JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana VI


__ADS_3

Upang Jenglot tidak berfikir panjang lagi saat melihat musuh yang menghancurkan gerbang kerajaan melarikan diri ke dalam hutan. Dia membawa sekitar empat ratusan prajurit, seharusnya jumlah itu cukup untuk menghancurkan kekuatan apapun yang telah membuat kekacauan tersebut. Maka, tanpa menunda, diarahkannya seluruh pasukan untuk mengejar musuh memasuki hutan dalam kegelapan malam.


Sementara orang-orang yang dikejar sebenarnya adalah bagian dari regu merpati pimpinan Benduriang. Jumlah mereka tidak sebanyak obor yang dibawa, hanya sebelas orang. Namun dalam perang, jumlah yang lebih banyak terkadang tidak menjamin sebuah kemenangan.


Pasukan Upang Jenglot telah masuk ke dalam hutan. Dari arah orang-orang yang sedang mereka kejar, sesekali lontaran anak panah dan batu pijar masih terus mengarah kepada pasukan upang jenglot ini. Merenggut nyawa beberapa prajurit. Sementara tidak satupun panah yang mereka lepaskan sebagai balasan mengenai sasaran.


Cahaya obor yang mereka kejar terlihat semakin menjauh karena memang pengejaran mereka tidak dilakukan menggunakan kuda. Mereka terpaksa mengejar ke dalam hutan dengan berjalan kaki karena kuda-kuda mereka telah dilumpuhkan oleh serangan panah sebelum pasukan ini keluar dari gerbang benteng.


Beberapa saat kemudian pasukan itu telah tiba di tengah hutan. Tapi obor dari para perusuh yang mereka kejar sudah tidak lagi terlihat. Upang Jenglot tampak menyipitkan mata mengamati sesuatu di dalam kegelapan.


Senopati itu mengambil obor dari tangan salah satu prajurit yang berada tak jauh dari posisinya berdiri. Lalu berjalan ke arah sesuatu yang menarik perhatiannya.


“Sebuah Gapura?” Gumam Upang Jenglot keheranan. Demikian juga para bawahannya yang kini telah mengelilinginya.


“Lihat! Ada jalan setapak, gusti.. Ini, ini pasti gapura menuju markas para perusuh itu!” Seru salah satu bawahan Upang Jenglot bersemangat.


Tentu kapten pasukan itu berfikiran bahwa kali ini mereka mendapat tangkapan bagus. Menemukan markas para perusuh!


“Ayo.. Tunggu apa lagi!” Kata Upang Jenglot selanjutnya sambil mendahului berjalan dengan obor di tangan kiri dan pedang yang telah terhunus di tangan kanan.


Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa gapura gerbang berikut jalan setapak yang mereka temukan itu baru saja di buat pagi tadi! Benar, gapura gerbang di tengah hutan dan jaan setapak itu memang baru dibuat pagi tadi oleh regu merpati untuk menjebak pasukan yang mengejar mereka. Jika mereka sedikit teliti, mereka akan menemukan sedikit sisa bambu tak jauh dari tempat itu. Selain itu, tanaman rambat yang dibuat seolah menutupi gapura juga sedikit layu.


Ternyata, siasat regu merpati berjalan mulus sejauh ini.

__ADS_1


Pasukan Upang Jenglot berjalan sedikit cepat setelah menemukan gerbang gapura itu. Mereka menjadi antusias karena berfikir bahwa musuh tidak akan mungkin bisa lari.


“Kenapa aku mencium bau minyak jarak ya?” Kata seorang prajurit yang berjalan paling belakang dari pasukan itu.


“Lah iyalah.. bau minyak jarak! memangnya kamu fikir obor-obor kita itu bisa menyala pake kencing kuda??” kata teman di sampingnya menimpali. Lalu disambut gelak tawa rekan lainnya di dekat mereka. Tapi tentu saja mereka tidak berani tertawa terlalu keras.


Saat tawa mereka belum reda, tiba-tiba terjadi keributan pada pasukan di bagian depan..


“AAAKKKK...!!”


Terdengar pekik kematian puluhan orang pasukan di bagian depan. Mereka yang berada di sisi kiri dan kanan dari jalan setapak tiba-tiba terperosok ke dalam sesuatu menyerupai lubang besar. Sayangnya, mereka yang berada dibelakangnya juga harus ikut terperosok ke dalam lubang tersebut karena terdorong oleh rekan di belakang mereka saat mereka berhenti mendadak..


“AWAS JEBAKAN!!” teriak salah satu punggawa atau kapten pasukan dengan lantang. Tiga temannya yang berjalan bersisian dengannya adalah korban pertama sebelum para prajurit di belakangnya.


Ternyata, mereka saat ini berada di sebuah mulut jurang.


