JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Melawan Pemimpin Aliansi


__ADS_3

Panglima Wiratama terus terdesak. Sayatan akibat terkena cambuk bergerigi milik Piyut sang Pendekar Kelabang Darah menghiasi banyak bagian dari tubuhnya. Bahkan pakaiannyapun sudah mulai dipenuhi robekan di sana sini dengan warna merah darah.


Gentayu meradang melihat pemandangan menyedihkan tersebut. Tepat saat dia melompat untuk terjun ke dalam pertarungan guna membantu ayah angkatnya, dada sang panglima telah tertembus salah satu dari belasan senjata rahasia berbentuk pisau milik Gandos sang pendekaar Pisau Iblis.


“Ayaaaah….!! Tidaaak…!!”


Gentayu melepaskan pukulan Tinju Naga Api dengan kekuatan maksimalnya ke arah para pengeroyok ayah angkatnya. Memaksa ketiga pentolan aliansi aliran hitam itu melompat menjauh dari tubuh panglima Wiratama yang kini roboh ke tanah. Belum meninggal. Bahkan panglima itu hanya berlutut dengan kepala tegak dan pedangnya tertancap di tanah sebagai tumpuannya.


Gentayu tidak memiliki waktu untuk sekedar memeriksa kondisi ayahnya. Sebagai gantinya, dia meminta Benduriang yang kondisinya lebih baik untuk membawa ayah angkatnya menepi dari arena pertarungan.


Gentayu mengambil alih pertempuran ayah angkatnya tersebut dan bertekad untuk menghabisi setidaknya salah satu dari tiga orang sakti pimpinan aliansi aliran hitam itu. Dengan tewasnya salah satu pimpinan aliansi, setidaknya kekuatan mereka akan berkurang secara signifikan. Begitulah perhitungan Gentayu.


Gentayu segera mengeluarkan pedang kembar dari gelang gerobok-nya. Namun aksinya ini berhasil mengejutkan ketiga pentolan aliran hitam itu meskipun untuk alas an berbeda. Gandos dan Dewi Mawar Hitam terpana karena Gentayu beraksi seolah pedang kembar tersebut muncul dari ruang hampa. Sedangkan Piyut lebih terkejut lagi karena selain terlihat muncul dari ruang hampa, Pendekar Kelabang Darah itu mengenali senjata yang berada di tangan Gentayu sebagai senjata milik salah satu anggota Perguruan Kelabang Hitam.


Namun keterkejutan mereka tidak berlangsung lama karena mereka segera disibukkan dengan serangan-serangan Gentayu yang cepat dan mematikan. Bagaimanapun, ketiganya secara sepintas mengetahui bahwa pedang kembar tersebut adalah pedang beracun yang terlihat dari warna hitam kehijauan di kedua sisi mata pedang tersebut. Maka, ini adalah pengalaman pertama mereka bertemu dengan pendekar aliran putih namun menggunakan racun dalam senjatanya.


Gentayu terlihat menyerang dengan gencar sosok Gandos sebagai pendekar terkuat di antara ketiganya. Namun itu sebenarnya hanyalah trik semata, karena sasaran utama Gentayu sebenarya adalah Pendekar dari Kelabang Hitam, Piyut sang Pendekar Kelabang Darah.


Dua tebasan beruntun kearah leher dan kepala Gandos berhasil dihindari pendekar botak tersebut. Gentayu sengaja memepet dan tidak memberi jarak serang kepada pendekar dari Rambut Iblis itu agar sang Pisau setan tidak mampu menggunakan senjatanya. Seballiknya, dia seolah memberi celah agar Piyut bisa menyerangnya dengan cambuknya.


Trik Gentayu berhasil dan berjalan mulus. Pendekar berkepala botak benar-benar dibuat mati Langkah karena saat ini Gentayu menyerangnya seolah tanpa jeda dalam jarak yang terlalu dekat. Kedua pedang kembarnya nampak sangat luwes digerakkan dalam ruang dan celah sempit antara dirinya dengan sang lawan. Berkali-kali Gandos melompat dan menghindar menjauhi setiap serangan mematikan, namun kemanapun dirinya berusaha menjauh, padang Gentayu seolah selalu menemukannya. Bahkan beberapa kali nyaris Pendekar botak itu kehilangan kepalanya justru saat menghindari serangan yang dibangun sedemikian beruntun dan tetap tanpa jeda tersebut.


