
Rumah besar yang seluruhnya dari kayu itu terletak di salah satu pinggiran desa, agak jauh dari tepi laut.
Itu adalah rumah sederhana dengan dikelilingi oleh aneka tumbuhan obat berkhasiat yang luas menghampar. Pemiliknya, adalah seorang tabib bernama Mamoto.
Gentayu telah hampir dua jam berada di kediaman tabib Mamoto . Gentayu memang membawa tubuh pria kurus itu ke rumah tabib Mamoto. Beruntung, tabib yang terlihat seumuran dengan lelaki kurus tersebut belum berangkat menuju ibukota karena diundang oleh keluarga bangsawan terkenal di sana.
“Tuan, terimakasih telah membawa sahabatku ini kemari. Dia akan aman bersamaku, dan kupastikan aku akan berusaha memulihkan kondisi lukanya secepat mungkin. Jika tuan ingin meninggalkan desa ini guna melanjutkan perjalanan, saya persilakan. Percayakan saja pengobatan Hideki kepada saya..”
Tabib Mamoto sebenarnya tidak bermaksud mengusir Gentayu. Namun, tabib Mamoto mengetahui pasti bahwa Gentayu tengah dalam perjalananan dan kebetulan terlibat dalam penghancuran kelompok perompak. Selebihnya, tabib Mamoto yakin Gentayu memiliki urusan lain yang harus diurus..
“Eh, paman. Apakah paman pernah mendengar tentang hutan petir?” Gentayu bertanya kepada tabib Mamoto sesaat sebelum beranjak menuruti saran si tabib.
“Untuk apa kau mendatangi tempat berbahaya itu anak muda? Aku belum pernah ke sana, tapi sudaraku ini pernah hampir kehilangan nyawa di sekitar tempat itu..” Mamoto menjawab sambil menunjuk kepada hideki yang terbaring tak jauh dari mereka.
Tabib berbadan tinggi besar ini masih asyik meracik aneka tanaman sebagai bahan obat untuk luka Hideki.
“Seseorang menyuruhku ke sana, paman.” Jawab Gentayu singkat. “Jadi, apa paman mengetahui di mana letak hutan petir ini?” Lanjutnya.
Gentayu menunggu jawaban dari sang tabib sembari menyandarkan tubuhnya di dinding rumah. Matanya mengikuti setiap gerakan tabib itu meracik bermacam ramuan.
Sebenarnya, Gentayu mampu melakukan hal yang sama. Menjadi tabib untuk beberapa jenis penyakit adalah bagian dari kemampuan terpendamnya. Namun dia membiarkan pria tinggi besar di depannya melakukan tugasnya.
“Tunggulah sampai kondisinya membaik. Kurasa, dia tidak akan keberatan menjadi penunjuk jalanmu. Sementara ini kau boleh tinggal di gubukku sembari menunggu. Bagaimana?”
“Menunggu dia membaik?” Gentayu menggaruk kepalanya. Dia ingin sekedar mengetahui di mana posisi hutan tersebut, lalu dia sendiri akan mendatanginya.
Menunggu hingga Hideki membaik, dengan kemampuan tabib Mamoto ini jelas akan memerlukan waktu setidaknya dua minggu. Dan Gentayu tak punya waktu selama itu untuk berdiam di sana.
Selain itu, entah mengapa dia merasa bahwa tabib Mamoto ini sedang berusaha menahannya untuk tidak buru-buru meninggalkan desa. Tapi dugaan ini diabaikannya sekalipun dia meyakininya.
“Maafkan saya, paman. Sepertinya saya tidak punya waktu sebanyak itu.. “tolak Gentayu secara halus.
__ADS_1
“Mungkin, saya hanya bisa bermalam untuk malam ini saja. Besok pagi, saya berencana melanjutkan perjalanan..” Gentayu menjelaskan.
Terlihat Mamoto menghela nafas panjang.
Melihatnya berlaku demikian, Gentayu ingin bertanya kenapa tabib itu menginginkannya tinggal lebih lama. Tapi, keinginan untuk tidak lagi melibatkan diri lebih jauh dalam masalah apapun lagi membuatnya mengurungkan pertanyaannya.
“Tuan, apakah aku boleh meminta bantuanmu atas informasi yang akan aku berikan?” Mamoto tiba-tiba mengajukan penawaran.
“Kita lihat, seberapa penting informasimu dan seberapa besar bantuan yang engkau butuhkan dariku, paman. Andai aku bisa memenuhinya, kemungkinan akan kulakukan..” jawab Gentayu. Kali ini dia justru jadi penasaran. Sesuatu yang ditawarkan dengan pertukaran, biasanya adalah sesuatu yang berharga, bukan?
“Tuan,.. aku dan Hideki sebenarnya bukan warga desa di sini. Kami tinggal di sini belum terlalu lama” Mamoto berdiri dari tempatnya, lalu berjalan ke arah jendela rumahnya yang terbuka.
