JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

“Guru, mohon tidak mempersulit kami. Guru tahu bahwa kami hanya memiliki 5 buah Wilmana tersebut. Dan itu sangat berarti bagi kekuatan militer kami. Berkurang satu saja, itu akan memperlemah kekuatan kami..” Parbu Jayadilaga tidak mampu lagi menahan diri untuk tidak mengeluhkan beratnya permintaan Manik Baya.


Bagi sebuah kerajaan, kekuatan armada udara sama pentingnya dengan armada darat dan laut. Menyerahkan satu dari lima Wilmana milik Giri Kencana jelas akan melemahkan mereka secara signifikan.


“Kami bisa menggantinya dengan yang lain, guru..” sambung Jayadilaga, mencoba bernegosiasi untuk tidak membuat Manik Baya tersinggung karena penolakannya.


Di sisi lain, Patih Mangkubumi dan para senopati perang nampak begitu heran dengan sikap tunduk rajanya yang biasanya terkenal tegas dan berwibawa itu.


Dalam fikiran mereka, akan lebih baik jika pasangan guru dan murid itu ditangkap saja. Dengan kekuatan para senopati dan raja sendiri, tentu tidak akan sulit mengalahkan seorang pendekar langit dan gurunya yang terlihat lemah itu.


Sudut pandang mereka memang berbeda dengan sang raja. Meskipun begitu, para senopati dan ptih Mangkubumi menahan diri untuk tidak bersikap lancang di hadapan raja mereka.


Manik Baya yang semula terlihat sedikit menampakkan perubahan roman muka, kini kembali tersenyum penuh arti.


“Baiklah kalau kau keberatan, aku tak akan memaksa. Kau bisa memberikan satu pengabulan permintaan bagi muridku ini di masa depan. Ingat, saat dia memintamu apapun resikonya kau harus menurutinya, atau..”


“Atau Apa??! Hei pak tua, kau jangan kelewatan..!” Patih Mangkubumi kehilangan kesabaran mendengar lelaki tua botak bersuara cempreng di hadapan mereka terkesan terus menekan sang raja.


Jayadilaga Sendiri mukanya berubah merah dan segera mendorong patih mangkubumi untuk menjauh, menghindari konflik dengan Manik Baya.


“Paman patih!”


Suara sang raja yang sedikit membentaknya membuat patih mangkubumi kaget bukan kepalang.


Siapa sebenarnya lelaki botak ini hingga sang raja lebih memilih membentaknya? Tangan kanannya yang setia sejak ayah Jayadilaga masih hidup?


“Maafkan kelancangan kami, guru..” Jayadilaga segera berbalik menghadap Manik Baya. Lelaki tua itu telah berubah posisi berdirinya. Sikapnya membuat Jayadilaga sedikit cemas sehingga buru-buru minta maaf.


“Aku dan keturunanku yang memerintah di masa depan berjanji, akan memenuhi satu permintaan pemuda ini di masa depan. Mohon maafkan kami, guru..” bahkan kini Jayadilaga sedikit membungkuk di hadapan Manik Baya.


Sebenarnya, bukan hanya para bangsawan dan pejabat Giri Kencana yang keheranan dengan sikap Jayadilaga. Gentayu sendiri juga mulai mempertanyakan, seberapa tinggi posisi Manik Baya bagi Jayadilaga.

__ADS_1


“Baik. Aku pegang janjimu. Aku sendiri yang akan menghukummu jika kau mengingkarinya. Gentayu, ayo kita tinggalkan tempat ini...” Manik Baya segera membalikkan badan, sementara gentayu yang diajaknya pergi melompat menuju alun-alun.


Pemuda itu melesat sekali lagi ke puncak mahkota sang patung yang kini diam tak bergerak. Meskipun masih memancarkan energi dahsyat, tapi tidak menghalangi Gentayu lagi seperti sebelumnya.


Tangan Gentayu meraih sesuatu di puncak mahkota tersebut, lalu segera melayang turun kembali ke bawah. Dicabutnya keris Mpu Jangkung yang masih menancap di tanah, lalu bersegera melayang kembali menuju panggung. Menemui putri Cendrawani.


Semua orang mengira Gentayu hendak berpamitan, ketika dia meraih lengan kanan sang putri.


Putri Cendrawani bermaksud mengibaskan tangannya untuk menolak dipegang Gentayu, tapi begitu matanya tanpa sengaja menatap mata Gentayu, dirinya seolah kehilangan kontrol sejenak atas akal sehatnya. Dia membiarkan Gentayu meraih tangannya.


