
Tak butuh waktu lama bagi Diah Rangi dan Putik Embun untuk menyusul tiga teliksandi yang dikirim.
Saat menjelang tengah hari, keduanya menemukan tiga teliksandi itu sedang makan siang di sebuah kedai makan tak jauh dari kota Tanjung Rambai. Rupanya mereka sengaja mengambil jalur memutar sembari mencari kemungkinan pasukan Lamahtang bisa melalui jalur yang mereka ambil. Jalur Sei asen memang lebih dekat, tapi cukup banyak celah sempit yang bisa dimanfaatkan musuh sebagai jebakan.
“Bagaimana sebaiknya kita menghabisi mereka? Dengan panahmu, atau pedangku?” tanya Diah Rangi.
“Biarkan panahku saja yang bicara dengan mereka. Memperkecil kemungkinan kontak dengan mereka lebih baik..” usul Putik Embun.
“Baiklah. Aku setuju. Berarti, kita habisi mereka setelah makan siang mereka. Lokasi itu cukup baik untuk bidikanmu..” kata Diah Rangi seraya menunjuk sebuah titik pada bukit kecil yang menghadap rumah makan tersebut.
“kalau begitu, kau tunggu di sini. Jika bidikanku melesetpun, kau bisa ambil tindakan, bukan?..” Putik Embun segera berpindah tempat menuju tempat yang ditunjuk Diah Rangi. Lenyap dari sisi Diah Rangi dan muncul kembali sebagai titik kecil di atas bukit.
Mereka menunggu tiga teliksandi yang menggunakan pakaian menggoda itu keluar dari rumah makan.
Rupanya, kehadiran mereka bertiga memancing ketertarikan lima orang laki-laki yang juga sedang makan di tempat itu. Kelima lelaki yang terlihat seperti para pendekar pengawal saudagar itu berusaha melakukan pelecehan karena tergoda penampilan tiga perempuan tersebut.
‘Mereka tidak sadar sedang menggali lubang kuburnya sendiri. Ini tontonan menarik. Sekaligus aku ingin tahu bagaimana tiga orang itu menghabisi musuhnya.’ batin Diah Rangi dengan antusias memperhatikan kejadian selanjutnya.
Tingkah kelima lelaki itu terlihat semakin berani dengan aksinya terhadap tiga teliksandi. Ketiga wanita cantik itu hanya melakukan penolakan-penolakan kecil seolah mereka adalah wanita tidak berdaya. Namun saat mereka semua telah tiba di tepi hutan, wajah dan sikap ketiga wanita itu berubah.
Kelima lelaki pengganggu yang sedetik lalu begitu bernafsu untuk melanjutkan aksinya, kini dibuat diam tak berkutik. Tubuh mereka mendadak kaku tak bisa digerakkan. Kini yang terlihat hanya wajah penuh cemas dan ketakutan mereka. Tak jelas terdengar apa yang diucapkan para wanita itu, namun sedetik kemudian kelima pengganggu itu limbung dan roboh ke tanah. Kehilangan nyawa tanpa disentuh.
Tapi hal menarikbterjadi beberapa saat kemudian. Setelah salah satu dari tiga perempuan itu menuangkan sesuatu berwarna merah ke atas tubuh lima orang lelaki itu, tubuh mereka kini terlihat bangkit. Namun kali ini tanpa ekspresi. Mereka berlima telah diubah menjadi mayat hidup!
Dari atas bukit, Putik Embun menyadari betapa berbahayanya para pendekar aliran hitam saat mereka berkeliaran seperti saat ini. Maka tanpa menunggu lebih lama, dia segera menarik busurnya sambil merapal mantra.
Busur itu adalah busur panah pusaka. Mampu menyerang tanpa membutuhkan anak panah sekalipun. Namun sebenarnya busur panah itu memiliki anak panah khusus miliknya. Sayang sejauh ini, Putik Embun belum pernah merasa perlu menggunakannya. Setiap lawannya, tak peduli pada tingkat apapun akan tewas terkena panahnya. Bahkan mereka yang memiliki ilmu kebal sekalipun.
Tiga teliksandi itu berjalan diikuti oleh lima pengiring barunya.
