
Montawiraba datang mendekati Dana Setra dengan menenteng lima buah kantong terbuat dari kulit hewan aneh. Dana Setra yang baru saja hendak menginterogasi Centini berdiri dan mengurungkan niatnya.
Sejenak, mata Dana Setra menangkap ekspresi tegang di wajah Montawiraba sekalipun terlihat pemuda itu bersemangat. Menurut Dana Setra, apapun yang membuat pemuda di hadapannya begitu antusias pastilah hal yang amat sangat menarik.
“Apa yang kau temukan dari mereka, Wira?” Dana Setra menjadi ikut bersemangat karena ekspresi Montawiraba.
“Lihatlah..” Montawiraba tidak segera memberi penjelasan apapun. Dia hanya menyerahkan lima buah kantong kepada Dana Setra.
Dana Setra segera memeriksa salah satu kantong secara acak. Matanya segera terbelalak tak percaya melihat isinya.
“Biadab!!” raungnya marah sambil menoleh ke arah Centini.
Centini sendiri tengah meringis tanpa suara dengan wajah menghadap langit menahan sakitnya.
Kantong pertama yang diperiksanya adalah sebuah kantong berwarna putih yang diambil Montawiraba dari tubuh pendekar bertato bulan sabit.
Kantong itu,adalah sebuah kantong buana, yaitu sebuah kantong yang mampu menampung makhluk hidup dan benda mati secara bersamaan. Kapasitas isi kantong buana tidaklah sama.
Kapasitas isi kantong Buana paling kecil yang umum ditemui di dunia persilatan setidaknya mampu menampung dan memindahkan segala sesuatu dalam area seluas 100 meter persegi. Baik hewan, bebatuan bahkan pepohonan dapat berpindah ke dalamnya.
Kapasitas paling besar kantong buana yang pernah muncul bahkan mampu menampung hingga seisi kota besar berpenduduk satu juta jiwa, berikut bangunan dan segala hal di dalamnya.
Dan Kantong buana di tangan Dana Setra saat ini termasuk kelas menengah. Di dalamnya terlihat sepuluh bangunan penjara yang masing-masing menampung tak kurang dari dua ratusan lebih pendekar!
Gigi Dana Setra megunci pada rahangnya, menyiratkan kemarahan dan siap meledak kapan saja.
Tagannya segera membentuk formasi mantra untuk mengeluarkan para pendekar yang ditawan, namun Montawiraba yang terlebih dulu memeriksa kondisi di dalam kantong buana itu mencegahnya.
“Maafkan kelancangan saya, Senior! Ada sesuatu yang tidak beres pada mereka. Dan, aku yakin akan berbahaya jika kita keluarkan seluruhnya sekaligus. Kalau boleh saya menyarankan, kita keluarkan satu dua orang untuk kita periksa. Setelah kita yakin amannya, baru kita bisa bebaskan yang lain” Montawiraba meyakinkan seniornya.
Dia menjelaskan temuannya tentang sebuah kristal berwarna seragam yang dimiliki setiap pendekar dalam bangunan penjara. Dan dia mengutarakan keyakinannya bahwa kristal itu telah mengubah karakter kependekaran manusia yang menjadi inangnya.
“Aku yakin, kristal itu ditanam secara paksa dari luar. Bukan kristal hasil pemadatan energi dewa seperti lazimnya milik para pendekar alam..” Montawiraba menegaskan keyakinannya. Dana Setra melongok sekali lagi ke dalam kantong dan mengangguk.
“ Baiklah! Lalu, apa isi kantong kedua ini?” Dana Setra menyerahkan kantong putih itu kembali kepada Montawiraba dan mengambil kantong berwarna Merah. Seluruh sisa empat kantong yang ada memang berwarna merah.
__ADS_1
“Apa??!!” Kali ini, Dana Setra terkejut sampai melangkah mundur.
Matanya terbelelak tak percaya melihat isi kantong di tangannya. Kantong itu bukan dari jenis kantong buana, tapi dari jenis Kantong ‘tepak’. Kantong ‘tepak’ adalah kantong yang bisa menyimpan benda benda berharga, namun untuk mengeluarkan benda-benda tersebut, sang pemilik cukup menepak permukaannya sembari menyebut dan membayangkan benda yang hendak diambil
Kantong jenis ini lazim dimiliki para pendekar karena berguna untuk menyimpan senjata dan kebutuhan perang dalam kapasitas cukup besar. Satu kantong, mampu menampung benda apapun seisi rumah besar. Bahkan makanan tidak akan menjadi basi di dalamnya sekalipun tersimpan bertahun-tahun. Mirip dengan fungsi gelang gerobok milik Gentayu.
Yang dilihat Dana Setra dan berhasil mengejutkannya adalah 7 bola sembilan arwah lengkap berikut puluhan kristal hitam segel iblis di dalam kantong tersebut.
“KALIAAAAANNNN!!!”
Kegerama Dana Setra memuncak pada titik batasnya.
Bagaimanapun, Bola Sembilan Arwah adalah segel bagi 7 kekuatan milik Mislan Katili. Dengan telah bersatunya ketujuh bola sembilan arwah, maka kebangkitan Mislan Katili hanya perlu menunggu bulan purnama!