Gentayu menaruh sesuatu di tangan kanan sang putri. Sambil menatap mata putri cantik jelita itu. Dalam hati, Gentayu mengakui bahwa kecantikan Cendrawani belum pernah dijumpai tandingannya di antara seluruh wanita yang dia temui seumur hidup.


Gentayu berdehem, menenangkan diri sebelum bicara.


“Tuan putri. Maafkan aku. Ini, cincin yang asli kuserahkan padamu. Yang sebelumnya kau terima, itu hanya koin perak..” Gentayu menggenggamkan tangan Cendrawani dan segera berbalik ke sisi Manik Baya.


“Aaa.. apa??.. koin.. koin perak? Kau.. kau...” Cendrawani kehabisan kata-kata atau tepatnya tidak lagi mampu untuk mengumpat pada Gentayu.


Semua tak nyata. Gentayu kembali ke atas mahkota patung untuk kedua kali, rupanya bermaksud mengambil cincin yang sebenarnya. Sama sekali tanpa perlawanan dan hambatan. Karena Cendrawani telah terkecoh mentah-mentah. Mengira bahwa cincin tersebut telah berada di tangannya.


Raja dan para bawahannya hanya melongo. Antara kagum dan marah atas kelicikan tipu daya Gentayu.


“Akkuuu.. akkkuuu.. akkan memmbunuhmu, Gentayu!!” pekik Putri Cendrawani dari tempatnya berdiri saat Gentayu dan Manik Baya mulai melangkah meninggalkan tempat itu.


Sebuah asap putih tebal serupa awan melayang turun menyelimuti Manik Baya dan Gentayu. Itu adalah asap awan yang sama yang membawa Gentayu dan Manik Baya sebelumnya.


Saat telah berada di dalam kepungan asap awan itu, sekali lagi terjadi hal di luar dugaan semua orang. Wajah dan penampilan Gentayu mengalami perubahan. Tidak lagi terlihat sebagai adipati melainkan kembali ke wajah dan tubuh asli Gentayu.


Mata semua yang menyaksikan keduanya tak berkedip. Mulut mereka benar-benar melongo.


“ilmu malih rupa..” gumam patih Mangkubumi dan para bawahannya. Mereka menoleh ke arah sang raja yang terlihat tidak terkejut.

__ADS_1


Raja memang telah mengetahui hal itu sebelumnya, dan sepertinya masih ada hal lain yang diketahuinya namun tidak diceritakannya.


Reaksi lebih terkejut justru ditunjukkan Cendrawani. Gadis cantik yang biasanya terkesan angkuh itu bahkan sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena tak percaya yang dilihatnya.


“Aaaaa.. apa? Dia, dia,.. dia...” Cendrawani langsung pingsan ketika Gentayu dan Manik Baya melesat dengan kecepatan tinggi menuju awan di langit.


Raja, permaisuri dan para dayang menjadi panik melihat Cendrawani tiba-tiba pingsan ketika Gentayu menunjukkan wajah dan identitas aslinya. Mereka mengira, pemuda itu telah menyerang sang putri secara diam diam.


Menyaksikan wajah pucat sang putri, Permaisuri sebagai ibu kandung Cendrawani dan sang raja tak bisa lagi berpura-pura tegar.


“Panggil tabib! Cepat! Cari!” Permaisuri bahkan setengah berteriak memerintahkan kepala kaputren memanggil tabib istana. Tak lagi terlihat permaisuri yang biasanya anggun dan berwibawa. Yang terlihat adalah seorang ibu yang cemas.


Kepala asrama kaputren segera berlari memanggil tabib istana guna memeriksa kondisi Cendrawani.


Sedangkan raja Jayadilaga bergerak cepat. Segera dibopongnya sendiri putrinya dan terbang menuju kediamannya di komplek kaputren.


Isu tak sedap segera menyebar berkaitan dengan kejadian hari itu. Dan tak butuh waktu lama, berita itu telah menjadi buah bibir dan perbincangan seluruh penghuni kotaraja. Dari bangsawan hingga kuli panggul telah mendengar berita tersebut.


‘Karena ditolak setelah memenangkan sayembara, seorang pemuda asing yang menyamar menjadi adipati gadungan mencelakai putri Cendrawani’


Begitulah berita dan kabar itu menyebar dengan cepat.


**Nb. Saya baru pulang dari menghadiri undangan takziah tetangga hampir menjelang tengah malam. Langsung up karena paginya terlalu sibuk.


Maaf hanya sempat 1 chapter. Bahkan mungkin akan lulus review di atas jam 00.01 nanti..


Terimakasih atas atensi dan penghargaannya.


Terimakasih sudah berkenan berbagi poin.


Terimakasih sudah menjadikan JBBK sebagai salah satu novel favorit**

__ADS_1


__ADS_2