JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Serangan Ke Istana II


__ADS_3

“Susullah rekan-rekanmu ke neraka!” teriak Pendekar Lengan Seribu.


Tangannya membentang di sisi kiri dan kanan tubuhnya, lalu melipat sejajar bahu, lalu kedua lengannya bersatu di bagian depat tubuhnya, dan ketika kedua lengan itu dipisahkan kembali, sebuah sinar terang keluar di antara kedua lengan tersebut dan menghantam tubuh pendekar dari Kala Merah yang masih disibukkan dengan kedua celurit terbangnya.


‘DASSSH...!’


Suara seperti api yang tersiram air terdengar cukup keras saat sinar terang berwarna putih itu mengenai sasarannya. Tubuh kepala penjaga terpental dan jatuh ke belakang dengan kepala jatuh terlebih dahulu membentur tanah keras pelataran kepatihan.


Pendekar dari Kala Merah itu diam tak berkutik. Namun jelas dia belum tewas karena nafasnya masih terlihat. Dadanya naik turun namun sepertinya dia sudah kehilangan kemampuan untuk bangkit kembali.


“Pendekar aliran putih, pantang membunuh musuh yang sudah tidak berdaya! Namun orang-orang seperti kalian adalah pengecualian..” kata pendekar Lengan Seribu singkat sebelum celuritnya kembali terbang memenggal kepala lawannya.


‘BHUM’!!


Suara keras mengagetkan seisi tembok kerajaan.


Di udara tak jauh dari komplek kepatihan, suara ledakan itu berasal.


Pendekar Lengan seribu mendongak menyaksikan ledakan dari bola api besar terlihat menerangi kegelapan lagit malam. Suasana melam menjadi terang benderang hingga beberapa waktu kemudian, memperlihatkan lima orang yang masih mengawang-awang di angkasa.


‘Mereka ingin berpesta tanpaku?’ gumam pendekar lengan seribu. Dia segera melesat ke arah sumber ledakan bola api besar tersebut. Dua celuritnya melesat mengikutinya dengan berputar di belakangnya, berjarak beberapa senti dari kedua tangannya yang berada di belakang tubuh saat dirinya melesat ke angkasa.


Lima orang pendekar berpakaian serba hitam yang kesemuanya menggunakan penutup wajah mengitari karang Setan. Lelaki tua itu tampak menyunggingkan senyum yang lebih mirip menyeringai.

__ADS_1


Mata sipitnya melirik ke arah pendekar lengan seribu yang baru saja tiba.


“Jadi, kalian sudah lengkap? Empat Ksatria Vajra Dewa dan satu Induk Macan Ompong... Hahahahahahaha.....!!” Karang Setan tertawa keras.


Namun, tawa itu nyatanya mampu menerbangkan atap-atap genteng di sekitarnya ke segala arah. Bahkan api yang semula membakar atap salah satu bangunanpun ikut terbang dan menimpa bangunan lain. Membuat titik kebakaran baru lainnya. Namun lima pendekar yang mengelilinginya sama sekali tidak terpengaruh.


“Iblis Tua! Sebaiknya kau simpan tawamu! Siapa tau kau akan memerlukannya saat menghadap Sang Hyang Pemilik Jagad setelah ini...” Ki Tungkal Anom atau Pendekar Indung Imau berkata dengan nada dingin. Suaranya pelan, namun terdengar oleh semua yang berada di udara saat ini.


Setelah itu, tiba-tiba udara menjadi berat. Suhu udara berubah drastis menjadi sangat dingin. Lalu sedetik kemudian berubah menjadi sangat panas, lalu dingin kembali. Lebih dingin dari sebelumnya.


Perubahan udara yang sangat cepat itu diikuti dengan terbentuknya enam pusaran angin di bawah kaki-kaki ke enam pendekar yang saling berhadapan tersebut.


Karang Setan sendiri, tubuhnya kini telah diselimuti cahaya putih keunguan yang memancarkan hawa panas dan beracun. Sedangkan kelima lawannya yang mengepungnya, masing masing mengeluarkan cahaya Kebiruan, merah dan putih dengan aura yang tak kalah kuat.


Perlahan, kerikil-kerikil terlihat terangkat ke udara. Berikut atap-atap terbuat dari genteng, kayu penyangga atap, bahkan senjata para prajurit beserta mayat-mayat mereka ikut terangkat naik. Cahaya putih keunguan yang memancar dari tubuh Karang Setan semakin menyala terang seiring makin kuatnya daya angkat terhadap benda-benda di sekitar tempat tersebut.


Terbentuk sebuah gumpalan besar benda-benda yang telah terangkat di atas kepala Karang Setan. Jauh Lebih besar beberapa kali dari lingkaran yang terbentuk oleh lima orang pendekar mengitari Karang Setan.


