
Tak jauh dari benteng kerajaan, tampak ratusan obor bergerak mendekat di tengah kegelapan malam yang belum terlalu larut itu. Dari sanalah sumber panah-panah api itu berasal. Panah-panah api terus melesat menuju bagian dalam tembok kerajaan. Melintasi tembok tinggi dan membakar apapun yang dijangkaunya.
Obor-obor itu terus bergerak maju mendekati pintu gerbang utama, dan lesatan anak panah meraka telah menjangkau area yang lebih dalam dari tembok benteng. Sebagian pasukan yang membawa obor itu kemudian mendobrak gerbang depan tanpa kesulitan karena gerbang telah terbakar sempurna.
Kondisi di depan pintu gerbang utama benteng kerajaan tampak kacau balau. Suara Gong, lonceng dan kentongan mulai terdengar bersahutan di dalam benteng. Para penjaga gerbang semuanya telah terbunuh oleh anak panah dan juga tombak. Semua pos penjagaan juga telah terbakar.
Kebakaran hebat melanda. Jeritan para penghuni bangunan di dalam benteng mulai terdengar. Namun, tidak berhenti sampai di sana, kekacauan juga ternyata terjadi di beberapa titik di dalam tembok kerajaan.
Di dalam komplek istana, lima orang berpakaian hitam-hitam dengan wajah tertutup bergerak cepat di kegelapan malam. Mereka melompat dan melesat di antara genteng-genteng di dalam komplek istana, dan berhenti tak jauh dari sebuah bangunan yang cukup megah.
Dari atas, mereka melihat tiga orang prajurit tergopoh-gopoh menuju bangunan tersebut dan mengatakan sesuatu kepada prajurit lain yang sedang berjaga. Prajurit penjaga itu mengangguk dan segera berlari ke dalam bangunan, menyampaikan pesan yang diterimanya kepada sang penghuni bangunan. Itu adalah komplek kepatihan, di mana Karang Setan tinggal.
Lima orang berpakaian hitam tersebut terus memperhatikan setiap gerak gerik orang-orang di komplek kepatihan itu. Mereka dalam posisi setengah tiarap pada atap bangunan berjarak sekitar seratusan meter. Tanpa suara.
Dari atas atap genteng tersebut, lima orang itu dapat melihat titik-titik api mulai muncul dan terjadi kebakaran di beberapa tempat. Suara pertempuran mulai terdengar. Sampai tiba-tiba..
‘WHUZZZ....!!’
Sebuah bola api berwarna putih keunguan melesat sangat cepat dari dalam kediaman Karang Setan ke arah atap di mana kelimanya tengah mengintai.
Bola api tersebut menghantam atap rumah dan memaksa kelima orang tersebut melompat menghindar.
‘DHAR!!
Suara ledakan terdengar sangat kuat mengagetkan para prajurit penjaga di bawah.
Kelima orang berpakaian hitam-hitam telah menghilang dari atas atap.
Kemudian tiba-tiba dua orang di antara mereka mendarat di halaman kepatihan, mengejutkan para prajurit yang masih mengarahkan pandangan ke arah atap yang terbakar dengan penasaran. Keduanya segera dikepung kurang lebih lima belas prajurit dan pendekar aliran hitam yang ada di sana.
__ADS_1
Sementara tiga orang lainnya melesat menyambut Karang Setan. Mahapatih itu entah bagaimana caranya tiba-tibat telah berada tak jauh dari atap rumah yang mulai terbakar. Dari bawah, akan terlihat empat sosok melayang di awang-awang, dengan pancaran aura dahsyat membuat orang berfikir puluhan kali untuk mendekat.
Di pelataran kepatihan sendiri, pertarungan segera pecah. Dua orang berpakaian hitam itu tak lain adalah Pendekar Pedang Hantu dan Pendekar Lengan Seribu yang bersenjatakan celurit kembar. Sedangkan di antara lima belas orang yang berjaga di halam kepatihan, lima orang di antaranya adalah pendekar aliran hitam. Bahkan, kepala penjaga itu adalah seorang pendekar sakti dan berasal dari padepokan Kala Merah.
Dengan cepat, keduanya segera melancarkan serangan kepada para penjaga. Mendahului sebelum diserang. Pendekar lengan seribu menerjang mendahului. Dilemparkannya celurit kembarnya ke udara, seraya dirinya membuat gerakan berputar dan menyerang para prajurit yang mengepung.
Gerakannya sangat cepat. Dua orang pendekar aliran hitam yang lengah masing-masing terkena pukulan tapak dan melemparkan mereka beberapa depa. Kemudian secepat kilat pendekar lengan seribu menangkap kembali kedua celuritnya dari udara ketika jarak dirinya hanya berjarak kurang dari satu meter dari lawan.
Dengan gerakan berputar sekali lagi yang lebih cepat dari sebelumnya, celurit-celurit itu segera memakan korban-korban pertamanya. Membabat para penjaga yang tak mampu membaca gerakannya. Enam orang langsung roboh ke tanah dalam sekali gebrakan. Semuanya dengan luka parah sabetan pada area vital, menyebabkan nyawa mereka dipastikan tidak akan tertolong.
Di sisi lainnya, Pendekar Pedang Hantu tak kalah gesit. Pendekar yang selalu menjadi momok bagi para penjahat sekalipun hanya tercatat dua kali kemunculannya itu mengamuk bak kerbau gila. Entah bagaimana kejadiannya, empat prajurit lainnya telah terkapar bersimbah darah. Orang mungkin hanya melihat gerakannya seperti kelebatan bayangan tak terlihat.
