
Bersamaan dengan dikalahkannya Mislan Katili dalam kebangkitan prematurnya yang kedua oleh
Dewa Cahaya Haruta, Rajo Narako berhasil kembali menstabilkan kondisi tubuhnya.
Kekhawatirannya dan Anjani bahwa tubuhnya bisa saja meledak andai tidak berhasil meredam kekuatan bola arwah tersebut tidak terjadi. Kini, pertapa tua itu kembali tengah berusaha mengeluarkan bola arwah itu dari dirinya.
Sialnya, bola sembilan arwah yang ditelannya adalah bola dengan elemen api sehingga memiliki kecocokan dengan tubuhnya. Alhasil, bukannya bola itu berhasil dikeluarkan, justru kekuatan bola itu melarut dalam darah dan setiap sel tubuhnya.
Meskipun telah mencapai level puncak pendekar suci, nyatanya tidak mudah bagi Rajo Narako untuk menyelaraskan kekuatan Bola Arwah yang merupakan salah satu pilar kekuatan Mislan Katili tersebut.
Butuh waktu dua hari lamanya bagi RajoNarako hingga akhirnya benar-benar menaklukan kekuatan Raja Iblis itu menjadi bagian dirinya.
Berbeda dengan kristal yang dibentuk seorang pendekar, Bola Arwah adalah wadah penyegel kekuatan. Kekuatan dalam bola arwah itu memiliki kecerdasannya sendiri, sehingga dalam waktu dua hari itu Rajo Narako harus terlibat pergulatan jiwa untuk melepaskan atau menerima kekuatan tersebut.
Kedua pilihan itu sama-sama beresiko baginya. Karena telah menyatu dalam dirinya, andai harus dilepaskan maka bola sembilan arwah itu hanya akan bisa dilepaskan bersamaan dengan hilangnya kekuatan rajo narako secara mengerikan.
Sebaliknya, bila dia menerimanya, maka resiko paparan pengaruh buruk dari jiwa iblis Mislan Katili juga harus diterimanya. Dan itu bukanlah hal baik bagi pendekar sepuh sepertinya.
Tahap berikutnya setelah pendekar suci adalah level mandiwata sesungguhnya, yaitu level Batara.
Pada level ini, bhakta aliran hitam akan menjadi iblis gagal, semi iblis dan iblis. Sementara bhakta aliran putih akan menjadi dewa palsu, semi dewa dan dewa.
Bila Rajo Narako menerima kekuatan Mislan Katili ini, dirinya bisa memilih menjadi dewa atau iblis ketika berhasil menembus level alam batara nantinya.
Artinya, secara tidak langsung Rajo Narako pada saatnya harus memilih meninggalkan kekuatan aliran putihnya dan menjadi Iblis, ataupun memilih menghancurkan sebagian kekuatannya sendiri untuk tetap menjadi bagian aliran putih.
Namun peluangnya memasuki level batara akan semakin kecil.
Satu-satunya solusi yang bisa dilakukan sebelum mencapai alam batara jika Rajo Narako tidak ingin menjadi iblis adalah melakukan pemurnian dan pensucian energi Daht-nya. Sayangnya, sejauh ini dirinya belum mendengar ada orang yang berhasil melakukannya tanpa bantuan ahli alkimia mumpuni.
__ADS_1
“Tuan, tuan.. Syukurlah tuan sudah bangun..” suara Anjani menyapa Rajo Narako saat lelaki tua itu membuka matanya. Dirinya pingsan cukup lama setelah tidak berhasil mengeluarkan Bola Sembilan Arwah dari tubuhnya. Lebih dari sepuluh hari.
Di samping Anjani, terlihat Nyi Suntari tengah meracik ramuan obat. Duduk dalam posisi bersila di sekitarnya, tujuh orang sesepuh Pinang Emas dipimpin oleh seorang lelaki tua berjanggut putih, Jalamanik.
Mereka bertujuh membantu Nyi Suntari untuk mempertahankan kesadaran Rajo Narako agar jiwanya tidak terpengaruh oleh kekuatan Mislan Katili. Sayangnya, mereka hanya mampu menjaga kesadaran sang pendekar legendaris dan belum mampu melangkah ke arah upaya pemurnian.
++++++++
Di daratan yang sama, selepas berakhirnya gempa dan dirinya jatuh pingsan, sosok yang terbentuk dari asap putih menunggui Gentayu siang dan malam.
Malam itu, saat siuman setelah empat hari dalam kondisi pingsan, Gentayu terkejut melihat penampakan makhluk asap di hadapannya, namun dia menjadi maklum setelah berhasil mengingat asal usul makhluk di hadapannya.
