JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kraken Merah II


__ADS_3

Pedang di tangan Chizua sebenarnya sangat besar untuk ukuran manusia normal. Namun di tangan perompak wanita itu, pedang besar tersebut nampak seringan gagang sapu saja.


Benar, wanita itu memang sangat kuat terlepas dari tubuhnya yang terlihat ramping menggoda. Kekuatan besarnya terlihat mencolok saat pedang besar itu menyapu ke arah Ryutaro.


Tak peduli apakah itu tusukan maupun tebasan, hanya angin dari gerakannya saja mampu membuat manusia biasa terlempar jauh. Dan itulah yang dialami beberapa warga yang terlambat menyingkir dari arena pertarungan keduanya.


Dari waktu ke waktu, Chizua melepaskan serangan untuk mendesak Ryutaro. Di sisi lainnya, Ryutaro memperlihatkan gerakan yang sedikit kaku. Sepertinya mantan panglima perang itu butuh sedikit waktu untuk membiasakan kembali menggerakkan tubuhnya.


Dalam sebuah kesempatan, sebuah serangan beruntun dari gerakan tebasan ganda pedang Chizua nyaris menebas leher Ryutaro. Ryutaro memang sedikit terlambat mengantisipasi tebasan beruntun tersebut, tapi secara kebetulan saat itu kaki Ryutaro justru terpeleset tanah licin di bawahnya sehingga nyawanya terselamatkan walau secara tidak sengaja.


Jarak mata pedang itu dengan lehernya hanya seujung rambut saat itu. Bahkan, tanda merah seperti goresan tertinggal di leher Ryutaro. Itu adalah angin dari udara yang terdorong oleh gerakan pedang Chizua.


Tak sempat sekedar bernafas lega setelah lolos dari maut, Ryutaro dipaksa untuk menangkis puluhan tebasan beruntun berikutnya.


Ryutaro terpaksa menangkis serangan-serangan beruntun pedang Chizua tanpa menggunakan senjata apapun. Dia hanya bisa menggunakan penutup lengan logam bagian dari baju Zirahnya sendiri sebagai perisai. Akibatnya, baju zirah berusia ratusan tahun itupun tercabik menjadi serpihan-serpihan di bagian lengannya.


“Sial!”


Ryutaro mengumpat.


Ini adalah hari pertamanya dapat merasakan kehidupan menjadi manusia normal kembali, namun dirinya sudah harus berhadapan dengan seorang pendekar pedang yang sangat kuat seperti ini.


Mendapati kondisinya kurang menguntungkan bila terus bertarung tanpa menggunakan senjata apapun, Ryutaro segera melompat mundur untuk membuat jarak dan mengambil jeda.


Tapi, Chizua adalah tipe pendekar perempuan yang bekerja dengan efisien. Tentu saja dia tidak akan memberikan kesempatan lawannya untuk menggunakan trik pertarungan maupun membiarkan musuhnya leluasa mengeluarkan senjatanya.

__ADS_1


Ryutaro segera menyadari, lawannya ini bahkan tidak akan sanggup dihadapi oleh level tertinggi kependekaran di dunia ini yaitu level Pendekar Sakti bergelar. Dan sejauh ini, melihat dari keadaannya yang terus didesak membuktikan kebenaran asumsinya. Setidaknya, Ryutaro dalam kehidupannya yang kedua ini pasti lebih kuat dari seorang pendekar sakti bergelar biasa.


Sebuah serangan energi pedang melesat ke arah kaki Ryutaro ketika wanita itu melompat sembari berputar bersama pedangnya menebas ke arah sang mantan panglima perang hidama itu, memaksa Ryutaro melompat ke udara dan bersalto menghindarinya.


‘Zink!’


Tepat saat tengah berada di udara, bersalto dan kakinya belum sempat menapak tanah kembali, sepuluh tebasan energi pedang Chizua yang lain telah dikirimkan Chizua dan menghujaninya berturut-turut. Tanpa jeda.


Salah satu dari sepuluh tebasan Chizua itu gagal dihindari Ryutaro.


‘Crash!’


Sebuah luka menganga tercipta di lengan bagian atas tubuh Ryutaro. Darah segera mengalir dari luka terbuka tersebut.


Meringis sakit dan terkejut, Ryutaro mengernyitkan dahinya dengan penuh keheranan sambil melihat goresan panjang di pangkal lengannya. Matanya terbelalak mengetahui teknik Perisai Naga Api miliknya sama sekali tidak bekerja, bahkan setelah tubuh kasarnya bersatu dengan rohnya.


