
“Tuan, kemana barang bawaan tuan yang lain? Kenapa terlihat berkurang banyak? Apa terjadi masalah saat aku tidur tadi tuan?” kembali terdengar suara Roh harimau itu bertanya saat perahu telah melaju.
“Hei, kamu ini roh harimau apa roh anjing sih? Kenapa cerewet sekali? Bukannya roh harimau itu seharusnya pendiam?” Gentayu menyerapahi roh harimau yang terdengar berisik sejak terbangun menanyakan banyak hal padanya.
Gentayu melakukan itu agar dirinya tidak semakin bingung karena terlalu banyak hal aneh yang harus difikirkan.
Namun bukannya diam, roh harimau itu kembali bicara “ Tuan tahu, bahwa aku dahulunya bukanlah siluman? Iya, aku awalnya bukanlah seekor siluman tapi seorang panglima perang Kekaisaran Hidama 300 tahun yang lalu. Aku terperangkap dalam sebuah formasi sihir saat memimpin pasukan melawan sekelompok pendekar aliran hitam yang mengendalikan mayat hidup. Kami sebenarnya sudah berhasil memukul mundur musuh. Tapi saat melakukan pengejaran sisa-sisa kelompok itu aku tak sengaja mengaktifkan sebuah formasi sihir kuno di tempat itu yang dibuat entah untuk tujuan apa. Formasi sihir itulah yang memisahkan ragaku dengan rohku. Ragaku tertinggal di dalam jurang kematian sedangkan rohku terlempar ke pulau ini di jembatan naga merah. Aku sendiri tidak faham, apakah secara kenyataan aku ini sudah mati ataukah belum karena nyatanya aku belum pergi ke alam seberang. Rohku...” Kalimat roh harimau ini terputus karena Gentayu segera menyela.
“Tunggu! Jembatan Naga Merah? Di mana itu?” Gentayu tiba-tiba menjadi sangat antusias.
“Jembatan Naga Merah terletak di sebuah hutan pedalaman Lembah Kaling. Jembatan itu adalah jalan menuju perguruan Naga Merah. Sebuah perguruan yang orang-orangnya berasal dari Benua Tengah dari suku Han. Mereka berasal dari wilayah Huang. Merekalah yang membantuku mendapatkan tubuh elang hitam sebagai wadah rohku, sebelum aku berpindah ke tubuh harimau itu..” roh harimau menjelaskan.
“Pedalaman Lembah Kaling? Lalu bagaimana bisa engkau berpindah wadah? Apakah seperti setan yang menyurupi manusia?” Gentayu bertanya lebih lanjut.
“Tidak seperti itu tuan. Karena tampaknya, pengaruh formasi sihir yang memisahkan tubuhku dari rohku itulah yang bekerja dan memindahkan rohku dari wadah yang satu ke wadah yang lain..”
“Eh, lalu apakah kau berharap akan mengambil alih tubuhku setelah ini? Jangan harap..!” Gentayu menjadi khawatir.
“Tidak tuan. Aku hanya berharap pada saatnya tuan akan mengantarku pada tubuhku seandainya masih ada. Karena sebenarnya, aku sudah bisa menguasai dan mengendalikan formasi sihir itu. Sekarang aku tidak lebih dari budakmu tuan. Begitulah takdir yang harus dijalani hewan siluman terhadap manusia..” Roh siluman itu menjawab kekhawatiran Gentayu.
Gentayu mengeluarkan kubus pusaka dari gelang gerobok seolah-olah benda itu muncul dari ruang hampa, Setelah itu dimasukkannya liontin gioknya ke dalam lubang yang ada di salah satu sisi kubus.
‘Klik’
__ADS_1
Lalu kubus berubah bentuk dan menampilkan gambar matahari. Di bawah sinar matahari, kubus itu bersinar dan menampilkan peta kembali.
“Perhatikan peta ini. Apakah ini yang kau kenali sebagai jembatan naga Merah?” Gentayu bertanya dengan menunjukkan peta kubus tersebut guna memastikan segala dugaannya benar.
“Benar tuan. Itulah Jembatan Naga Merah. Dan aku tahu jalan menuju ke sana” Roh harimau itu menjawab meyakinkan.
“Eh iya. Aku hampir lupa, Siapa namamu?” pertanyaan yang seharusnya ditanyakan sejak awal justru baru keluar dari mulut Gentayu
Roh harimau itu ingin tertawa geli sebelum menjawab, namun tentu dia tidak bisa melakukannya pada tuannya. “Namaku Ryutaro Sinju. Panggilanku Ryu”
“Baiklah. Aku tidak ingin menganggapmu sebagai budakku setelah mendengar kisah hidupmu. Lagipula, seorang Jenderal tidak layak menjadi budak seorang kapten, bukan? Kalau begitu, aku akan memanggilmu Tuan Ryu, dan kau memanggilku Genta saja, tanpa pakai tuan.. kita menjadi sahabat saja, setuju?” Gentayu mengakhiri diskusi, dan segera disetujui oleh Ryutaro Sinju. Lebih baik menjadi sahabat daripada menjadi tuan dan budak, fikir mereka.
