JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kraken Merah III


__ADS_3

‘BLAR!’


Sebuah ledakan terdengar di udara, tepat di tengah-tengah arena pertempuran Gentayu dan Ryutaro melawan tiga perompak sebelumnya.


Ledakan itu terjadi dengan tiba-tiba di tengah-tengah jeda pertempuran setelah kematian Ashara dan Agira. Mengagetkan bukan hanya Gentayu dan Ryutaro, namun juga semua yang menyaksikan pertarungan.


Cahaya membutakan dihasilkan oleh ledakan setinggi kurang dari sepuluh meter dari tanah tersebut.


Ternyata Gosite, satu di antara lima pimpinan perompak secara diam-diam memicu sebuah benda berbentuk tabung panjang di tangannyayang menghasilkan ledakan memekakkan telinga dan cahaya membutakan mata  di udara.


Jelas dia melakukan hal itu karena menyadari bahaya mengancam kawanan perompak setelah menyaksikan


kematian dua rekannya hanya dalam waktu beberapa saat mereka tiba di desa


nelayan ini.


Gentayu dan Ryutaro yang terluka lengannya secara reflek menoleh ke arah sumber suara ledakan di langit. Akibatnya, mata mereka mengalami kebutaan sesaat oleh cahaya menyilaukan itu. Demikian juga


para warga desa yang menyaksikan pertarungan tersebut.


Saat mereka mendapatkan kembali penglihatannya sekitar lima detik kemudian, para pimpinan perompak telah menghilang dari tempatnya.


Hanya tersisa dua mayat perompak yang sebelumnya  tewas oleh Gentayu, sedangkan tiga lainnya telah


menghilang. Bahkan, Chizua yang terlihat mematung syok sebelumnya karena menyaksikan


tragisnya kematian kedua rekannya juga telah menghilang.


“Mereka Kabur?” Tanya Gentayu keheranan sembari menyapukan pandangannya ke arah kedatangan para perompak sebelumnya, pelabuhan.


Namun para pimpinan perompak tersebut benar-benar tak terlihat seolah menghilang tanpa jejak.


Sekitar lima detik berikutnya, barulah Gentayu dan Ryutaro menyadari sesuatu lainnya.


Bukan hanya lima pimpinan perompak tersebut yang menghilang, bahkan ratusan anggota mereka yang beberapa saat lalu terlihat turun dari kapal dan berlari menyerbu ke arah desa juga turut menghilang!


“Awas! Ini  Ilusi!” Gentayu berteriak sembari melepaskan aura bertarungnya dalam kekuatan penuh.


Aura seorang pendekar langit di tingkat puncak segera meledak dari tubuh Gentayu, dan melingkupi seluruh area tersebut!


Akibatkuatnya aura tersebut memancar, seluruh warga desa segera kehilangan kesadaran. Ryutaro sendiri bahkan kesulitan bernafas karenanya.


Pendekar  langit jelas belum pernah mereka temukan sebelumnya dalam hidup mereka.


Bila aura seorang pendekar sakti bergelar saja mampu membuat mereka merasa tercekik hampir mati, apalagi aura kekuatan pendekar langit yang puluhan kali lipat lebih dahsyat.


Saat itu juga, dari pengaruh kuatnya aura Gentayu,  suara retakan seperti kaca mau pecah terdengar. Dan pada detik berikutnya..

__ADS_1


‘Prank!!’


Suara kaca pecah benar-benar terdengar keras.


Seolah tabir yang terungkap, bersamaan dengan suara kaca pecah tersebut keberadaan para perompak yang tengah berlarian kembali menuju kapal  segera terlihat. Padahal, sebelumnya mereka seolah menghilang begitu saja.


‘Menarik!’


Gentayu menyunggingkan senyum dingin ke arah para perompak.


Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan benda ajaib yang mampu menghilangkan jejak keberadaan begitu banyak manusia.


Manipulasi penglihatan.


Tampaknya, para perompak ini memiliki banyak trik di balik lengan bajunya untuk bisa lolos dari maut.


Selang waktu antara ledakan membutakan di langit dan kembali terlihatnya pergerakan para perompak hanya berselang sekitar sepuluh detik lamanya. Namun, waktu singkat  tersebut lebih dari cukup untuk digunakan parapimpinan perompak meloloskan diri.


Benar saja, sebuah siluet nampak di langit.


Sebuah ‘kendaraan’ aneh tampak melayang di langit dengan tiga penumpang di atasnya. Bergerak menjauh ke tengah lautan lepas di ketinggian. Penampilan mereka saat ini tak lebih dari hanya titik sebesar


ujung kelingking di angkasa.


“Apakah kita harus menghabisi mereka?” Suara Ryutaro terdengar.


Siap melarikan diri..


“Kenapa tidak? Mereka pasti telah banyak membuat kekacauan dan meneror warga sepanjang pesisir. Belum lagi para pedagang yang tengah berlayar. Dilihat dari betapa makmurnya mereka saat ini, korban


mereka pasti sudah sangat banyak. Kau ingin menghabisinya sendirian atau butuh aku untuk membantu?” kata Gentayu.


