JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
ARC 2: DUNIA PARA DANYANG Itu Bukan Kelinci !


__ADS_3

Ketika para pendekar Aliansi Bintang Harapan beserta Sakuza dan Yumiko tengah panik, Gentayu dan Hao Lim telah memasuki sebuah daerah yang sangat asing bagi keduanya. Pintu masuk mereka ke dunia ini hanya terlihat seperti fatamorgana yang tiba-tiba menghilang sedetik setelah Hao Lim menginjakkan kaki pada tanah basah lantai hutan. Mereka memang kini berada di sebuah hutan lebat dengan pepohonan yang bentuknya terasa asing dan berukuran raksasa.


Itu adalah hutan yang merupakan bagian dari dunia di balik cermin yang mereka masuki. Hao Lim terkejut mendapati seorang gadis teramat cantik tengah berpegangan tangan dengan Gentayu. Bukan hanya Hao Lim, bahkan Gentayu sendiri juga tak kalah terkejut. Pemuda itu sampai nyaris jatuh terjerat kakinya sendiri saking kagetnya.


Gadis cantik berpakaian sutra putih itu tak lain adalah Anjani. Tubuhnya menunjukkan kemolekan seorang gadis yang telah matang di usia remaja. Namun, siapa mengira bahwa usia gadis itu mungkin lebih tua dari manusia tertua yang hidup di bumi Dipantara saat ini.


Anjani terlihat sedikit panik dan serba salah mendapati dirinya telah mewujud menjadi manusia seperti Gentayu dan Hao Lim. Ada sorot mata ketakutan di matanya dengan kondisinya saat ini. Dia bahkan sampai harus memeriksa seluruh badannya dengan memegang beberapa bagian untuk meyakinkan diri bahwa ini hal yang nyata.


“Tidak, ini tidak mungkin!” serunya cemas.


Tentu saja sikap gadis itu membuat Gentayu bingung sekaligus ikut cemas. Sedangkan Hao Lim masih harus mencerna situasi di hadapannya lebih jauh karena tak memiliki pemahaman apapun tentang gadis itu dan sikapnya.


“Maaf, Anjani. Apa yang tidak mungkin? Tolong Jelaskan.. dan, mengapa engkau tiba-tiba ada di sini? Maksudku, kenapa dirimu tiba-tiba muncul dalam wujud seperti ini di sini?” Gentayu tak sabar menemukan alasan dibalik kepanikan Anjani.


Gadis cantik bermata biru dengan rambut hitam panjang tergerai itu tak segera menjawab.


Dia justru memperhatikan Hao Lim dan Gentayu yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan aneh. Bergantian.


Tanpa berkata apa-apa, Anjani segera menggamit lengan Gentayu dan menariknya berjalan sedikit tergesa-gesa. Hao Lim terpaksa mengikuti keduanya setelah tidak melihat adanya penolakan dari Gentayu.


Hao Lim berjalan di belakang keduanya, masih dengan sikap penasaran karena sepertinya Gentayu tidak asing dengan perempuan tersebut dan sebaliknya.


“Tunggu, ada apa ini? Kemana kau akan membawaku?” Gentayu berusaha mendapatkan penjelasan Anjani. Dia terpaksa menghentikan langkahnya menuruti Anjani.


Anjani mendengus. Lalu meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.


“Kau tahu, dimana kita sekarang berada?” tanya anjani, sedikit melotot ke arah Gentayu dan Hao Lim.


Hao Lim tentu saja tak merasa nyaman dengan sikap gadis itu dan caranya memandang mereka. Namun, melihat Gentayu tidak melakukan protes, Hao Lim akhirnya memutuskan untuk tetap diam memperhatikan situasinya.


Gentayu tentu saja tidak tahu. Maka dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“Aku seharusnya tidak kembali dalam wujudku yang seperti ini, kecuali karena satu hal...” Anjani terlihat menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Itu adalah caranya mengatasi kepanikan yang dirasakannya.


“Kita telah berada di dunia asal kita, Gentayu..” lanjutnya dengan suara datar dan berat.

__ADS_1


“Dunia Asal Kita?” Gentayu dan Hao Lim membeo hampir bersamaan.


“Maksudku, dunia asalku dan Gentayu..” timpal Anjani Ketus melirik kepada Hao Lim.


Hao Lim sedikit tersingung, tapi mendengar bahwa ini adalah dunia asal kedua orang di hadapannya, membuatnya ingin menanyakan sesuatu. Tapi diurungkannya niat itu karena Gentayu telah kembali bicara kepada Anjani.


“Bukankah itu hal yang bagus? Kenapa kau justru panik?” Gentayu berkata dengan spontan. Menurutnya, tidak ada yang jelek dengan kata ‘Kembali’ bukan?


