
Trisula itu mulai melayang ke salah satu sudut goa, dan secara mendadak berputar-putar sejenak sebelum menancap dalam pada salah satu batuan pada dinding goa. Saat trisula itu menancap pada batuan tersebut, batuan itu memancarkan sinar biru cerah beberapa sebelum kembali meredup. Tak lama lantai goa berderak. Bumi serasa bergoncang, namun hanya pada beberapa bagian pada lantai goa saja.
Gentayu menjadi sangat waspada dan menyiapkan mentalnya atas kejutan yang akan diterimanya. Bagaimanapun, rasa mual akibat berputar-putar dalam lorong cahaya sebelum dilemparkan ke udara dan jatuh ke dalam sumur yang dalam bukanlah pengalaman yang menyenangkan baginya. Dia bahkan merasa akan segera memuntahkan isi perutnya yang memang tertunda tadi, menyebabkan pusing tak berkesudahan. Namun hal itu urung terjadi karena goncangan tiba-tiba berhenti.
“Hah? Tidak melemparkanku lagi??” Kali ini gentayu tidak lagi bergumam namun benar-benar berbicara.
Selesai bicara demikian, Gentayu merasa sebuah energi menyapu kedua kakinya dan membantingnya jatuh ke lantai yang licin.
“HAGH...!!” Gentayu terbanting cukup keras. Lalu benar-benar memuntahkan isi perutnya ke lantai goa. Rasa Sakit pada tulang-tulang dan tubuhnya kini terasa semakin bertambah nyeri.
“Kau... ternyata pemarah..!” Gentayu mengumpati entah siapa maksudnya. Tapi mungkin saja roh trisula yang berbicara padanya tadi yang dituju.
Tidak ada sahutan.
Namun dari sisi lantai tak jauh dari tempat Gentayu terbanting, sebuah lubang baru muncul. Lubang yang lebih mirip lorong gelap karena arah lobang tersebut memanjang secara vertikal.
“Masuklah! Dia sudah menunggumu..!” Kembali terdengar suara perempuan yang menyapanya di awal tadi. Namun kali ini nada suaranya lebih tegas.
“Heh, Kenapa aku harus menurutimu? Dan siapa yang menungguku??!” Gentayu merasa tidak perlu menuruti suara itu. Masuk ke dalam lorong yang entah apa isinya jelas bukan hal yang baik menurut logikanya. Bagaimana kalau ternyata dirinya tewas dimangsa sesuatu yang menunggu di dalamnya?
“Keras Kepala!” Suara wanita itu kini seperti mendengus marah.
‘BAM!!’
Sebuah hempasan energi yang cukup kuat berhasil melempar paksa Gentayu ke bibir lubang yang mirip lorong tersebut. Namun tentu saja Gentayu melakukan perlawanan, menolak diperlakukan ‘semena-mena’ oleh energi aneh dari wanita tanpa wujud (atau mungkin, trisula itu pelakunya? Entahlah!). Walau tubuh dan mentalnya saat ini sedang sangat lemah.
Gentayu mencoba berdiri, bermaksud melarikan diri dari tempat tersebut. Diculik dan dimasukkan paksa ke dalam lubang tersebut bukanlah hal baik menurutnya. Namun, baru saja dirinya bisa bangkit sempurna dengan kepala masih gliyengan, lantai di bawah kakinya mendadak terangkat dengan cepat dan membalikkan kembali tubuhnya dengan cepat ke mulut lubang.
‘BUM!!’
Kali ini Gentayu benar-benar terperosok masuk ke dalam lubang atau lorong tersebut setelah seluruh lantai di sekitar tempatnya berada terbalik dan berderap mendorong tubuhnya.
__ADS_1
‘Apa-apaan??!’ Gentayu dengan panik mencoba meraih apapun di sekelilingnya agar tidak terperosok semakin jauh ke dalam lorong lubang tersebut. Namun sia-sia, karena yang digapainya hanyalah dinding cadas yang licin dan keras. Tak ada apapun untuk menahan tubuhnya yang kini terdorong semakin dalam, dan .....
‘Byur!!’
