JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Perkampungan Raja


__ADS_3

Gentayu dan Benduriang yang menggendong pangeran Lokajaya akhirnya tiba di desa kecil bernama Air Kati setelah menyusuri tepi hutan yang berupa daerah rawa tersebut. Jarak antara Muara Sabak dengan desa kecil ini ternyata tidak terlalu jauh, karena hanya dipisahkan oleh hutan dan rawa-rawa saja. Gentayu sebenarnya tak enak hati membiarkan Benduriang menggendong sendiri pangeran Lokajaya, tapi anak itu memang tidak mau digendong Gentayu.


Hari sudah lewat tengah hari saat ketiganya tiba di rumah sederhana yang tampak belum lama dibangun. Itu adalah rumah yang digunakan untuk tinggal sementara raja Prabu Menang bersama permaisuri. Sementara Mahapatih, Panglima Wiratama, beberapa senopati berikut prajurit yang mereka miliki membangun pemukiman mengelilingi rumah tersebut dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Tujuannya adalah sebagai pagar betis sekaligus pengamanan bagi raja dan permaisuri sekalipun saat ini mereka sedang dalam penyamaran.


Para prajurit Bhayangkara atau pengawal raja menyambut keduanya dengan hormat. Tentu saja mereka berpenampilan layaknya warga desa biasa, tak terlihat sama sekali sebagai pendekar apalagi sosok prajurit. Salah seorang di antara prajurit mengantarkan Senpati Benduriang dan Pangeran Lokajaya ke halaman belakang, sedangkan Gentayu lebih memilih untuk diantarkan ke kediaman ayah angkatnya, Pangeran Wiratama.


Di halaman belakang, tampak sang raja Prabu Menang dan istrinya sedang belajar menjadi petani di bawah bimbingan kepala dusun yang setiap hari selalu menemani sang raja selama raja tersebut mulai tinggal di desanya. Hari ini, sang raja dan permaisuri yang kini berpenampilan tidak lebih bagus dari kepala dusun itu sedang mencangkuli halaman belakang untuk ditanami singkong sebagai bahan pangan. Tentu hal itu menjadi sesuatu yang berat dan melelahkan bagi raja dan permaisuri yang selama ini tinggal di istana dengan fasilitas lengkap. Namun begitu, sang raja bersikukuh untuk hidup sebagaimana warga biasa, tanpa pelayanan kecuali dari istrinya.


Sang Permaisuri, Ratu Halang Sari begitu bahagia saat berjumpa dengan putranya, pangeran Lokajaya. Tangis dan haru segera menyelimuti suasana terik siang itu di halaman belakang kediaman sang raja. Bagaimanapun, mereka bersyukur masih bisa selamat dari huru-hara dan pembantaian di dalam istananya sendiri sekalipun kini mereka harus belajar hidup prihatin menjadi warga biasa.


Tak lama kemudian, Benduriang menyampaikan laporan perjalanannya kepada raja. Termasuk aksi pencarian besar-besaran terhadap raja dan pendukungnya oleh pasukan kerajaan Lamahtang yang kini dikuasai oleh pangeran ke tiga, pangeran Selangit. Tak lupa, Benduriang juga meminta raja agar meningkatkan kewaspadaan sehubungan akan belangsungnya turnamen bela diri antar pendekar kelana di Muara Sabak pekan depan. Menurutnya, mungkin saja akan ada pendekar-pendekar peserta turnamen yang akan melewati tempat ini, bahkan mungkin prajurit kerajaan akan menemukan tempat ini.


Raja mengerti dan hanya meminta agar Benduriang menyampaikan hal ini juga kepada Mahapatih dan panglima Wiratama. Rencananya, pembangunan pemukiman bagi para prajurit tidak akan dibangun sebagai komplek, namun dibuat semirip mungkin dengan perkampungan. Untuk menghilangkan kesan rumah dan gubuk tersebut baru dibuat, maka mereka akan menggunakan lumpur untuk melapisi dinding kayu dan papan rumah mereka lalu membersihkannya kembali. Trik ini kemungkinan besar akan berhasil mengelabui mata siapapun yang tidak mengenali mereka.