“Kau ini..!”


Gentayu sedikit terkejut dengan reaksi yang diterimanya dari Anjani.


“Apa kau tak ingat perkataan Pertapa tua itu?” Anjani melotot dan mendekatkan wajahnya ke wajah Gentayu. Tetap dengan kedua tangan berada di pinggangnya. Pertapa tua yang dimaksudnya adalah Datuk Rajo Narako.


“Tentang apa?” jawab Gentayu. Polos, karena menurutnya banyak hal disampaikan sang Datuk kepadanya dalam waktu yang hanya terbilang cukup singkat tempo hari.


‘Pletak!’


Gentayu mengelus bagian atas kepalanya. Gadis cantik di hadapannya menghadiahinya sebuah jitakan di kepala.


“Pesan sepenting itupun kau lupakan!? Huh, dasar. Bukankah beliau mengatakan, bahwa kau harus menempa fisikmu sebelum kembali ke duniamu?” Anjani mengingatkan Gentayu akan pesan Datuk Rajo Narako.


Hao Lim yang memperhatikan keduanya masih belum mengerti juga mengenai inti dan maksud pembicaraan keduanya. Sebaliknya, Gentayu yang dilihatnya kini terlihat mengangguk-angguk.


“Lalu kenapa kau begitu panik, itukan perintah dan pesan beliau untukku, bukan untukmu..”


Gentayu seperti ingin mendebat sikap gadis itu. Namun Gadis itu tidak meneruskan atau membantah ucapannya.


“Ikut aku supaya kau tahu alasannya..” Anjani berkata sambil melangkah. Tanpa menoleh dan mempedulikan apakah Gentayu dan Hao Lim akan mengikutinya ataukah tidak.


“Jangan coba-coba bicara yang tidak-tidak di belakangku..” Katanya lagi setelah berjalan sekitar sepuluh langkah di depan.


Hao Lim di belakangnya yang kini telah beriringan dengan Gentayu segera menghentikan langkah.


‘Bagaimana dia tahu apa yang ingin kukatakan pada Gentayu? Apa dia bisa membaca fikiran?’ batinnya sedikit kagum juga ngeri kepada Anjani, sebab memang Hao Lim tadinya berniat mengatakan pada Gentayu sebuah pertanyaan :’ Siapa gadis aneh dan judes ini?’.

__ADS_1


Akhirnya, pertanyaannya hanya disimpannya kembali ke dalam hati.


Mereka berjalan tidak lebih dari dua ratus langkah sebelum Anjani memberi tanda untuk berhenti. Lalu tangannya menunjuk ke balik semak-semak rimbun di hadapannya.


Hao Lim dan Gentayu mengarahkan pandangan ke arah titik yang ditunjuk Anjani.


“Di sana, di balik semak-semak di sana itu, ada seekor kelinci. Coba kau tangkap dia untuk makan malam kita..” kata anjani seraya menunjukkan lokasi persis hewan kelinci yang dimaksudnya berada.


Sekalipun tetap diliputi pertanyaan, Gentayu melaksanakan permintaan Anjani.


Menangkap kelinci? Itu pekerjaan mudah! Bahkan bisa dilakukannya sambil memejamkan mata, begitulah mungkin fikiran


Gentayu yang segera melompat ke dalam semak-semak yang ditunjuk Anjani.


‘Gusrak!’


‘Gusrak’


‘DUG!!’


Terdengar suara seperti pukulan atau tendangan tak lama setelah Gentayu memasuki semak-semak tersebut. Namun sesaat kemudian, terdengar suara seperti pukulan lebih keras dan tubuh Gentayu terlempar keluar dari balik semak dan mendarat hampir menabrak pohon tak jauh dari berdirinya Anjani.


“Hei, Kau bilang itu Kelinci??” Gentayu protes kepada Anjani sambil memegangi dadanya yang sakit. Ada bekas tanah membentuk gambar kaki hewan di sana.


“Memang itu kelinci, bukan?” Anjani mejawab, tak kalah sengit.


“Kelinci tidak memiliki kekuatan sebesar itu..!” Gentayu melanjutkan protesnya.


“Tapi, tetap saja dia kelinci!” Anjani tak mau kalah.


Tak lama, sosok yang mereka perdebatkan muncul keluar dari balik semak.


Benar-benar seekor kelinci berwarna putih dengan badan besar, seukuran dua kali badan kelinci normal. Selain ukurannya, selebihnya terlihat tak ada bedanya dengan kelinci pada umumnya.


“Itu memang kelinci.. hanya ukurannya saja yang terlihat lebih besar..” Hao Lim yang sedari tadi diam akhirnya bicara untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2