
“Tuan Gentayu, apakah tuan memahami betapa berbahayanya jika segel ini sampai jatuh ke tangan kelompok aliran hitam?” tanya tetua berwajah lebar.
Saat ini, Gentayu sedang menghadiri sebuah jamuan makan bersama para petinggi sekte Naga Merah atau sekarang bernama sekte tujuh tirai. Tetua yang barusan bertanya adalah tetua yang baru saja kembali dari misi beberapa hari lalu sehingga tidak mengenal Gentayu.
Tetua ini hanya mendengar peran Gentayu dalam perannya yang membuat sekte ini berhasil selamat dari rencana penyerbuan aliansi aliran hitam. Ketika dia kembali ke Lembah Kaling, yang ditemuinya hanyalah puing-puing reruntuhan bekas markas sekte yang telah hangus dan mulai ditumbuhi tetumbuhan liar.
Tetua lain hanya saling pandang antar mereka, lalu menggelengkan kepala mereka pelan menyadari konyolnya pertanyaan tetua tersebut.
“Justru karena itu, tuan. Saya merasa segel dan Bola sembilan arwah itu akan lebih aman bersama saya. Maaf sekali lagi. Saya bukan bermaksud meremehkan kemampuan tuan-tuan di sekte ini dalam menjaga dua benda tersebut. Tapi, tidak lama lagi akan ada yang datang merebutnya dari tangan tuan-tuan. Dan aku tidak yakin kekuatan yang tuan-tuan miliki akan sanggup menangkalnya..” jawab Gentayu dengan suara berat. Ada aura keprihatinan sekaligus kekhawatiran dalam nada bicaranya.
‘Brak!’
Suara meja digebrak.
Tetua muka lebar ternyata merasa tak terima dengan pernyataan Gentayu. Baginya, kalimat itu tetap saja bermakna meremehkan. ‘Apa yang bisa dilakukan anak muda sepertimu?’ batin tetua itu ssebelum menggebrak meja.
“Kau mungkin hanya beruntung mengetahui rencana penyerbuan terhadap kami beberapa waktu lalu. Kau juga beruntung karena pusaka Pasagi itu ada padamu sehingga bisa membawa plasma rakurai yang super panas itu. Tapi bukan berarti kau lebih hebat dari kami!” Kata tetua muka lebar, tak terima.
Para tetua lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah tetua yang satu ini.
Matriark Lim sendiri masih mencoba untuk bersabar. Mukanya sudah merah padam menahan marah terhadap anggotanya yang dinilia tak beradab dan tak tahu diri itu. Tapi, mungkin inilah waktunya dia memberi pelajaran pada tetua yang terkenal paling keras kepala dan selalu sulit diatur karena kemampuannya memang yang paling tinggi di antara yang lain.
Dia adalah tetua yang dikirim dari sekte pusat sebelum kedatangan tetua De Wu.
“Baik. Akan kubuktikan! Aku bahkan bisa mengambil segel dan bola 9 arwah itu saat ini tanpa harus meminta izin. Lihat..” Gentayu mengangkat tangan kanannya ke udara. Lalu menghentakkan tangan itu seperti sedang menarik tali, dan..
‘BUM!!’
Dinding di belakang Gentayu jebol. Dan dua benda melesat ke arahnya yang segera ditangkap menggunakan tangan kiri dan kanan sembari melompat salto di udara.
“Lihat!” Katanya sambil menunjukkan dua buah benda yang seharusnya tidak bisa keluar dari tempatnya berada.
Mata semua tetua dan Matriark Lim melotot.
Matriark Lim bahkan sampai berdiri, kemudian berlari ke arah bangunan lain di belakang ruang aula pertemuan yang seperti balai desa tersebut. Ada sesuatu yang harus diperiksanya.
Tak lama kemudian, matriark Lim kembali lagi dengan muka cemberut. Lalu mengulurkan tangannya kepada Gentayu.
“Kembalikan!” katanya singkat.
Gentayu memberikan kembali kedua kotak hitam berbungkus kain putih di tangannya kepada Matriark Lim. Tapi tangan Matriark Lim sama sekali tidak menyambut dua buah kotak yang disodorkan itu.
