JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tabib Muda


__ADS_3

Kulais melemparkan tombak yang diambilnya dari penjaga bertubuh tinggi dan kurus itu ke Arah Gentayu. Tombak yang dilemparkan dengan kekuatan tenaga dalam itu melesat menuju sasaran dengan kecepatan yang tinggi membuatnya nyaris tak terlihat. Nampaknya, Kulais benar-benar ingin membunuh pemuda di hadapannya tersebut. Pada sisi lainnya, Gentayu tampak tetap santai saat tombak itu mengarah kepadanya.


'TRANK....!!'


Terdengar bunyi benturan seperti logam yang bertemu dengan batu.


Tombak itu patah menjadi dua dengan mata tombak yang terbuat dari logam itu hancur berantakan saat menyentuh kulit Gentayu. Mata semua orang yang ada di sana terbelalak tidak percaya. Bahkan Kulais sampai menelan ludah melihat tombak yang dilesatkan dengan tenaga dalam cukup besar dan seharusnya mampu membunuh dua ekor gajah sekaligus itu, kini patah begitu saja tergeletak di bawah kedua kaki Gentayu dengan mata tombak hancur. Ke empat penjaga lainnya melongo dengan mulut terbuka tanpa mereka sadari. Sedang di sisi lainnya, gentayu sendiri juga begitu takjub menyadari kekuatan dari ilmu 'Perisai Naga Api' miliknya begitu mengagumkan. Pemuda itu seolah masih tak percaya saat tombak tersebut tidak mampu menembus kulitnya bahkan patah begitu saja.


Gentayu kemudia memungut tombak yang telah patah di kakinya. Pemuda itu berjalan mendekati Kulais yang belum tersadar dari keterkejutannya. Sesaat kemudian, Kulais justru berteriak kesakitan.


"AAAAKKKKKHHH......!"


Pendekar dari Bambu Hijau itu terguling-guling sambil memegangi pahanya yang berdarah. Sebuah patahan tombak telah menancap di sana. Kulais meringis dan menyumpah serapah dalam hati, bagaimana dia tidak melihat saat patahan tombak itu tiba-tiba saja telah tertancap di pahanya, dan semua ilmu pertahanan diri yang semestinya membuatnya kebal malah tidak bekerja sama sekali untuk kedua kalinya di hadapan gentayu.


"Guruku pernah bilang, Kesombongan itu menumpulkan kemampuan. sedangkan keserakahan, menumpulkan akal. Dan hari ini, bahkan dengan bagian belakang tombak ini aku membuktikannya sendiri. Apa kau masih ingin mencoba rasa sakit yang lain, tuan besar?" Gentayu sengaja mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Kulais.


Kulais tiba-tiba bergidik ngeri melihat sorot mata pemuda dihadapannya itu. Rasa takut yang selama ini tidak pernah dirasakannya tiba-tiba memenuhi hatinya. Bagaimana bisa pemuda yang terlihat lugu ini menjatuhkan mentalnya hanya dengan sebuah tatapan saja? Siapa sebenarnya pemuda ini? Bermacam pertanyaan lain bergelayut di benak Kulais, membuatnya semakin bertambah takut dan cemas.


"Aku tidak ingin membunuhmu. Setidaknya tidak untuk saat ini. Jadi, bagaimana kalau kalian biarkan aku memasuki desa ini sekedar untuk melintas?" Gentayu mengajukan penawaran yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban persetujuan.


Gentayu segera melengos pergi menuju desa tanpa menoleh pada para penjaga maupun Kulais lagi. Meninggalkan kelima orang di depan gerbang tersebut dengan perasaan mereka masing-masing. Selepas Gentayu menghilang dari pandangan, keempat pendekar dari Padepokan Bambu Hijau segera menolong Kulais dan membawanya pergi dari sana. Dalam hati keempatnya berjanji untuk tidak akan menyinggung orang yang belum diketahu latar belakangnya.


++++++++++++++++++


Sementara itu di tempat lain, dua orang perempuan tampak berlari dengan nafas ngos-ngosan. Sesekali mereka tampak menoleh ke belakang seolah ada sesuatu yang menakuti mereka di belakang. Terdapat beberapa luka goresan senjata di tubuh keduanya, namun tidak terlalu parah. Keduanya terus berlari hingga akhirnya mereka tiba di tepian sungai. Mereka berhenti.


“Adik, kita tidak bisa berhenti di sini. Mereka akan segera menemukan kita. Sebaiknya kita segera menyeberangi sungai ini. Sepertinya, di sana ada desa. Kita tidak perlu memasukinya. Kita hanya harus bersembunyi di dekat desa agar mereka mengira kita telah memasuki desa dan kita bisa pergi secepatnya” Salah satu wanita yang lebih senior berbicara di balik cadarnya.

