JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana VIII


__ADS_3

Sosok itu membuka penutup wajahnya. Dengan penerangan dari obor yang dibawanya, Hao Lim segera mengenali wajah di balik kain penutup tersebut.


“Hah? Kau.. Pencuri kecil?!” Hao Lim berkata setengah terpekik mengenali sosok tersebut.


Sementara itu, orang yang dipanggil sebagai pencuri kecil menggembungkan pipinya dengan muka cemberut. Rekan di sebelahnya kini telah menurunkan busur panahnya setelah memastikan keempat orang yang mereka serang bukanlah musuh.


“Huh! Kenapa kau selalu memanggilku ‘pencuri kecil’? Bukankah kau bisa memanggilku dengan panggilan lain yang lebih menghiburku? Peri cantik, misalnya..” gerutu sosok wanita berpakaian hitam tersebut.


“Apa? Memanggilmu peri cantik? Hahahahaha.... bahkan sapi saja terlihat lebih cantik ketika diberi riasan daripada dirimu...” ledek Hao Lim sembari menyambut pelukan perempuan yang disebut ‘pencuri kecil itu.


Kontan saja, sebuah jitakan mendarat di kening Hao Lim karena menyamakan sahabat lamanya itu dengan sapi. Lalu keduanya berpelukan cukup lama, menunjukkan ada kerinduan di dalam hati keduanya.


Memang benar demikian adanya. Perempuan muda dipelukannya itu adalah sahabat Hao Lim.


Mereka bertemu lebih dari lima tahun silam. Saat itu, si pencuri kecil yang aslinya bernama Anila ditemukannya dalam kondisi terluka parah akibat pertarungan dengan salah satu sesepuh wanita padepokan Mawar Hitam. Anila memang salah satu pendekar dari Mawar Hitam sebelum perguruan itu menjadi kelompok aliran hitam seperti saat ini. sebelumnya Mawar Hitam memang bukan aliran hitam. Perguruan itu didirikan dalam rangka membela kaum perempuan yang lemah dan tertindas.


Anila dan beberapa sahabatnya memilih meninggalkan padepokan tersebut saat terjadi perubahan besar dalam perguruan. Tanpa disadarinya, ternyata sang guru besar menitipkan kitab rahasia perguruan dalam bentuk pedang pusaka.


Pedang itu sendiri dihadiahkan gurunya saat dirinya masih menjadi murid senior. Karena pedang itulah, dia kemudian diburu beberapa waktu setelah meninggalkan perguruan. Saat itu, Nyi Mawar Arum yang baru saja menjadi guru besar sekaligus pemimpin padepokan baru menyadari bahwa kitab rahasia yang mereka cari sudah tidak ada di padepokan lagi. ‘Pencuri kecil’ adalah julukan yang diberikan padepokan kepadanya karena hal itu. Walaupun kalau dianggap mencuri sekalipun, barang yang dicuri bukanlah hal kecil.


“Kau sama sekali tidak berubah, Lim. Sekalipun wajahmu...” belum sempat wanita itu menyelesaikan kalimatnya, Hao Lim segera membungkamnya dengan telapak kanannya agar tidak meneruskan ucapannya.


Hal itu membuat Sakuza, Yumiko dan Gentayu mengernyitkan alis mereka. ‘Apa yang terjadi?’ batin mereka.


“Oh iya, perkenalkan ini.. Gentayu. Dua gadis ini, Sakuza dan Yumiko..” Hao Lim memperkenalkan Gentayu dan lainnya kepada Anila.

__ADS_1


Gentayu, Sakuza dan Yumiko serentak memberikan penghormatan kepada Anila yang dibalas dengan penghormatan serupa.


“Ngomong-ngomong, aku sedang ada pekerjaan. Tepatnya, bersenang-senang dengan prajurit Lamahtang. Kalau kalian ingin bergabung, silakan...


Aih.. tampaknya pesta telah dimulai. Aku pergi dulu..!” Anila menoleh ke bagian dalam dari hutan. Terlihat api besar telah membakar bagian dalam hutan tersebut. Tanpa menunggu, setelah berpamitan wanita itu segera melesat bersama rekannya yang memegang busur panah.


Gentayu dan kedua gadis dari Hidama itu dibikin bingung oleh sikpa Anila yang bagi mereka misterius tersebut. Namun, ketika mendengar pekikan kematian para prajurit dari dalam hutan akhirnya mereka faham apa yang dimaksud oleh Anila sebagai ‘pesta’ tersebut.


“Kukira, ledakan dahsyat di atas langit tadi berkaitan dengan mereka juga. Apakah mereka sedang melakukan serangan ke Lamahtang?” Gentayu mencoba mencerna situasinya.


Menyaksikan ratusan prajurit keluar benteng dan melakukan pengejaran, jelas bukan sesuatu yang bisa diabaikan sebagai hal biasa. Pasti ada hal besar tengah terjadi. Yang paling masuk akal adalah mereka melakukan serangan. Tapi, siapa kelompok yang cukup gila menyerang sebuah kerajaan? Bukankah pasukan raja sendiri harus mengungsi sebelum terbantai?