Di sisi lain, Piyut yang berkali-kali melihat celah serangan, justru harus menelan ludah terus menerus karena setiap kali cambuknya melecut, justru lecutan cambuknya akan membahayakan rekannya sendiri, Gandos. Bahkan, saat berfikir bahwa lawannya pasti akan hancur kepalanya karena masuk dalam jangkauan serang dan terlihat lengah, cambuknya justru bertemu dengan pisau Gandos membuat pisau tersebut lepas dari tangannya dan terlempar jauh.


Saat itulah Gentayu menambah kecepatannya dan menebas kearah leher Gandos. Gandos berusaha menahan salah satu pedang kembar tersebut dengan pisaunya, namun satu pedang lainnya tak mungkin lagi untuk dielakkan dan menusuk kearah dadanya.

__ADS_1


Pendekar Botak itu hampir Kembali kehilangan nyawa bila Dewi Mawar Hitam terlambat sepersekian detik saja untuk menangkis dengan kipas pusaka miliknya.


Baru saja serangan tersebut dapat ditangkis, secepat kilat Gentayu melemparkan salah satu pedang kembarnya dengan dorongan tenaga dalam tinggi kearah Piyut yang seolah menunggu kesempatan membokong dari samping.


Serangan pedang yang meluncur deras tersebut tidak sempat diantisipasi karena jaraknya yang hanya sekitar dua depa. Selain itu, Piyut yang hanya bersiap menyerang sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk menangkis atau mengelak saat itu.


“AAAHHHKKKKK….!!” Terdengar teriakan piyut Ketika pedang tersebut menembus batang lehernya.


Saking cepatnya, bahkan pedang yang meluncur deras itu sampai tak terlihat oleh Benduriang yang bersiaga menyaksikan pertarungan tersebut di tepi arena.


Bukan hanya Benduriang, Dewi Mawar Hitam dan Gandospun tak sempat melihat pedang itu meluncur. Mereka tersentak Ketika baru saja Dewi Mawar Hitam menangkis pedang yang hendak menghunjam dada Gandos, tiba-tiba Piyut berteriak. Teriakan menjemput kematian.


Tak sempat menutup mulutnya yang terbuka karena kaget, kedua pendekar aliran hitam itu meringis sebelum roboh dengan sebuah goresan lurus. Dewi Mawar Hitam menerima tebasan di lehernya, sedangkan Gandos yang lebih tinggi tubuhnya menerima tebasan itu di dadanya. lagi-lagi, gerakan Gentayu sangat cepat nyaris tak terlihat.


Goresan lurus dan mematikan yang dilakukan dalam satu Gerakan bertenaga dalam membuat Dewi Mawar Hitam langsung terpenggal. Perempuan yang sebenarnya memiliki wajah rupawan itu tewas dengan mata mendelik. Seolah tak percaya dirinya tewas secepat ini, di tangan seorang yang terlihat masih sangat muda..


“Kau.. kau.. siapa kau...?!” Gandos untuk pertamakali merasa penasaran karena dikalahkan oleh orang yang tidak dikenalinya. Bahkan, prajurit pengkhianat yang membocorkan segala informasi tentang raja di tempat ini tidak menyebutkan keberadaan sosok sekuat Gentayu ini.


“Sejak kapan kalian peduli dengan siapa kalian berhadapan?!!” Gentayu mengeratkan genggaman pada pedangnya dan kini memancarkan aura membunuh yang dahsyat ke arah lawannya.


Meskipun tidak sepekat aura membunuh yang biasa dipancarkan oleh pendekar aliran hitam, namun Gandos menyadari bahwa lawannya tidak akan membiarkannya hidup. Pendekar botak itu mendengus dan tersenyum pahit menyadari ternyata darahnya tak kunjung berhenti mengalir dari luka tebasan pedang tersebut kendati telah mengalirkan banyak tenaga dalam untuk mencegah pendarahan.


Lelaki botak itu mundur cukup cepat mengambil jarak dengan cara melompat sebelum mengeluarkan sesuatu di balik jubahnya. Sebuah wadah terbuat dari kulit hewan. Tangannya dengan cepat merogoh wadah tersebut, mengambil segenggam isinya yang berbentuk serbuk putih dan melemparkan isi genggamannya itu ke atas tanah di sekitarnya.