Ketika tiba-tiba tanpa diketahui datangnya, ratusan anak panah muncul menyerang delapan sosok tersebut bersamaan. Anehnya, anak-anak panah tersebut tak bisa dihindari.
Salah satu dari tiga teliksandi itu rupanya memiliki telinga setajam kelelawar. Begitu merasakan serangan, dia segera melindungi diri degan alat musiknya yang memiliki dawai mirip harpa itu. beberapa anak panah menancap dan memutuskan tali senar sedangkan sisanya tiba-tiba berbelok arah dan mencari jalan ke arah sasarannya.
__ADS_1
Anak panah-anak panah itu seolah memiliki fikiran sendiri. Tanpa bisa berbuat banyak, puluhan anak panah telah menancap pada masing-masing bagian tubuh tiga wanita teliksandi berikut kelima tentara barunya.
Tak lama kemudian, setelah masing-masing tubuh delapan orang itu tertancap panah, api segera membakar habis tubuh mereka menjadi abu. Hanya dalam waktu singkat api itu padam dan meninggalkan delapan gundukan abu dengan bau daging gosong menyengat hidung.
Diah Rangi menghela nafas lega karena tidak perlu turun tangan. Rekan satu timnya benar-benar membuktikan kemampuan dan gelarnya sebagai Pendekar Panah Api.
“Bagaimana kalau kita makan dulu di kedai itu sebelum pulang?” Kata Putik Embun yang tiba-tiba telah muncul di samping Diah Rangi yang masih mamandangi delapan tumpukan abu itu. Asap masih mengepul dari kedelapan sisa jasad tersebut.
“Baiklah, aku yang bayar... Hahahahaha..” Kata Diah Rangi dengan tersenyum. keduanya meninggalkan tempat itu dengan wajah sumringah. Misi mereka selesai dengan lebih cepat.
Mereka berdua segera berjalan menuju kedai tersebut. Hanya ada dua orang pelanggan yang sepertinya adalah warga setempat sedang makan dengan lahap.
“Maaf Nyonya, mau pesan apa?” bertanya pak tua pemilik kedai menyambut kehadiran kedua pendekar tersebut.
“Apa menu favorit kedai ini, pak?” Diah Rangi balik bertanya sembari duduk di atas bangku panjang kedai tersebut. Putik Embun mengambil duduk di sebelahnya.
“Kami menyediakan beberapa olahan ikan gurame, betok dan gabus. Ada pepes, pedo, bekasam dan Pindang, Nyonya. ..” Jawab pak tua pemilik kedai, sambil badannya sedikit membungkuk memberi hormat.
“Pindang Gabus, sepertinya enak saat terik seperti sekarang ini. Kami pesan dua porsi, pak..” Jawab Diah Rangi. Putik Embun mengangguk setuju.
Wajahnya cukup tampan. Pemuda itu menoleh ke arah Diah Rangi dan Putik Embun sejenak sebelum duduk.
Pemuda itu mengangguk sopan saat mata mereka bertemu pandang, sebelum mengalihkan pandangan ke dalam kedai. Pada deretan makanan yang dipajang di dalam wadah beberapa gerabah ukuran sedang.
Kali ini, yang menyambut pelanggan baru itu adalah istri pemilik kedai. Dia juga menanyakan pertanyaan yang sama seperti suaminya menanyakan pesanan pelanggan.
Pemuda itu juga memesan menu persis sama dengan kedua pendekar perempuan. Namun dengan tambahan “Saya kepalanya saja Bu. Bagian ekornya biar dibungkus saja”
Pemuda itu tampak sedang dalam perjalanan.
Tak lama, makanan untuk mereka bertiga selesai dimasak dan telah dihidangkan. Namun, baru satu-dua suap mereka menyantap makanan pesanan mereka, suara hardikan terdengar lantang di belakang mereka.
“Tangkap Mereka! Mereka yang telah membunuh Krio Dableh dan orang-orang kita!” Seru suara dari tengah pelataran kedai di belakang mereka.
__ADS_1
Serentak pemuda tersebut dan kedua pendekar perempuan menoleh. Ada lebih dari dua puluh orang bersenjata telah mengepung kedai.
Jelas mereka bingung karena tidak mengenali atau pernah berurusan dengan orang-orang ini.
