JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Tubuh Dewa Api


__ADS_3

Segera, setelah menyelesaikan usahanya mendapatkan 7 tangkai kelopak teratai bulan Anjani bergegas kembali ke rumah goa di mana Gentayu tengah dirawat.


Berbeda dengan saat berangkat yang terlihat bersemangat, Anjani kini terlihat lesu.


Tak ada sorot ceria pada matanya sebagaimana biasa terlihat selama sepuluh hari terakhir. Jelas tampak bahwa gadis itu tengah menanggung sebuah beban berat dalam fikirannya. Iya, kekhawatiran dan rasa cemas akan kehidupan Gentayu selanjutnya!


Tiba-tiba, Anjani merasa terasing sebagai batu trisula di Dipantara lebih baik daripada di sini, di dunianya sendiri. Kampung halamannya.


“Apa yang mengganggu fikiranmu, gadis manis?” Sebuah suara dengan aura menenangkan terdengar di belakang punggung Anjani. Ternyata, sang tabib telah berada kembali di kediaman goa batunya.


“Mmm.. tidak, nek. Tidak ada apa-apa, nek..” sangkal Anjani, berusaha menutupi perasaan tertekannya.


“Apakah kau menemui kendala saat mengumpulkan tanaman-tanaman obat ini? Nenek lihat, wajahmu kusut sekali..” sang tabib tua mencoba menebak-nebak apa yang terjadi dan dialamai Anjani.


Kalimat terakhir itu diucapkannya sembari tangannya, dengan lincah meracik dan mengolah seluruh tanaman obat yang dikumpulkan Anjani menjadi bubuk dan bubur aneka warna.


“Nek.. “ tiba-tiba Anjani memutuskan untuk memberanikan diri menanyakan beberapa hal yang dirasakan mengganjal hatinya.


“Hmm?” hanya itu kata yang keluar dari tabib itu sebagai jawaban.


“Hamparan tanaman obat di bawah goa ini, juga di beberapa areal gunung ini, kenapa nenek batasi dengan dengan pinang, Nek?” Anjani tidak berani untuk langsung menanyakan, lebih tepatnya protes terhadap kejadian yang dialaminya di kolam teratai bulan. Sebagai gantinya, dia justru menanyakan hal yang menurutnya tidak terlalu penting demi mendekatkan pada maksudnya selanjutnya.


“Kenapa tidak kau mulai pertanyaanmu dengan menanyakan nama nenek, hah?” jawaban si tabib berhasil menusuk telak dan menghunjam jantung Anjani. Membuat kulit kepalanya mati rasa. Rasanya, saat ini mukanya memerah seperti udang rebus karena malu! Bagaimana mungkin dia justru tidak menanyakan hal sepeting ini?


“Ehm.. maaf nek.. Ss.. ssaya..” Anjani berkata dengan terbata. Gugup. Namun justru gagal menjawab si tabib.


“Aku sepertinya harus menjelaskan beberapa hal padamu, Anjani..” sang tabib berkata pelan, namun matanya tetap fokus pada proses peracikan obatnya.

__ADS_1


Kalimat sang tabib sekali lagi menampar Anjani. Bagaimana dan darimana wanita tua ini mengetahui namanya sementara dirinya tidak mengetahui nama sang tabib? Bahkan setelah sepuluh hari lebih tinggal di rumahnya, dan menikmati segala fasilitasnya?


Mukanya, sekali lagi memerah karena malu. Sebagai generasi muda, dia merasa sangat tidak beretika!


“Aku dikenal sebagai husada madya Suntari. Suntari adalah namaku, dan Husada Madya adalah julukanku, gelar bagi ahli obat dan tabib level madya di tempat ini. Aku bukanlah satu-satunya ahli obat di penghusada di tempat ini. Ada sekitar 40 orang sepertiku, dalam berbagai level..” tabib tua bernama Suntari ini memberi jeda sejenak pada perkenalannya ketika melihat kening Anjani berkerut.


“Mmak.. sud nenek..?” Anjani tak meneruskan kalimatnya, matanya perlahan melirik keluar, diiringi jari jempolnya yang juga menunjuk keluar, ke arah hamparan tanaman obat yang setiap areanya dibatasi deretan pohon pinang.


“Iya.. aku adalah anggota kelompok penghusada atau ahli pengobatan dari padepokan Pinang Emas.. Boleh dibilang, aku saat ini berada di level tertinggi kedua, di bawah kepala balai obat padepokan. Selain balai Obat, padepokan kami memiliki dua balai lainnya, yaitu balai ksatria dan balai Senjata..”


