
Berkat kelihaian regu merpati dalam mengumpulkan informasi, maka seminggu kemudian regu pemetik mulai menjalankan misi pertamanya. Dalam misi pertama ini, ada tiga tugas yang harus mereka laksanakan dalam waktu hampir bersamaan. Untuk itu, Rambang Dangku membagi regunya menjadi tiga kelompok kecil.
Regu Pemetik memiliki jumlah anggota terbanyak dari seluruh divisi dalam aliansi. Setidaknya ada 57 orang pendekar sakti dalam regu tersebut. Kemampuan rata-rata mereka setara bahkan banyak yang lebih tinggi dari Rambang Dangku Sendiri. Namun begitu, mereka mempercayakan diri untuk diperintah oleh sang mantan Mahapatih tersebut.
Rambang Dangku menugaskan sepuluh orang pendekar untuk mencegat pengiriman upeti dari tiga kadipaten, yaitu Kadipaten Tulang Mesuji, Kadipaten Serelo Pualam, dan Kadipaten Ujung Jambe. Ketiga Kadipaten diketahui memiliki jadwal penyerahan upeti kepada kerajaan dalam dua pekan ini. Misi ini akan dipimpin oleh Lingkis, seorang pendekar bergelar Pendekar Pemecah Karang.
Kelompok Kedua ditugaskan untuk merebut sebuah tambang emas terbesar yang juga menjadi sumber keuangan terbesar kerajaan. Letak tambang emas ini kebetulan berada di kaki gunung Gaba, masih dalam deretan gunung barisan. Secara administratif termasuk dalam wilayah kadipaten Curup Payang. Wilayah ini memang terkenal sebagai penghasil emas terbesar di seluruh kerajaan.
Misi kedua ini dijalankan oleh 32 orang pendekar yang dipimpin oleh Tok Batun atau Pendekar Lengan Seribu. Jumlah pendekar yang diturunkan sangat besar mengingat ketatnya penjagaan dan diketahui tambang emas ini adalah asset terbesar kerajaan. Tentu saja para penjaganya bukan sembarang penjaga serta berjumlah cukup banyak.
Misi ketiga adalah merampok. Iya, benar-benar misi perampokan. Mereka akan melakukan perampokan terhadap lumbung pangan milik tantara Lamahtang yang berada paling luar dari tembok benteng istana.
Barangkali, saat ini hanya Benduriang dan Mahapatih saja yang tahu pasti bahwa Lamahtang memiliki lumbung pangan di daerah terpencil tersebut. Memang demikian adanya, karena persediaan pangan tersebut dirahasiakan keberadaannya dan difungsikan sebagai cadangan saat perang. Mereka berangkat dan dipimpin langsung oleh Rambang Dangku.
++++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ +++++
Siang itu sangat terik. Lima belas orang berpakaian prajurit Lamahtang bersenjata lengkap nampak memasuki pagar kediaman adipati Bayang Keling, pemimpin kadipaten Serelo Pualam. Para penjaga maklum, bahwa hari itu adalah hari para prajurit mengambil upeti dari pemimpin mereka.
Para prajurit Lamahtang yang datang hari itu bukanlah para prajurit dan punggawa yang biasanya datang mengambil upeti kerajaan. Kendati begitu, mereka tetap memakluminya karena di kerajaan saat ini pucuk pimpinan telah mengalami pergantian dengan pemberontakan pangeran ke tiga, Tulung Selangit.
“Oh, kalian datang lebih awal rupanya. Untunglah kami telah menyiapkannya jauh-jauh hari..” Adipati Bayang Keling berbasa basi di hadapan para prajurit tersebut sebelum menyerahkan lima buah peti berisi emas, perak dan bermacam batu mulia di dalamnya.
“Bukankah seharusnya tuan adipati memberikan sepuluh peti? Apakah perintah untuk menaikkan upeti belum sampai pada tuan adipati?” Sang pemimpin rombongan yang berdiri untuk memeriksa seluruh peti mempertanyakan jumlah upeti yang kurang dari seharusnya.
“Maafkan kami, tuan. Tapi, perintah itu datang dan kami terima baru dua minggu yang lalu. Para Bupati tentu butuh waktu untuk mengumpulkan sesuai jumlah yang diminta...” Sang adipati berusaha memberi alasan.
“Alaah!! Sudah! Banyak alasan! Kalau kau berniat membelot dari Yang Mulia Tulung Selangit, maka kami tidak akan segan menumpasmu saat ini Juga! Lagipula, pemimpin kami juga menginginkan kedudukan sebagai adipati yang kau duduki!” berkata dengan nada mengancam, Punggawa pemimpin rombongan itu memerintahkan bawahannya untuk mengangkut peti-peti harta tersebut.
__ADS_1
“Kuberi waktu sampai dua minggu lagi. Bila dua minggu lagi tidak bisa beri kami upeti seperti perintah Yang Mulia raja, maka lupakan kedudukanmu sebagai adipati!” Kata punggawa tersebut sambil mengajak seluruh rekannya pergi meninggalkan tempat itu.
Adipati Bayang Keling nampak geram menerima sikap kasar dari para prajurit itu. Selama ini, para prajurit yang mengambil upeti selalu bersikap sopan karena menyadari bahwa kerajaan Lamahtang ini ditopang oleh kesatuan para adipati yang bersedia tunduk di bawah kendali Lamahtang. Namun sikap berbeda rupanya ditunjukkan oleh raja baru beserta perangkatnya. Mereka memperoleh kekuasaan dengan cara merebutnya dari raja berkuasa. Maka, menggulingkan pejabat selevel adipati bukanlah perkara sulit menurut mereka.
