JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tujuh Penjaga Gerbang


__ADS_3

Tanpa banyak diketahui manusia, bersamaan dengan hari kemunculan Mislan Katili ke dunia, di belahan bumi lain dua buah cahaya jatuh dari langit. Kedua cahaya itu begitu terang menyinari langit malam walaupun tidak menimbulkan kehebohan berarti. Cahaya tersebut jatuh di wilayah kerajaan Babil, sebuah kerajaan yang telah berdiri cukup lama di antara dua aliran sungai besar di Benua Tengah. Orang-orang pada lokasi terdekat yang menyaksikan jatuhnya dua cahaya tersebut segera heran sekaligus penasaran sehingga mereka berduyun-duyun mendatangi tempat tersebut. Namun tidak ditemukan apapun di lokasi tersebut.


Hal itu terjadi karena dua buah cahaya tersebut sebenarnya adalah sosok dua orang yang turun dari langit. Keduanya kemudian diyakini sebagai dewa yang datang untuk melawan kejahatan yang akan ditimbulkan Mislan Katili. Namun keduanya menghilang dan baru terdengar sepak terjangnya beberapa bulan kemudian di belahan bumi lainnya, yaitu di wilayah kekaisaran Huang. Mereka menghalau seluruh pasukan dan bala tentara Mislan Katili yang mencoba memasuki wilayah kekaisaran Huang dan menghancurkan seluruh pasukan tersebut. Ribuan pasukan Mislan Katili musnah begitu saja sebelum berhadapan dengan pasukan kekaisaran Huang.


Lalu tidak lagi terdengar pergerakan pasukan Mislan katili di sekitar wilayah tersebut hingga hampir seratus tahun kemudian. Juga tidak terdengar teror dan penyerangan mereka di wilayah lainnya di benua tengah. Namun semua orang yang bersinggungan dengan kekuatan gelap tersebut meyakini bahwa mereka hanya sedang menyusun kekuatan dan akan kembali menyerang sewaktu-waktu. Mereka lalu mewariskan kewaspadaan kepada generasi penerusnya agar mengantisipasi sosok Mislan Katili berikut pasukannya yang tiba-tiba seperti menghilang.


Sementara itu, setelah memukul mundur pasukan dan bala tentara mislan katili di perbatasan wilayah kekaisaran Huang, kedua sosok manusia yang diyakini sebagai dewa juga tak lagi terdengar keberadaan maupun kiprahnya. Mereka menghilang begitu saja bersamaan dengan meredanya penyerangan dari pasukan Mislan Katili. Selama puluhan tahun kemudian, kehidupan di bumi Benua Tengah cukup damai. Tidak ada perang antar-kerajaan maupun kekaisaran karena mereka meyakini bahwa bencana dan teror masih akan muncul sewaktu waktu. Mereka mempersiapkan diri dan memperkuat pasukan agar bisa bertahan dan tidak musnah saat serangan dari pasukan Iblis Mislan Katili datang sewaktu-waktu. Tidak ada pendekar dan kelompok aliran putih yang melalaikan tugas untuk mendidik dan menyiapkan generasi muda mereka dari waktu ke waktu.


Kemudian, bencana yang dikhawatirkanpun benar-benar datang sekitar seratusan tahun kemudian. Serangan besar-besaran diarahkan ke kekaisaran Huang. Sebuah pasukan yang terdiri dari Mayat hidup, hewan-hewan yang aneh dan kemudian diketahui sebagai hewan-hewan siluman, beserta pasukan manusia-manusia sebagai pengendali yang berjumlah puluhan ribu orang datang menyerang.


Jumlah yang sebenarnya tidak terlalu besar bila dibandingkan dengan jumlah prajurit dan pasukan kekaisaran Huang. Mislan Katili mungkin berfikir bahwa kedua orang pengganggunya kemungkinan sudah mati atau meninggalkan negeri tersebut sehingga hanya mengirim sedikit kekuatannya untuk mengukur keadaan dan kekuatan. Walaupun tahu bahwa kekuatan yg dilepas sangat kecil, Mislan Katili cukup percaya diri.


