
Nyatanya, Ryutaro justru menyarankan Genatyu untuk pergi seorang diri ke lembah kematian.
“Aku memiliki firasat, bahwa bukan semata-mata jubah pemisah hidup itu yang membuatku jadi begini. Sepertinya, ada sesuatu yang lebih hebat dari sekedar jubah itu di sana.
Aku juga baru menyadarinya, bahwa seharusnya setelah memisahkan roh dengan tubuhku, tidak akan sulit bagi rohku untuk bisa kembali ke jasadku.
Nyatanya, tidak demikian... Ahhhh, kenapa aku baru menyadarinya setelah bocah Mamoto itu bercerita tentang orang-orang serakah yang berakhir kehilangan rohnya juga??” Ryutaro serasa mendapakan pencerahan di malam harinya.
Untuk pertamakali dalam tiga ratus tahun ini, dirinya benar-benar merasa bodoh karena menyangka pusaka jubah pemisah roh-lah biang dari kehidupannya yang merana karena berpisah dengan jasadnya.
“Berjanjilah, kau akan pergi sendiri dan menyelidikinya terlebih dahulu. Kita tak boleh gegabah dalam hal ini..” pinta Ryutaro sekali lagi pada Gentayu yang hanya diam sembari tangannya mengetuk-ketukkan jari di meja kamar yang disediakan tabib Mamoto.
“Baiklah. Malam ini istirahat dulu. Aku bisa ke sana dengan ilmu Halimunkasa milikku setelah mengetahui nama tempatnya..” Gentayu menjawab seraya merebahkan punggungnya di atas dipan kayu.
Esoknya, pagi-pagi sekali Gentayu telah keluar dari kediaman tabib Mamoto. Udara pagi itu terasa lebih dingin, namun Gentayu tak mempedulikannya.
Mamoto dan istrinya yang baru saja bangun dari tidurnya menyadari Gentayu terlihat buru-buru hendak meninggalkan kediaman mereka.
Mamoto segera menemui Gentayu sedangkan istrinya bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi pahlawan kampung mereka. Semalam, Mamoto memang telah menceritakan pada istrinya bahwa Gentayulah yang telah menyelamatkan kampung mereka dari para perompak.
Hingga pagi itu, tidak banyak penduduk yang mengetahui bahwa pemuda di rumah mereka telah menyelamatkan nyawa Hideki juga penduduk desa. Kebanyakan warga terlanjur mengira bahwa Hideki-lah yang telah menghabisi seluruh perompak itu.
Setelah berbincang beberapa saat, Mamoto akhirnya hanya bisa menyarankan Gentayu agar menunda keberangkatannya karena menurutnya terlalu pagi untuk menuju lembah kematian yang berbahaya.
“Jalannya sangat licin, berkelok dan melewati beberapa jurang.. lebih baik kita berangkat setelah matahari terbenam..” demikian Mamoto menjelaskan.
“Maaf tuan tabib. Saya berfikir bahwa akan lebih baik bagi kita bila saya berangkat ke sana sendirian. Tolong, jaga saja tuan Hideki..” Gentayu segera pamit tanpa memberi kesempatan Mamoto untuk berbicara lebih lanjut, meninggalkan tabib itu yang terbengong-bengong ingin mencegah.
__ADS_1
“Kau tidak tahu jalan menuju kesana....” kalimat yang semula hendak diteriakkannya untuk mengingatkan Gentayu, kini hanya diucapkannya seolah tengah bergumam sendirian.
Bersamaan dengan itu, Istrinya masuk ke ruang tengah membawa baki berisi teko berisi teh hangat dan tiga gelas terbuat dari bambu. Melihat tamunya sudah pergi, istri Mamoto hanya mematung di tempatnya. Mulutnya terbuka, namun tak ada kalimat yang keluar.
Gentayu sendiri telah lenyap dari pandangan dalam dua kali tarikan nafas. Tubuhnya melenting seringan biji polong kering di musim panas. Melenting di antara pucuk pepohonan dan segera menghilang dari pandangan.
Tanpa ada yang tahu, saat lompatan ketiganya Gentayu telah menggunakan ilmu Halimunkasa yang membuatnya berteleportasi menuju tempat yang diinginkan, Lembah Kematian.
+++++++++++
Lembah kematian adalah nama baru yang diberikan oleh orang-orang sejak lima tahun belakangan, pasca ditemukannya ‘artefak hidup’.