Satu-satunya kekhawatiran mereka saat ini adalah bagaimana cara menutup mulut warga desa. Dari sekitar seratusan keluarga yang tinggal di desa ini, hampir pasti mereka mengetahui keberadaan raja dan pendukungnya di tempat ini.

__ADS_1


“Semoga saja, kepala dusun bisa mengkondisikan hal ini..” itulah ucapan senada yang diucapkan Mahapatih dan Panglima Wiratama saat Benduriang menghadap mereka dan menyampaikan informasi sesuai titah sang raja.


Sementara itu, Gentayu sangat bahagia karena sang ayah angkatnya selamat tak dapat menyembunyikan antusiasnya saat sang panglima mengajaknya berlatih tanding sore harinya. Panglima Wiratama adalah sosok yang sebenarnya seimbang jika berhadapan dengan Ki Brajawana. Saat ini beliau berada pada level Pendekar Sakti Bergelar, namun tak banyak kemajuan yang diraihnya setelah sepuluh tahun terakhir. Wiratama di dunia persilatan dikenal sebagai Pendekar Tangan Baja.


Gelar itu disandangnya karena jurus-jurus yang digunakan lebih banyak tangan kosong. Namun, setiap pukulannya hampir tidak dapat ditahan oleh senjata apapun. Orang yang terkena pukulannya, di level pendekar sakti sekalipun nyawanya akan terancam. Sayangnya, orang tidak tahu bahwa selain bertangan sekuat baja, Wiratama juga kebal pukulan dan senjata, bahkan kebal terhadap pusaka sakti level rendah.


Senjata bagi pendekar terbagi dalam tiga kelas.


Senjata Biasa, Senjata sakti, dan senjata dewa atau iblis. Masing-masing kelas senjata terbagi dalam setidaknya 3 tingkatan, yaitu level rendah, menengah dan tinggi. Pedang Satam milik Gentayu sebenarnya termasuk senjata sakti level tinggi. Sayangnya, Gentayu belum maksimal menggunakan kekuatan pedang tersebut.


Senjata biasa adalah senjata yang semata-mata dinilai karena kualitas bahan yang digunakannya saja. Pedang besi dan baja termasuk senjata kelas biasa level rendah. Bila dalam pengolahan logam tersebut mendapat campuran material lainnya, maka level senjata itu akan naik dengan sendirinya. Besi dan baja yang dicampurkan dengan logam titanium misalnya, merupakan senjata biasa level menengah. Sedangkan bila pengolahannya dicampur dengan material jenis lain yang lebih kuat semisal intan, maka akan berubah menjadi senjata biasa level tinggi. Disebut biasa karena senjata-senjata ini hanya berfungsi pada 3 hal saja, memotong, membelah atau menghancurkan saja.


Sedangkan senjata kelas dewa atau kelas iblis, biasanya senjata yang sudah tak lazim lagi sebagai senjata. Biasanya, senjata-senjata ini seolah memiliki fikirannya sendiri dan beberapa memiliki kemampuan berubah wujud. Belum pernah terdengar di pulau Emas Besar ini, seseorang yang diketahui memiliki atau pernah menggunakan senjata di kelas dewa atau iblis ini. Selain karena kelangkaannya akibat tidak bisa dibuat oleh manusia biasa, senjata ini juga memiliki syarat tertentu untuk bisa dimiliki seorang pendekar.


Sore hari yang ditunggupun akhirnya tiba. Dua orang anak dan ayah angkat ini kini telah berdiri berhadapan. Keduanya akan berlatih tanding hanya secara fisik semata, tanpa menggunakan tenaga dalam kecuali untuk menahan senjata. Sebenarnya, ini hanya akal-akalan Wiratama untuk melihat sejauh mana pencapaian anak angkatnya tersebut. Karena Gentayu sewaktu berpamit meningalkan istana kepada Wiratama menggunakan alasan ingin mendalami beladiri dan menimba pengalaman agar bisa diizinkan keluar dari keprajuritan.

