
Suasana di dalam bangunan utama kepatihan tampak lebih kacau dari yang terlihat di luarnya. Seluruh dinding pembatas ruangan telah hancur dan roboh. Puing dan sisa material bangunan berserakan di lantai. Di sana-sini terlihat bekas hitam sisa kebakaran.
Tapi di salah satu sudut bangunan, terlihat sebuah cermin yang seolah tidak tersentuh sama sekali dalam kekacauan perang yang baru saja usai itu.
Rambang Dangku diikuti pendekar Lengan seribu dan dua orang lainnya dari alinasi Bintang Harapan serta tiga perempuan cantik kini telah tiba di depan cermin besar itu.
“Sesaat setelah perang usai, menurut penuturan beberapa pendekar, cermin ini tiba-tiba bersinar terang. Tak lama setelah itu, muncul lima sosok asing dipimpin seorang perempuan berjubah merah, keluar dari dalam cermin. Mereka mengalahkan seluruh pendekar yang kebetulan berada di tempat ini. Kami datang setelah mendengar beberapa kali ledakan dari tempat ini, tapi kami terlambat. Entah apa yang terjadi pada mereka, bahkan mayat mereka tidak berhasil kami temukan!” Rambang Dangku menjelaskan situasi yang terjadi.
“Apakah salah satunya Ki Geringsing?” Gentayu tentu saja perlu menanyakan hal ini, karena keterangan Ki Geringsinglah yang membuatnya mendatangi tempat ini.
“Benar! Bagaimana kau bisa tahu?” Pendekar Lengan Seribu bertanya dengan antusias.
“Kami menemukannya tergeletak terluka parah dalam perjalanan kami kemari. Mak Payung saat ini tengah menanganinya..” Hao Lim memotong Gentayu yang telah membuka mulutnya hendak menjawab.
“Eh, kalau boleh tahu, siapakah nona bertiga ini?” Rambang Dangku bertanya karena merasa asing dengan sosok tiga orang perempuan tersebut, terutama Hao Lim yang tampak mendominasi sejak kedatangan mereka.
“Kami hanya pengawal Gentayu, tuan..” jawab Hao Lim berusaha menutupi identitas mereka sebenarnya, sambil membungkuk memberi hormat.
Tentu saja jawaban itu membuat Rambang Dangku mengkerutkan keningnya karena dia tahu persis Gentayu tidak memiliki pengawal sebagaimana pengakuan wanita cantik di hadapannya.
Pandangannya kini tertuju pada Gentayu yang menggaruk-garuk kepalanya. Tentu saja bukan karena gatal.
“Iya, kami baru seminggu bekerja sebagai pengawal tuan Gentayu..” Sakuza menyambung ucapan Hao Lim karena menyadari reaksi tidak percaya pada wajah Rambang Dangku.
“Benarkah begitu, Gentayu?” Rambang Dangku meminta penjelasan Gentayu, wajahnya hanya berjarak satu jengkal dengan wajah Gentayu. Dengan mata melotot.
“mmm.. anggap saja begitu, paman. Oh, ya.. lalu kemana perempuan berjubah merah itu sekarang?”Gentayu tak ingin memperpanjang polemik.
“Mereka menghilang kembali ke dalam cermin itu saat melihat kedatangan kami. Tapi kami tidak bisa mengejarnya, karena.... seperti yang kau lihat. Cermin ini kembali seperti cermin biasa” Salah satu pendekar di belakang Rambang Dangku menjelaskan. Dia memang termasuk yang datang lebih awal setelah terdengar ledakan.
“Tak ada jalan lain. Kau harus masuk ke dalam cermin itu..” Suara Anjani terdengar di telinga Gentayu. Tapi tentu saja hanya bisa didengar oleh Gentayu sendiri.
“Tapi, bagaimana caranya?” Gentayu bertanya pada suara anjani, tapi hal itu membuat orang-orang disekitarnya menatapnya heran.
“Apanya yang bagaimana? Tentu saja dia masuk kemabali ke dalam cermin itu dengan cara yang kita tidak tahu..” Hao Lim menyahuti Gentayu karena menyangka pertanyaan itu ditujukan pada mereka.
Melihat sikap Hao Lim, membuat Rambang Dangku semakin tidak yakin bahwa tiga perempuan itu sebagai pengawal Gentayu. Ditambah lagi, sepertinya Gentayu tidak membutuhkan pengawalan ketiganya.
__ADS_1
“Hihihihi... kau ini membuat masalah saja! Kau tidak perlu harus bicara menggunakan lisanmu lagi padaku, atau kau akan terlibat masalah di kemudian hari. Aku terhubung dengan fikiranmu, jadi cukup bicara saja dalam fikiranmu dan kita bisa berkomunikasi dengan nyaman..” Suara Anjani kembali terdengar, kali ini dengan sedikit tawa cekikikan melihat Gentayu menjadi salah tingkah.
“Kau gunakan saja kekuatanku”
“Kekuatanmu?”
“Iya.. kekuatanku. Apa kau tidak menyadari bahwa aku telah bersamamu sekian lama? Aku Anjani, Trisula itu adalah wujudku di dunia ini..”
