
“Iya, Danyang. Dan kelinci itu memang termasuk yang paling lemah. Jika dilihat dari cara serangannya, kekuatannya paling tinggi hanya setara pendekar bumi..”
Penjelasan Anjani membuat Gentayu dan Hao Lim saling berpandangan sejenak, lalu serentak menelan ludah.
“Hanya? Hanya setara pendekar bumi? Hanya?” Hao Lim mengulang-ulang kata ‘hanya’ yang diucapkan Anjani, untuk meyakinkan bahwa dia tidak salah mendengar dan Anjani tidak salah memberikan penjelasan.
Bagaimanapun, sepanjang hidupnya Hao Lim hampir tak pernah bertemu langsung dengan seorang pendekar yang berada di level pendekar bumi. Dia pun meyakini, orang sekuat Karang Setan dan Gentayu sekalipun pasti belum mencapai level pendekar bumi. Sementara Anjani justru mengatakan bahwa sang kelinci HANYA berada di level pendekar bumi, dan mengatakan bahwa kelinci itu termasuk di antara yang terlemah.
“Kalian mungkin menganggapku bercanda. Tapi itulah kenyataannya..” Anjani memahami ada rasa tidak percaya Gentayu dan Hao Lim terhadap penuturannya.
Anjani lantas menjelaskan bahwa dunia tempat mereka berada ini adalah dunia para Danyang. Danyang sendiri adalah makhluk hidup yang sudah melepaskan diri dari sifat-sifat alamiahnya sebagai makhluk hidup untuk mencapai keabadian. Kehidupan abadi itu, di dunia ini dikenal sebagai mandiwata. Mungkin sebagian orang menyebutnya moksa.
“Tapi bagi manusia yang menjalani lelaku menuju mandiwata ini, mereka umumnya tidak disebut sebagai danyang. Mereka disebut sebagai bhakta” Anjani melanjutkan penjelasannya.
“Dan kelinci yang hendak kau tangkap itu, baru berada di level awal sebagai danyang..” pungkas Anjani. Penjelasan singkatnya berhasil membuat Gentayu dan Hao Lim menahan nafas untuk sesaat.
Dunia ternyata begitu luas.
“Kalau begitu, bukankah artinya jalan menuju mandiwata itu sendiri memiliki tahapan dan tingkatan, Nona?” Tanya Gentayu.
‘Bug!’
Bukan jawaban yang diterima Gentayu, tapi sebuah pukulan di perutnya. Gentayu sampai terduduk menerima pukulan itu. Mulutnya meringis untuk protes, “kenapa kau kasar sekali, Nona?”. Namun yang keluar dari mulutnya hanya suara erangan.
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu, ‘jangan panggil aku nona’?!” Anjani berkacak pinggang setelah memukul perut Gentayu. Kecantikannya tidak sedikitpun memudar setelah sisi kasarnya sebagai perempuan keluar.
__ADS_1
“hhkkh.. kapan kau mengatakannya, No.. Anjani..? hhhkh..” tanya Gentayu, masih sambal mengerang menahan sakit.
“Kapan aku mengatakannya? Tunggu, apa aku belum mengatakannya?” Anjani kini melepaskan tangannya dari pinggang dan sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Gentayu.
Gentayu hanya menggeleng untuk menjawab perempuan cantik di hadapannya. Pukulan perempuan itu ternyata sanggup membuat Gentayu merasakan kesakitan untuk beberapa lama, menunjukkan perbedaan kekuatan mereka yang cukup jauh. Hao Lim yang melihat bagaimana Anjani begitu ringan tangan kepada Gentayu menjadi sedikit was-was, khawatir akan menjadi sasaran berikutnya.
“Baiklah. Anggap pukulan itu untuk mengingatkanmu di lain waktu untuk tidak memanggilku ‘nona’ lagi. Jadi, sampai di mana kita tadi?” kata Anjani seolah-olah tindakannya bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan.
“Tahapan dan tingkatan mandiwata..” Hao Lim mewakili keingintahuan gentayu, mengulangi pertanyaan yang terjeda dan belum dijawab Anjani.
“Oh, iya. Baiklah..” Anjani berjalan mengitari Gentayu dan Hao Lim sambal mulai menjelaskan.
Menurutnya, jalan menuju mandiwata bagi para danyang dan bhakta itu dimulai dari tahapan penempaan fisik. Penempaan fisik menjadi hal utama sebelum seseorang siap memasuki tahapan berikutnya.
Atau dengan kata lain, fisik yang tidak tertempa dengan baik tidak akan mampu menampung dan menyerap energi alam yang terlalu besar sehingga berakhir musnah atau leburnya jasad. Jadilah mereka sebagai roh yang karena kekuatannya mungkin saja bisa menjadi sekedar pelindung atau membantu umat manusia dalam kadar tertentu.
