
“Guru Manik Baya, silakan sampaikan kepada hadirin mengenai hasil sayembara yang aku percayakan padamu..” Sang Raja bertitah
Manik Baya segera bangkit dari tempat duduknya. Auranya tampak biasa saja di hadapan para pembesar kerajaan dan para utusan peserta sayembara. Sungguh berbeda dengan ketika Gentayu melihatnya pertama kali.
‘Orang ini, pandai sekali menyembunyikan dan mengubah-ubah auranya. Dengan begini, semua hadirin jelas akan meremehkannya..’ Gentayu membatin melihat perubahan aura yang dipancarkan Manik Baya, si kakek cempreng.
Persis seperti dugaan Gentayu, tatapan mengejek bahkan suara gumaman mencemooh berdengung di sekeliling Gentayu. Mereka adalah para adipati, senopati, dan pengawal para ksatria peserta sayembara dan merupakan para pendekar tingkat tinggi.
Dalam pandangan orang-orang ini, Manik Baya terlihat sebagai kakek tua yang lemah dan renta.
Semua karena mereka memang tidak mengenal identitas orang tua itu dan belum pernah bertemu langsung dengan Manik Baya. Sekalipun sebenarnya, nama Manik Baya sendiri tidak mungkin asing di telinga mereka.
Di antara para ksatria peserta sayembara, para adipati dan pengawalnya, Gentayu masih temasuk yang paling lemah kekuatannya. Rata-rata mereka berada di level pendekar langit ke atas, hanya beberapa pangeran saja yang berada di level pendekar bumi.
Sebenarnya, hadirin di tempat itu tidak semuanya berasal dari latar belakang pendekar. banyak di antara mereka hanyalah manusia biasa. Beberapa menteri, sebagian besar pelayan, dan para kepala utusan kerajaan tetangga merupakan manusia biasa.
Tapi, secara umum dalam pertemuan agung ini memang didominasi orang-orang kuat. Sebab, sayembara yang tengah diselenggarakan memang berkaitan dengan kekuatan para calon pelamar.
“Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu, para pejabat kerajaan dan para tamu utusan sekalian.
Terimakasih telah memberikan izin dan kesempatan kepada orang tua ini untuk berbicara di balai paseban agung ini. Tak lupa, saya juga berterimakasih secara khusus kepada Yang Mulia Raja karena mempercayakan penyelenggaraan sayembara ini kepada saya, Manik Baya..”
Mendengar orang tua yang tengah berbicara itu memperkenalkan diri sebagai ‘Manik Baya’, seluruh ruangan tiba-tiba menjadi hening. Tak ada suara. Bahkan, beberapa pejabat nampak berusaha menahan batuk setelahnya.
Gentayu mengamati perubahan situasi yang terjadi begitu cepat tersebut. Lalu mengangguk-angguk penuh kekaguman. Sepertinya, nama Manik Baya cukup terkenal dan disegani oleh mereka yang berada di ruangan ini.
“Yang Mulia dan hadirin sekalian. Dalam sayembara yang telah dilaksanakan selama dua pekan di hutan seribu iblis, seluruh peserta dinyatakan gagal melewati tantangan..” lapor Manik Baya dengan suara lebih tenang.
__ADS_1
Suara riuh rendah segera mengisi seluruh sudut ruangan. Mereka semua tidak lagi menahan diri untuk tidak berkomentar, sekalipun hanya kepada rekan di sebelah mereka.
Di aula khusus para pangeran peserta sayembara, wajah para penghuninya tertunduk menatap
lantai. Apalagi saat mata para hadirin kini terarah kepada mereka.
“Benarkah begitu, guru?” raja bahkan harus berdiri, guna menenangkan seisi ruangan.
“Sebenarnya, tidak sepenuhnya semua gagal, Yang Mulia!. Ada salah satu yang berhasil. Tapi, sayangnya dia bukan peserta...” kata Manik Baya, sembari kembali duduk di kursinya tidak mempedulikan tatapan tak puas seisi ruangan.
“Apa maksudmu, Begawan guru?” tanya sang raja.
“Semua peserta telah gagal melewati tantangan yang saya buat, Yang Mulia. Tapi, tanpa sengaja ada seorang pemuda yang dengan mudahnya melewati tantangan tersebut, bahkan dia berhasil menyelamatkan rombongan pangeran Jatilaga bersama senoptai Tancawesi. Mereka tak sengaja mengusik kawanan siluman di sana dalam perjalanan menemui saya guna menyampaikan berita bahwa seluruh peserta gagal memasuki hutan.
Sayangnya, meskipun pemuda itu berhasil melewati semua tantangan yang saya buat, saya tak bisa menganggapnya berhasil karena dia bukan merupakan peserta sayembara. Tapi bagaimanapun, dia tetap telah melewati rintangan yang tak mampu dilewati peserta sebelumnya. Saya tak punya wewenang memutuskan, juga tak bisa mengabaikannya begitu saja. Hasil dan keputusan akhir, saya serahkan pada baginda Raja..” jawab Manik Baya dari tempat duduknya.