Gentayu benar-benar dibuat kesal. Untuk kedua kalinya, dirinya kembali harus jatuh ke dalam air, bahkan kali ini air di bawah tanah. Dinginnya air itu terasa menusuk hingga tulang belulangnya.
Pemuda itu segera bangkit berdiri saat menemukan dirinya berhasil menjejak dasar lantai pada air yang mirip kolam kecil tersebut. Ternyata tidak terlalu dalam. Dia termenung ketika menyadari bahwa kini dia berada di dalam sebuah cerukan besar. Mungkin lebih kirip sebuah lembah dari sebuah ngarai yang tertutup. Sinar matahari menerobos hanya melalui celah kecil jauh di atas kepalanya. Namun lingkungan di sekitarnya sangat luas dan cukup penerangan.
Mata Gentayu kemudian justru terpaku pada sosok berjubah putih yang melayang di atas batu hitam di tengah danau kecil itu. Tepat di belakangnya. Gentayu mundur beberapa langkah mengetahui bahwa sosok tersebut jelas bukanlah manusia.
Mata sosok tersebut terpejam. Posisi tubuhnya mirip seseorang yang sedang bermeditasi. Di sekeliling tubuhnya, berpendar cahaya putih teduh. Tidak menyilaukan.
“Siapa.. siapa kau?” Gentayu sebenarnya cukup terkejut dengan kehadiran sosok tersebut. Namun, hari ini dia telah dikejutkan oleh beberapa hal sekaligus sehingga mentalnya kini lebih siap. Dia segera dapat menguasai dirinya untuk tidak takut, terkejut dan hanya sedikit gugup.
“Tak usah takut, anak muda. Aku manusia biasa. Sama sepertimu. Akhirnya, takdir telah mempertemukan kita..” Suara seorang laki-laki terdengar berwibawa terdengar. Namun sosok tersebut tidak bergeming dari tempatnya. Bahkan mulutnyapun sama sekali tidak terbuka.
“Hei, sebelah sini!!” Suara berwibawa tersebut kini terdengar sedikit meninggi. Mengagetkan Gentayu. “Sebelah sini, aku di atas sini! Cepat, segera keluar dari kolam itu sebelum kau mengotori airnya dengan air senimu!” Suara itu kini sedikit membentak.
Gentayu sebenarnya mengumpat kesal karena niatnya yang tertahan sejak tadi diketahui sosok tersebut. Air dingin itu memang membuatnya ingin pipis, namun karena dilarang diapun mengurungkan niatnya dan segera naik menuju ke arah lelaki tersebut. Ketika sudah sampai di hadapan lelaki itu dan menoleh kembai ke tengah kolam Gentayu menyadari sesuatu.
Sosok di tengah kolam itu hanyalah boneka yang entah terbuat dari apa dan dilukis sedemikian rupa. Benar-benar sebuah kombinasi boneka dan lukisan di atas kanvas hitam sehingga menyamarkan latar belakangnya dengan lingkungan sekitar. Gentayu menepuk jidatnya menyadari hal tersebut. Dia sempat mengira sosok tersebut melayang di atas batu. Ternyata, itu hanya karya seni yang menempel pada batu.
“Kalau mau buang air, ke sana!” Sosok lelaki itu menunjuk ke arah aliran kecil air yang bersumber dari kolam itu dan mengalir entah ke mana.
Gentayu yang sedari tadi menahan keinginannya tidak lagi menahan diri dan segera berlari menuju tempat yang ditunjuk lelaki itu. Setelah menuntaskan hajatnya, dia segera kembali kepada lelaki itu.
“Ayo, ikuti aku..!” Lelaki itu tanpa berbasa basi bahkan tanpa mengenalkan diri menarik Gentayu begitu saja dan membawanya terbang ke salah satu bagian dari tebing di tempat itu.
‘Mengikutimu?’ Jelas saja Gentayu menggerutu kesal dibuatnya. Dia diminta untuk mengikuti lelaki itu, tetapi yang terjadi adalah lelaki itu membawanya dengan menarik bagian belakang kerah pada jubahnya.