Hal itu tidaklah berlebihan karena siapa yang tidak tahu, bahwa cukup dengan hanya menggunakan dua mayat hidup berkekuatan pendekar Madya dan satu hewan siluman maka satu desa akan musnah. Semua maklum, bahwa setiap mayat hidup yang diciptakan sebagai pasukan Mislan Katili pasti berkekuatan paling lemah setara pendekar Madya. Sedangkan setiap Hewan siluman, paling lemah berkekuatan setara pendekar Sakti Mumpuni sejak dilahirkan.


Pendekar Madya sendiri adalah level ke-tiga dalam tingkatan kekuatan seorang pendekar di dunia ini. Level terlemah seseorang yang disebut sebagai pendekar adalah pendekar pemula atau pendekar pertama yang mampu mengalahkan sedikitnya sepuluh orang biasa dalam pertarungan.


Level berikutnya di atas pendekar Pemula disebut sebagai pendekar Tingkat Dua. Kekuatan pendekar Tingkat dua seharusnya mampu mengalahkan paling sedikit sepuluh orang pendekar pemula atau pendekar pertama.


Lalu tingkat berikutnya yang lebih tinggi dari pada Pendekar Tingkat Dua adalah Pendekar Madya atau menengah. Level berikutnya di atas tingkat Madya adalah Pendekar Ahli yang kekuatannya sepuluh kali lipat dari pendekar level Madya atau menengah.


Level diatasnya dikenal sebagai level pendekar sakti yang terdiri dari dua tingkatan, yaitu Pendekar Sakti Mumpuni dan Pendekar Sakti Bergelar. Pendekar yang mampu mencapai level pendekar sakti biasanya mampu mengubah tenaga dalamnya menjadi elemen tertentu. Para pendekar sakti dari kelompok Segoro Geni misalnya mampu mengubah tenaga dalamnya menjadi kekuatan api yang mematikan.


Pada tingkat pendekar sakti bergelar, seseorang selain mampu mengubah tenaga dalamnya menjadi elemen tertentu, dia juga sudah mampu mengendalikan elemen tertentu dari alam sesuai dengan karakter dasar keilmuannya. Misalnya Pendekar Matahari Emas mampu memanfaatkan energi matahari sebagai kekuatannya yang dapat diubah menjadi bentuk pedang, maupun petir yang membakar.


Sebenarnya masih ada beberapa tingkatan lagi di atas tingkat pendekar sakti bergelar. Namun sangat jarang bahkan hampir mustahil untuk dicapai oleh para pendekar di era ini. Tingkatan tersebut adalah tingkat Pendekar Bumi dan Tingkat Pendekar Langit. Bahkan diyakini masih ada level di atas pendekar langit ini, namun sepanjang sejarah tercatat belum ada manusia yang mencapainya bahkan belum ada yang tercatat mampu mencapai tingkatan pendekar langit, kecuali ketujuh pendekar dalam legenda. Merekalah yang dalam legenda disebut sebagai Tujuh Pendekar Penjaga Gerbang.


Mereka adalah tujuh pendekar terhebat yang muncul di saat Mislan Katili dan bala tentaranya sedang berjaya dan mengacaukan tatanan kehidupan manusia. Mereka, diyakini sebagai murid-murid didikan langsung kedua orang "Dewa" yang turun dari langit dan sepuluh tahun lalu berhasil memporak-porandakan kekuatan pasukan Mislan Katili.


Mereka muncul di saat harkat dan derajat manusia begitu rendah dalam kehidupan barbar yang tak mengenal adab karena berkuasanya sosok iblis. Saat itu, wilayah kekuasaan dan jajahan pasukan Mislan Katili telah mencapai sebagian wilayah Kekaisaran Huang dan Kekaisaran Hidama. Kedua kekaisaran tetap berusaha bertahan selama puluhan tahun dari berbagai gempuran dengan dukungan dari kelompok-kelompok pendekar aliran putih yang bahu membahu mengahadapi musuh bersama. Namun di luar itu, telah banyak kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang harus rela namanya terhapus dari peta dunia dan menjadi kenangan sejarah.