“Sebaiknya, kita ikut masuk ke dalam hutan dan memeriksa kondisinya..”usul Hao Lim seolah memahami kebingungan Gentayu.


“Baiklah, mari..” Gentayu segera berlari masuk ke dalam hutan. Diikuti oleh kedua gadis dari Hidama. Hao Lim justru tertinggal.


Saat mereka tiba di dekat api berkobar, pemandangan mengerikan terpampang di hadapan mereka.


Ratusan prajurit Lamahtang tampak menggelepar menjemput kematian dalam kurungan api. Beberapa di antara mereka mencoba menerobos api, namun hasilnya sama saja. Tubuh mereka terbakar lebih cepat karena api yang mereka coba terobos terlalu besar dan luas.


Terlihat ada lima orang yang berhasil keluar dari kurungan api. Namun kondisi mereka tidaklah mulus. Beberapa bagian tubuh mereka tampak terbakar, namun mereka selamat.


Saat itulah, mereka melihat Anila menghadang kelima orang tersebut dengan melemparkan pisau-pisau kecil dari bambu lalu menghilang. Tak lama, sepertinya pemimpin dari keempat orang itu menyadari sesuatu, sayangnya dia menyerang ke titik yang salah. Saat itulah, keempat rekannya tewas terkena jarum-jarum kecil tak terlihat di beberapa bagian tubuh mereka.


Anila terlihat melemparkan pisu kecil sekali lagi lalu menghilang di balik kegelapan malam. Wanita itu jelas menyadari bahwa terpapar cahaya api besar yang menciptakan bayangan tidaklah baik saat berhadapan dengan pendekar pengendali bayangan seperti lawannya. Namun kali ini serangannya tampaknya meleset. Pisau-pisau itu menancap di tanah.

__ADS_1


Anila muncul sekali lagi dengan serangan pisau yang lebih cepat, namun serangan itu bisa digagalkan oleh lawannya. Bahkan terlihat Anila harus berjungkir balik menghindari pisaunya sendiri yang kini berbalik menyerangnya.


Pisau itu dapat ditangkap dengan jepitan kaki, dan dilempar kembali kepada lawan. Kali ini tidak mengarah ke badan tapi ke atas tanah.


“Orang itu benar-benar bodoh karena tidak menyadari dalam pisau itu terkandung racun uap yang ganas..” Sakuza memberikan komentarnya melihat pertukaran serangan singkat antara Anila dengan lawannya, Upang Jenglot.


Mereka yang menyaksikan sebenarnya bisa menilai bahwa kemampuan bertarung Anila jauh di bawah lawannya. Namun karena kurang teliti, akhirnya lawan yang lebih kuatpun terlihat terhuyung-huyung sebelum roboh ke tanah.


“Orang-orang itu dari Kelabang Hitam...”Yumiko justru memperhatikan identitas pemimpin prajurit yang kini telah tercabut nyawanya oleh pisau Anila yang lain.


‘SUUIIIIIITTT...!’ terdengar sebuah suitan keras. Anila tampak memberi kode tertentu kepada sekelilingnya. Tak lama, sepuluh bayangan hitam bermunculan di sekitarnya.


“Ayo, Lim!!” Katanya sambil menoleh ke arah Gentayu dan lainnya bersembunyi mengamati.


Akhirnya mereka keluar dan bergabung dengan kelompok Anila yang telah melesat mendahului.


“Hadeeeh. Dasar! Niat tidak sih pencuri kecil itu mengajak kita?” Hao Lim kembali menggerutu kesal karena kembali tertinggal rombongan. Bahkan, ketiga rekan seperjalannya telah bergerak mendahuluinya. Dengan malas, akhirnya dia menyusul melesat meninggalkan tempat tersebut.


“Sebenarnya, apa yang terjadi Nona?” Gentayu sengaja mendahului rombongan agar bisa menyusul Anila. Sambil menggunakan jurus Langkah Anginnya, gentayu menyempatkan bertanya.


“Kami sedang melakukan penyerangan! Kau lihat di atas sana??” Anila menunjuk ke langit. Tampak lima orang tengah mengelilingi seseorang. “Kalau ingin membantu, kita bergabung bersama prajurit Kadipaten menyerang dari sisi barat dan timur!” tambahnya lagi.


“Karang Setan??” Gentayu tampak lebih tertarik melihat lima orang yang mulai melakukan serangan ke arah sosok yang diperkirakan sebagai Karang Setan itu.lalu dia memisahkan diri sebelum melesat tinggi ke udara.


“Hei, mau kemana kau??!!” Anila berusaha mencegah Gentayu. Dia berfikir, karena terlihat masih muda, Gentayu hanyalah anggota dari Naga Merah yang mengawal matriark Lim dengan kemampuan paling tinggi Pendekar Ahli saja. “Ah, cari mati itu bocah..!”sesalnya kemudian.

__ADS_1


Segera dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Matriark Lim di belakangnya. Sepuluh orang lainnya tetap melaju kencang menuju gerbang timur.


__ADS_2