JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tanah Misterius II


__ADS_3

Gentayu mendongak ke langit.


Pupil matanya menyusut saat dirinya secara tak sengaja menyadari bahwa langit di atas kepalanya bukanlah langit sebenarnya.


‘Makhluk ilusi?’ Gentayu lalu berhenti berjalan dan mencoba melihat lebih teliti setiap inci langit di atas kepalanya yang seolah tak mengizinkan bumi memiliki bayangan.


Akhirnya Gentayu menemukan kenyataan, bahwa sesuatu yang sangat besar tengah menaungi tempat ini, sekaligus menciptakan ilusi seolah-olah langit di atas kepala sebagai sesuatu yang normal dan wajar.


‘Sepertinya, hewan-hewan takut berada di sini karena menyadari, lembah ini dinaungi oleh makhluk misterius ini…’ Gentayu akhirnya berkesimpulan, bukan langkah yang bijak untuk mengusik makhluk apapun yang ada di tempat ini.


Dirinya baru saja akan melangkah pergi karena tak ingin bermasalah, tapi sebelum dirinya benar-benar pergi, sesuatu menjerat kaki kirinya dan mengikatnya erat. Lalu menariknya dengan sangat cepat ke arah tepian cerukan. Sesuatu berupa sulur akar telah menguasai kaki kirinya, berusaha menjatuhkannya.


Gentayu berusaha menjaga keseimbangannya agar tidak terjatuh dan terseret. Nyatanya, karena kuatnya hentakan dari sulur akar yang kini membelit kakinya itu, tubuh Gentayu akhirnya jatuh ke tanah dan diseret dengan cepat.


Secara reflek, Gentayu segera berubah menjadi manusia api sekali lagi.


Berhasil!


Sulur akar itu melepaskan gentayu begitu saja, lalu lenyap entah kemana.


Melihat usahanya berhasil, Gentayu segera bangkit berdiri.


Tapi, lagi-lagi, kaki kanannya terjerat sulur akar lainnya. Seolah tak ingin melepaskan Gentayu pergi begitu saja.


Ketika Gentayu berubah sekali lagi menjadi manusia api, sulur yang seolah memiliki kecerdasan itu segera melepas cengkeramannya pada pergelangan kaki Gentayu. Tapi, dari arah lain, sulur aneh muncul dan melilit tubuhnya.

__ADS_1


Berbeda dengan kakinya yang dijerat oleh sulur akar kayu, sulur yang kini menjerat tubuh Gentayu terlihat mengkilat. Ini bukanlah sulur kayu ataupun akar. Ini logam. Sulur terbuat dari logam yang tak akan bisa dihanguskan oleh api dari tubuh Gentayu.


Bahkan sepertinya, sulur logam yang tak kalah elastis itu memiliki energi listrik bersamanya.


Setiap kali Gentayu hendak berubah menjadi manusia api, sulur itu akan menyengatnya, menggagalkan upaya Gentayu. Berkali-kali Gentayu merasakan sengatan listrik di tubuhnya dari sulur logam tersebut.


“Aaaaaaark….!! Lepas… kan!!” Gentayu berteriak. Meraung sembari meronta, mencoba melepaskan diri. Namun sia-sia.


Gentayu terus meronta, namun kali ini dia tidak lagi berani berubah menjadi manusia api. Karena setiap kali dirinya berubah menjadi manusia api, sulur yang membelitnya akan mengirimkan energi listrik yang menghentak dan membuatnya tak berdaya.


Keringat mulai mengucur di tubuh Gentayu akibat aksinya melepaskan diri tak kunjung berhasil. Tubuhnya mulai lemas. Energinya mulai terkuras. Tanpa matahari, Gentayu akan mudah kehilangan energinya.


Saat kritis itulah, mata Gentayu terbelalak.


Keringatnya yang bersentuhan dengan sulur kristal meyebabkan sesuatu terjadi. Sesuatu yang tak mungkin terfikirkan akan terjadi andaikan Gentayu tak memiliki mata yang jeli.


‘Apa-apaan ini?’ Gentayu masih belum meyakini matanya.


Dia tak mempercayai fikiran liarnya saat ini. Satu-satunya yang perlu dilakukan adalah mebuktikannya.


Matanya segera mencari-cari sesuatu pada salah satu sisi tepi cerukan di mana dirinya hendak diseret sebelumnya.


Ketemu!


Sebuah simbol terlihat di tepi cerukan yang luas tersebut. Simbol berupa kaligrafi nama!

__ADS_1


Tak salah lagi. Mata Gentayu berbinar mengetahui tebakannya ternyata benar.


‘Heh, ternyata ada sesuatu seperti ini di sini?’


Gentayu segera memerintahkan pintu gerbang dunia tepi danau untuk terbuka dan membiarkan air danaunya mengalir keluar melalui gelang gerobok. Dan..


‘Byur!!’


Tumpahan bergalon-galon air memusnahkan segala sesuatu yang dilewatinya. Termasuk sulur logam, pepohonan, rerumputan, bahkan cerukan itu sendiri. Mengubahnya menjadi cairan berwarna-warni.


Dan sedetik kemudian, sebuah sinar terang menyilaukan mata muncul dan melemparkan Gentayu ke sebuah dinding batu.


“Hah! Kau… siapa kau sebenarnya, anak muda?! Kau merusak lukisanku?!” sebuah suara cempreng seorang lelaki terdengar marah-marah.


Dia adalah seorang lelaki tua botak dan kurus. Dengan sebuah kuas lukis di tangannya, menggambarkan bahwa dirinya adalah seorang seniman lukis.


Bukan hanya itu, aura aneh juga terpancar dari tubuh lelaki tua itu.


Tanda kaligrafi yang ditemukan Gentayu di sudut cerukan adalah sebaris nama “Manik Baya”. Itu adalah identitas yang seharusnya biasa ditinggalkan seorang seniman lukis pada karyanya.


Dan, tampaknya orang bernama Manik Baya ini mendalami seni lukis sebagai jalan lelaku mandiwata.


Dengan kata lain, orang tua botak cempreng ini adalah seorang yang menekuni lukisan sebagai senjata, keahlian, sekaligus kekuatannya.


Perangkap ilusi lukisan Manik Baya ini, mungkin tak akan terungkap andaikan Gentayu tidak memperhatikan lingkungannya dengan jeli. Sejauh ini, bakat dan pengalamannya sebagai teliksandi ternyata berhasil menyelamatkannya.

__ADS_1


Seketika, setelah suara cempreng lelaki itu terdengar, dunia di sekitar Gentayu berubah sekali lagi.


__ADS_2