Sedikitnya tiga puluh orang prajurit tewas terjerumus masuk ke dalam jurang itu. Jurang yang kini tersingkap sepenuhnya setelah sisi kiri dan kanan ‘jalan setapak’ palsu itu runtuh ke dasar. Jurang berbatu yang dalam, tapi tidak terlalu lebar.


“Sial!!” dengus Upang Jenglot menyadari dirinya seperti dibodohi. Kini, dirinya menjadi waspada setelah kehilangan tiga puluhan prajuritnya, termasuk tiga kapten atau punggawa bawahannya.


“Mundur!! Kita kembali..” serunya dari bagian lain jurang di seberang pasukannya.


Namun lagi-lagi, belum juga tertutup mulut Upang Jenglot sehabis memerintahkan pasukannya untuk mundur, puluhan batu besar seukuran kereta kuda meluncur deras dari arah belakang pasukannya.

__ADS_1


Dua orang kapten pasukan di bagian belakang dengan sigap menghadang batu batu itu. Mereka serentak melompat dan mengarahkan pukulan dengan tenaga dalam cukup besar ke arah dua bauh batu yang tiba terlebih dahulu.


‘DAR!!’


Batu-batu besar itu hancur berkeping-keping tekena pukulan keduanya. Sedikitnya, mereka berhasil menahan empat batu yang meluncur dengan menghancurkannya. Namun, pada batu selanjutnya, ketika mereka melompat tiba-tiba mereka jatuh terbanting ke tanah.


Empat buah anak panah menancap pada masing-masing tubuh kapten yang kini tak berkutik itu. Sementara puluhan prajurit di belakangnya juga roboh, terkena panah dan batuan pijar yang kini menghujani pasukan tersebut.


Batu-batu besar yang kini sudah tak terhalangi segera merangsek menabrak tubuh puluhan prajurit di bagian belakang. Suasana menjadi kacau. Lebih banyak lagi kemudian prajurit yang harus terjatuh ke dalam jurang karena terdorong oleh rekan-rekan mereka yang berusaha menyelamatkan diri dari panah dan juga batu-batu besar yang terus menggelinding tak terhentikan.


Suara jerit pekik kematian terdengar saat batu-batu besar menabrak tubuh para prajurit di bagian belakang pasukan. Batu-batu itu sebagian berhenti di bagian tengah pasukan. Namun beberapa batu bahkan terus menggelinding dan menggilas hingga ke pasukan di bagian depan sebelum jatuh ke jurang, menimbulkan suara keras batu pecah menabrak dasar jurang. Sementara serangan panah semakin gencar.


Melihat pasukannya terbantai begitu saja, Upang Jenglot benar-benar kesal. Lelaki itu segera melompat tinggi melewati kepala para prajuritnya diikuti tiga kaptennya yang tersisa. Mereka berempat kini telah berada di sisi belakang pasukan. Menghalau anak-anak panah yang terus melesat dari segala arah, membuat angka kematian prajuritnya terus bertambah.


Posisi pasukan itu memang tidak menguntungkan. Mereka berada pada titik rendah sebuah cekungan, dikelilingi pepohonan besar dengan semak belukar yang sempurna menyembunyikan tubuh para penyerang.


Dengan pedangnya, ke empat pendekar aliran hitam yang menjabat senopati dan kapten itu menghalau serangan panah yang terlihat makin mereda. Kemudian serangan berhenti dan suasana kembali sunyi. Menyisakan para prajurit yang semuanya terluka, baik akibat terlindas batu besar maupun tertembus panah atau sekedar patah tulang akibat terinjak-injak rekannya yang panik.


Upang Jenglot jelas tidak menyangka, pasukannya akan mengalami nasib menyedihkan seperti ini. Namun tentu saja dia juga tidak menyangkai, bahwa di dalam benteng kerajaan keadaannya lebih parah.


Upang Jenglot masih bersiaga, dengan posisi saling memunggungi bersama para bawahannya.


“Cepat! Tinggalkan tempat ini! Mundur!” teriaknya yang segera diikuti oleh seluruh prajurit yang tersisa. Saat ini, jumlah mereka yang belum mengalami luka tidak lebih dari seratusan orang. Sementara lebih dari dua ratusan orang dipastikan tewas, selebihnya mengalami luka-luka.

__ADS_1


Pasukan itu bergerak meninggalkan ‘neraka’ tersebut dengan buru-buru. Sebagian bahkan tidak mempedulikan rekan mereka yang terluka. Mereka berebut untuk menyelamatkan diri. Kembali dan berlindung di dalam tembok benteng kerajaan.


Tapi hal berbeda tengah disiapkan oleh para pendekar regu merpati. Mereka memang telah menarik diri dari ‘pesta’ pembantaian di tepi jurang itu, namun kini mereka sedang menyiapkan sebuah pesta lainnya.


__ADS_2