__ADS_1


“Baik, Kakak. Aku setuju. Ayo!” Keduanya kemudian setengah berlari menyeberangi sungai dengan aliran arus yang lumayan deras namun tidak cukup dalam tersebut.


Saat kedua perempuan itu telah sampai di seberang sungai, di sisi lainnya di belakang mereka nampak lima orang laki-laki berpakaian hitam-hitam baru saja mencapai tepian sungai. Sepertinya mereka adalah orang orang yang sedang mengejar dua perempuan itu. Para pengejar itu sempat melihat kelebat kedua buruannya sebelum menghilang di balik rerimbunan pohon di tepian sungai. Mereka tidak menunda lagi dan segera melakukan pengejaran Kembali.


++++++++++++++++++++++++++++


Gentayu sedang berjalan di depan sebuah bekas pasar desa Ketika seorang anak kecil mendekatinya. Anak kecil yang tampak kurus tak terawat menghampiri Gentayu.


“Paman, paman, tolong paman...” anak kecil itu menarik-narik tangan Gentayu.


Gentayu segera menoleh, tersenyum dan kemudian berjongkok agar sejajar dengan anak kecil tersebut.


“Anak manis, siapa namamu? Apa yang kamu butuhkan dari paman ini?” Gentayu bertanya dengan senyum tetap mengembang di bibirnya. Anak kecil ini mengingatkannya pada adiknya yang tewas dibantai perampok dari kelompok Kelabang Hitam beberapa tahun lalu.


“Paman, paman.. tolong kakakku.. Tolong kakakku… huuu…huuu..huuu…” Anak kecil itu menangis setelah menyampaikan maksudnya. Namun tentu saja itu belum memberikan informasi apapun bagi Gentayu.


“Kakakku.. Kakakku.. sakit. Huuu… huuuu…” Anak kecil itu Kembali menangis, namun kali Gentayu telah mendapatkan gambaran kondisi yang dihadapinya.


Gentayu lalu meminta anak kecil itu untuk menuntunnya menuju kekediamannya. Ternayata kediaman anak tersebut tidak jauh dari sana. Hanya perlu melewati dua rumah, di bagian belakang bekas pasar desa. Anak itu ternyata tinggal di sebuah gubuk yang terlihat hampir roboh. Beberapa bagian tiang penyangga gubuk itu telah lapuk dimakan usia. Nampaknya ini adalah gubuk peninggalan orang tua mereka.


Di dalam rumah yang tidak dijumpai perabotan apapun kecuali sebuah kendi air, bejana dan sebuah alat memasak tersebut, terbaring lemah seorang gadis berusia sekitar 16an tahun di atas pembaringan terbuat dari bambu beralaskan kain tipis lusuh. Gentayu segera mendekati gadis kecil tersebut untuk memeriksa kondisinya.


Berkat mempelajari kitab pengobatan warisan gurunya di dunia tepi danau, pemahamannya tentang ilmu pengobatan saat ini lumayan baik. Dari pengamatannya, Gentayu mengetahui gadis ini mengalami demam tinggi. Dia lalu meminta izin kepada gadis tersebut untuk memeriksa kondisinya lebih jauh.


Kondisi gadis itu sudah sangat lemah. Dia hanya mampu mengangguk lemah untuk mengizinkan


Gentayu memeriksa kondisinya. Gentayu segera meletakkan tangannya di kening gadis itu, dan mengalirkan hawa murni untuk mendeteksi gejala sakitnya lebih jauh. Kening Gentayu berkerut saat dia menyadari sesuatu dari hasil pemeriksaannya. Gadis ini terkena racun!

__ADS_1


‘Racun yang halus. Sepertinya ini bukan racun yang biasa digunakan para pendekar aliran hitam. Seharusnya, akan lebih mudah menanganinya...’ Gentayu bergumam sendiri.


Gentayu tidak langsung bertindak untuk melakukan pengobatan. Hal pertama yang dilakukannya justru memasak air yang diambilnya dari mata air tidak jauh dari rumah itu. Gentayu memilih memasak menggunakan api dari kayu bakar seperti manusia biasanya daripada menggunakan panas api dari Ilmu Matahari Emas miliknya demi menghindari pertanyaan-pertanyaan dari gadis ini.


Selagi menunggu air mendidih, Gentayu mengeluarkan perbekalan makanan hasil menjarah perahu kelompok aliran hitam beberapa waktu lalu yang disimpannya di dalam ‘Gelang Gerobok’. Namun untuk mengeluarkannya dia sedikit berakting seolah-olah mengeluarkan makanan dalam jumlah banyak tersebut dari balik bajunya. Makanan tersebut lalu diberikannya untuk dimakan anak kecil yang membawanya, kemudian dia sendiri menyuapkan sebagian lagi kepada gadis kecil yang terbaring sakit itu.