Kemunculan ke-tujuh pendekar tersebut terjadi setelah hampir seratus tahun Kerajaan Mazandaran dipimpin Mislan Katili memulai perang dan mendapat banyak kemenangan serta hampir sepenuhnya berhasil menguasai ketiga kekaisaran besar. Kemunculan ketujuh Pendekar tersebut dalam berbagai perang di wilayah-wilayah Benua Tengah terutama daerah kekaisaran Huang dan Hidama yang mendapat serangan langsung, mampu membalikkan keadaan dengan cepat.

__ADS_1


Nampaknya, isu bahwa mereka adalah murid-murid dua orang "dewa" yang menampakkan kekuatannya puluhan tahun lalu bukan isapan jempol atau sekedar kabar burung semata karena sebelumnya keberadaan dan nama mereka sama sekali tidak dikenal.


Kekuatan mereka begitu menonjol dan belum pernah disaksikan oleh para pendekar pejuang yang berusaha membebaskan negeri-negeri mereka dari pengaruh jahat Mislan Katili. Tujuh orang tersebut tidak pernah muncul secara bersamaan dalam satu waktu ataupun terlibat dalam satu peperangan secara bersama-sama. Mereka bahkan berasal dari wilayah berbeda dan bangsa berbeda serta tidak saling mengenal sebelumnya. Namun Kehadiran salah satu dari ketujuh orang itu dalam setiap peperangan selalu membawa kemenangan bagi pasukan yang mereka ikuti.


Kesamaan tujuh orang pendekar sakti tersebut adalah mereka sama-sama memiliki simbol khusus seperti tato di tengah-tengah kedua alis mereka. Dari simbol itulah orang-orang dalam dunia persilatan berkesimpulan dan mengenali mereka sebagai kekuatan yang saling terhubung dan memiliki kesamaan. Mereka kemudian dikenal sebagai Tujuh Pendekar Penjaga.


Ketujuh orang tersebut adalah:


Utqin Momo, berasal dari pulau Es Utara sebagai penguasa elemen air adalah satu-satunya perempuan dari 7 Pendekar Penjaga, bahkan mampu membekukan cairan yang mengalir dalam tubuh lawannya termasuk darah dan cairan otaknya.


Yang kedua bernama Abul Ardh, berasal dari wilayah sekitar gurun Seharahan, sebagai penguasa elemen Tanah. Mampu mengendalikan tanah dan batuan untuk bergerak bahkan bertarung sebagai pasukannya, dengan kemampuan bertarung yang setara dengan dirinya sendiri.


Sosok ketiga bernama Rajo Narako, berasal dari Lambah Barapi di Pulau Emas Besar sebagai penguasa elemen Api. Hampir seluruh ilmu kanuragan berelemen panas, api dan cahaya berasal dari warisan pendekar Rajo Narako di masa lalu. Termasuk di dalamnya adalah ilmu beladiri dan kesaktian yang dipelajari oleh padepokan Matahari Emas dan ilmu Bulan Perak.


Itulah sebabnya di pulau Emas Besar sebagian ilmu beladiri yang berkembang adalah ilmu-ilmu berelemen api, panas, dan cahaya karena merupakan warisan dari sang Penguasa Api yang berasal dari pulau ini.


Selanjutnya adalah Arnataka, berasal dari kerajaan Vedash Antapura, sebagai penguasa elemen Besi. Tidak ada senjata apapun yang bisa digunakan untuk berhadapan dengannya selama mengandung elemen logam. Sebaliknya, tubuhnya sendiri sangat keras, sekeras logam baja kualitas terbaik sebagai pertahanan yang mampu menyerap energi perusak yang menyerang. Bahkan energi paling panas dari Rajo Narako tidak mampu melelehkannya.


