
Selama dua hari berikutnya, seluruh anggota sekte bahu membahu mendirikan gubuk-gubuk sementara sebagai markas sekte nantinya. Mereka memanfaatkan kayu-kayu dari hutan disekitarnya untuk membangun pemukiman tersebut. Para murid dan guru tidak ada yang berpangku tangan. Anak-anak dan para wanita juga demikian. Anak-anak membantu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti menyediakan makanan dan minuman yang telah dimasak oleh kaum wanita, ataupun ikut mencari bahan membuat atap. Sebagian lagi membantu pekerjaan dapur.
Seperti umumnya para pendekar laki-laki anggota sekte lainnya, Gentayu sendiri sibuk membangun gubuk kecilnya sendiri. Rencananya, gubuk itu akan ditempatinya selama berdiam diri di dalam lingkungan sekte. Saat ini nampak telah berdiri puluhan gubuk-gubuk sederhana berdinding papan dengan atap ilalang dan sebagian dari daun rumbia maupun daun kelapa serta nira. Pemukiman sederhana di tengah lingkungan yang indah bagaikan potongan surga di dunia.
Seluruh pekerjaan pembangunan akhirnya selesai di hari ke lima. Semua orang nampak kelelahan. Namun sebagai gantinya, kini mereka telah memiliki kembali sekte mereka dengan kondisi lebih baik karena tidak lagi bersembunyi di bawah tanah. Selain berganti nama menjadi “Sekte Tujuh Tirai”, matriark Lim juga telah menetapkan bahwa sekte mereka kali ini akan disamarkan sebagai desa petani biasa. Maka wajar, bila dari sisi bangunan tidak dijumpai bangunan-bangunan yang mirip sebagaimana komplek umunya. Semua bangunan dibuat sealami mungkin sebagaimana desa pada umumnya.
Para murid tidak lagi dikelompokkan berdasarkan tingkatannya, melainkan berdasarkan guru pengajar dan tetua yang menaunginya. Setiap tetua akan berperan sebagai bawahan kepala kampung yang dijabat oleh Matriark Lim. Mereka memasang plang nama pada gerbang yang merupakan satu-satunya pintu keluar dan masuk sekte sebagai “Kampung Tujuh Tirai” sebagai pengecoh jika sewaktu-waktu ada mata-mata musuh yang kebetulan menemukan tempat tersebut.
“Tak kusangka, sekte ini ternyata memiliki banyak musuh..” Gentayu menyatakan ini langsung kepada matriark Lim.
“Heh, apa maksudmu?! Kau ingin bilang bahwa kami bukan kelompok orang baik, begitu??” Matriark Lim yang diajak bicara nampak tidak senang dengan redaksi kalimat Gentayu.
Gentayu tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bukan begitu, Nona Lim. Guruku pernah berkata, bahwa dunia ini antara hitam dan putih sekalipun berdampingan memang sejatinya saling melenyapkan, saling mengalahkan. Demikian juga dengan kelompok aliran hitam dan putih dalam dunia persilatan. Tapi, justru ada kelompok aliran putih yang merasa tidak perlu berhadapan dengan kelompok aliran hitam selama mereka tidak diganggu. Bahkan mereka mengangap tidak perlu ikut campur dalam membasmi aliran hitam sekalipun mereka berbuat onar di masyarakat selama tidak menyinggung kelompok mereka. Bukankah ini fikiran konyol namanya? Kelompok cari aman!
__ADS_1
Sebaliknya, aku menemukan hal berbeda dari Sekte anda ini.. Sekte anda pasti sangat aktif berperan melawan kelompok aliran hitam dan sesat sehingga banyak yang tersinggung dan terancam, bukan?” Gentayu mejelaskan.
“Yah.. yang kau katakan semuanya benar. Kami memang selalu diincar oleh kelompok aliran hitam dan para pengikutnya. Kalau difikir-fikir, memang kamilah yang paling aktif membasi mereka sebelumnya. Tapi tahukah kau kenapa kami melakukannya sejak leluhur pertama kami?”
Gentayu hanya menggeleng pelan atas pertanyaan Matriark Lim tersebut.
“Mari kutunjukkan..” Matriark Lim mengambil sebuah gulungan kulit yang tampak sudah sangat usang, lalu menyerahkannya pada Gentayu. “ Di dalamnya, kau bisa menemukan jawabannya..”
Gentayu menerima gulungan tersebut dengan penuh rasa penasaran. Sebelum dia membuka gulungan, pelayan masuk dan mengantarkan minuman jahe hangat beserta umbi gadung yang direbus. Masih hangat.