Gerakan kedua pendekar itu terlalu cepat untuk bisa diikuti oleh para prajurit biasa. Hanya para penjaga yang berasal dari aliansi aliran hitam yang sempat menghindari serangan beruntun dan sangat cepat dari kedua orang berpakaian hitam itu. Itupun mereka semuanya kini kehilangan kepercayaan diri setelah pedang dan tombak di tangan mereka patah akibat menahan serangan keduanya.
Mata kepala penjaga melotot melihat anak buahnya dihabisi dalam waktu kurang dari sepuluh detik. Hanya tersisa dirinya, dan lima bawahannya yang mulai gentar karena senjata mereka telah patah.
Pendekar dari Kala Merah itu terpaksa harus melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari celurit yang tiba-tiba berdesing terbang menyambar lehernya. Terlambat sedetik saja, nyawa kepala penjaga itu pasti pergi meninggalkan badan.
Sementara ke lima anak buahnya kini harus kembali bersusah payah mempertahankan nyawa karena Pendekar Pedang Hantu sepertinya tidak ingin membiarkan mereka sekedar bernafas. Kelebat bayangan dari gerakan Pendekar Pedang Hantu sama sekali tak bisa walau sekedar diikuti oleh mata sekalipun. Yang terlihat kemudian hanya debu yang mengepul dan teriakan kematian lima prajurit tersisa.
Aaaaak...!!
Hanya debu-debu beterbangan yang tersisa mengiringi robohnya tubuh para prajurit itu.
Kepala penjaga menelan ludah dengan sorot mata penuh amarah melihat kelima bawahannya tewas hanya dalam sekali gebrak, namun rasa takut mulai menyusup di hatinya. Kemampuan para bawahannya itu setidaknya setara pendekar madya dan ahli, namun di hadapan pendekar seperti pedang Hantu ini mereka tak ada bedanya dengan manusia biasa. Padahal, dengan lima orang tersebut sudah cukup untuk menaklukkan satu desa.
Untuk pertama kalinya selama menjadi pendekar aliran hitam, kepala penjaga merasakan takut dan ngeri. Di hadapannya, pendekar berpakaian hitam dengan celurit kembarnya serasa seperti malaikat maut yang tengah menjemputnya. Bulu kuduk pria itu tiba-tiba bergidik.
Pendekar aliran Hitam itu hendak merogoh saku jubahnya, tapi tentu saja Pendekar Lengan Seribu tidak membiarkannya. Sekali lagi celuritnya terbang berputar ke arah leher kepala penjaga, dan sekali lagi pendekar dari Kala Merah itu dipaksa salto ke belakang menghindari serangan.
__ADS_1
Saat dirinya baru saja hendak berdiri, celurit lain berdesing dari samping kirinya melesat cepat melewati mukanya setelah dirinya memundurkan sedikit kepalanya. Hanya dalam jeda tak lebih dari dua detik saja, dua serangan mematikan berhasil dihindari.
“Tampaknya, kau butuh sedikit waktu untuk menyingkirkan kotoran itu saudaraku. Maaf, tapi aku harus mendahuluimu..” Pendekar Pedang Hantu yang telah menyelesaikan pertarungannya berkata setengah berteriak karena jarak keduanya cukup jauh. Tak menunggu jawaban, pendekar Pedang Hantu segera melesat ke udara, bergabung kembali dengan tiga sosok lainnya mengitari Karang Setan. Keempatnya masih melayang di awang-awang.
Selepas kepergian pendekar Pedang Hantu, Pendekar lengan Seribu sedikit berdecak kesal. Lalu tanpa basa basi celurit kembarnya kembali terbang menyerang. Namun kali ini, celurit itu tidak langsung kembali, melainkan bergerak mengikuti gerakan telunjuk pendekar Lengan Seribu.
Sang Kepala Penjaga yang awalnya Cuma menghindar, kini dipaksa untuk bertahan dan menangkis serangan celurit yang bergerak seolah memiliki fikirannya sendiri. Menggunakan tombak bermata pedang di tangannya, kepala penjaga bergerak mundur menghindari serangan seraya menangkis dua celurit yang semakin mengganas. Sesekali dia terpaksa salto, sesakali harus melompat ke samping kiri dan kanan diiringi suara dentingan tombaknya yang menangkis celurit semakin cepat.
Namun, pada pertemuan mata tombak dan kedua celurit untuk yang ke sekian kalinya, tombak di tangan kepala penjaga itu terlepas dari genggaman.
‘Trank..!’
Tangannya menjadi kebas dan serasa kesemutan menjalar di kedua tangannya.
‘Gila! Menangkis celurit celurit ini membuat tanganku mati rasa..’ kata kepala penjaga itu penuh keheranan dalam hatinya.
Namun, serangan celurit itu nyatanya tidak berhenti setelahnya. Bahkan semakin cepat mengincar area-area vital tubuh pendekar dari Kala Merah itu
****Nb.
Karang Setan memang tinggal di komplek kepatihan meskipun jabatan itu diserahkan dan dirangkap oleh Mpu Jangger. Jadi, tidak perlu ditanyakan ya. Tidak salah tulis kok.
Sekalian Mohon maaf tiga hari tidak rilis.
Ada deadline yang harus dikejar. Semoga masih setia mengikuti kisah Jaga Buana ini.
Terus dukung kami ya, minimal dengan like, kritik saran di kolom komentar, rate bintang 5, syukur kalo punya poin bisa kasih vote penyemangat.
Tetap jaga kesehatan. Covid19 masih mengancam**
__ADS_1