Pendekar keenam bernama Hajime Kun dari wilayah kepulauan kekaisaran Hidama, sebagai penguasa elemen Listrik dan petir. Kemampuannya menjadi momok mengerikan bagi pasukan manapun yang dihadapi. Petir pada dasarnya adalah musuh alami elemen kegelapan. Sedngkan Hajime-kun bisa dengan mudah mendtangkan petir alam yang sangat besar dan dahsyat tanpa memerlukan hujan maupun awan sebagai pembentuknya.


Yang terakhir adalah Lou Shi Shan, seorang Pendekar medis dari Kekaisaran Huang sebagai ahli Racun dan obat. Kemampuannya sebagai tabib bahkan sangat menakjubkan hingga mampu menumbuhkan bagian tubuh yang hilang dengan obat-obatannya, sekaligus mampu menghancurkan pengetahuan dan kemampuan beladiri pendekar yang sangat kuat sekalipun dengan hanya racun yang mampu dihembuskan lewat nafasnya saja. Kehadirannya dalam sebuah pasukan akan sangat signifikan meningkatkan kekuatan.


Ketujuh orang tersebut akhirnya menggabungkan kekuatan untuk menumpas dan mengakhiri kejahatan Mislan Katili. Dengan bantuan ribuan pendekar dari ketiga kekaisaran, mereka menyerang kerajaan Mazandaran. Para pendekar yang lain berperang melawan pasukan Mazandaran. Sedangkan ketujuh Pendekar yang sudah sangat terkenal kesaktiannya tersebut langsung berhadapan dengan Mislan Katili.


Pertarungan berlangsung sengit dan mematikan. Banyak pendekar yang ikut serta dalam pertarungan tersebut tewas. Namun akhirnya, semua pendekar yang ikut serta menyerang tersebut harus menyingkir dari Kerajaan Mazandaran karena dampak pertarungan antara ketujuh pendekar melawan Mislan Katili sangat berbahaya dan mematikan bagi sebagian besar mereka. Pertarungan berlangsung selama tujuh hari tujuh malam sebelum akhirnya Mislan Katili berhasil dikalahkan. Namun demikian, kondisi ketujuh pendekar juga tidak terlalu baik. Berkat pertolongan dari Lou Shi Shan dan obat-obatan ajaibnya sajalah mereka tidak terbunuh. Namun, mereka semua terluka parah termasuk Lou Shi Shan sendiri.


“Itulah sebabnya, walaupun Sang Raja Kegelapan telah berhasil dikalahkan namun tidak berhasil dimusnahkan. Tubuh Mislan Katili pasti bisa dihancurkan dengan kekuatan ketujuh pendekar. Namun tidak dengan kekuatannya. Kekuatan itu bila dipaksakan untuk dihancurkan dengan kondisi mereka saat ini, hanya akan menghilang untuk ber-reinkarnasi dalam tubuh baru berikutnya. Dan itu berbahaya karena belum tentu generasi berikutnya memikiki kemampuan untuk menghentikannya. Maka, pilihan paling memungkinkan dan paling aman adalah menyegel kekuatan sang Raja Kegelapan.


Akhirnya, kekuatan itu disegel dalam sembilan benda yang dikenal dengan sembilan bola arwah. Jangan berfikir bahwa karena namanya bola lalu bentuknya pasti bulat. Tapi dinamakan bola arwah karena kekuatan itu tersegel dalam sebuah formasi energi berbentuk bola yang kemudian dikunci dalam sembilan benda. Kesembilan benda penyimpan bola arwah yang tidak akan bisa dihancurkan karena mengandung kekuatan Raja Kegelapan tersebut kemudian mereka bawa masing-masing dan disembunyikan di sembilan tempat terpisah. Masing-masing mereka tidak saling mengetahui di mana rekannya menyimpan bola-bola arwah tersebut. Berkat kesaktian mereka juga, energi kegelapan itu tidak bisa memancar keluar sehingga hampir mustahil bisa ditemukan...” Perempuan tersebut menghela nafas panjang dan mengambil jeda untuk ceritanya.


Kemudian dia mengambil air minum dalam kendi dari dapurnya beserta makanan yang mirip dengan talas namun berwarna keunguan.