‘Bhuzz!’

__ADS_1


‘Bhuzz!’


‘Bhuzz!’


Tiga sosok monster muncul dari serbuk yang ditebarkannya di atas tanah sekitarnya.


Monster pertama berwujud manusia dengan bagian atas tubuh berbentuk buaya, termasuk kedua tangannya yang memiliki cakar mirip buaya. Bedanya, cakar tersebut lebih panjang dan sepertinya terbentuk dari logam berwarna hijau! Jelas cakar itu mengandung racun. Namun ada hal lain yang tak kalah berbahaya dari makhluk bernama Konga ini yaitu nafas racun dan juga tenaganya yang super besar.


Monster kedua berwujud sosok mirip manusia, namun dengan tubuh dua kali lebih tinggi dan lebih besar! Yang membedakannya dengan manusia adalah seluruh tubuhnya dilapisi sisik besar mirip sisik trenggiling. Makhluk ini terlihat memiliki sebuah tanduk tepat di atas bagian depan kepalanya. Makhluk ini dikenal sebagai Sandu. Belum banyak pendekar yang pernah bertemu makhluk ini dan bisa selamat. Sehingga, kekuatan sejati makhluk ini masih cukup misterius.


Sedangkan monster ketiga berwujud lembu, memiliki tangan seperti manusia dan memegang senjata berupa tombak. Ekornya serupa cambuk, namun berbeda dengan cambuk milik piyut. Cambuk pada ekor lembu ini berwujud api sehingga dikenal sebagai lembu ekor api. Dari ketiganya, lembu ekor api adalah yang paling kuat.


Ketiga monster ini adalah siluman terkuat yang dimiliki kelompok Rambut Iblis. Siluman-siluman ini entah bagaimana caranya ditundukkan dan selalu menjadi senjata pamungkas kelompok Rambut Iblis. Dilihat dari kekuatannya, sebenarnya mustahil ketiga siluman ini mau tunduk kepada manusia. Namun kelompok Rambut Iblis memang terkenal karena kemampuan mereka mengendalikan para monster dan siluman, selain para hantu. Dan Gandos, adalah pendekar terkuat setelah karang Setan yang memiliki ketiga siluman terkuat di padepokan tersebut sebagai pengawalnya.


Gentayu sebenarnya ingin segera menyelesaikan pertarungan ini. Dia terfikir untuk menggunakan jurus jari petirnya. Namun, karena lawannya adalah siluman yang bekerja untuk menusia, gentayu justru berfikir untuk tidak membunuh mereka.


‘Kalau siluman itu bisa tunduk kepada pria botak itu, seharusnya aku juga bisa melakukannya’ gumam Gentayu. Maka Gentayu tidak terlalu fokus kepada tiga monster yang kini menjadi pagar betis antara Gentayu dan Gandos. Gentayu justru kini memfokuskan diri untuk menyerang Gandos. Karena menurutnya, makhluk-makhluk perkasa ini hanyalah boneka yang dikendalikan. Maka, cara efektif untuk menang bukanlah mengalahkan bonekanya, tetapi menghabisi pengendalinya. Cukup hanya pengendalinya saja.


Gentayu menyilangkan kedua tangannya di depan dada masih dengan pedang kembar yang digenggamnya sehingga posisi mata pedang menghadap keluar tubuhnya. Aura panas mulai memancar dari tubuhnya, lalu secepat kilat Gentayu menerobos celah di antara ketiga makhluk tersebut untuk menyerang Gandos.


Gerakannya yang bahkan hanya terlihat seperti kelebatan cahaya itu ternyata dapat dengan mudah ditangkis oleh Sandu dengan tak kalah cepat.


‘Trank!!


Pedang Gentayu membentur permukaan telapak tangan Sandu, sang monster manusia bersisik trenggiling bertanduk. Meskipun berukuran jumbo, ternyata gerakan sandu tak kalah cepat dari Gentayu.

__ADS_1


Tangan Gentayu terasa kesemutan akibat benturan tersebut. Namun pedang yang lain telah menyusul menebas ke arah Gandos yang lagi-lagi dihadang oleh Sandu.


__ADS_2