JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Teliksandi


__ADS_3

Gentayu masih terpaku di tempatnya berdiri sambil memandangi batu nisan dengan prasati yang namanya terukir di atasnya. Saat itulah, telinganya yang tajam sayup sayup mendengar suara pertempuran di kejauhan.


“Apakah pertempuran malam itu belum selesai?” Gentayu mulai pusing saat harus menerka situasi yang sama sekali belum bisa difahaminya ini.


Bagaimana tidak, dia tersadar di dalam sebuah goa batu dalam perawatan pendekar sakti, Jari Petir. Selama beberapa hari kemudian, dia berhasil memulihkan kekuatannya bahkan menjadi murid pendekar tersebut. Kini, tiba-tiba dia kembali ke tempat ini. Bukan hanya kembali ke desa Air Ketuan ini, bahkan dia kini berada persis di bekas arena pertempuranya terakhir kali melawan Karang Setan begitu saja. Kebingungan menyelimuti hatinya saat ini. Maka ketika mendengar suara pertempuran, diapun harus memastikan apakah benar pertempuran tersebut adalah bagian dari pertempuran yang dialaminya beberapa waktu lalu.


‘Ini malam? Tadi aku berpisah dengan guru Cik Han, bukankah siang hari? Apakah, itu berarti bahwa Kakek Cik Han tinggal pada dunia yang berbeda sebagaimana dunia Nenek Bulan Perak saat menemuiku?’


Tak ingin berkutat dalam fikirannya sendiri, Gentayu segera melesat menuju sumber suara pertarungan terdengar. Ternyata memang letaknya cukup jauh dari tepi desa Air Ketuan. Gentayu sungguh tidak menyadari bahwa kini indera pendengarannya telah meningkat sangat tajam, bahkan jauh lebih tajam dari telinga hewan sekalipun. Bagaimana mungkin dia bisa mendengar suara pertempuran yang jaraknya bahkan lebih jauh dari jarak ujung desa ke ujung desa lainnya dari desa Air Ketuan?


Saat tiba di lokasi pertarungan, Gentayu melihat seorang pendekar sedang dikeroyok oleh enam orang lainnya. Anehnya, tujuh orang yang sedang bertarung itu menggunakan seragam yang sama, yaitu seragam dengan warna merah pada jubah dan warna hitam bergaris merah pada bagian celana khas perguruan Rambut Iblis.


Namun, setelah diperhatikan dengan seksama, hanya enam orang pengeroyok yang menggunakan jurus yang seragam dalam formasi. Sedangkan pendekar yang dkeroyok tampak menggunakan jurus-jurus berbeda. Anehnya, Gentayu sepertinya tidak asing dengan jurus yang digunakan pendekar yang dikeroyok tersebut.


‘Si Dandun?’ Gentayu menggumamkan sebuah nama yang diingatnya sebagai pemilik jurus-jurus yang diperagakan pendekar tersebut.


Tanpa menunggu lagi, Gentayu segera terjun ke tengah arena. Kehadirannya yang tiba-tiba itu berhasil mencegah sebuah pedang yang hampir berhasil menikam ‘Si Dandun’ dari belakang. Pendekar itu tidak menyadari ketika dia menghindari tebasan maut yang menyasar lehernya justru bahaya menyergap dari belakang. Formasi para pengeroyok itupun buyar seketika.


“Heh! Siapa Kau? Berani ikut campur urusan Rambut Iblis?!” Protes, peringatan, atau mungkin itu hanya luapan kemarahan dilontarkan salah satu dari keenam pengeroyok yang ternyata benar dari kelompok Rambut Iblis.


Perempuan itu menyebutkan dengan jelas nama Rambut Iblis tentu sebagai gertakan agar orang lain tidak mencampuri urusan mereka. Sudah diketahui secara luas, bahwa nama Rambut Iblis bahkan membuat ciut nyali prajurit kerajaan sekalipun.

__ADS_1


“Dan ada perlu apa Rambut Iblis sampai harus keluar sarang seperti ini? Bukankah, seharusnya kalian adalah kelompok rahasia?” Gentayu tersenyum mengejek.


Pemahamannya sebagai mantan kapten divisi teliksandi terhadap kelompok-kelompok aliran hitam cukup baik. Seingatnya, sangat sulit menemukan orang-orang Rambut Iblis, apalagi mengetahui lokasi persis padepokan mereka. Kekuatan mereka adalah misteri bagi kerajaan dan pendekar aliran putih.


“Kurang ajar, setan alas! Cari mati..! Seorang laki-laki di antara keenam orang pendekar Rambut Iblis melompat dan menerjang ke arah Gentayu dengan kapak di tangannya.