“Jadi, awalnya sekte kalian adalah sebuah kelompok pendekar yang menjalankan misi? Karena misi tersebut belum juga selesai, akhirnya tugas mereka dilanjutkan oleh keturunannya termasuk kalian? Lalu, siapa itu Iblis Kala Api? Apakah ada hubungannya dengan Kala Hitam?” Gentayu merasa perlu menanyakan hal tersebut karena semua fakta dan berita yang sampai tersebut butuh penjelasan dan penegasan.
“Tidak persis seperti itu. Sekte ini sebenarnya hanyalah cabang dari sekte Naga Merah yang bermarkas di Kekaisaran Huang. Lebih tepatnya, tugas kelompok aliansi pendekar yang menjalankan tugas pengejaran tersebut diserahkan dan dilanjutkan oleh Sekte Naga Merah beserta keturunannya. Anggota aliansi tersebut ada enam orang. Dua diantara keenam orang itu adalah anggota Sekte dari pusat. Empat orang sisanya kembali ke negeri asalnya sedangkan dua leluhur kami tetap bertahan di negeri ini. Kemudian, dari pusat menambah lima anggota lainnya untuk membantu keduanya, sehingga terbentuklah cabang sekte di negeri ini. Kami adalah keturunan dari tujuh orang ini.
Sedangkan Iblis Kala Api sendiri, adalah sosok yang diyakini sebagai salah satu sisa komandan atau pimpinan pasukan iblis Mislan Katili. Aku yakin gurumu pernah menjelaskan tentang Mislan Katili ini, jadi aku tak perlu menjelaskannya kembali.
__ADS_1
Si Iblis Kala Api ini sebenarnya adalah pendekar siluman yang aslinya adalah manusia. Dia dipercaya masih hidup hingga saat ini. Artinya, umurnya sudah lebih dari seribu tahun. Leluhur kami mengejar dan memburu Iblis Kala Api hingga ke pulau Emas Besar. Secara kekuatan, para leluhur jelas jauh dibawah dan bukan tandingan iblis tersebut. Namun waktu itu, iblis tersebut sedang terluka parah akibat bertarung melawan 7 pendekar penjaga gerbang yang legendaris tersebut. Ternyata, 7 pendekar tersebut masih hidup hingga beberapa ratus tahun setelah memusnahkan kekuatan Mislan Katili. Iblis Kala Api waktu itu sedang berusaha membangkitkan kekuatan Mislan Katili.
Untungnya, dia tidak mengetahui bahwa 7 Pendekar Penjaga Gerbang masih hidup dan belum terlambat untuk menghentikan usahanya. Sayangnya saat itu, Iblis Kala Api berhasil melarikan diri dengan mengorbankan seluruh pasukan siluman yang dibangunnya ratusan tahun lamanya..” Matriark Lim menghela nafas panjang.
“Para Leluhur, maksudku keenam pendekar aliansi itu berhasil menyegel kekuatanya setelah pengejaran di negeri ini. Segel-segel itu kemudian dibawa oleh mereka dan ditempatkan pada enam tempat berbeda. Tugas kami-lah selanjutnya untuk memastikan segel-segel tersebut tetap aman.
Hingga, beberapa bulan lalu, kami mendengar kabar bahwa dua dari enam segel-segel tersebut telah berhasil ditemukan lokasinya. Patriark di pusat lalu mengabarkan hal tersebut dan memerintahkan kami mengambilnya sebelum kelompok aliran hitam. Tapi hingga saat ini, tetua Sengkuang, tetua Shin dan tetua Ming belum memberikan kabar apapun. Sedangkan kelompok tetua Shou.....” mata Matriark nampak berkaca-kaca saat menyebut nama-nama rekan mereka yang belum jelas nasibnya tersebut.
“Maafkan aku matriark... apakah jika mereka kini masih hidup mereka akan bisa menemukan tempat ini?”
“Seharusnya bisa. Karena kami memiliki aturan baku tentang mengungsi dan memindahkan markas.. Masalahnya, kelompok tetua Shou sepertinya tidak ada yang selamat walaupun mereka berhasil mengantarkan segel ini. Dan akupun tidak yakin akan selamat menjaga segel ini ...” Wajah matriark Lim nampak sedih.
Gentayu memahami kegelisahan Matriark Lim. Saat itulah dia merasakan betapa pentingnya menjadi orang kuat dan berusaha tak terkalahkan agar bisa melindungi orang lain yang berharga baginya. Tiba-tiba, bayangan gurunya muncul dalam benaknya, disusul pemandangan mengerikan penmusnahan sekte Matahari Emas dan betapa lemahnya dirinya saat itu.
Akhirnya Gentayu meminta pamit untuk menemui tetua Wu.
__ADS_1
Gentayu berniat untuk tinggal sedikit lama di sekte tersebut. Setidaknya, dia bisa mengajarkan beberapa keahlian dan ilmu yang dimilikinya guna memperkuat sekte ini agar bisa mempertahankan diri lebih baik.