__ADS_1
“Kembalikan!” Katanya lagi.
Kini Gentayu merogoh sakunya dan menyerahkan selembar kain berwarna putih dan melepaskan sebuah kalung giok di lehernya kepada matriark Lim.
Semua mata menatap heran kepada keduanya saat matriark Lim meraih kain putih dan kalung giok itu itu namun tidak mengambil dua kotak hitam tersebut.
“Terimakasih..” kata Matriark Lim singkat membuat wajah bingung di mata semua tetau yang hadir pada pertemuan itu.
“Kenapa bengong?? Ini kain selendangku sendiri. kalung juga kalungku sendiru. Ada yang aneh?” kata matriark Lim agak sewot dengan tatapan para tetua di ruangan tersebut.
Tak ada yang tahu bahwa kain tersebut adalah selendang yang diberikan Matriark Lim pada Gentayu sebelum pergi sebagai janji Gentayu akan kembali lagi ke sekte tersebut.
Saat berlari memeriksa kediamannya, dia melihat ada dua lubang besar menganga di dinding bekas kedua segel tersimpan. Namun justru hal itu membuat Matriark Lim merasa bahwa kali ini Gentayu akan pergi jauh dan sangat lama. Dia datang kembali dengan wajah cemberut karena hal ini.
Tidak ada yang mengetahui pasti maksud Matriark Lim memberikan selendang tersebut waktu itu. Mereka hanya menduga-duga, termasuk Gentayu sendiri saat matriark ini mengambil kembali barangnya
“Tetua Feng! Kalau tetua Feng masih meragukan kemampuan tuan Gentayu, silakan lanjutkan di luar setelah ini. Tapi aku, juga mungkin para tetua lainnya tidak akan menolongmu andai terluka..” Kata Matriark Lim ketus sebelum meninggalkan ruangan diikuti tetua lainnya.
“Tuan Gentayu, tempat tinggalmu telah disiapkan. Nanti orangku akan menemanimu untuk menunjukkan tempatnya..” Matriark Lim berkata tanpa menoleh saat sudah di depan pintu dan terus melangkah keluar. Tinggallah kini tetua Feng yang masih belum menyadari situasinya berdua saja dengan Gentayu.
“Bocah, aku ingin mengukur sejauh mana kemampuanmu. Apakah setinggi bualanmu? Heh, beraninya kau mengatakan kami tidak akan mampu menghadapi musuh..” tetua Feng berkata demikian dengan posisi tangan mempersilakan Gentayu untuk keluar terlebih dahulu.
Gentayu menurut. Lalu melompat menuju pelataran yang cukup luas disusul tetua Feng yang terlihat masih penasaran.
“Tak perlu mengeluarkan senjata. Izinkan aku melayani tetua dengan tangan kosong saja..” Kata Gentayu sembari mulai memasang kuda-kudanya.
Tak lama, tetua Feng sudah melompat menyerangnya dengan senjatanya. Pedang berupa gerigi itu bergerak sangat cepat mencari sasarannya. Seperti ilusi. Senjata itu membantuk bayangan-bayangan pedang yang tidak segera menghilang setiap kali menebas lawannya.
Gentayu masih berusaha menghadapi lawannya tanpa melukai. Namun, semakin lama tempo permainan pedang tetua Feng terus meningkat dan semakin berbahaya.
Gentayu beberapa kali terpaksa harus melompat ke sana kemari, salto di udara, ataupun bergelinding dan berguling di tanah menghindari setiap serangan.
Hingga pertarungan telah berjalan lebih dari setengah jam, dan Gentayu belum ada tanda-tanda hendak menyerang balik.
‘Pemuda ini ingin menguras energiku?’ tetua Feng memahami posisinya. Namun, dia tidak memiliki pilihan selain terus menyerang dengan gencar.
Merasa lawannya tak mungkin bisa disadarkan kesalahannya tanpa membungkamnya dengan kekalahan, Gentayu merubah posisinya.