Keduanya mendarat pada sisi lain tebing. Pada cerukan dalam serupa goa lainnya. Di sana, nampak seorang lelaki tua dengan rambut dan janggut memutih yang sedang bersemedi. Matanya tertutup dan tangan kanannya membentuk pisau tangan di depan dada tegak lurus dengan badannya. Tangan kirinya memegang tongkat, namun tubuhnya seperti melayang. Posisi yang Serupa dengan boneka patung di kolam tadi.
__ADS_1
Tak mau lagi tertipu untuk kedua kalinya, kali ini Gentayu melangkah mendekat untuk memeriksa wujud sosok lelaki tua tersebut. Dicoleknya pipi lelaki itu untuk sekedar memastikan keasliannya sebagai manusia.
‘Pletak!’
Tongkat di tangan kiri lelaki tua itu bergerak cepat tak terlihat dan mampir di kepala Gentayu.
“Aduh!..”
Pemuda itu sampai tersungkur sambil memegangi ubun-ubunnya yang kembali benjol. Dia segera bangkit sambil nyengir, lalu terbungkuk-bungkuk meminta maaf. Saat menoleh ke pada lelaki yang membawanya, lelaki itu nampak menahan tawa, tapi tidak berani tertawa. Posisinya bersila cukup jauh dari lelaki tua itu, menunjukkan bahwa lelaki tua ini sangat dihormatinya.
Tak mau hal buruk lainnya terjadi, Gentayu memilih mundur dan berdiri di belakang lelaki yang membawanya tadi.
“Hust.. duduk..” Lelaki itu bicara lirih, nyaris berbisik kepada Gentayu memintanya untuk duduk.
Gentayu segera memahami situasinya. Bagaimanapun, tidak sopan berdiri di depan orang tua yang sedang duduk. Apalagi sepertinya, lelaki tua di depan mereka ini sangat berbahaya mengingat kesaktiannya sepertinya jauh di atas Gentayu. Gentayu duduk bersila di samping lelaki yang membawanya. Masih dengan memegangi kepalanya yang terus berdenyut nyeri.
“Maafkan saya, Guru. Saya lupa memberi penjelasan kepadanya..” Lelaki itu membuka pembicaraan dengan meminta maaf kepada sosok orang tua yang sedang bersemedi.
“Terimakasih, Jemekeh. Kembalilah ke tempatmu, dan biarkan kami berdua” Sosok lelaki tua yang dipanggil sebagai guru itu memberi perintah.
“Baik, guru. Murid pamit” Jemekeh menundukkan kepala sebelum beranjak mundur meninggalkan tempat itu.
Kini, di ruangan pada cerukan tebing itu hanya ada Gentayu dan lelaki tua yang disebut sebagai Guru itu. Suasana hening cukup lama sebelum lelaki tua itu membuka pembicaraan.
“Anak muda. Gentayu, namamu bukan?” Lelaki itu bertanya. Namun sepertinya tidak perlu dijawab. Dia mengetahui nama Gentayu saja sudah berhasil membuat Gentayu melongo karena di tempat asing ini, jelas tidak ada orang yang mengenalinya. Bahkan, namanya masih sangat asing di kalangan kawan dan lawannya.
Gentayu hanya mengangguk. Kehilangan keberanian untuk sekedar bicara. Aura yang terpancar dari tubuh lelaki tua itu membuatnya harus menunduk hormat. Namun dia juga bingung, karena saat mencolek pipinya tadi, Gentayu sama sekali tidak merasakan pancaran aura ini.
“Tak usah difikirkan. Tadi aku memang belum hadir di sini sehingga kau tidak merasakan auraku..” Lelaki itu bicara, menjawab pertanyaan dalam benak Gentayu.
Apakah lelaki tua ini sedang membaca fikirannya?? Gentayu tiba-tiba bergidik ngeri.
__ADS_1
“Aku bernama Datuk Sarilamak. Tapi orang menggelariku sebagai Pandeka Rajo Narako, atau Datuk Rajo Narako...” Kata perkenalan singkat dari lelaki tua itu, berhasil membuat jantung gentayu serasa berhenti berdetak dan meloncat keluar dari rongga dadanya.