Usai menghilangnya rombongan prajurit tersebut, adipati Bayang Keling segera memberi kode tertentu ke arah bayangan gelap di sudut ruangan. Seketika sesosok tubuh manusia muncul dari balik bayangan tersebut.
“Apa yang perlu hamba lakukan, tuan?” Sosok tersebut membungkuk memberi hormat kepada sang adipati.
“Bereskan mereka! Ingat, tanpa jejak!” Adipati Bayang Keling memberikan perintah sambil tangannya bersedekap. Senyuman licik nampak mengembang di bibirnya.
Tak menunggu lama, sosok tersebut kembali menuju bayangan gelap di sudut ruangan dan menghilang begitu saja.
++++ +++++ ++++ ++++ ++++ ++++ +++++ +++++
Derap langkah kaki kuda menerbangkan debu-debu di jalanan setapak yang membelah hutan bukit Serelo di siang itu. Lima belas ekor kuda mengiringi laju sebuah kereta kuda yang berjalan cukup cepat melintasi hutan. Di dalam kereta, sang Punggawa kerajaan berkumis tebal nampak mengkerutkan dahi sambil mengawasi sisi kanan kereta yang ditumpanginya. Sejak tadi, dirinya merasa seolah ada orang yang mengikuti mereka. Namun sejauh ini, sepertinya itu hanya perasaannya saja. Hingga tiba-tiba ...
‘KRAK!’
Kedua ekor kuda penarik kereta itu terjungkal karena kaki depan mereka dihantam sesuatu. Kereta yang ditariknyapun tak kalah buruk keadaanya. Kereta itu terguling menumpahkan isinya dengan roda-roda yang hancur berkeping-keping.
Sang Punggawa berkumis tebal melompat keluar dari kereta yang kini terbakar.
Para prajurit yang mengawal sebagian sibuk menyelamatkan peti berisi harta, dan sebagian bergerak menghunus senjata masing-masing bersiap menghadapi penyerang yang segera akan muncul.
Namun, sosok yang ditunggu tak kunjung muncul. Justru mereka kemudian dikejutkan dengan suara ledakan di sekeliling mereka disertai desingan senjata yang meluncur cepat menembus jantung-jantung mereka. Sepuluh prajurit meregang nyawa akibat serangan susulan yang belum diketahui siapa pelakunya itu.
Pekik kematian terdengar mengerikan di tengah hutan tersebut. Nyawa sepuluh orang prajurit tercabut dalam hitungan detik.
__ADS_1
“Pengecut! Tampakkan wajahmu! Jangan seperti pecundang!” Teriak sang Punggawa di antara rasa cemas dan marahnya.
Wajar saja Punggawa tersebut cemas. Dari bekas serangan dan dampaknya, dia mengukur diri bahwa kekuatannya mungkin tidak akan mampu menghadapi penyerang misterius tersebut.
“Baiklah.. agar kalian tidak mati penasaran, aku berikan kalian sebuah penghormatan untuk melihat wajahku...” Sosok berpakaian hitam-hitam muncul secara tiba-tiba di atas bangkai kereta kuda yang teronggok begitu saja.
Kemunculannya yang tiba-tiba jelas saja mengejutkan para prajurit yang kini hanya berjumlah lima orang itu. Namun, tampaknya sosok tersebut tidak ingin berbasa-basi lebih jauh. Tanpa disangka, sosok berpakaian hitam-hitam itu melakukan gerakan berputar seperti gasing, dan kembali suara pekikan kematian terdengar dari mulut lima prajurit yang tersisa. Tangan mereka memegangi area leher yang kini telah menancap pisau belati tanpa sempat terlihat kapan dilesatkan.
‘AAAAKKK....!’
Hanya sang Punggawa berkumis tebal yang berhasil menghindari serangan tersebut. Namun tetap saja wajahnya tergores tipis dan memunculkan garis merah yang mengalirkan darah tak lama kemudian.
“Kurang Ajar! Beraninyaaa....!” Punggawa itu marah, namun juga dipenuhi rasa putus asa dan ketakutan di waktu bersamaan.
“Simpan caci makimu untuk para penjaga neraka nanti!” Sosok tersebut berkata dengan dingin, dan entah bagaimana sang Punggawa tiba-tiba roboh di tanah dengan kepala terpenggal.
“Cepat! Amankan seluruh peti-peti ini! Jangan lupa, bagikan satu peti untuk pendudukdesa-desa terdekat!” Sosok itu berkata, dan tak lama berunculan sosok-sosok lain dari rerimbunan semak dan pohon. Mereka bergerak sangat cepat dan segera menghilang tanpa jejak dari tempat itu bersama seluruh peti harta rampasannya.
+++ +++ +++ +++ +++ +++ +++ ++++ ++++ +++ +++ ++++ ++++
“Maafkan hamba, tuanku adipati! Hamba gagal melaksanakan tugas. Para prajurit itu telah tewas seluruhnya, dan peti-peti harta itu telah hilang..” Sosok berjubah hitam melapor kepada Adipati Bayang Keling.
“Apa???!!” Bayang Keling sangat marah mendengar berita itu sampai menggebrak meja di depannya.
“Jangan bilang kau pun tidak tahu siapa pelakunya?!” Bentak sang adipati
Sosok berjubah hitam hanya diam sambil menunduk. Tidak menjawab.
__ADS_1