Namun belum sempat laki-laki itu mencapai posisi Gentayu dan si Dandun berdiri, tubuhnya terhempas ke belakang dan jatuh dengan kasar ke atas bebatuan yang banyak terhampar di tempat kering tersebut.


‘Brugh!’


“Hegh...” Suara menahan sakit terdengar tak lama setelah tubuhnya jatuh.


Laki-laki itu langsung tewas dengan beberapa bagian dalam tubuhnya mengalami patah tulang. Kematian yang singkat, dengan darah segar yang mengalir dari mulutnya membuat lima orang sisanya menjadi waspada. Mereka sama sekali tidak melihat gerakan kedua orang lawan mereka sebelum rekannya tewas terhempas begitu saja.


Dandun menghadapi dua orang dari para pengeroyoknya menggunakan pedangnya. Sedangkan Gentayu sendiri menghadapi tiga orang sisanya dengan tangan kosong. Pertarungan kembali pecah. Dandun yang kini hanya harus menghadapi dua orang lawannya masih mampu mengimbangi keduanya. Dalam tempo singkat, pedangnya telah beberapa kali berbenturan dengan senjata kedua lawannya yang berupa jarum dan pisau kecil itu. Dandun nampak gesit menghindari serangan-serangan lawannya, sambil sesekali berusaha menyerang balik dan mendesak mereka. Namun tampaknya, bukan hal mudah untuk menghadapi kedua pendekar aliran hitam tersebut karena tingkat ilmu bela diri mereka berada di level yang nyaris sama. Dandun hanya diuntungkan dengan faktor kematangan usia dibandingkan lawannya yang masih remaja.


Satu goresan pedang Dandun berhasil mendarat di dada pendekar bersenjata jarum. Luka yang diterimanya membuat pendekar jarum itu meradang. Lalu kembali menyerang dengan semakin ganas. Bagaimana tidak, pendekar bersenjata jarum itu adalah perempuan! Tentu dia merasa dilecehkan dengan terbukanya salah satu bagian sensitifnya. (Ternyata, orang-orang sesat aliran hitampun masih punya rasa malu harga diri!).


Saat Dandun masih sibuk melayani kedua lawannya, Gentayu telah menghabisi dua orang lawannya tanpa kesulitan. Dia sengaja menyisakan seorang lawannya, pendekar bersenjata pedang besar untuk diinterogasi nantinya. Kondisi pendekar itu sudah sangat memprihatinkan. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka memar, lebam dan ada sedikit gosong pada beberapa titik. Entah kenapa instingnya mengatakan bahwa Karang Setan ada hubungannya dengan kelompok ini. Mungkin karena pakaian yang dipakai oleh keenam orang ini sama persis dengan para pengendali hantu.


Gentayu duduk santai di atas sebuah batang kayu roboh dengan kakinya menginjak kepala pendekar yang sengaja disisakannya.

__ADS_1


‘Kemampuannya tidak buruk. Sayangnya tidak banyak berkembang! Kerajaan benar-benar lalai memperkuat diri setiap prajurit!’ Gentayu berkata dalam hati, menyayangkan Kerajaan yang dianggapnya kurang perhatian terhadap prajuritnya.


Gentayu sengaja tidak mencampuri lagi pertarungan dua lawan satu yang berlangsung sengit itu. Baginya, latihan terbaik adalah pertarungan mempertahankan nyawa dari musuh. Dan benar saja, setelah beberapa lama kemudian, Dandun berhasil menghujamkan pedangnya ke jantung pendekar bersenjata pisau kecil saat pendekar itu berfikir lawannya akan mati terkena pisaunya yang dilemparkan ke arah kepala dan tak mungkin dihindari Dandun. Ternyata, kesalahan justru dilakukan oleh lawan perempuan Dandun yang telah terluka di bagian dada nan terbuka tersebut. Perempuan itu juga melihat peluang yang sama saat melihat bagian kepala Dandun tanpa perlindungan sehingga melemparkan jarum-jarumnya dengan sisa kekuatan tenaga dalamnya. Ternyata jarum-jarum itu justru berbenturan dengan pisau yang dilemparkan rekannya dari arah sebaliknya. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan Dandun untuk menghabisi salah satu lawannya. Sebuah hunjaman tepat ke jantung mengakhiri hidup pendekar pisau terbang yang saat itu kehabisan pisau di saku jubahnya.


Menyadari hanya tinggal dirinya yang tersisa setelah melihat Gentayu sudah duduk santainya, perempuan dari Rambut Iblis berniat melarikan diri. Namun baru selangkah dirinya meninggalkan arena pertarungan, pedang besar milik rekannya sendiri telah meluncur dan menghunjam punggungnya tembus hingga ke bagian depan tubuhnya. Wanita itu tumbang bersimbah darah dan tewas seketika. Kematian yang tragis dan cukup sadis bagi manusia umumnya.