Sialnya, dua malam lagi adalah bulan purnama tersebut!
Dana Setra Tak mengulur waktu lagi, seluruh kantong yang telah dikumpulkan Montawiraba segera diraihnya dan disimpan dalam kantong khusus miliknya, sejenis Kantong tepak namun dalam wujud patung kecil yang menjadi liontin di lehernya.
“Kita Pergi sekarang! Bawa perempuan ****** itu. Ini Gawat!!” Dana Setra segera mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk berteleportasi.
“Bagaimana dengan pesan Reksabumi, Senior?” Montawiraba mengingatkan Dana Setra tentang gulungan pesan bersegel yang belum sempat dibuka dan dibaca Dana Setra. Bagaimanapun, gulungan itu berikut sampainya pesan di dalamnya adalah misi utamanya. Dia akan dianggap gagal dalam tugas bila pesan tersebut belum dibaca seniornya ini.
Dana Setra segera membuka gulungan bersegel, pesan dari Reksa Bumi, sebuah nama bagi jabatan ketua Marga Tanah. Untuk membuka pesan tersegel itu, dia hanya butuh meneteskan setitik darahnya sendiri di atas segel. Maka seluruh pesan akan terbuka dan dapat dibaca.
[SEGEL]
“Dari Reksa Bumi, Mungkol Watu.
Kepada para Ksatria Naga Gunung di luar Marga.
Segera kembali setelah menerima pesan ini.
Berkumpul di Piramida Padang.
Malam Purnama bulan ini.
__ADS_1
Rahasia.
Darurat.”
[SEGEL]
Kembali Dana Setra meneteskan setitik darahnya ke atas segel, dan seluruh tulisan di atas gulungan segera menghilang. Dan gulungan itu tiba-tiba terbakar.
Dana Setra mengerutkan dahi dan menoleh ke arah Montawiraba. Seolah menanyakan apa yang tengah terjadi di Marga Tanah.
Namun tentu saja Montawiraba tak memahami maksud seniornya. Dirinya bahkan benar-benar tidak mengetahui isi surat yang membuat seniornya harus mengerutkan dahi itu.
“Ini tidak baik..” Dana Setra bergumam lirih. Dia ingin menanyakan perkembangan Marga Tanah beberapa waktu terakhir sehingga Reksa Bumi memintanya dan rekan-rekannya sesama Ksatria Naga Gunung harus kembali segera. Namun diurungkannya niat itu.
‘Karena seharusnya, aku lebih mengetahui dari bocah ini..’ katanya dalam hati.
Memang begitulah adanya. Sekalipun hidup jauh di luar wilayah Marga, bahkan dirinya tinggal di dunia yang berbeda sebagai perwakilan kuasa Marga di dunia ini, Dana Setra tidak sedikitpun tertinggal dari informasi mengenai Marganya.
Secara berkala, informasi-informasi penting bahkan rahasia akan diterima oleh seluruh Ksatria Naga Gunung berkat sebuah pusaka khusus berupa cincin.
Cincin itu memang hanya dimiliki oleh para Ksatria Naga Gunung. Apapun yang diketahui oleh salah satu dari para Ksatria Naga Gunung, maka hal yang sama akan diketahui oleh anggota lainnya.
Begitupun jika ada salah satu di antara mereka terlibat dengan pertempuran, atau terluka bahkan jika tewas sekalipun, anggota lainnya akan mengetahui.
“Mari kita periksa terlebih dahulu salah satu pendekar yang mereka tawan..”
Bersamaan dengan ucapan tersebut, Dana Setra mengelus liontin berupa patung kecil di lehernya degan ibu jarinya. Kantong putih berisi sepuluh bangunan penjara dan ribuan pendekar di dalamnya muncul begitu saja.
Dengan sebuah gerakan mantra tangan, Dana Setra mengeluarkan salah satu pendekar dari dalam penjara di dalam kantong buana tersebut.
‘BHUZZ!’
Sinar putih terang memancar dari kantong tersebut dan sesosok tubuh pendekar melompat keluar dari dalamnya. Sosok itu awalnya transparan, lalu mulai mewujud dan jatuh dalam posisi berlutut dengan kedua tangan menumpu pada tanah.
Itu adalah Dandun, salah satu anggota aliansi Pendekar Bintang Harapan. Termasuk yang paling akhir ditangkap karena licinnya pergerakannya. Informasi penangkapan para pendekar telah sampai ke telinganya, sehingga Dandun mengumpulkan kekuatan untuk melawan.
__ADS_1
Sayangnya, lima puluh pendekar yang bersamanya berikut anggota Bunga Kebenaran sama sekali tak berdaya menghadapi lima orang dari Telegu Merah berjuluk Setan Merah itu. Mereka ditangkap dan menjadi bagian dari peternakan Centini.
“AAHKKK...!!” Dandun meraung ke arah Dana Setra. Matanya berwarna merah, dan kekuatan setara pendekar bumi awal memancar dari tubuhnya.