“Hmh..! setelah kufikir-fikir, karena ini masalah orang Hidama, akan lebih memuaskan jika aku bergerak sendiri!” Ryutaro mendengus dingin.


Terlepas dari luka sayatan di pangkal lengannya akibat pedang Chizua, staminanya masih menyala-nyala.


“Sekalian ini bisa menjadi sarana latihan melemaskan otot-otot tuaku yang masih kaku..!” lanjut  Ryutarosembari menyeringai dengan mata menyipit ke arah kerumunan perompak di kejauhan.


“Baiklah kalau begitu. Kamu urus para kroco ini. Aku akan menangani tiga pemimpin yang kabur itu” Kata Gentayu sembari tersenyum  memandang ke angkasa di mana tiga pimpinan perompak kini


hanya terlihat sebagai titik hitam di angkasa.


 Detik berikutnya, tubuh Gentayu telah melesat seperti burung alap-alap memburu mangsa. Meluncur menuju angkasa guna mengejar tiga pimpinan perompak yang mencoba melarikan diri.


Di sisi lain, Ryutaro juga segera menggunakan langkah cepatnya dan berlari menuju pelabuhan dengan pedang terhunus di kedua tangannya. Kedua pedang itu berada di kedua sisi tubuhnya.


Teknik langkah cepat milik Ryutaro membuatnya terlihat melayang di atas tanah, dan hanya butuh waktu kurang dari tiga tarikan nafas baginya mengejar kelompok terdepan dari para perompak sebelum mendarat di geladak kapal.

__ADS_1


Para perompak yang telah berhasil mencapai kembali di geladak kapal tidak mengira bahwa upaya pelarian mereka akan sia-sia. Ketika melihat sosok Ryutaro telah menghadang di depan mereka, rasa frustrasi segera merayap di hati sebagian besar perompak.


“Ingin kabur setelah berusaha memanjat kepalaku? Mimpi!!”


Ryutaro meraung marah sembari melepaskan niat membunuh ke udara. Diikuti kemudian dengan gerakan


tubuhnya menabrak kerumunan perompak yang berebutan untuk naik ke geladak dari tangga di bawah.


Kedua pedangnya berkelebat  cepat menebas tubuh para perompak terdekat darinya, meninggalkan jeritan kematian di setiap gerakannya.


Beberapa kepala segera menggelinding di geladak kapal tersebut, diikuti tumpahan darah yang terus meningkat.


Para perompak itu jelas tidak siap dengan serangan yang tiba-tiba tersebut. Namun, sepertinya


nasib mereka telah tersegel.


Ryutaro bergerak dengan sangat cepat dan efisien. Kecepatannya nyaris tak bisa diikuti oleh mata


lawan-lawannya.


Setiap gerakan  tebasan pedangnya, pasti ada nyawa yang tercabut.


Jumlah mayat bertumpuk semakin banyak di sepanjang lintasan gerak Ryutaro, genangan darah segera terbentuk dan bau anyir menyeruak tak lama kemudian.


Perasaan ngeri segera merayap memenuhi benak setiap perompak yang tengah mengantri untuk naik ke


kapal saat mereka menyaksikan satu demi satu rekan mereka di atas geladak jatuh tanpa nyawa lagi. Bahkan mereka tewas sebelum  bisa bergerak untuk sekedar mencabut pedang dan senjata mereka.


Nyaris tanpa perlawanan berarti, karena begitu cepatnya Ryutaro bergerak diiringi dengan kekuatannya yang besar. Peluang para perompak itu  sekedar untuk bergerak membela diri pun nyaris nol.


Hanya dalam waktu kurang dari lima nafas berikutnya, Geladak telah dibanjiri oleh genangan merah dari darah para perompak. Tak kurang dari empat puluh mayat saling bertumpuk dengan berbagai sayatan dan tebasan. Sebagian besar di antaranya dengan kepala  terpenggal.


Kengerian itu begitu nyata di mata para perompak di bawah yang tersisa.


Tanpa dikomando, mereka segera berlari tunggang langgang menyebar ke segala arah menjauhi kapal. Merusaha menghindari kematian yang nampak jelas di depan mata.


Mereka semua berlarian menyebar ke berbagai arah. Sebagian besar melarikan diri mengikuti garis


pantai, berharap terselamatkan setelah memasuki hutan bakau di sekitar daerah tersebut.


 Beberapa lainnya nekat memutuskan menceburkan diri ke laut, lalu berenang.


Sebagian lagi bahkan ada yang lebih nekat, kembali ke perkampungan. Jelas bagi mereka, dimangsa


hewan laut atau dihakimi warga desa terasa lebih baik daripada jatuh ke mata pedang monster di atas geladak.


Tapi upaya para perompak untuk menyelamatkan diri  akhirnya sia-sia saat beberapa pedang terbang menyerang . Pedang-pedang itu  mengejar dan menutup jalur pelarian  mereka, meninggalkan rasa putus asa di hati ~~~~para perompak yang sesaat lalu serasa menemukan harapan.

__ADS_1


__ADS_2