
Dua hari kemudian, 16 orang berseragam prajurit Lamahtang bersenjata lengkap nampak memasuki gerbang besar kediaman adipati Suro Langun di Kadipaten Ujung Jambe dengan berkuda. Rombongan tersebut memasuki pelataran dan pemimpin rombongan turun dari kuda menuju rumah paling besar di antara empat rumah lainnya dalam komplek tersebut.
Kedatangannya segera disambut oleh pembantu sang Adipati yang terbiasa menyiapkan segala sesuatu bagi tamu. Setelah berbasa basi sejenak, pembantu tersebut beranjak pergi untuk mengabari sang adipati tentang kedatangannya.
Tak berselang lama kemudian, sedikit tergopoh sang adipati segera menemui pemimpin rombongan prajurit tersebut dengan wajah yang menunjukkan kecemasan.
“Ada apa dengan wajahmu, tuan Adipati? Kenapa tampak sedikit pucat?” Sang pemimpin rombongan yang menyadari ekspresi adipati Suro Langun bertanya, tentu bukan karena peduli namun ingin menekan mental pemimpin kadipaten tersebut lebih jauh.
Pemimpin rombongan tersebut maklum bahwa ini adalah pertamakali sejak kerajaan dikudeta ada prajurit kerajaan Lamahtang yang datang ke tempat ini. Menurutnya, sang Adipati tentu menyadari bahwa raja yang memimpin sekarang ini naik tahta berkat dukungan kelompok penjahat dan pendekar aliran hitam. Maka sikap mereka juga pasti akan sangat berbeda. Kejam, kasar, dan barangkali akan sedikit kurang ajar.
“Oh, tidak apa-apa tuan. Oh ya, kalau boleh tahu, siapa nama tuan ini? Maafkan aku, karena aku yang kurang bergaul ini tentu tidak mengenali para petugas baru istana..” Jawab sang adipati berusaha menutupi kegugupannya. Namun perasaan cemas memang masih menggayut dalam fikirannya.
Pemimpin rombongan itu tidak menjawab dan hanya melemparkan sebuah lencana ke hadapan sang adipati. Di atas meja.
Tangan Adipati Suro Langun segera mengambil lencana itu dan membaca sebaris nama di sana. “Kartono” ejanya sambil mengernyitkan dahi. Nama sejenis itu jelas tidak lazim bagi penduduk pulau Emas Besar, namun adipati tahu betul bahwa nama itu adalah nama khas dari Pulau Padi Perak. Berarti, pemimpin rombongan ini kemungkinan anggota dari kelompok Segoro Geni, fikirnya.
“Bagaimana dengan upetinya, tuan adipati? Kuharap perintah Yang Mulia agar menaikkan upeti tiga kali lipat tempo hari telah kau siapkan” Ucap sang pemimpin rombongan seraya meraih kembali lencananya dari atas meja kayu itu.
“Ti.. tiga.. tiga kali lipat??” wajah Suro Langun tampak makin pucat.
“Bukankah seharusnya hanya dua kali lipat??” Ada nada protes dalam kalimat sang Adipati, namun tidak dia tampakkan.
__ADS_1
‘Brak!’
Suara Meja digebrak.
“Apa kau ingin membelot??!” Sergah sang pemimpin rombongan sambil melotot.
Mendengar suara gebrakan meja yang sangat keras membuat para penjaga kadipaten segera memasuki ruangan pertemuan dan bersiaga karena khawatir dengan keselamatan junjungannya.
Di sisi lain, seorang di antara lima belas prajurit Lamahtang yang bersiaga di pelataran menyusul masuk dengan melayang membuat nyali para pengawal adipati menjadi kecut. Kemampuan melayang di udara jelas hanya dimiliki oleh para pendekar sakti. Sekuat itukah para prajurit Lamahtang hasil kudeta ini??
“Bubarkan pengawalmu, atau aku ratakan tempat ini menjadi genangan darah!” Sang pemimpin rombongan prajurit Lamahtang kali ini mengancam dengan sorot mata dingin ke arah Adipati. Adipati Suro Langun hanya bisa menelan ludah menyadari perbedaan kekuatan mereka yang mencolok.
“Apa kau fikir kami ini penjual tempoyak di pinggir jalan yang bisa kau tawar??” Pemimpin prajurit itu berkata sambil mendekatkan wajahnya pada muka adipati. Jelas hal ini adalah pelecehan yang baru kali pertama ini dialaminya. Namun dia berusaha menahan diri untuk tidak bertindak gegabah.
“Baiklah! Aku berbaik hati. Lima hari! Hanya lima hari saja kami beri waktu untuk mengumpulkan upeti tersebut. Kau khan kaya dan sudah lama jadi adipati. Kau bisa tutupi dulu dengan simpanan emas milikmu, baru nanti kau minta para bupati-mu menggantinya!”