Sejak kabar penemuan tersiar, para pemburu harta karun dari seluruh penjuru negeri Hidama berdatangan untuk mencoba peruntungan. Sayangnya, semua upaya mereka berakhir sia-sia.
Mereka semua berakhir dengan berubah menjadi seperti tubuh artefak hidup yang ingin mereka sentuh. Kehilangan roh!
Semula, orang mengira hal itu hanyalah rumor belaka. Tapi semuanya menjadi makin jelas dan terbukti nyata ketika sepasukan prajurit kekaisaran bermaksud hendak memindahkan artefak hidup itu ke istana. Hasilnya, seluruh pasukan kehilangan rohnya.
Kabarnya, keanehan terjadi setelahnya.
Pedang itu segera berubah menjadi belati biasa di tangan pemuda itu, membuatnya putus asa karena sesuatu yang didapatnya dengan sedikit susah payah itu justru berakhir menjadi barang antik sebagai pajangan tanpa kekuatan apapun.
Iya, itu hanya seperti belati biasa yang unik. Kemampuannya hanya satu, mampu menembus kulit penganut ilmu kebal apapun.
Kemudian entah bagaimana ceritanya, pedang itu jatuh ke tangan karangwangge dan digunakan untuk membunuh Gentayu.
Gentayu telah tiba di lembah kematian dalam tempo beberapa tarikan nafas saja.
__ADS_1
Pemuda itu mengedarkan pandangan untuk menemukan hal menarik di tempat tersebut.
Pandangannya kemudian jatuh pada sesuatu serupa gundukan yang telah ditumbuhi pepohonan dan
semak belukar di sekelilingnya. Menutupi dan menyamarkan gundukan tak biasa di tepi dasar jurang tersebut.
“Benar! Ini tempatnya! Dan itu.. itu tubuhku..! aku bisa melihatnya dari sini..! Oh, Sang Maha Tunggal,... akhirnya.. akhirnya..”Ryutaro menjadi sangat emosional ketika menyadari sesuatu yang telah tertutup tanaman liar itu adalah tubuhnya.
Gentayu membiarkan momen mengharukan itu berlangsung beberapa lama.
Ryutaro terdengar di telinganya menangis sesenggukan, hal yang tak pernah dilakukannya selama ini.
“Masalahmu belum selesai. Kita harus bisa melepaskan tubuhmu itu dari formasi sihir perlindungan di tempat ini..” Kata Gentayu mengingatkan beberapa waktu kemudian.
Dengan kemampuannya saat ini, Gentayu segera menemukan biang masalah roh Ryutaro tidak bisa kembali ke tubuhnya. Dalam pandangannya, terdapat medan energi yang kuat melapisi tempat ini. Sialnya, tubuh Ryutaro terkurung di dalamnya.
“Kukira, ini ada kaitannya dengan sekte aliran hitam yang hendak kalian tumpas waktu itu, tuan Ryu..” Gentayu menyampaikan kesimpulannya.
Medan perlindungan energi seperti ini biasanya digunakan untuk melindungi sesuatu atau wilayah. Tapi, dilihat dari ukurannya yang tidak terlalu besar, medan perlindungan energi berbentuk formasi sihir ini jelas ditujukan bukan untuk melindungi wilayah, tapi sesuatu yang berharga di sekitar tempat ini.
“Aku akan mengurusnya..” Gentayu segera maju dan berhenti di sebuah titik. Titik itu hanya berjarak kurang dari sepuluh meter saja dari tubuh Ryu.
Mata biasa tidak akan bisa melihatnya, tapi Gentayu mampu melihat keberadaan medan energi pelindung tepat di ujung kakinya, dan memutar mengelilingi sebagian lembah dalam radius tiga ratusan meter.
“Sesuatu yang berharga disimpan di sekitar tubuhmu, Ryu. Kau pasti tidak menyadarinya waktu itu, lalu terjatuh di sini..”Begitulah kesimpulan Gentayu membuat Ryutaro menggaruk-garuk kepalanya.
Tak banyak bicara, Gentayu segera mengeluarkan salah satu dari sembilan kadal api raksasa yang tersisa dari gelang geroboknya, tapetnya dari dunia tepi danau.
__ADS_1
Kadal raksasa itu terlihat berbeda dari saat terakhir Gentayu melihatnya. “Aih, tampaknya makan daging siluman sekuat laba-laba hitam membuat kalian tumbuh cepat!” Gentayu baru menyadari, bahwa kadal api raksasa itu kini telah berada di level awal pendekar bumi.
.