Berbeda dengan mereka yang menyelesaikan tahapan menempa fisik atau jasad mereka. Maka, fisik dan jasad mereka akan menjadi wadah bagi energi maha dahsyat yang mereka serap untuk mereka olah nantinya. Bahkan jasad mereka akan bertambah kuat.
“Minimal, mereka setidaknya harus berada di level pendekar bumi untuk dapat mulai menyerap energi alam dengan tujuan mandiwata itu” Kata Anjani, berhenti sejenak sebelum menoleh kepada Hao Lim “Hal ini juga menjelaskan alasan kenapa di duniamu, maksudku di Dipantara banyak para raja yang menjalani laku moksa umumnya berakhir dengan menghilang atau leburnya jasad mereka.
Karena sebagai raja, mereka menyimpan informasi dari catatan manuskrip kuno maupun kitab-kitab tentang lelaku menuju moksa, tapi mereka tidak punya cukup waktu dan kemampuan untuk mempersiapkan fisik mereka..” Anjani mengambil jeda untuk memberi kesempatan kepada Hao Lim maupun Gentayu mencerna informasi darinya.
Gentayu tampak mengangguk memahami penjelasan Anjani sejauh ini. Sementara Hao Lim tampak memikirkan sesuatu.
“Anjani.. apakah energi alam atau energi dewa yang dimaksud itu adalah Qi?” Hao Lim tidak menutupi rasa ingin tahunya. Bagaimanapun, dia adalah pendekar sekaligus ketua sekte yang memang mendalami hal-hal berkaitan dengan roh dan kehidupan astral lainnya. Tentu saja, informasi tentang energi dahsyat seperti ini bukan kali pertama didengarnya.
__ADS_1
“Mungkin saja, di negeri asalmu energi alam itu disebut Qi. Di tempat lain, disebut energi dewa. Bahkan ada yang menyebutnya energi Prana. Tapi tidak masalah selama yang nona maksud sebagai Qi itu bukan tenaga dalam seperti yang dipraktekkan oleh para pendekar, kurasa nama itu bermakna sama” jawab Anjani.
“Apa bedanya dengan energi tenaga dalam?”
Anjani mengambil nafas panjang, lalu mulai kembali menjelaskan.
Menurutnya, tenaga dalam itu dari namanya saja sudah jelas, bahwa tenaga itu berasal dari dalam diri manusia yang dibangkitkan. Tubuh manusia, pada dasarnya secara alami memang memiliki energi panas dan dingin, menghasilkan kutub positif dan negatif.
Biasanya, tenaga dalam ini dibangkitkan melalui olah nafas yang cukup rumit. Namun adakalanya muncul tanpa disadari, misalnya saat seseorang tengah berada dalam ancaman atau kondisi terdesak, maka orang tersebut akan sanggup melakukan hal mustahil yang tidak mungkin dilakukan dalam kondisi normal.
Sebagian lagi cukup beruntung karena terlahir dengan tenaga dalam yang sudah aktif. Sedangkan sebagian, harus dibantu oleh makhluk lain yang tak terlihat, seperti senjata-senjata yang kalian gunakan di dunia kalian itu. Bahkan Gentayu menggunakan energiku dalam bentuk trisula..” Anjani mengakhiri penjelasannya sambal matanya menatap Gentayu.
“Bukankah, kau sendiri yang memintaku menggunakan kekuatanmu? Seingatku, aku baru sekali saja menggunakan kekuatanmu, dan kita terdampar di sini” sergah Gentayu menimpali Anjani.
“Ooowh.. begitukah? Jadi kau mau mengatakan, bahwa aku telah mencelakaimu dengan membawamu kemari?” Anjani tampak tak terima merasa disalahkan.
“Bukankah dirimu sendiri yang sedari awal cemas tanpa alasan? Bukankah itu artinya kamu sendiri yang menyesal terdampar di tempat ini?”
“Hah?! Apa?? Kau bera…..” Anjani hendak melampiaskan kekesalannya karena Gentayu membalikkan semua ucapan Anjani, namun tangannya berhenti saat berniat kembali menghajar perut Gentayu.
“Cepat! Kita lari dari sini..!” Anjani mengurungkan niatnya dan justru menggamit lengan Gentayu dan Hao Lim. Gadis itu segera terbang mambawa keduanya menjauhi tempat itu.
Alasan Anjani segera melarikan diri adalah dia merasakan sosok dengan kekuatan dahsyat yang sedang bergerak menuju kearah mereka dengan sangat cepat. Tak sampai lima helaan nafas, sosok yang dikhawatirkan Anjani ternyata benar-benar tiba di bekas titik mereka berada sebelumnya.
Sosok itu ternyata adalah seorang pemuda memakai jubah merah. Wajahnya terdapat bekas luka goresan di antara bagian atas pipi dan matanya, meninggalkan bekas codet. Perawakannya tidak terlalu kekar, juga tidak terlalu tinggi postur tubuhnya. Sebuah pedang tersarung di balik punggungnya.
__ADS_1