JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kapten dan Prajurit


__ADS_3

Gentayu bermaksud melongok sebentar keluar pintu kamarnya sebelum kembali tidur. Dia tidak ingin terganggu lebih jauh dengan konflik antara si laki-laki tua dan kelompok Bintang Merah. Tapi pandangannya tertuju pada seorang laki-laki berpakaian cukup mewah yang menandakan kebangsawanannya berjalan dari arah tangga yang menghubungkan lantai 2 ini dengan lantai dasar menuju sumber keributan. Beriringan di belakangnya lima orang pengawalnya berseragam khas prajurit kota Sei Asin dan seorang laki-laki lain berumur sekitar 50 tahunan dengan atribut Bintang Merah di belakangnya.


Mereka melintas begitu saja di hadapan Gentayu yang dengan acuhnya kemudian menutup pintu rusak itu bermaksud melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Namun seorang pengawal yang sejak tadi melihat ke arahnya nampak tidak senang dan menegurnya


"Anak Muda, tunjukkan rasa hormatmu!" bentaknya dengan kasar saat rombongan kecil itu tepat berada di depan pintu kamar Gentayu.


"Siapa? Maksudmu aku?" Gentayu menunjuk hidungnya sendiri mempertanyakan maksud pengawal itu dengan malas.


"Cepat! beri hormat!" Pengawal itu hendak memegang kepala Gentayu bermaksud memaksanya menunduk sebagai penghormatan. Tampaknya pengawal ini ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menjilat tuannya.


Tentu saja Gentayu yang pernah menjadi kapten itu tidak akan mau tunduk diperintah prajurit tingkat rendah seperti itu. Bahkan bila dia tidak memiliki kesaktian sekalipun. Sepertinya, malam ini dia harus memberi pelajaran kepada prajurit pengawal bangsawan yang entah siapapun itu.


Gentayu hanya menangkap tangan prajurit itu sebelum sempat menyentuh kepalanya. Selanjutnya terdengar bunyi tulang patah yang mengagetkan rombongan kecil yang baru saja melintas karena saking kerasnya suara itu

__ADS_1


'KRAK! CEKRAK!


'BUGH..!' ditutup dengan suara tubuh terbanting.


Prajurit itu tidak mati. Tapi kedua siku lengannya telah patah. Demikian juga kedua lututnya kini bisa ditekuk ke depan dan belakang. Prajurit itu pingsan. Sementara para pengawal lainnya melotot menyaksikan rekannya roboh begitu saja.


Melihat itu, terlihat wajah sang bangsawan tidak senang. Demikian juga dengan pandangan laki-laki paruh baya berseragam Bintang Merah. Mereka menghentikan langkahnya. Pria berpakaian seragam Bintang Merah maju menghampiri Gentayu yang bermaksud membalikkan badannya masuk kembali ke kamarnya.


"Hei, bocah! Siapa yang mengizinkanmu pergi begitu saja setelah menyinggung tuan muda Tian?!!" Laki-laki itu membentak tak terima dengan sikap acuh Gentayu.


Rombongan tuan muda Tian itu membenarkan ucapan Gentayu. Mereka akan mengurusnya nanti. Begitu fikir mereka. Niat awal mereka ke penginapan ini dan membuat keributan memang karena disebabkan kehadiran orang yang sedang terlibat dalam pertarungan melawan kelompok Bintang Merah di ujung lorong lantai dua penginapan ini.


Gentayu benar-benar tidak mempedulikan keributan yang terjadi.

__ADS_1


'Pak tua itu pasti bisa mengatasi orang-orang sombong ini dengan mudah.. Hoaaaaam...'


Diapun kembali berbaring untuk melanjutkan tidurnya yang tertunda.


Namun belum sempat matanya kembali terlelap, teriakan para penghuni penginapan yang berasal dari lantai dasar membuatnya terjaga kembali dengan kesal.


"KEBAKARAAAAA.....AAN...!!"


Tak lama, lantai yang diinjaknya bergoyang. Menyadari lantai dari kayu tersebut akan ambruk ke bawah, Gentayu melompat keluar melalui jendela.


Dari posisinya sekarang di pelataran penginapan, terlihat api membakar dan mulai menghanguskan kamar-kamar di lantai 2 tak jauh dari posisi kamar yang ditempatinya semula. Dari Lantai dasar, rupanya api itu bermula. Penyebabnya adalah upaya orang-orang Bintang Merah yang ternyata dihalangi oleh para pengurus penginapan membuat mereka marah dan membakar penginapan tersebut. Benar-benar bar-bar!


Tiga bayangan disusul beberapa sosok terlihat melompat dari dalam bangunan yang teebakar. Mereka adalah Lelaki paruh baya dari Bintang Merah yang dilihat Gentayu menggendong bangsawan yang dipanggil Tian, disusul lelaki tua yang terlibat keributan di depan penginapan sore tadi, serta beberapa anggota Bintang Merah dan prajurit pengawal.

__ADS_1


Para prajurit dan anggota Bintang Merah segera mengepung lelaki tua berbaju putih. Pertarungan kembali pecah. Sementara lelaki paruh baya yang bersama bangsawan yang dipanggil sebagai tuan muda Tian, memberi isyarat Kepada anggota Bintang Merah lainnya untuk menyingkir. Rupanya, laki-laki ini adalah pimpinan dari kelompok Bintang Merah.


"Tampaknya, akan ada tontonan menarik' Gentayu tersenyum dan hanya menyaksikan semuanya dengan antusias. Tentu saja dia ingin melihat seberapa besar kekuatan pemimpin Bintang Merah yang menjadikannya begitu sombong dan seolah tak terkalahkan sehingga anggotanya dengan mudah menyinggung siapa saja yang ditemui tanpa peduli latar belakangnya.


__ADS_2