JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Daging Gosong


__ADS_3

Gentayu berhasil mencapai tempat Pusaka Cermin berada dengan selamat. Tidak ada luka terbakar maupun kehabisan energi atau kehilangan kekuatan seperti yang dikhawatirkan. Namun tetap saja seluruh badannya merasakan pegal-pegal yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.


Gentayu meletakkan Plasma Rakurai pada titik yang ditunjuk Matriark Lim, di sisi belakang pusaka cermin. Lalu dia ngeloyor masuk ke dalam kuil bermaksud untuk memulihkan diri. Di pelataran kui sendiril, kini telah berkumpul Para penghuni sekte dengan persiapan seadanya. Mereka kini hanya diterangi dengan pencahayaan yang berasal dari energi para pendekar. Jumlah mereka semakin lama semakin banyak membentuk tiga barisan memanjang ke belakang hingga lebih lima puluh meter. Jumlah mereka, sekitar tiga ratusan orang.


Gentayu bermeditasi di dalam kuil. Memulihkan tenaga selagi sempat sebelum serangan atau hal buruk lain benar-benar datang. Tetua De Wu dan tetua berjanggut putih serta Matriark Lim mulai sibuk melakukan sesuatu terhadap plasma Rakurai. Saat semuanya telah selesai, Matriark Lim mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam tabung yang kini telah terpasang pada alas pusaka cermin tersebut, dan..


“Triiiiinkkk…….”


Kembali terdengar suara memekakkan telinga.


Tak lama kemudian, kegelapan ruangan bawah tanah itu segera Kembali sirna setelah Plasma Rakurai Kembali menyala. Namun, bukan hanya plasma itu saja yang menyala. Lingkaran yang membingkai pusaka cermin besar itu juga ikut menyala. Pendar cahaya seperti cahaya petir terbentuk perlahan pada lingkaran bingkai kaca pusaka. Kilatan-kilatan seperti petir pada sisi lingkaran itu makin membesar. Lalu, pada sisi tengah cermin sebuah titik hitam muncul, makin lama makin besar, terus membesar dan membentuk seperti pusaran hitam.


Gentayu yang sedang bermeditasi segera menyelesaikan meditasinya karena terganggu suara berisik dari dalam ‘Gelang Gerobok’nya.. Dia terkejut saat mendengar suara ‘Klik!’ ‘Klik’‘ Klik!’ ‘Klik’ ‘Klik!’ ‘Klik’ ‘Klik!’ ‘Klik’ ‘Klik!’ ‘Klik’ terdengar makin lama makin kencang dan makin cepat di telinganya. Tentu saja hanya dia sendiri yang bisa mendengarnya. Orang lain tidak mungkin bisa mendengarkan apapun di dalam gelang gerobok itu. Gentayu mengenali suara itu mirip seperti suara ‘klik’ pada peta kubusnya. Dia lalu mengeluarkan dan segera memeriksa peta kubus itu. Ternyata benda itu sedang bergetar cukup kencang. Ke empat sisi-sisinya terus berubah akibat batuan kotak berbentuk kubus kecil-kecil sebagai pembentuknya terus bergerak. Rupanya, kubus aneh miliknya itu beraksi saat pusaka cermin besar itu mulai aktif. Suara ‘Klik’ berulang yang terus menerus kini dapat didengar oleh beberapa orang yang berada di dekatnya setelah benda kubus itu keluar dari gelang gerobok.


‘Apa jangan-jangan ini yang disebut matriark Lim sebagai ‘Pasagi’ apalah tadi, ya?’ Gentayu mulai mengkaitkan informasi yang diterimanya dari Matriark Lim tentang bagian dari pusaka cermin itu yang hilang. Tentu dia tidak mengingat penuh nama asli dari bagian pusaka yang hilang itu.


Gentayu membawa benda itu mendekat kepada pusaka cermin yang kini telah memunculkan warna hitam pekat yang seolah memancarkan energi menyedot yang sangat besar.


“Nona Lim! Nona Lim! Apa ini yang nona sebut sebagai Pasagi atau apalah tadi?” Gentayu menghampiri Matriark Lim yang sedang sibuk mengarahkan anggota sektenya untuk bersiap-siap. Mendengar panggilan Gentayu, matriark itu menoleh dan mendekati Gentayu dengan kening berkerut heran sekaligus takjub.


“Bagaimana, bagaimana bisa benda ini ada di tanganmu?? Iya, inilah bagian dari Cerin pusaka ini!” Mata Matriark Lim berbinar menemukan bahwa pusaka cermin kini telah memiliki seluruh bagian yang utuh.


Matriark Lim menerima Pasagi Kubuk yang selama ini disebut Gentayu sebagai Peta Kubus itu. Setelah Gentayu memberi isyarat dengan menganggukkan kepala tanda persetujuan, pasagi kubuk dipasangkan pada salah satu bagian dari Cermin yang memiliki rongga berbentuk kubus. Saat benda tersebut telah terpasang, sinar terang memancar dari permukaan cermin. Sebuah peta tergambar dicermin, matriark lalu menunjuk salah satu di antara ketiga titik yang muncul dan segera saja energi menghisap yang sangat kuat tercipta dari dalam cermin.

__ADS_1


“Cepat! Cepat! Sambil berlari saja supaya cepat!” Tetua berjanggut putih berteriak kepada orang di barisan terdepan agar segera menuju ke cermin sambil setengah berlari.