__ADS_1


Aroma sedapnya umbi-umbian tersebut menyeruak masuk ke rongga hidung Gentayu dan membuat perutnya yang sebenarnya sudah terisi pagi ini berontak. Namun ia masih penasaran dengan akhir dari cerita tentang Tujuh Pendekar Penjaga tersebut.


“lalu, nek.. bagaimana akhirnya nasib dan cerita ketujuh pendekar tersebut?”Gentayu masih penasaran


“Hmm.. Mereka tentu saja tetap hidup setelah itu. Beberapa di antara mereka memiliki murid-murid sebagai penerus, kecuali Lou Shi Shan yang kemudian dikenal sebagai dewa obat saja yang tidak mengangkat murid hingga akhir hayatnya. Gurumu dan aku adalah penerus yang ke sekian dari salah satu jurus elemen Api Rajo Narako. Selain kami, sebenarnya ada banyak aliran lain yang sebenarnya berasal dari Rajo Narako. Masih satu leluhur keilmuan, sayangnya sebagian justru menyimpang menjadi aliran hitam..”


“Lalu, bagaimana dengan liontin ini dan benda yang nenek jaga ini?” Gentayu tetap fokus dengan rasa ingin tahunya sekalipun godaan aroma umbi-umbian itu begitu menyiksa perutnya.


“Itulah yang membuatku sedih. Karena selama 70 tahun terakhir aku harus menjaga sesuatu yang akupun tidak tahu apa guna dari benda itu. Guruku hanya berpesan, agar aku menyerahkan benda ini kepada orang yang membawa liontin giok yang menggetarkan benda ini saat kedatangannya. Tak kusangka aku harus menyerahkannya kepadamu, pendekar muda..” Perempuan itu menjelaskan.


“ Bergetar?” Gentayu mengulangi pernyataan perempuan itu karena penasaran.


“Benar. Benda ini bergetar sejak sebelum kedatanganmu. Saat inipun dia masih bergetar, namun aku sengaja meredam suaranya dengan formasi sihirku. Sekarang, coba kau perhatikan...” Perempuan itu membentuk segel tangan sederhana, lalu...


“Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...! Nguuung...!..” Suara berdengung keras yang memekakkan telinga terdengar dari balik buntelan hitam di atas meja tersebut.


Perempuan itu kembali membentuk segel tangan lainnya dan bunyi mengganggu itupun lenyap kembali.


Gentayu mengangguk. Walaupun dia kurang puas dengan jawaban perempuan itu yang hanya mengatakan bahwa ia hanya ditugasi menjaga dan menyerahkan benda tersebut kepada pemilik liontin giok.


“Bagaimana kalau sekarang kita satukan saja keduanya, Nek?” Gentayu menjadi tidak sabar ingin mengetahui rahasia dibalik kedua benda wasiat tersebut.


“Makanlah dulu... ini hasil dari kebunku. Setelah makan, kita akan sama-sama melihatnya. Tapi sebenarnya ini sudah bukan urusanku lagi... tapi aku akan membantumu sebisaku bila ada kesulitan di balik kedua benda wasiat ini..” Perempuan itu menyudahi penjelasannya dan menyodorkan piring untuk makan mereka.


“Terimakasih, Nek.. dari tadi, aku memang menunggu ditawari makanan ini. Kelihatannya enak..” Gentayu menjawab tanpa malu-malu lagi.


‘Pletak!’


“Gundulmu kelihatan enak! Ini memang enak, tau..?! Awas sampai kau bilang tidak enak, kutambah satu lagi benjolan di kepalamu!” nenek misterius ini mendelik sambil bibirnya mengkerut mirip lubang pant*t ayam yang mengkeriput.


‘aduh, aku salah ngomong lagi..’ sesal Gentayu.

__ADS_1


“I..Iya nek.. Rasanya pasti enak.. iya, pati enak... hehehe...” Gentayu nyengir sambil memegangi kepalanya yang telah memiliki benjolan tambahan lainnya


__ADS_2