Penjelasan singkat wanita tua itu, berhasil membuat mulut anjani membentuk huruf O. Meskipun singkat, tapi penjelasan itu mampu menerangkan banyak hal yang sebelumnya mengganjal.


“Apakah diperlukan medali khusus nek untuk mengambil tanaman obat di area selain area nenek sendiri, seharusnya?” tanya Anjani lebih lanjut.


Mengetahui bahwa saat ini berada di wilayah padepokan Pinang Emas, membuatnya berfikir bahwa setiap kawasan memiliki aturan khusus tersendiri. Kemungkinan, menurutnya, medali yang diminta oleh makhluk berlendir mirip manusia di kolam teratai berkaitan dengan identitas padepokan.


Hingga sesaat kemudian, dia menoleh dengan mata menyipit dan kening berkerut “ Eee..Medali? Tunggu.. apa yang kau maksud ini medali masuk ke kawasan kolam teratai? Kau diminta untuk menunjukkan medali?” Suntari seolah-olah melupakan sesuatu yang penting dalam kalimatnya.


“iya nek..”


“Hmmph! Siapa yang lancang merasa kolam itu miliknya? Kolam itu adalah kolam teratai terbengkalai! Pasti ada murid usil yang tak sengaja menemukanmu lalu membuat dalih macam-macam! Apa dia memerasmu? Meminta sesuatu padamu? Barang? Uang? Atau…” Mata Suntari berubah menjadi merah. Campuran emosi marah dan kesal nampak di wajahnya yang tak sedap dipandang.


“Aku akan memberinya pelajaran! Jelaskan ciri-cirinya! Dari balai mana dia berasal? Asal kau tahu, nak.. Kami di balai obat, meskipun secara kekuatan fisik dan kemampuan tempur di bawah balai lainnya, tapi strata dan kedudukan kami lebih tinggi dari balai manapun!” Kemarahan tampak mulai menguasai Suntari, bahkan sebelum Anjani menjelaskan apapun.


‘Ternyata, tabib tua terlihat penyabar ini aslinya pemarah..’ batin Anjani.


“Ciri-cirinya.. badannya hijau..”

__ADS_1


“Badannya Hijau?? Pakaiannya maksudmu?” Kembali, Suntari memotong penjelasan Anjani.


“Tidak nek, badannya Hijau.. benar-benar hijau dan.. dan berlendir..” Anjani berusaha menjelaskan dengan raut mata tegang.


Awalnya, dia sempat menduga setelah mengetahui bahwa seluruh tempat ini adalah wilayah padepokan Pinang Emas, makhluk aneh di kolam teratai adalah salah satu penjaga area penting padepokan. Kini, setelah melihat ekspresi Suntari, Anjani menjadi ragu.


Mendengar ciri-ciri makhluk yang disebutkan sebagai berbadan hijau dan berlendir, membuat ekspresi Suntari berubah. Dia bahkan memandangi Anjani dari ujung kepala ke ujung kaki, lalu kembali lagi dari ujung kaki ke ujung kepala. Berusaha menemukan kejanggalan, mungkin sempat terfikir olehnya bahwa Anjani mengalami halusinasi ketika melewati bagian tanaman beracun di salah satu kebun sepanjang perjalanan.


Namun, Suntari tidak menemukan sama sekali gejala keanehan yang dicarinya.


“Kau tidak sedang mabuk akibat tanaman bercaun ‘khan?” tanya Suntari seolah tidak percaya.


Anjani hanya menggeleng. Tampaknya, kesialan baginya hari ini bertemu dengan makhluk buas yang mengancam hidupnya dan Gentayu adalah sesuatu di luar kewenangan padepokan sekalipun. Maka Anjani memilih untuk tidak menjelaskan lebih lanjut.


“Barangkali, maksudmu adalah murid-murid yang sedang beredam di kolam dan terselimuti oleh lumut hijau?” Suntari masih mengira bahwa semuanya hanya dilakukan oleh murid-murid usil padepokan.


Seingatnya, kolam itu memang kolam terbengkalai. Tidak memerlukan izin khusus apapun untuk memasukinya. Apalagi meminta identitas khusus.


Anjani hanya menghela nafas panjang, lalu menggeleng. Sementara Suntari, melanjutkan proses akhir peracikan obatnya!


“Berhasil!!” tiba-tiba Suntari berteriak kegirangan, mengejutkan Anjani.


“Dengan ini, seharusnya temanmu ini bisa pulih, dan mendapatkan manfaat maksimal dari tubuh khusus dewa apinya..!” Seru Suntari dengan mata berbinar, tangannya memegang larutan obat dalam wadah tanduk.


Anjani terbengong, sama sekali tidak mengerti.


“Tubuh Dewa Api??”

__ADS_1


__ADS_2