“Ini, makanlah dulu. Aku tahu kalian sudah berhari-hari tidak makan. Setelah ini, aku akan mengobatimu. Percayalah..” Gentayu memberi sedikit penjelasan karena mengkhawatirkan penolakan dari gadis tersebut.


Gadis tersebut perlahan-lahan membuka mulutnya saat Gentayu menyuapkan sepotong umbi yang mirip umbi talas yang dimasak dengan cara dibakar dan ditaburi kelapa parut dan gula merah di atasnya. Gadis itu mulai mengunyah makanannya dalam posisi berbaring sementara adiknya, si bocah kecil telah menghabiskan separuh makanannya. Ada air bening keluar dari sudut mata gadis itu.


Selesai menyuapi dan menyelesaikan makan kedua kakak-adik itu, Gentayu lalu mengeluarkan beberapa tanaman obat dari ‘Gelang Gerobok’nya. Tanaman tersebut Sebagian adalah pemberian gurunya dari kebun di dunia tepi danau dan Sebagian bahan lain yang diambil berasal dari hutan bukit Tempirai.


Dengan cekatan, dia meracik beberapa tanaman tersebut, menumbuk beberapa, dan beberapa lainnya dimasukkan dalam air mendidih. Sekitar setengah jam kemudian, obat hasil racikan pertamanya ini telah siap. Walaupun ada sedikit keraguan di hati Gentayu karena ini adalah pengalaman pertamanya menggunakan kemampuan mengobati dengan tanaman obat, namun melihat kondisi kedua kakak-adik tersebut membuatnya menjadi berhadap penuh bahwa racikan obatnya akan bekerja sesuai harapannya.


Segera diberikannya obat racikan tersebut kepada gadis tersebut. Gentayu membantu gadis itu untuk duduk dan menyandarkan kepala gadis itu di bahunya. Bau keringat dan mungkin sedikit kotoran karena memang tidak pernah mandi selama beberapa waktu yang keluar menyeruak dari tubuh kurusnya, tapi tidak dihiraukan Gentayu. Tapatnya, Gentayu memang mampu menahan nafas dalam waktu sangat lama dan mampu menjaga perasaan orang lain.


Ramuan yang berasal dari tanaman obat yang ditumbuk dan diperas sarinya itu telah berhasil masuk ke kerongkongan gadis itu. Gentayu membantu gadis itu untuk menyerap khasiat obat dengan mengalirkan hawa murni melalui punggung gadis tersebut.


Wajah pucat gadis itu perlahan-lahan menjadi lebih segar dan cerah. Energi kehidupannya mulai terpancar Kembali. Lalu tak lama kemudian, gadis itu memuntahkan Kembali Sebagian obat yang telah diminumnya. Namun kali ini muntahan itu keluar Bersama segumpal darah hitam dari tubuhnya ke dalam bejana yang telah disiapkan Gentayu. Tidak salah lagi, itu adalah darah yang terkena racun yang membuat gadis itu sedemikian lemah.


Gentayu dengan tanggap segera membersihkan sisa darah hitam yang masih menempel di mulutnya dan memberikan Kembali diberikannya obatnya yang kedua. Air hangat dari rebusan tanaman obat Kembali memasuki kerongkongan Gadis itu. Kali ini, gadis itu merasa seolah mendapatkan Kembali hidupnya. Perasaan segar, dengan tubuh sedikit berkeringat, mengingatkannya Kembali pada masa-masa dia sehat sebelumnya. Perasaan yang telah lama ia rindukan. Gadis itu mencoba untuk duduk. Kini dia telah memiliki sedikit tenaga. Nampaknya walaupun efek racun itu belum sepenuhnya hilang namun telah memberikan kesembuhan kepada gadis tersebut.


Melihat kakaknya sudah bisa duduk, sang adik yangsedari tadi fokus pada makanannya bangkit dan menghambur memeluk kaki kakaknya.


“Kakak… Kakak..kakak akhirnya bangun… kakak…. Huhuhu..huu..huhu…” Anak kecil itu Kembali menangis.


Sang Gadis memeluk tubuh adiknya dengan rasa haru dan Bahagia. Sudah lebih dua bulan ini dia hanya bisa melihat adiknya yang kelaparan. Entah apa yang dimakan anak itu untuk bisa bertahan hidup selama dua bulan ini, kondisinya tidak memungkinkannya untuk mengurusi adik semata wayangnya ini. Hal itu justru membuatnya merasa lebih sakit daripada penyakitnya sendiri.

__ADS_1


Gadis itu lalu meluruh dari atas pembaringan ke lantai dan bersujud kepada Gentayu. Dia tidak mampu berkata apapun mendapati dirinya disembuhkan oleh orang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia menangis sambil bersujud untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasihnya.


__ADS_2