Saat Ryutaro menoleh ke arah lukanya sejenak itulah, sebuah benda berkilat meluncur cepat ke arahnya. Sebuah pedang!


Memejamkan mata dengan pasrah karena tak mungkin sempat mengelak, selintas fikiran bahwa dirinya memang akan berakhir muncul begitu saja di benaknya.


‘Trank!’


Pedang yang hanya beberapa senti meter menyentuh kulit leher Ryutaro itu hancur berkeping-keping begitu saja.


Sekalipun sulit terlihat mata biasa, tapi jelas terdengar suara sebuah benda telah menghantam pedang yang meluncur itu. Menabraknya dan menghancurkannya berkeping-keping. Bahkan, gagang yang masih digenggamannya ikut terlepas.

__ADS_1


Awalnya, Chizua menyadari Ryutaro tengah kehilangan konsentrasi karena lukanya. Lalu wanita itu memanfaatkan momen yang terbuka tersebut dengan melancarkan serangan-serangan lain yang lebih ganas secara beruntun tanpa jeda.


Serangannya cepat dan akurat, dan seharusnya mampu mengakhiri perlawanan Ryutaro saat ini andai tidak terjadi hal mengejutkan ini. Tusukannya yang sebenarnya bermuatan energi daht dalam konsentrasi tinggi telah diblokir begitu saja oleh pihak lain.


Menoleh ke arah sumber serangan terhadap pedangnya, Chizua hanya menemukan seorang pemuda berjalan santai saat keluar dari rumah Mamoto. Dialah Gentayu.


Tanpa mempedulikan penduduk desa yang menurutnya menyebalkan itu, Gentayu segera melompat dan berlari di udara di antara kepala para warga desa. Nampak tidak sopan sepertinya menjadikan kepala dan bahu orang lain sebagai pijakan, sekalipun kakinya tidak benar-benar menapak pada kepala dan bahu mereka, namun itulah yang dilakukan Gentayu sebelum mendarat tepat di antara Chizua dan Ryutaro.


Menyadari kemunculan pendekar lainnya ke dalam arena pertempuran, dua orang perompak lainnya segera menghambur menerjang ke arah Gentayu.


Kedua orang itu adalah Ashara dan Agira. Ashara. Ashara bersenjatakan rantai dengan ujung menggantung sebilah pedang berbentuk mirip celurit, sementara Agira menggunakan tombak perak sebagai senjata dan keahliannya.


Keduanya, tampak jauh lebih kuat dari Chizua, namun jelas masih bukan tandingan Gentayu. Dalam tiga gerakan, kedua perompak telah dikirim terbang melalui tendangan Gentayu. Bukan hanya itu saja, pada bekas tendangan keduanya, masing-masing tercetak cap alas kaki Gentayu dan masih mengepulkan asap putih.


Ashara menerima tendangan di dadanya. Mengakibatkan pakaiannya terbakar dan membentuk cap sepatu di tubuhnya dengan aroma daging bakar menyengat. Sementara Agira sedikit lebih beruntung karena berhasil memblokir tendangan dengan kedua tangan disilangkan menutup celah. Akibatnya, kedua tangannya juga mengalami luka hangus terbakar.


“Dia.. dia.. sepertinya pemu.. da inih.. lebih kuat dari panglima!” Agira segera menangkap sinyal bahaya dari lawannya kali ini. Berbicara sambil menahan sakit, Agira menyampaikan pendapatnya saat keduanya sama-sama sedang berusaha bangkit berdiri setelah terlempar puluhan meter akibat tendangan Gentayu.


Mereka telah berpetualang menjelajah lautan dan merampok puluhan kapal sepanjang tahun. Tak terhitung ratusan pendekar telah mereka habisi dalam aksinya. Namun di hadapan pemuda ini, bahkan dalam tiga gerakan tak lebih mereka dirobohkan dengan luka serius.


Menyadari situasi tidak memungkinkan, Doraku yang sepertinya ditunjuk sebagai pemimpin misi memerintahkan ketiga anggotanya untuk mundur. Sayangnya, semuanya terlambat.


Tubuh Ashara dan Agira tiba-tiba meledak begitu saja saat keduanya berhasil bangkit. Mengejutkan semua orang.


“Ahh..Apa-apaan ini?!” Bergidik ngeri, Doraku membelalak tak percaya melihat rekannya yang awalnya terlihat masih bisa bangkit walau terluka kini telah berubah menjadi serpihan tulang, daging dan darah di depan halaman rumah Mamoto.

__ADS_1


Tak jauh dari mereka, bahkan Chizua masih mematung di tempatnya akibat syok.


__ADS_2