
Selepas memindahkan sisa kadal raksasa ke dunia tepi danau, Gentayu segera mengirim tiga monster miliknya untuk menjinakkan ke sembilan ekor kadal yang tersisa tersebut.
“Jinakkan mereka! Terserah bagaimana cara kalian! “ Gentayu berpesan singkat sebelum tiga cahaya hijau, merah dan ungu terlihat melesat dari bahu kirinya ke lengan kirinya di mana gelang hitam melingkar.
Tanpa menunggu lagi atau sekedar berbasa-basi, Gentayu segera melompat kembali menghampiri tubuh para kadal yang belum sepenuhnya hancur. Dia mencabut salah satu dari dua pedang kembarnya.
“Apa yang akan dilakukan pemuda itu dengan bangkai-bangkai itu?” tanya Yin Xui yang berada di samping Matriark Lim.
Matriark Lim hanya menoleh sebentar ke arahnya, namun tidak menjawabnya karena dia juga tidak mengetahui jawabnya.
Yang mereka lihat adalah Gentayu menebaskan pedangnya ke bagian dada kadal itu. Sekali tebas, dada kadal terbelah. Tampak tangan Gentayu masuk ke dalam belahan luka yang dibuatnya. Mencari -cari sesuatu, dan begitu menemukan yang dikiranya sesuatu yang dicari segera diraiknya kembali tangannya.
Kini tangan Gentayu terlihat memegang sesuatu. Masih berlumur darah namun terlihat berkilau. Pemuda itu segera menyimpan benda itu ke balik jubahnya. Lalu bergerak pada tubuh-tubuh kadal lainnya. Melakukan hal serupa seperti yang dilakukan pada tubuh kadal pertama.
Yumiko dan Sakuza yang pernah melihat bagaimana Gentayu ‘menjarah’ tubuh lawannya saat berhasil mengalahkan anggota Kelabang Hantu langsung tanggap. Apapun yang sedang diambil Gentayu, pasti sesuatu yang berharga.
Mereka berdua saling berpandangan. Lalu sama-sama mengangguk. Kemudian keduanya ikut melompat menyusul Gentayu untuk memanen apapun itu.
Para pendekar sekte Tujuh Tirai yang tidak mengerti apa yang dilakukan Gentayu memilih menunggu pemuda itu menyelesaikan kesibukannya. Mereka lebih memilih membereskan mayat-mayat para pengendali, menumpuknya kemudian membakarnya. Mereka tidak ingin mayat-mayat ini menjadi sumber penyakit di sekitar wilayah tinggal mereka.
Setelah selesai dengan mayat para pengendali kadal, para tetua melanjutkan membakar sisa tubuh kadal yang telah selesai dipanen Gentayu dan dua pendekar perempuan. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ketiganya sepertinya menyukai aktivitas mengacak-acak tubuh para kadal.
Tak lama kemudian, mereka semuanya selesai dengan aktivitasnya. Begitu juga dengan tiga cahaya berwarna ungu, merah, dan hijau yang terlihat melesat kembali dari lengan kiri Gentayu menuju bahunya.
Mereka ingin sekedar berbasa-basi sejenak. Terutama para pendekar Sekte yang dipimpin Matriark Lim. Tentu dia ingin berterima kasih sekali lagi kepada Gentayu dan dua pendekar perempuan asing itu. Namun, niat itu diurungkan saat Gentayu memberi tanda pada mereka.
+++ +++ ++++ +++ +++ +++ +++ +++
Sebelas orang pendekar berikut Ki Sabrang Giri tiba di bekas lokasi pertempuran tanpa sempat melihat siapa yang bertarung melawan siapa.
Mereka hanya menemukan tempat itu terlihat rusak parah. Banyak pepohonan yang tumbang terbakar berikut semak-semaknya. Beberapa bagian memang sudah padam apinya, namun sisa sisa asap masih mengepul di sana sini.
__ADS_1
Tidak ada mayat manusia dan bangkai kadal raksasa yang tersisa karena para pendekar dari Sekte Tujuh Tirai dibantu Yumiko, Sakuza dan Gentayu telah memusnahkan mereka dengan dibakar agar tidak menjadi sumber penyakit.
Orang-orang dari Lentera langit yang kebingungan segera memeriksa sekeliling, namun tidk ada petunjuk berarti.
“Kita terlambat. Tempat ini benar-benar rusak parah” Kata Ki Sabrang sambil menggelengkan kepalanya.
“Guru, Bagaimana kalau kita bertanya saja pada penduduk di lembah bawah sana. Barangkali ada di antara mereka yang tahu apa yang telah terjadi?” Usul salah satu pemimpin cabang.
“Baik. Kita ke sana. Tapi aku tidak begitu yakin..” Ki Sabrang segera melesat menuju ke jurang yang di bawahnya terdapat lembah besar di mana Sekte Tujuh Tirai tinggal bermarkas. Para peendekar lainnya segera mengikuti sang guru besar mereka.
Gentayu, dua pendekar dari Hidama beserta para petinggi Sekte Tujuh Tirai sebenarnya masih berada di tempat tersebut. Namun mereka segera bersembunyi ketika merasakan kehadiran Ki Sabrang beserta orang-orangnya ke tempat itu. Untuk saat ini, lebih baik orang asing tidak mengetahui tentang identitas Sekte Tujuh Tirai.
“sepertinya aku mengenali orang tua itu. Kalau tidak salah, dia adalah guru besar dari Lentera Langit... “ Kata Gentayu setelah Ki Sabrang beserta rombongannya meninggalkan tempat itu.