Di tempat duduknya, Gentayu mulai berkeringat dingin karena menyadari orang yang dimaksud adalah dirinya.
“Bagaimana pendapatmu, Paman Patih Mangkubumi?” tanya raja kemudian kepada lelaki tua di depannya, setelah terdiam cukup lama.
Sang Patih Mangkubumi berdiri, mengahturkan sembah sebelum mulai bicara.
“Gusti prabu. Tujuan sayembara ini adalah unjuk kepatutan dan kecakapan sebagai calon menantu kerajaan. Karena peserta yang mengikuti sayembara seluruhnya gagal, maka seharusnya kita nyatakan saja tidak ada peserta yang layak dalam hal ini.
Mengenai kehadiran pemuda yang disebut Guru begawan Manik sebagai satu-satunya yang berhasil, itu menurut saya tak mengubah apapun. Pemuda itu bukanlah peserta dan kita bisa abaikan hasil apapun yang diraihnya..”
Suara riuh segera kembali terdengar.
__ADS_1
Dari bagian depan di sisi lain sang patih, seorang berpakaian kebesaran dari kerajaan Mangkalayang bangkit berdiri. Mangkalayang adalah sebuah kerajaan tetangga Giri Kencana. Keduanya berbatasan secara geografis dan telah melalui sejarah yang panjang, sebelum akhirnya Mangkalayang menjadi bawahan Giri Kencana.
“Maafkan hamba lancang berpendapat, Yang Mulia. Menurut hamba, fakta bahwa ada orang yang telah berhasil melewati rintangan membuktikan bahwa masih ada orang yang layak menjadi menantu kerajaan..” reaksi hadirin sedikit riuh ketika utusan Mangkalayang ini mengambil jeda sebelum melanjutkan.
“Maka sebaiknya, hamba mengusulkan agar sayembara ini diulang dengan melibatkan pemuda yang diklaim guru begawan sebagai satu-satunya yang layak..”
Orang yang barusan berpendapat adalah Mahapatih Danungraga dari Mangkalayang. Dia hadir mendampingi sang putra mahkota kerajaan sebagai peserta sayembara.
Dianggap tidak layak karena gagal dan dikalahkan oleh seorang yang bukan peserta jelas menyinggung harga diri mereka dan juga peserta lainnya. Maka, secara halus Danungraga mengajukan keberatan atas hasil akhir yang diperoleh dan mengusulkan pelaksanaan ulang sayembara.
‘Melibatkan sang pemuda’ sebagai peserta hanyalah alibi untuk membiarkan seluruh peserta yang gagal bisa kembali mengikuti prosesi sayembara.
Pilihan kata ‘diklam sebagai satu-satunya yang layak’ juga menunjukkan Danungraga sebagai ahli diplomasi ulung yang sangat pandai memainkan emosi lawan bicara. Meskipun sebenarnya Manik Baya tak pernah menggunakan kata tersebut sebelumnya.
Ruangan kembali riuh. Dari ekspresi mereka, tampaknya dukungan atas pendapat Danungraga memenuhi seluruh ruangan.
Danungraga sendiri cukup percaya diri meminta sayembara ulang karena posisi antara
Mangkalayang dan Giri kencana secara kekuatan saat ini tidak terlalu jauh. Satu-satunya yang ditakuti Mangkalayang jika diserang Giri Kencana hanyalah kekuatan sang raja dan kelompok rahasia kerajaan yang konon mampu menaklukkan sebuah kerajaan kecil tanpa melibatkan pasukan perang.
Selain itu, putra mahkota Mangkalayang adalah sosok yang termasuk memiliki kekuatan paling tinggi di antara peserta lainnya. Di usianya yang baru 23 tahun, pangeran mahkota telah mencapai level menengah kekuatan pendekar langit. Sementara rata-rata pangeran seusianya baru berada di level puncak pendekar bumi.
Bukan rahasia lagi, bahwa para pangeran dan putra mahkota terbiasa hidup mewah sehingga membuat mereka menjadi manja.
Dengan keyakinan itulah, Mangkalayang merasa bahwa seharusnya sayembara ini dapat dimenangkan oleh putra mahkota mereka, Karangwangge dengan mudah.
Akhirnya, setelah menerima beberapa masukan dari para pembesar kerajaan, Prabu Jayadilaga memutuskan untuk mengulang sayembara. Gentayu juga terpaksa menjadi peserta sayembara itu, karena dirinya adalah alasan pembenar dilakukannya sayembara ulang.
__ADS_1
Raja sendiri juga tak ingin menyinggung perasaan para utusan kerajaan lain lebih jauh dengan menolak melakukan sayembara ulang secara terbuka, juga segan kepada Manik Baya yang memperkenalkan Gentayu sebagai muridnya jika harus menolak.
Karangwangge dan beberapa peserta nampak mencibir Gentayu setelah mengetahui bahwa Gentayu hanya berada di level pendekar bumi. Bagi mereka, Gentayu tak akan lebih dari serangga pengganggu, dan keberhasilannya sebelumnya hanyalah kebetulan belaka.