“Boleh dibilang, aku tinggal di desa ini lebih dulu darinya. Tapi hanya selisish sekitar tiga bulan. Kami datang ke desa ini lima tahun yang lalu. Sama-sama sebagai pelarian..” Mamoto sedikit memelankan suaranya di akhir kalimat, terdengar sedikit ragu untuk mengatakannya.
“Pelarian?” Gentayu menaikkan alis mendengarnya.
“Benar! Aku adalah tabib istana di kekaisaran Hidama pada awalnya. Sedangkan Hideki, adalah prajurit pengawal pribadi kaisar.
Sedangkan Hideki, dia dan rekan-rekannya berhasil mengawal Kaisar untuk meloloskan diri dari pembunuhan...” Mamoto berbalik, lalu duduk di seberang tempat duduk Gentayu.
Gentayu yang mendengar penuturan sang tabib sedikit terkejut. Ternyata, latar belakang orang yang ditolongnya tidak biasa.
Sedikit banyak, Gentayu juga mengalami hal yang tak jauh berbeda dengan Mamoto dan Hideki sebelumnya ketika di Lamahtang. Sama-sama berjuang menghadapi pemberontak dan berusaha menyelamatkan penguasa yang sah.
“Lalu?” Gentayu penasaran dengan inti cerita yang hendak disampaikan Mamoto.
“Para perompak itu, datang ke desa ini bukan karena tertarik dengan sumber daya alam maupun kekayaan desa ini. Seperti yang tuan lihat, desa ini desa miskin. Tak ada apa-apa di sini..”
Gentayu manggut-manggut membenarkan ucapan Mamoto. Awalnya, Gentayu bahkan merasa para perompak itu salah sasaran karena justru menjarah desa yang tidak memiliki apa-apa.
“Lalu, kenapa mereka menyerbu desa ini?” tanya Gentayu.
__ADS_1
“Mereka datang karena keberadaan artefak hidup..” jawab Mamoto.
“Artefak? Hidup?” Gentayu sampai memajukan badannya karena khawatir salah dengar.
“Iya, benar. Artefak hidup. Dua bulan sebelum para pemberontak mengambil alih kekuasaan, teliksandi raja melaporkan, bahwa para penambang granit desa ini telah menemukan tubuh sosok panglima Hidama dari masa ratusan tahun lalu. Tepatnya berada di dasar jurang, tak jauh dari hutan desa ini”
Ketika Mamoto mengambil jeda guna melihat respon Gentayu, fikiran Gentayu tiba-tiba tertuju pada Ryutaro yang kini menjadi roh bagi pedang kembarnya.
“Lalu apa istimewanya artefak ini?” tanya Gentayu berusaha menutupi rasa antusiasnya karena salah satu tujuannya ke Hidama sepertinya menemui titik terang. Tentu jika artefak hidup yang dimaksud Mamoto adalah benar tubuh asli dari Ryutaro.
“Kau pasti tidak akan percaya...” Mamoto yang telah berdiri dari duduknya, berkata dengan semangat, bahkan tubuhnya dicondongkan ke arah Gentayu sehingga sedikit membungkuk.
“Artefak itu, membuat setiap orang yang mencoba menyentuhnya kehilangan kehidupannya, dan berubah seperti dirinya, tidak mati juga tidak hidup. Hanya bedanya, mereka bisa disentuh dan di bawa kembali sementara artefak itu tetap tak bisa tersentuh.
Aaah.. tapi, tetap saja orang-orang serakah mendekatinya, karena sebuah pedang berkepala naga tersandang pada dirinya! Pedang dengan kekuatan dahsyat! Sayang sekali, pedang itu kini telah menghilang. Seseorang entah bagaimana caranya berhasil mengambilnya..” terdengar suara desah menyesal dari Mamoto mengenai pedang tersebut.
‘tidak salah lagi! Itu pasti pedang Naga api, dan tubuh itu adalah tubuhku! Gentayu, minta dia tunjukkan lokasinya!’ Ryutaro di dalam pedang kembar terdengar berteriak penuh semangat.
“Apakah pedang itu seperti ini?” Gentayu tiba-tiba mengeluarkan sebuah belati dengan ukiran simbol naga di ujung bilahnya.
“Bukan, bukan..pasti bukan. Itu belati, sedangkan..!” Tanpa ragu Mamoto langsung menyangkal bahwa belati di tangan Gentayu adalah pedang Naga Api. Namun, kata-katanya segera dipotong oleh Gentayu.
“Bagaimana kalau begini?” Gentayu mengusap cepat bilah belati tersebut, dan..
‘Czzt..!’
Seketika, belati itu berubah menjadi pedang dengan nyala api pada bilahnya.
Mamoto termundur beberapa langkah ke belakang, hingga tangannya tak sengaja menumpahkan teh yang belum sempat dihidangkannya untuk Gentayu.
“iii.. itu.. itu... Pedang Naga Api!!” Mamoto tergagap saat menyaksikan pedang Naga Api tiba-tiba muncul di depan matanya. Tabib itu sama sekali tidak menduga akan melihat pedang itu keluar dari sarungnya dengan kekuatan yang menakutkan, bahkan hanya dengan memandangnya saja.
__ADS_1