Perkataan Anjani sedikit mengejutkan Gentayu. Dia sama sekali tidak mengira, bahwa sosok cantik yang membawanya terbang di alam ketidak sadarannya adalah wujud asli dari trisula yang kini telah menyatu dalam tubuhnya.
“Baiklah..” Gentayu berkata pelan. Lagi-lagi semua orang di ruangan itu menoleh ke arahnya.
Mereka semua segera mundur mengambil jarak saat dari tubuh Gentayu memancar aura kekuatan yang membuat udara sedikit berat. Kurang dari lima detik berikutnya, sebuah trisula dengan sinar keemasan muncul begitu saja di tangan Gentayu.
“Apa Yang akan kau lakukan, pendekar?” seorang pendekar muda di belakang Pendekar Lengan Seribu bertanya penasaran.
“Apa lagi kalau bukan masuk ke dalam cermin itu..” Gentayu menjawab datar.
“Tunggu! Jangan! Kau tak tahu yang akan kau hadapi di dalamnya! Hingga saat ini, sebelas pendekar kita belum kembali dan kita tak tahu bagaimana nasib mereka saat ini” Pendekar muda itu memperingatkan Gentayu. Wajahnya tampak cemas mendengar Gentayu ingin masuk ke dalam cermin.
Para pendekar lainnya nampak setuju dengan pendapat pemuda itu, tapi tidak dengan Gentayu dan tiga perempuan yang mengiringinya. Mereka berempat justru makin penasaran karenanya.
“Bukankah, kalau memang cermin ini gerbang ataupun portal keluar masuknya orang-orang aliran hitam, kita bisa menghancurkannya saja tanpa perlu repot-repot masuk dan memeriksanya?” kali ini pendekar Lengan Seribu yang bicara. Rambang Dangku sendiri nampak mengelus dagunya, sepertinya sedang berfikir keras.
“Tetap saja. Kita hanya mengurangi pintunya. Tidak menumpas akarnya. Bisa jadi ada pintu-pintu lain bila benar di balik cermin ini tersembunyi kejahatan..” Gentayu sekali lagi berusaha meyakinkan dirinya dan para pendekar di tempat itu.
Akhirnya, tidak ada lagi yang ingin berdebat dengan Gentayu. Mereka hanya berharap Gentayu tidak mati sia-sia di dalam cermin itu. Bagaimanapun, kehadiran pendekar sekuat Gentayu tetap diperlukan untuk menjaga kerajaan ini dari kemungkinan serangan.
“Kalau begitu, aku ikut!” Hao Lim yang pertama mengajukan diri menyertai Gentayu.
“Aku juga!”
“Aku Juga!”
Kedua perempuan dari Hidama tak mau kalah cepat.
“Aku juga akan ikut!” Rambang Dangku mengangkat tangan dan bergerak maju mendekat ke arah cermin.
__ADS_1
“Aku juga!
“Aku Juga”
Dan semakin banyak pendekar yang menyatakan ingin ikut Gentayu masuk ke dalam Cermin tersebut.
“Tunggu! Apa kalian yakin? Bahkan mungkin saudara Gentayu belum tentu bisa membuka segel atau apapun yang membuat cermin ini berfungsi sebagai portal..” Seorang pendekar brewok di belakang berkata, seolah meragukan Gentayu.
Tapi, pendekar yang barusan bersuara sinis itu terdiam seketika.
Trisula di tangan Gentayu tiba-tiba bersinar terang, sedetik kemudian, sebuah cahaya kebiruan keluar dari trisula itu dan menyorot ke arah cermin.
Permukaan cermin tersebut seketika berubah seperti pusaran air. Di tengah pusaran, terlihat sebuah titik hitam yang makin lama semakin membesar. Bersamaan dengan kejadian itu, cermin tersebut bersinar terang menyilaukan.
“Sekarang!” Gentayu berseru memberi aba-aba sembari melompat masuk ke dalam titik hitam yang kini telah seukuran tinggi orang dewasa. Mendahului semua orang yang telah menyatakan diri untuk bergabung sebelumnya.
Hao Lim sekalipun matanya serasa buta sesat akibat terangnya sinar cermin itu, tak mau tertinggal lagi. Sedetik setelah tubuh Gentayu menghilang ke dalam cermin, dia segera menyusul.
Pendekar lain segera bersiap menyusul.
Sakuza dan Yumiko juga demikian. Sesaat setelah tubuh Hao Lim menghilang, keduanya segera melesat masuk ke dalam bagian tengah pusaran, namun..
‘BRAK..!’
‘PRANGK...!!’
Tubuh keduanya menabrak dinding di mana cermin itu tergantung. Ternyata cahaya cermin itu padam tepat saat kulit tubuh keduanya menyentuh permukaan cermin. Sebagai Gantinya, Sakuza dan Yumiko menabrak cermin dan mementalkan tubuh keduanya ke lantai.
Cermin itu hancur berantakan sebagaimana cermin biasa lainnya yang ditabrak manusia.
“Bagaimana ini?”
“bagaimana nasib keduanya?!”
Kejadian itu, membuat panik seluruh pendekar di ruangan tersebut.
END ARC 1:
__ADS_1
Mendung Di Langit Lamahtang