“Terimakasih, tuan Pendekar!” Dandun, begitulah nama itu diingat Gentayu, membungkuk memberi hormat kepada Gentayu setelah berjalan dan berjarak cukup dekat. Namun sikap Gentayu yang tidak membalasnya dan justru bersikap seolah menertawakannya membuatnya salah tingkah.


“Apakah aku sudah berubah menjadi sangat tua sehinga kau tidak mengenaliku?” Gentayu tersenyum ke arah laki-laki itu.


Laki-laki itu sepertinya sedang mengingat-ingat sesuatu sambil matanya terus memperhatikan wajah Gentayu. Ya, sepertinya wajah itu tidak asing baginya. Tapi laki-laki itu bahkan tidak yakin dengan penglihatannya sendiri.


“Apakah.. apakah anda, anda, Gentayu? Kapten Gentayu?” Akhirnya laki-laki itu mengenali Gentayu.


“Hahahahaha.. Betul kawan! Aku Gentayu!” Gentayu akhirnya bisa tertawa lepas karena melihat ekspresi laki-laki yang ditolongnya itu.


Dandun, adalah anggota divisi Teliksandi yang pernah dipimpin Gentayu di bawah Senopati Benduriang. Mereka cukup dekat karena Dandun adalah adik seperguruannya sewaktu di padepokan Pedang Tunggal. Dandun juga satu-satunya teliksandi yang berasal dari padepokan tersebut. Sebagai Pendekar Madya, sebenarnya Dandun berkesempatan menggantikan posisi yang ditinggalkan Gentayu. Sayangnya, Dandun melakukan kesalahan kecil dalam tugasnya saat dipromosikan untuk menggantikan posisi Gentayu. Dia terlibat keributan dengan putra salah satu Rakryan (jabatan setingkat menteri).


Mereka berpelukan erat. Sebagai sahabat lama yang sudah tidak berjumpa selama beberapa tahun. Juga sebagai rasa syukur masih dipertemukan dalam kondisi selamat dari maut.


Akhirnya, setelah menginterogasi pendekar tawanan mereka dan tidak mendapatkan apapun karena pendekar itu memilih mati dengan menggigit lidahnya sendiri, akhirnya Dandun dan Gentayu memutuskan untukmeninggalkan tempat itu. Sepanjang jalan menuju desa Air Ketuan, mereka saling bertukar cerita Diawali Dandun yang dicecar pertanyaan oleh Gentayu. Dandun menceritakan perihal dirinya yang harus menyusup dengan susah payah ke dalam padepokan Rambut Iblis dan menggali informasi. Namun, baru sekitar seminggu menjadi murid di sana, kedoknya terbongkar karena ternyata Rambut Iblis memiliki banyak mata-mata di lingkungan prajurit dan pejabat istana. Informasi penting yang harus segera dilaporkan Dandun kepada Senopati Benduriang dan panglima Wiratama adalah perihal musnahnya sebuah padepokan menengah-besar di sekitar desa ini, yaitu Bambu Hijau akibat penyerbuan koalisi antara lima kelompok aliran hitam dengan salah satu di antaranya berasal dari pulau Padi Perak, yaitu Segoro Geni. Hal penting lain yang hendak dilaporkan adalah rencana mereka berikutnya adalah menyerang padepokan Naga Merah!

__ADS_1


Tentu saja dua hal ini mengejutkan bagi Gentayu. Bagaimanapun, Padepokan Bambu Hijau adalah padepokan cukup besar. Setidaknya gentayu pernah terlibat kerjasama saat melawan pasukan hantu dan mayat hidup, juga bersama-sama menghadapi Karang Setan. Gentayu juga pernah menerima bantuan mereka saat bentrok dengan anggota Kelabang Hantu beberapa waktu lalu. Mendengar berita ini, tanpa menunggu lama, Gentayu segera berpamitan kepada sahabat lamanya itu setelah memberinya beberapa tanaman obat sekaligus cara meraciknya guna proses penyembuhan luka-luka sahabatnya tersebut. Tidak ada lagi alasan untuk menunda perjalannya ke Sekte Naga Merah. Tapi tunggu, kenapa roh Ryu belum terdengar juga suaranya? Apa yang terjadi?


Keduanya kemudian berpisah, dan melanjutkan misi masing-masing. Gentayu sendiri tidak banyak menceritakan tentang dirinya. Sedangkan Dandun sendiri segan untuk menanyakan apapun kepada sahabat yang pernah menjadi pimpinanya tersebut.


__ADS_2