Delapan orang pelayan keluar membawa delapan kotak berisi kepingan emas dan beberapa batuan mulia lainnya. Dengan siulan keras, pemimpin rombongan memanggil para prajurit yang masih berada di pelataran untuk mengangkut semua peti-peti tersebut. Dan segera keluar menuju kuda masing-masing.
“Ingat tuan Adipati, lima hari lagi kami akan datang kembali. Kalaupun bukan aku yang kembali, setidaknya rekan-rekan kami yang kemari mengambilnya lima hari lagi!” Pemimpin rombongan itu berbicara setengah berteriak dari atas pelana kudanya. Lalu tak lama kemudian segera memacu kudanya diikuti ke lima belas prajurit lainnya meninggalkan gerbang kediaman adipati Suro Langun.
Debu-debu nampak beterbangan di belakang rombngan prajurit tersebut. Meninggalkan adipati Suro Langun yang masih berdiri di depan kediamannya, di tengah pelataran. Kepalanya serasa sakit mengingat dia masih berhutang empat peti emas lagi kepada Kerajaan Lamahtang.
__ADS_1
+++ +++ +++ +++ +++ +++ ++ ++ +++ +++ ++ ++
“Sandiwaramu sangat sempurna, dik..” Puji seorang bertubuh tinggi besar kepada pemimpin rombongan prajurit Lamahtang. Rombongan itu kini telah berada cukup jauh di luar wilayah kadipaten Ujung Jambe.
“Barangkali, memang dia terlahir menjadi penjahat di kehidupannya yang lalu sehingga bisa sangat menjiwai.. Ha..ha..ha..ha” timpal seorang lainnya yang segera disambut gelak tawa seluruh rekan-rekannya.
Mereka adalah enam belas orang prajurit Lamahtang yang baru saja menagih upeti kerajaan kepada Adipati Suro Langun. Siapa sangka, mereka ternyata hanya para prajurit gadungan semuanya. Mereka sebenarnya adalah anggota regu pemetik pimpinan Lingkis, sang Pendekar Pemecah Karang yang ditugaskan untuk mencegat pengiriman upeti dari tiga kadipaten ke kerajaan Lamahtang.
Rencana yang akan mereka jalankan untuk kadipaten Ujung Jambe dan Kadipaten Tulang Mesuji akan berbeda dengan yang telah mereka lakukan pada Kadipaten Serelo Pualam. Bila pada Kadipaten Serelo Pualam mereka bertindak laksana perampok mencegat dan menghabisi mangsa, maka hal berbeda akan mereka lakukan pada dua kadipaten lainnya.
Berbekal pakaian lengkap berikut identitas para prajurit yang berhasil mereka bunuh di Serelo Pualam, mereka kemudian menyamar sebagai petugas kerajaan untuk menarik upeti pada dua kadipaten target mereka.
Pada Kadipaten Ujung Jambe, mereka ingin membuat seolah-olah kadipaten tersebut menolak, atau setidaknya keberatan membayar upeti. Dengan begitu, diharapkan agar para prajurit itu kembali dan mengabarkan bahwa adipati Suro Langun menolak membayar upeti. Atau bila rencana mereka meleset sekalipun, setidaknya akan terjadi bentrokan antara kedua belah pihak.
Lalu, pada Kadipaten Tulang Mesuji mereka berencana untuk mengahadang secara terbuka para prajurit Lamahtang. Bersikap seolah mereka adalah orang-orang suruhan adipati, dan membiarkan seorang di antara para prajurit itu untuk lolos dan mengabarkan kabar pembelotan adipati kepada pihak istana. Lalu seperti pada kadipaten Ujung Jambe, mereka akan menyamar sekali lagi menjadi prajurit Lamahtang untuk mengambil upeti kerajaan.
Bumbu lain untuk menambah panas suasana adalah kabar terbunuhnya enam belas prajurit di Serelo Pualam. Tim dari regu Merpati pimpinan Benduriang sudah mulai menyebarkan desas-desus bahwa para prajurit berikut punggawa Lamahtang itu tewas dihabisi Adipati Bayang Keling karena kesal dengan penghinaan dan pelecehan mereka terhadap sang Adipati.
Dengan demikian, bila rencana mereka berjalan mulus, seharusnya setelah aksi regu Pemetik ini pihak istana akan segera mengirimkan pasukan untuk menumpas ketiga adipati ini. Bagi para pendekar aliansi Bintang Harapan, ketiga adipati tersebut tak lebih dari pejabat korup yang tidak lebih baik daripada Pangeran Ke-tiga.
Mungkin mereka akan sedikit bernilai bila mereka mau berpihak kepada rakyat dan tidak mendukung pemerintahan baru Lamahtang. Tentu saja akan sangat baik jika ketiga adipati bersedia menyokong perjuangan utnuk memerangi aliran hitam, setidaknya di wilayah mereka masing-masing. Tapi, aliansi Bintang Harapan memang tak berharap banyak pada keberpihakan para adipati itu mengingat sepak terjang mereka selama ini.
__ADS_1