganya sangat akrab selama berada di hutan petir ini sehingga segala formalitas senior -junior dan tetua – anggota sepertinya tidak terlalu kental.
“Mereka adalah Nona Nakano, putri leluhur Kaisar Hidama terdahulu yang juga saudara seperguruan Lei You Won, dan sesama dari Marga Api. Mereka meminta kit untuk mengizinkan menggunakan hutan petir sebagai tempat berlatih...”
“Tapi..” Lei Ming tampak kurang setuju dengan ide tersebut. Dia akan menyanggahnya sebelum suara tidak senang terdengar dari mulut Lei Ziang.
“Aku telah menyetujuinya. Dan mereka menyatakan mereka siap dengan segala resikonya. Tolong kalian berdua antarkan mereka menuju pintu masuk” Lei Ziang segera memotong ucapan keberatan yang hendak disuarakan oleh Lei Ming.
Wajahnya acuh dan acuh dan terlihat sedikit sorot mata dingin di matanya ketika tangannya memberi isyarat untuk segera membawa Gentayu dan putri Nakano meninggalkan ruangan.
“Baik, tetua” kedua orang bawahan itu menjawab serempak.
“Mari ikuti kami..” Lei Ming segera melangkah keluar setelah memberi isyarat kepada Gentayu dan putri Nakano untuk mengikutinya.
Putri Nakano dan Gentayu segera mengikuti Lei Ming keluar dan segera menghilang di balik rerimbunan pohon yang menutupi tebing, sementara Lei Wei hanya menyusul tak lama kemudian.
Setelah Gentayu dan rombongan itu pergi beberapa saat kemudian, senyum dingin yang aneh tersungging di bibir Lei Ziang.
Tangan tetua itu tampak meraih gulungan merah dengan segel tengkorak. Segera setelah segel tengkorak dilepaskan, telunjuknya segera bergerak-gerak seperti menggambar pola garis tertentu di atas gulungan.
‘ZAP!’
Cahaya terang menyilaukan keluar dari lembaran gulungan di tangan Lei Ziang memaksanya melindungi matanya dari sinaran cahaya tersebut. Cahaya itu bertahan beberapa saat sebelum kembali redup dan menghilang.
Sesaat setelah menghilangnya cahaya, kabut hitam entah dari mana mulai berkumpul di hadapannya.
Kabut hitam itu semakin pekat dan terus menggumpal, menampilkan sesosok manusia di dalamnya.
__ADS_1
Nb. Putri Nakano menggunakan kata 'energi Reiki', orang-orang di sekeliling Gentayu menggunakan istilah 'Energi Prana/energi Ilahi' , Sedangkan Lei Ziang dan Lou Shisan menyebutnya 'Energi Qi'.