__ADS_1


Gentayu memilih berinisiatif menyerang terlebih dahulu setelah keduanya saling tatap untuk sesaat. Panglima Wiratama, sekalipun sudah tidak muda lagi ternyata masih sangat gesit dan tangkas gerakannya. Gentayu menjadi senang karena menyadari ternyata orangtuanya ini tidak berhenti melatih fisiknya selama ini. Mungkin karena itulah dirinya bisa bertahan dan selamat saat penyerangan terjadi di istana. Padahal, Wiratama jelas-jelas menjadi target utama di antara banyak pejabat istana lainnya.


Di sisi lain, Wiratamapun mengagumi kecepatan perkembangan Gentayu. Bila empat tahun lalu Wiratama tidak merasa kesulitan menghadapi Gentayu ketika latih tanding, saat ini yang terjadi sebaliknya. Gerakan-gerakan Gentayu selain tidak mudah dibaca, juga dilakukan dengan sangat cepat dan sulit ditangkis. Setiap kali tangan atau kaki wiratama yang bergelar Pendekar Lengan Baja itu bertemu dengan tangan atau kaki Gentayu, rasa kesemutan segera menjalar. Hal yang tak pernah dirasakannya selama ini kecuali saat dirinya berguru ketika muda dulu.


Hanya dalam waktu kurang dari setengah batang dupa hio terbakar, tiga atau empat pukulan beruntun telah mendarat di bagian-bagian tubuh Wiratama selain wajahnya.


Wiratama termundur beberapa langkah sebelum jatuh ke tanah dan bangkit lagi. Senyumnya mengembang. Wajahnya sumringah.


“Engkau benar-benar menepati janjimu, putraku..!” Katanya sambil kemudian memeluk anak angkatnya tersebut erat. Ada rasa bangga di dadanya. Panglima Wiratama masih ingat hari saat Gentayu pamit keluar dari istana, dia mengatakan ingin berkelana menimba pengalaman dan mendalami bela diri. Hari ini dia melihat, anaknya itu benar-benar membuktikan ucapannya.


“Terimakasih karena telah mengalah, Ayah..!” Kata Gentayu berusaha untuk tidak menyinggung perasaan ayahnya.


“Hahahahaha... tidak anakku. Itu adalah kemenanganmu. Tampaknya, otot-otot ayahmu ini memang sudah menua. Bahkan sepertinya, proses menuanya lebih cepat dihadapanmu... hahahahaha...” Wiratama berusaha menjaga perasaan anaknya agar tidak merasa bersalah karena telah mengalahkannya. ‘padahal selama ini, setiap latih tanding biasanya Gentayu akan butuh istirahat lebih dari 3 hari karena kupukuli..’ Wiratama tersenyum sendiri.


“Jadi, anakku. Kemana tujuanmu selanjutnya? Ayah tidak akan membabani langkahmu dengan memintamu bergabung bersama pasukan perlawanan. Walau tentu saja ayah akan sangat bahagia andai itu terjadi. Tapi ayah yakin, tanganmu saat ini sedang penuh dengan urusan lain, selain urusan politik kerajaan, bukan?” Wiratama berkata demikian setelah keduanya kembali ke kediamannya. Istri Wiratama keluar membawakan air hangat dan handuk untuk kompres memar di tubuh suaminya. Sekaligus membawa air jahe hangat dan beberpa potong singkong rebus untuk cemilan sore.

__ADS_1


“Aku juga bermaksud memerangi aliran hitam, ayah. Tapi sepertinya, akan sulit memerangi mereka ketika mereka telah mendapatkan kekuasaan seperti saat ini. Tapi, aku benar-benar sedang menjalankan misi penting. Bukan untuk Lamahtang saja, tapi juga untuk kedamaian umat manusia. Ada ancaman yang lebih besar menghadang di depan, ayah...” Gentayu tidak menjelaskan lebih rinci tentang ancaman yang dimaksud. Dia belum bisa memutuskan harus memulai dari mana. Namun yang pasti, sebelum melanjutkan misi dari kedua gurunya yaitu Ki Brajawana dan Pendekar Bulan Perak, Gentayu harus menemui ki Geringsing.


“Baiklah. Ayah mendukung apapun keputusanmu, anakku...” Kata Wiratama sembari menyeruput wedang jahe yang telah dihidangkan istrinya.


__ADS_2