Kali ini, Gentayu mengubah pola pertarungan. Dari semula hanya bertahan, sekarang dia mulai menyerang lawannya dengan serangan tapak. Hingga dalam lima gebrakan berikutnya Gentayu berhasil mendaratkan tendangan ekor naga-nya ke dagu lawannya.
Tetua Feng terpelanting. Namun saat tubuhnya hendak jatuh ke tanah dia melakukan gerakan berputar dan berhasil mendarat dengan selamat. Namun kemudian dia terhuyung-huyung mundur ke belakang dan jatuh terjengkang.
__ADS_1
Gentayu rupanya sedang mempraktikkan jurus pedang baru yang dipelajarinya dari Rajo Narako. Jurus pedang itu adalah jurus pedang bayangan. Dengan jurus itu, lawan akan merasa sedang berhadapan dengan pengguna jurus dalam posisi mendesak dan menyerang titik vital tubuh.
Namun, itu hanyalah ilusi bayangan semata.
Gentayu masih berdiri di tempatnya. Dia memainkan kedua tangannya, bukan pedang.
Namun tetua Feng menerimanya seolah dia sedang diserang dengan pedang yang bergerak sangat cepat saat dirinya berhasil mendarat dengan selamat tadi.
“Bagaimana, tetua Feng? Aku kira cukup?..” Gentayu segera melangkah pergi menemui seorang wanita yang telah menunggunya.
Dia adalah orang suruhan Matriark Lim untuk mengantar Gentayu menuju penginapan.
Pelayan itu bergumam cukup lirih yang bisa didengar orang dalam jarak kurang dari satu meter ”Pendekar-pendekar kurang kerjaan..”
“Tunggu!! Aku belum kalah! Tadi, aku hanya kurang fokus! Kita lanjutkan!” tantang tetua Feng.
“Robohlah!” Gentayu berkata keras setalah melompat, lalu menghilang, dan tiba-tiba muncul sangat dekat dengan telinga tetua Feng.
Tetua Feng langsung roboh. Tak lagi bisa berkutik. Tangan dan kakinya serasa kaku. Sama sekali tak bisa digerakkan. Seolah tubuh itu kini bukan miliknya.
“Ini.. Jurus apa ini?” tanya tetua Feng dengan panik.
Dia mengenal banyak jurus totokan dan pengunci raga dari lawan-lawan yang pernah dihadapu. Tapi membuat tubuhnya roboh dan tak bisa bergerak lagi tanpa menyentuh? tentu mengerikan sekali..
Terang saja tetua Feng tidak mengenali jurus Gentayu. Itu adalah jurus pahit lidah, bagian dari jurus Syair kematian yang sedang didalami Gentayu akhir-akhir ini.
Tidak akan dikenali, sebab orang-orang yang pernah bertemu dengan Pendekar Syair Kematian sendiri, pasti tidak akan bisa melihat matahari terbit esok harinya.
“Cukup, bukan tetua feng?” Kata Gentayu seraya meraih tangan tetua Feng yang tiba-tiba kini bisa kembali digerakkan kembali.
“Maafkan aku, anak muda" tetua Feng tertunduk. "Aku hanya perlu memastikan bahwa apa yang kami titipkan aman. Itu saja” lanjutnya.
Tetua Feng lalu memberi penghormatan ala pendekar bangsa Huang. Tangan kiri membungkus tangan kanan yang mengepal menggenggam pangkal gagang pedang sejajar dagu. Penghormatan ala pendekar pedang.
Gentayu melangkah mengikuti pelayan yang hendak mengantarnya. Di belakangnya, tetua Feng mengikuti mereka sambil memegangi dagunya yang membiru.
Gentayu sendiri akan tinggal beberapa hari lagi. Menyambut tamu tak diundang yang akan mencoba merebut segel dan bola sembilan arwah dari sekte tersebut.
Nb. Silakan kritik dan sarannya yaa..
Terimakasih masih terus setia membaca novel ini.
__ADS_1
Selamat Merayakan Kemerdekaan RI ke 75 buat kalian semua.
Jangan lupa, jaga kesehatan.