Orang itu menurut. Dia dan diikuti orang-orang dibelakangnya segera berlari menuju cermin. Saat telah berada di depan cermin seolah cermin itu langsung menelan orang itu dan orang-orang di belakangnya. 1, 2, 3, 4, 5.. dan terus bertambah jumlah mereka yang berlari dan segera menghilang terhisap saat sudah di depan cermin. Gentayu menyaksikannya dengan antusias sekaligus takjub.


Tiba-tiba terjadi getaran hebat dari tanah di atas mereka. Anggota sekte mulai panik dan mulai berebut untuk giliran terhisap cermin. Mereka tentu mengerti bahwa getaran-getaran yang semakin membesar itu adalah tanda serangan telah dimulai dan mereka yang telah melewati cermin itu berkemungkinan selamat.


Gentayu saling pandang dengan kedua tetua dan matriark Lim. Keempatnya mengangguk dan segera melompat ke barisan paling belakang anggota sekte yang mulai berkurang.


“Cepat, cepat! Jangan pedulikan yang di belakang! Kami yang akan mengurus para penyerang, kalian harus segera keluar dari sini!” Matriark berteriak lantang memerintahkan orang-orang untuk bersegera.


Tak lama, suara-suara teriakan banyak orang yang dipastikan para penyerang terdengar dari arah Gentayu memasuki sekte ini pagi tadi, yaitu dari sumur rahasia!


“Matriark dan para tetua, fokuslah melindungi pengungsi itu! Mereka ini serahkan saja padaku! Bila semuanya telah pergi, mohon matriark dan tetua berdua pergi terlebih dahulu untuk memimpin anggota sekte. Aku akan menyusul, tapi beritahukan cara mematikan cermin itu agar tidak bisa mereka gunakan!” Gentayu tahu bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya, tetapi hanya itulah yang mungkin akan menyelamatkan semuanya.


Sambil menunggu jawaban Matriark, Gentayu mencabut senjatanya yang mirip kerambit. Itu adalah ‘karambuik Halilintar’ pemberian Kakek Marobahan sang pendekar jari petir. Menurutnya, senjata itu akan lebih berguna saat menghadapi musuh dalam jumlah banyak seperti saat ini.


‘Tratak!’


‘Tratak!’


‘Tratak!’


Kilatan petir muncul begitu saja dari ujung senjata kecil Gentayu.

__ADS_1


‘BLARRR...!!!’


Seluruh kelompok pertama penyerang yang berjumlah sekitar 40 orang itu langsung tewas di tempat oleh ledakan petir! Semuanya tewas dengan tubuh hangus padahal jarak mereka masih sangat jauh dari tempat Gentayu berdiri.


“Tuan Pendekar! Tuan Pendekar! Cepatlah..! Semua sudah berhasil diungsikan..! Ayo, kita pergi dari sini..!” Teriakan tetua berjanggut kuning kepada Gentayu.


“Kerja pusaka cermin ini hanya bisa dihentikan dari sisi lain! Sisi tujuan kita, bukan dari sisi ini!” Matriark Lim menambahkan penjelasannya, menjawab pertanyaan Gentayu yang belum sepat dijawab sebelumnya. Juga sambil berteriak.


Gentayu hanya menoleh sebentar dan melihat bahwa para anggota sekte semuanya memang sudah berhasil diungsikan melalui pusaka cermin tersebut. Gentayu ingin turun dan menuruti kata tetua tersebut agar segera bisa pergi dari tempat tesebut, namun di kejauhan dari arah gerbang berbentuk sumur kembali terdengar derap langkah dan teriakan para pendekar aliran hitam. Sepertinya mereka belum menyadari rekan-rekan mereka yang pertama masuk sudah menjadi daging gosong. .


"Kalian pergi saja duluan! Kalau ada satu saja orang aliran hitam yang berhasil masuk dan menyusul kalian, bunuh orang itu dan matikan saja kerja cermin itu!!" Gentayu menjawab para petinggi itu, juga dengan berteriak karena memang posisi mereka yang cukup jauh. Gentayu masih bertengger di atap bangunan yanhg cukup tinggi hingga memudahkannya melihat musuh mendekat.


Gentayu kembali fokus ke arah kedatangan musuh dengan seringai senyum yang tampak dingin mengerikan.


Tanah di atas kepala mereka terus saja bergetar, menandakan bahwa jumlah penyerang yang menyerbu terus bertambah banyak.


Saat mereka tiba di titik kelompok pertama tewas, mereka terkejut bukan kepalang melihat mayat-mayat rekan mereka bergelimpangan dengan seluruh tubuh menghitam mengeluarkan aroma daging gosong. Keterkejutan mereka tidak bertahan lama, karena mereka juga segera tewas sesaat setelah gelegar guntur dan kilatan petir membahana di markas sekte Naga Merah ini.


‘Gleger..!’


Tratak.. ! Tratak..! Tratak..!


‘DHUARRRR... BLAR...!’

__ADS_1


Mereka tewas tanpa bisa menghindari petir yang seolah mengejar mereka!


Gentayu tak ingin mengulur waktu lagi, dia segera melompat turun dan melesat menuju pusaka cermin berada untuk menyusul ketiga petinggi sekte yang telah bersiap hendak meninggalkan tempat tersebut. Namun, ketika jaraknya dengan pusaka cermin tinggal beberapa meter lagi, beberapa bola api dan puluhan pisau terbang beracun berkekuatan besar meluncur dengan kecepatan sangat tinggi ke arahnya..


__ADS_2