“Sekarang, tuan Ryu, tunjukkan jalannya menuju jembatan naga merah dan itu menjadi tujuan pertama petualangan kita. Engkau siap?”
++++++++++++++++
Di tempat lain, pada sungai yang sama di bagian hulu. Para penyerang yang ternyata gabungan antara 4 kelompok aliran hitam sangat murka mengatahui mereka justru tidak bisa segera kembali ke markas maupun melanjutkan perjalanannya segera. Bekal makanan yang seharusnya cukup untuk makan mereka seminggu berikut kapal perahu mereka musnah hanya oleh satu orang.
Pimpinan koalisi keempat kelompok itu, Mpu Jangger adalah seorang pertapa sesat berkekuatan setara pendekar sakti bergelar. Kemarahannya memuncak karena membiarkan pemuda yang seharusnya dia bunuh dengan mudah saat ia melihatnya di medan pertarungan itu namun justru lolos dan merusak seluruh rencana kelompok itu untuk meneruskan misi mereka.
“Kalau begitu, kalian cegat seluruh kapal niaga yang melintas di sungai ini! Kita hanya akan bermalam di sini hingga esok pagi. Selebihnya gunakan rakit. Rencana penyerangan Lembah pualam dan naga merah harus kita tunda lagi! Saat ini, lebih baik kita pulang dulu ke markas masing-masing! Dasar tidak berguna! Memperlambat saja!” Mpu Jangger mendengus kesal. Rencana penyerangan yang telah disusun matang terpaksa diubah kembali.
++++++++++
__ADS_1
Di Atas Perahu.
Gentayu akhirnya menemukan petunjuk mengenai keanehan seputar lingkungan danau dan gurunya.
‘Hmm.. sepertinya dugaanku benar. Batu itu mungkin saja gerbang atau portal menuju dunia lain, dunia di mana guru perak tinggal. Aku akan buktikan saja sekarang..’
Dikeluarkannya batu hitam yang diambilnya di tepi danau pagi tadi dari gelang grobok. Lalu dialirkannya sedikit tenaga dalamnya, benar saja. Tak lama kemudian energi ruang waktu terasa makin membesar di sekitar batu tersebut dan sesaat kemudian, perahu berikut isinya itu telah berpindah dan kembali berada di tepi danau pagi tadi. Persis di tempat yang sama.
‘Hmm.. begitu cara kerjanya. Tapi seharusnya, bila perkiraanku benar maka waktu di duniaku saat ini sedang berhenti dan melambat. Artinya, dua jam aku di duniaku meninggalkan dunia ini bisa saja di sini sudah berlalu waktu yang lebih lama. Akan kulihat..’ Gentayu bergegas keluar dari perahunya setelah menepikannya. Berjalan menuju daratan, tepatnya ke rumah gurunya.
Keningnya berkerut saat melihat kondisi rumah gurunya, namun bibirnya tersenyum mendapati kenyataan bahwa dugaannya benar. Rumah pendekar Bulan Perak nampak rapuh tak terurus. Beberapa dindingnya sudah jebol, berikut beberapa atapnya juga sudah terlepas. Seperti rumah yang sudah beberapa bulan ditinggalkan. Begitu pula saat matanya menyapu halaman dan memperhatikan kebun yang sekarang sudah menjadi semak belukar tidak terurus.
Gentayu melangkahkan kakinya memasuki gubuk, dan menemukan sepucuk surat di atas meja. Pendekar Bulan Perak gurunya adalah ahli obat dan racun meskipun bukan keahlian utamanya sehingga wajar bila surat itu tidak lapuk dimakan rayap karena telah dibaluri cairan tertentu sebagai pengawet.
‘Gentayu. Aku yakin kau akan segera memahami cara kerja batu buana ini. Aku mewariskannya kepadamu. Jagalah, dan bisa kau gunakan sebagai tempat melatih dirimu dengan baik. Lapisan energi pada udara di tempat ini lebih pekat dari tempat lain pada umumnya.
Gurumu ini akan menemuimu bila berumur panjang. Selama itu, tetaplah berusaha menjadi lebih kuat’
Gentayu kembali melipat surat itu setelah membacanya. Dia tersenyum, keluar dari dalam gubuk itu, tersenyum lalu berlutut dan bersujud tiga kali ke arah bangunan yang terlihat berantakan tersebut. Dia segera kembali ke perahunya dan keluar dari dunia tersebut kembali melalui batu hitam di atas perahu.
Saat itulah suara Ryu kembali terdengar.
“Kenapa aku tertidur lagi? Sepertinya, akhir-akhir ini aku sering ketiduran.. benar-benar aneh"
__ADS_1
.