“Kau, bukankah... kau makhluk api itu? Kalian makhluk yang sama bukan?” pertanyaan gentayu membuat makhluk asap itu bersikap seolah tengah berlutut.
“Tuan, tolong,.. jangan ambil kekuatanku, tuan..”
Makhluk asap itu tampak memelas. Nayat-nyata hendak berusaha merayu Gentayu.
Nada bicara Gentayu meninggi. Tampak giginya gemeretak menahan amarah yang memuncak.
Bagaimana makhluk ini bisa menuduh Gentayu mengambil kekuatannya sementara justru Gentayu adalah korban? Jelas makhluk ini tidak cerdas!
“Tuan.. kami adalah bangsa Banaspati.. kami... kami tidak bisa hidup tanpa tubuh api kami..”
“Lantas, apakah kalian fikir kami manusia ini bisa hidup tanpa tubuh kami??” Gentayu segera memotong ucapan makhluk asap yang memperkenalkan diri sebagai bangsa Banaspati itu. Dengan nada tinggi penuh amarah.
“Ampun, tuan.. saya bersalah.. tapi, tapi, tanpa kekuatan itu, keluargaku akan dimusnahkan..” kali ini, si Banaspati dalam wujud asap itu jatuh bersujud.
“Apa peduliku? Itu juga bukan urusanku..” Gentayu segera bangkit dan berjalan meninggalkan makhluk asap yang masih bersujud itu.
__ADS_1
Yang difikirkan Gentayu tidaklah sesederhana ekspresi wajahnya.
Mendengar makhluk ini berasal dari bangsa Banaspati dan memiliki keluarga, kepala Gentayu berdenyut.
‘Itu artinya, ada bangsa yang secara alami akan berusaha merebut tubuhku dan mungkin tubuh manusia lainnya? Betapa mengerikannya hidup bersama bangsa api ini’ fikirnya.
Hal paling mengganggunya adalah bila bangsa atau keluarga makhluk ini membalas dendam, bagaimana dia akan mengatasinya?
“Ceritakan padaku tentang dirimu, keluargamu, lalu bangsamu. Barangkali aku bisa memberikan solusi sekalipun tidak mungkin kembali menyerahkan kekuatanmu ini..”Kata Gentayu seraya berbalik beberapa detik kemudian.
Dia sendiri belum tahu pasti sebesar apa kekuatan yang telah diserapnya saat ini. Hal itu baru akan diketahui setelah penyelarasan dilakukan. Tapi jelas Gentayu tidak akan melakukan penyelarasan di hadapan makhluk ini, atau dirinya akan celaka.
“Kami Tercipta dari api..” Banaspati itu mulai menceritakan dirinya.
Dirinya bernama Jayud. Keahlian utamanya adalah memburu mangsa dan mengambil alih tubuh manusia untuk dijadikan tempat bersemayam sementara. Sebenarnya, tidak banyak bangsa Banaspati memiliki keahlian mengambil alih tubuh ini. Yang bisa dilakukan semua bangsa Banaspati adalah berubah menyerupai seseorang dari bangsa manusia maupun hewan.
Makanan Banaspati adalah wewangian, tulang dan daging. Tapi, mereka tidak bisa memakan daging dari makhluk yang masih hidup.
Bangsa Banaspati ini memilih tinggal pada puncak pepohonan tinggi dan rindang. Walaupun beberapa dari mereka menyukai tinggal di dekat sumber mata air.
Selain dari makanan, mereka mendapatkan energi melalui rasa takut manusia di sekitarnya. Dan mengambil alih tubuh adalah cara instan memperoleh makanan sekaligus energi itu sendiri.
“Itu sebabnya saya menyerang tuan, karena menganggap tuan lebih lemah. Pasti akan muncul ketakutan. Ternyata saya salah..” Sosok asap putih itu menunduk.
“ Berapa orang keluargamu yang harus kau lindungi?” tanya Gentayu selanjutnya.
“Aku memiliki lima istri dan empat belas anak, tuan. Aku,.. aku harus kembali dengan selamat atau mereka akan dimusnahkan..”
“Siapa yang akan memusnahkan keluargamu jika kau tak pulang?” Gentayu terus mencecar, berusaha mengorek informasi sebanyak mungkin.
__ADS_1
Ujung bibirnya nampak tersenyum. Senyum mengerikan yang belum pernah ditampakkannya sebelumnya. Namun senyum itu hanya bertahan kurang dari dua detik dan kembali disembunyikan.
“Pesaingku..” jawab Jayud dengan lemas.