“Orang tua oportunis itu ya...” Matriark Lim menyahuti. Dia belum pernah sama sekali bertemu dengan Ki Sabrang. Namun, sebagai salah satu kekuatan yang pernah menjadi pendukung kerajaan Lamahtang, tentu saja nama dan sepak terjang Lentera Langit pernah dia dengar.
Gentayu menoleh ke arah Matriark Lim. Menatapnya agak lama. Sementara yang ditatap justru keheranan.
“Kenapa menatapku seperti itu? Kau tak terima aku mengatakan itu? Atau kau jangan-jangan benar-benar naksir aku, ya?” kata Matriark Lim sambil menaikkan sebelah alisnya.
‘Dasar nenek genit!’ katanya dalam hati.
Orang-orang yang melihat mereka terpaksa menahan tertawa karena tak ingin mendapat omelan sang Matriark.
“Jadi, apa guna kristal-kristal kecil ini?” tiba-tiba Yumiko bertanya pada Gentayu.
“Kristal??” tanya para tetua sekte serentak. Mereka sepertinya tidak menyangka dalam tubuh para kadal itu terdapat kristal.
“Artinya, Kadal-kadal itu adalah kadal siluman? Dan Kristal itu, jangan katakan bahwa kristal itu adalah permata siluman!” Matriark Lim berkata dengan antusias, sekaligus menyesal karena tidak ikut serta memanen kristal-kristal yang jumlahnya banyak itu. Sebagai sekte yang mendalami seluk beluk jiwa dan roh, bangsa siluman dan kegunaan permata siluman tentu saja mereka ketahui.
Namun selama ini, di pulau Emas Besar ini sangat jarang mereka bertemu siluman. Apalagi dalam jumlah banyak di suatu tempat seperti di hadapan mereka ini. Mereka mempelajari, bahwa permata siluman sangat baik untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan seorang pendekar.energi yang dikandungnya sangat besar dan mudah diserap sebagai sumber kekuatan selama mengetahui tekniknya.
__ADS_1
“Betul!” Jawab Gentayu yang makin membuat mata matriark Lim terbelalak tak percaya dirinya melewatkan sebuah pesta besar.
“Matriark tak usah khawatir. Sekalipun tidak sempat mengumpulkan permata siluman itu, namun kekuatan sekte kalian akan meningkat drastis dengan kehadiran para kadal ini..” Kata Gentayu.
Selesai berkata demikian, dari gelang hitam di tangan Gentayu muncul berkas sinar yang keluar. Sembilan ekor kadal raksasa yang tadi masuk ke dalam alam tepi danau saat ini telah muncul kembali di hadapan mereka.
“Kuharap, keberadaan mereka dapat memperkuat pondasi sekte. Semoga suatu saat, sekte Naga Merah ini akan menjadi pilar kekuatan utama bagi aliran putih. Matriark, tugasku di sini sepertinya sudah selesai. Kalian harus bisa menjelaskan situasinya kepada orang-orang dari Lentera Langit itu” Kata Gentayu menyadarkan mereka bahwa Gentayu benar-benar akan segera pergi setelah ini.
Para tetua kecuali Yin Xui segera mendekati para kadal. Kali ini para kadal benar-benar tunduk dan tidak lagi menyerang mereka. Terlihat banyak bekas luka dan lebam di tubuh mereka. Tampaknya itu ulah ketiga monster. Melatih mereka selanjutnya adalah urusan para tetua.
“Oh ya, perkenalkan. Ini adalah nona Yumiko dan nona Sakuza. Aku bertemu dengannya beberapa bulan lalu. Tak kusangka hari ini bertemu kembali di sini. Nona berdua, sampai saat ini aku belum juga tahu misi kalian di negeri ini. Tapi, semoga nona berdua berhasil. Aku permisi..” Gentayu hendak pergi setelah memperkenalkan Yumiko dan Sakuza.
“Eeeeeh.. Tunggu.. dasar tidak sopan!” Protes Sakuza kali ini kepada Gentayu. “Kau sama sekali tidak mau berterimakasih kepada kami, heh?” lanjutnya.
“Apa kau ini sang pewaris api?” tanya sakuza tiba-tiba kepada Gentayu.
Gentayu tiba-tiba menjadi tegang. Mungkin perasaannya saat ini sama dengan yang dirasakan seseorang yang punya hutang tiba-tiba ditegur orang mirip debt colector untuk menagih hutang, begitulah kira-kira.
“Mmmak... maksudnya..?” Gentayu tentu saja tidak memahami maksud kedua wanita itu.
Matriark Lim juga mengerutkan dahinya mendengar Sakuza bertanya demikian pada Gentayu.
“Perlihatkan punggungmu..!” Yumiko berkata dengan nada bicara seperti memerintah.
“Untuk apa?” tanya Gentayu, sedikit protes karena itu berarti dia harus membuka baju di hadapan orang-orang ini.
“Cepaaaat!” Kali ini Yumiko langsung mebalikkan tubuh Gentayu, sedikit mamaksanya membuka bajunya.
Gentayu akhirnya menurut.
“Aaah.. benar ternyata!” kedua pendekar wanita dari Hidama itu tampak kegirangan setelah melihat punggung Gentayu. Gentayu menjadi bingung dibuatnya. Demikian juga para pendekar yang ada di sana.
__ADS_1
Tak ada apapun di punggung Gentayu kecuali belang berwarna putih yang sepintas mirip panu itu. Namun bagi mata yang jeli, belang putih tersebut membentuk pola tertentu dan ada semacam simbol api sewarna kulit yang tersamar.
“Kalau begitu, mulai sekarang kami akan mengikutimu..!” Kata kedua wanita itu serentak. Semakin membuat Gentayu bertambah bingung.