JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Buih Aneh


__ADS_3

Menyelesaikan meditasi pelatihan dan mencapai level Pendekar Bumi untuk elemen petirnya, Gentayu cukup puas.


Tujuannya ke tempat ini telah tercapai. Misi yang diterimanya dari Manik Baya telah berhasil diselesaikan hanya dalam dua hari singkat berada di hutan petir.


Kecepatan pertumbuhan kekuatan seperti itu, mungkin hanya dia satu-satunya di dunia ini yang sanggup mencapainya.


Orang lain, dengan posisi awal seperti Gentayu sekalipun, akan butuh waktu paling cepat setengah bulan untuk mencapainya.


Kendati demikian, Gentayu tidak berniat berhenti. Kesempatan bisa mempercepat kekuatan dengan fasilitas mewah seperti ini, tentu tidak bisa dilewatkan begitu saja.


Karenanya, Gentayu segera beranjak berdiri untuk melanjutkan upayanya.


Tapi, ketika dia baru saja hendak berdiri, matanya menangkap sesuatu yang tidak biasa di salah satu sudut goa.


Gelapnya goa dengan batuan hitamnya justru membuat kontras penampilan benda serupa buih putih menggumpal sebesar ibu jari tersebut.


'Apa ini?' Gentayu mendekat dan meraih tumpukan gumpalan serupa buih putih lembut itu.


Dingin..


Setelah kontak lebih dari lima detik, rasa dingin mulai menjalar dari ujung jarinya dan dengan cepat naik menyelimuti seluruh tubuhnya.


Gentayu yang telah mengantisipasi segalanya bertindak tepat waktu dengan mengedarkan energi api di tubuhnya guna menangkal rasa dingin itu.


Tapi..


Sesuatu yg lain terjadi.


Buih putih lembut itu bukan saja tidak bergeming oleh energi api yang panas, hawa dingin yg ditransmisikan darinya justru semakin tajam menusuk, seolah bahkan darah di tubuh Gentayu akan dibekukan.


Ekspresi Gentayu menjadi buruk.


Dia tidak menyangka benda aneh sederhana ini bisa menangkal hawa panas dari energi api di tubuhnya. Terlebih, itu adalah energi api dengan kekuatan pendekar Langit!


'Benda Apa ini? Kekuatanku benar-benar dibuatnya seolah tak berarti!'

__ADS_1


Benda mirip buih itu bahkan mulai terasa menempel dan melekat erat pada kulit jemarinya saat Gentayu berusaha menyingkirkan paksa benda itu dari tangannya.


"Lepas! Benda sialan apa ini?!'


Gentayu mulai mengumpat dalam hati saat menyadari benda tersebut seolah tak mau melepaskannya. Bahkan setelah upayanya mengerahkan energi panas yang dahsyat.


Ruangan Goa perlahan menjadi panas saar Gentayu terus menaikkan suhu energi api tubuhnya.


Sayangnya, rasa dingin yang diterima tubuhnya justru semakin bertambah kuat


Semakin Gentayu melawan, benda itu justru memancarkan aura dan hawa dingin menusuk yang membekukan dengan kekuatan mengerilan.


Perubahan bagian dalam goa mulai terjadi.


Awalnya, Gentayu memang berhasil membuat ruangan goa menjadi bersuhu sangat panas. Bahkan bebatuan goa di radiua dua meter di sekitar Gentayu mulai meleleh.


Namun begitu, Aura dan hawa dingin juga tiba-tiba melonjak.


Batuan yang sesaat lalu hampir meleleh karena panas yang luar biasa seketika membeku. Bahkan kristal-kristal es di sekitar tubuh Gentayu terbentuk dengan sangat cepat.


Setidaknya, area dalam radiua sepuluh meter di sekitar Gentayu kini membeku dan kristal es terbentuk di dinding, langit-langit dan lantai goa batu itu.


'Kekauatan yang mengerikan!'


Gentayu bergidik mengamati perubahan kondisi yang terjadi dengan sangat cepar itu.


Sangat cepat. Perubahan panas melelehkan menjadi dingin membekukan itu hanya berselang lima detik. Tidak lebih.


'Sialan! Jika saja aku tidak sebagai orang dengan kekuatan api, sepertinya darahku sudah pasti dibuatnya membeku! Benar-benar merepotkan!'


Gentayu mulai mengutuki dirinya sendiri karena terlalu ceroboh dan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Gentayu mencabut senjata 'Karambuik Petir'nya yang memang ditenteng di pinggangnya saat memasuki hutan petir ini.


'Jika energi api tidak membuatnya melepaskan dirinya, maka sengatan petir seharusnya bisa memcerai-beraikan gumpalan buih terkutuk ini'

__ADS_1


Gentayu segera mengarahkan senjata serupa kerambit warisan Cik Han atau pendekar jari petir ke arah mulut goa.


Energi petir di sekitarnya mulai berkumpul seolah-olah semut yang mendatangi manisnya aroma gula.


Jumlah besar petir yang berhasil dikumpulkan Gentayu bahkan sedikit di luar perhitungannya.


'Ini terlalu menakutkan! Orang tua Cik Han itu benar-benar sesuai dengan reputasinya sebagai pendekar Jari petir!'


Gentayu menatap takjub pada gumpalan awan petir yang dengan cepat terbentuk.


Mereka tidak lagi dalam wujud benang atau sulur petir yang menggeliat-geliat lagi. Namun petir-petir itu telah berkumpaul di langit dan membentuk awan petir di langit. Benar- benar petir yang berkumpul dan berubah menjadi awan Petir!


Tanpa menunggu lagi, Gentayu mengarahkan karambuik petirnya ke arah buih putih di jari tangan kirinya.


Petir di langit luar goa seolah memahami maksudnya dan...


'JELEGAR!!'


Petir besar pertama menghantam buih putih di jari Gentayu.


Gentayu merasakan seluruh tubuhnya bahkan seolah dialiri energi petir yang merusak dan menghancurkannya.


Buih putih berbentuk gumpalan itu meledak terpisah menjadi puluhan bagian.


Gentayu merasa lega karena sepertinya upayanya membuahkan hasil.


Buih putih yang awalnya sebesar ibu jari kini hanya berukuran tak lebih dari sebesar lidi saja, namun buih itu tetap melekat di jari tangan kanannya.


Namun, baru saja Gentayu hendak tersenyum penuh kemenangan, tiba tiba hal mencengangkan terjadi.


Buih putih yang telah meledak dan terpisah itu kembali menyatu.


Mereka seolah bergerak mengikuti sebuah perintah saat buih-buih itu bergerak menyatukan diri, kembali ke jari Gentayu.


Hal lain yang mengejutkan Gentayu adalah benda berbentuk mirip buih itu sekarang terlihat lebih besar setelah bersatu kembali.

__ADS_1


__ADS_2