Karang Setan menjentikkan jarinya.


Puing-puing, sampah, genteng, senjata, kerikil dan apa saja yang telah terangkat tersebut kemudian bergerak berputar, lalu meluncur cepat bagian perbagian ke arah para pendekar yang disebutnya sebagai Vajra Dewa tersebut.


Para Pendekar tersebut hanya menepis seperlunya benda-benda yang meluncur deras ke arah mereka secara bergantian. Kecepatan mereka menangkis sangat cepat. Namun, serangan yang diluncurkan ke arah mereka jauh lebih cepat beberapa kali.

__ADS_1


Benda-benda yang ditangkis tersebut meluncur cepat ke berbagai arah. Mengakibatkan banyak rumah dan gedung roboh terkena imbasnya. Bahkan bangunan kepatihan kini telah hancur bagian depannya akibat benda-benda yang melayang dan ditangkis mengenai kediaman Karang Setan tersebut.


“Kalau begini, bukankah rumahmu itu lama kelamaan akan hancur, iblis tua??” Kali ini Pendekar Pedang Hantu yang tersenyum mengejek, berusaha memancing emosi Karang Setan. Namun Karang Setan hanya melirik sebentar. Tidak peduli.


Tangan kanan pendekar legendaris aliran hitam itu masih tersimpan di belakang punggungnya. Hanya telunjuk tangan kirinya yang terus bergerak mengarahkan serangan puing tersebut. Kelima Pendekar lawannya juga masih belum bergeming. Menepis serangan dengan sikap tak kalah santai.


Namun, walaupun terlihat tenang dan santai, kerusakan bangunan di bawah kaki mereka semakin parah. Bangunan Kepatihan kini telah rusak separuhnya, sementara bangunan lain di sekitarnya bernasib lebih buruk.


“Baik, kita akhiri main-mainnya..!” Tiba-tiba karang setan mengarahkan seluruh sisa puing puing yang terus berputar di atas kepalanya ke arah pendekar wanita di sisi kirinya.


‘BRAK!!’


Suara keras tabrakan terdengar.


Puing-puing tersebut buyar ke segala arah saat menabrak tubuh pendekar wanita tersebut. Namun, bersamaan dengan terlemparnya puing-puing itu, cahaya putih keunguan menabraknya sesaat kemudian.


Itu adalah tubuh Karang Setan yang melesat sangat cepat. Terlihat sebagai cahaya putih keunguan, menyerang Pendekar perempuan yang tak lain adalah Ratna Mangali, Sang Pendekar Bangau Emas dari Gunung Sungai Udang. Perempuan itu berusaha menahan serangan tapak Karang Setan, namun tubuhnya harus terhempas ke bawah, meluncur dengan cepat mendahului puing-puing yang juga tengah meluruh ke bawah. Tubuhnya menabrak tembok rumah warga yang langsung roboh seketika.


Karang Setan sendiri termundur beberapa depa akibat benturan tenaga dalamnya sendiri dengan pendekar wanita itu. Sedikit kaget, karena seharusnya wanita itu tidak akan mampu menahan serangannya bahkan membuatnya termundur dan nyaris terjatuh dari ketinggian.


Belum sempat menyeimbangkan tubuhnya, Karang Setan harus menerima dua serangan serentak dari sisi kanan dan belakangnya. Sisi kanan, Pendekar Lengan Seribu dengan celurit kembarnya yang nyaris tak terlihat di tengah gelapnya malam menyasar kepala dan kaki Karang Setan. Dari arah belakang, Pendekar berjuluk Tiung Perak Menghujaninya dengan puluhan jarum kecil yang selalu meledak saat berhasil ditangkis, dan meledakkan jaringan tulang saat menancap di tubuh.


Karang Setan yang terkenal bertubuh kebal dibuat kerepotan oleh serangan bertubi-tubi itu. Beberapa kali matanya terkena ledakan dari jarum-jarum kecil yang melesat luar biasa cepat. Meskipun tidak membuatnya terluka, namun efektif membuat matanya seperti buta hingga beberapa saat.

__ADS_1


Di sisi lain, Celurit kembar milik Pendekar Lengan Seribu nyatanya membuat ilmu kebal Karang Setan sama sekali tidak bekerja. Dengan penuh percaya diri, Karang Setan awalnya menangkis celurit-celurit yang mengicar wajah dan lehernya dengan tangannya. Namun ternyata, darah mengucur saat tangannya menangkis senjata yang seolah memiliki fikirannya sendiri tersebut.


Tak ingin kehilangan momentum, dari arah depan meluncur senjata serupa rantai. Membelit dan mengunci gerakan Karang Setan. Bukan hanya itu, rantai itu juga ternyata menghisap kekuatannya dan mengalirkannya kepada sang pemilik, Pendekar Tali Jiwa.


__ADS_2