Kebingungan mereka terjawab setelah dua orang yang tampak seperti warga biasa itu telah menyelesaikan makan dan segera berdiri.
“Cecunguk Krio Dableh, rupanya! Cuih!” Kata salah satu dari dua orang tersebut sembari melangkah maju.
“Krio bodoh itu memang tak layak memimpin! Pemimpin macam apa yang merelakan warganya dijadikan budak anjing-anjing Lamahtang?! Cuih!” Lanjut lelaki yang kini telah bersiap menghadapi kelompok yang baru datang tersebut.
Mendengar kalimat terakhir dari pemuda tersebut, fahamlah Diah Rangi dan Putik Embun akar masalah yang terjadi. Akhir-akhir ini, denagan alasan untuk menutupi minimnya jumlah prajurit yang dimiliki Lamahtang, pihak istana mewajibkan setiap desa mengirimkan dua orang pemuda dan pemudi terbaiknya.
Tentu saja itu hanya akal-akalan orang-orang aliran hitam itu untuk mendapatkan pelayan dan pemuas nafsu mereka saja. Mereka tidak mungkin dididik menjadi prajurit seperti digembar-gemborkan. Karena memang maksud pihak istana tidaklah semulia yang digaungkan.
Sepertinya, kedua orang yang barusan makan di kedai ini adalah orang yang berani melawan kebijakan kerajaan dan terlibat konflik terbuka dengan kelompok ini.
“Lancang sekali mulutmu! Serang dan habisi mereka berdua!” Perintah sang pemimpin rombongan kepada rekan-rekannya.
Serentak orang-orang yang telah mengepung kedai meringsek maju menyerang dua orang lelaki itu. Keduanya melompat ke udara berusaha menjauhkan arena pertarungan dari kedai. Keduanya bertarung sengit melawan orang-orang yang mengeroyok dan menyerang dari segala arah.
Sang Pemimpin rombongan tampak memperhatikan tiga orang di dalam kedai yang seolah tidak terganggu dengan pertarungan yang terjadi. Tidak ada rasa takut, bahkan mereka tetap makan dengan santainya. Dia segera memberi kode kepada orang-orangnya agar tidak mengganggu kedai. Firasatnya mengatakan bahwa ada bahaya dari dalam kedai itu.
Dua orang lelaki yang sedang bertarung melawan para penyerangnya kini tampak mulai kewalahan.
Meski begitu, mereka tetap saja berbahaya bagi kelompok penyerangnya. Sudah ada tiga orang yang tewas dari kelompok yang disebut sebagai orang-orang Krio dableh itu. Sedangkan di tubuh kedua lelaki itu telah mulai dihiasi oleh luka-luka tebasan senjata.
Tampaknya mereka hanya pendekar tingkat dua. Namun, semangat dan keberanian mereka sanggup menekan pengeroyoknya yang juga berada di level yang sama. Bahkan pemimpin rombongan itu tampaknya lebih tinggi tingkatannya tidak berani berhadapan langsung.
Saat sebuah tebasan nyaris memenggal leher salah satu lelaki itu dan tidak dapat dihindari, tiba-tiba sebuah ledakan mementalkan orang-orang yang sedang bertarung tersebut.
Kini muncul sosok-sosok berpakaian seragam sebagai prajurit Lamahtang dengan jumlah sekitar sepuluh orang. Namun mereka bukanlah prajurit biasa. Mereka adalah pendekar yang setidaknya setara dengan tingkat Madya. Bahkan pemimpin rombongan prajurit itu sepertinya adalah pendekar sakti.
Sepertinya mereka ini ditugaskan untuk menguntit tiga teliksandi yang telah dibungkam oleh maut itu.
__ADS_1
Pertarungan yang sedang berlangsung seru itu langsung berhenti. Semua korban dari pukulan energi yang menyebabkan ledakan itu kini terbaring di tanah dengan memegangi bagian tubuhnya yang sakit. Dua lelaki yang dikeroyok masih berdiri tegar sekalipun tubuhnya dipenuhi luka.
Melihat kedatangan para prajurit itu, Diah Rangi dan Putik Embun saling memandang sejenak. “Kita ketahuan!” Kata Putik Embun yang dijawab anggukan oleh Diah Ranggi. Mereka telah menyelesaikan makan siangnya.