JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Kembali


__ADS_3

Sementara itu, di salah satu pegunungan tandus di bawah kekuasaan Marga Api, udara tiba-tiba bergolak.


Angin kering sepoi-sepoi menerbangkan debu dan kerikil halus, semakin lama semakin kencang hingga membentuk angin puyuh skala kecil. Tepat di atas pusaran, pada pusat angin puyuh kecil yang terbentuk, muncul sesuatu seperti fatamorgana berdiameter kurang dari sepuluh meter persegi, dalam posisi berdiri membentuk seperti dinding tembus pandang.


Udara serasa tersedot ke dalam dinding tembus pandang yang semakin lama semakin jelas tersebut, menimbulkan suara menderu. Dinding tembus pandang itu perlahan menunjukkan perbedaan dengan lingkungan di sekitar.


Ketika terlihat beriak, seolah-olah dinding itu terbuat dari air. Dari riak itulah, kemudian sebuah tangan muncul, mendahului sebelum tubuh kekar seorang lelaki paruh baya terlihat keluar dari dalam dinding tembus pandang. Dialah Datuk Alehah sang Datuk Rajo Narako.


Lelaki itu mengenakan jubah putihnya yang terlihat using. Namun kekuatannya terpancar kuat mengelilinginya. Itu adalah pancaran kekuatan yang sedikit lemah dibandingkan kekuatan maksimalnya ratusan tahun lalu saat meninggalkan Marga Api untuk mengejar Mislan Katili.


‘Akhirnya, aku kembali setelah ratusan tahun. Ah, rasanya sudah sangat lama aku meninggalkan negeri ini. Meskipun begitu, aku sebaiknya tidak terburu-buru kembali ke dalam Klan-ku. Lebih baik, aku menyelidiki segala sesuatunya sebelum masuk. Aku yakin, banyak hal telah berubah selama ratusan tahun ini..’ Datuk Rajo Narako tampak termenung sesaat setelah dinding tembus pandang di belakangnya menghilang bersamaan dengan kakinya menapak tanah.


Lelaki itu kemudian melanjutkan langkahnya menuruni puncak gunung tersebut menuju lembah. Dia sengaja memilih tempat ini sebagai portal keluarnya karena ini adalah tempat yang diyakini tidak akan banyak berubah. Tempat ini adalah tempat paling tandus, sekaligus tidak terlalu jauh dari pusat Marga Api berada. Hanya dengan menempuh perjalanan dengan terbang selama tiga atau empat hari, maka seharusnya pusat Marga Api bisa dijangkau.


Marga Api sendiri berpusat di sebuah puncak gunung berapi bernama gunung Kurinji. Api Abadi pada beberapa titik di puncak Gunung berapi purba itu adalah sumber energi utama bagi lima klan utama Marga Api. Lambat laun, tempat tersebut berkembang hingga menjadi sebuah kota dengan pengaruh meluas di beberapa wilayah dalam kerajaan Sindur Kuntala.


‘Setelah tinggal sekian lama di Dipantara, aku merasa bahwa dunia ini dan tempat itu seperti cermin dengan alur berbeda. Lekukan gunung berbarisnya, lokasi danaunya.. seolah dua dunia ini adalah dunia kembar. Jangan-jangan, legenda kuno itu memang benar..’ Rajo Narako berjalan menyusuri lereng tandus yang terlihat mulai ditumbuhi lumut, lalu rumput kecil serupa jarum, semakin ke bawah mulai bertemu dengan rumput yang membentuk belukar. Semakin ke bawah semakin subur.


‘Benar-benar mirip dan identik..’ guamnya sembari mengedarkan pandangannya ke puncak-puncak pegunungan yang berbaris. ‘Barisan pegunungan ini, benar-benar mirip dengan bukit barisan. Setiap lekuk dan bentuk puncaknya benar-benar mirip.


Satu-satunya yang membedakan hanyalah, daratan Lemuria ini utuh hingga ke Benua biru. Sementara di Dipantara, barisan gunung itu terpisah oleh lautan..

__ADS_1


Aku yakin, legenda kuno itu benar adanya, bahwa dua dunia ini adalah kembar!.’ Gumamnya tanpa berminat untuk tenggelam lebih jauh dalam nostalgia legenda.


Akhirnya, Datuk Rajo Narako memilih untuk meyamarkan dirinya. Dia melangkah pasti memasuki salah satu kota terdekat dari gunung tandus itu, yaitu kota Lawanggeni.


Kota Lawanggeni, adalah sebuah kota kecil. Satu di antara tiga kota di kaki gunung Kurinji. Kota itu, termasuk kota terluar di antara kota-kota dan desa di sepanjang jalur menuju puncak gunung. Di puncak gunung Kurinji, berdiri megah kota terbesar sekaligus kota utama pusat dari seluruh Marga Api. Kota megah itu bernama Mulageni.


Jarak kota Lawang Geni dan Mulageni di puncak gunung hanya dipisahkan oleh enam desa. Sementara di sisi lain gunung, berdiri dua kota kecil lain yang mengapitnya, yaitu Pancanggeni dan Sarwageni.


4 Klan dari 5 klan cabang Marga Api masing-masing menguasai setiap kota.


Hanya satu klan terkecil yang tidak menguasai satupun kota, tidak di gunung Kurinji, tidak juga di wilayah pengaruh mereka. Klan tersebut adalah Ancalageni, klan asal dari Datuk Rajo Narako.


Bagaimanapun, Klanku telah terdesak demikian jauh. Tapi, seharusnya Sentana setidaknya masih termasuk yang terkuat di antara para petinggi marga! Aku tak percaya anak itu menyerah begitu saja!” Rajo Narako berbicara dengan dirinya sendiri sepanjang perjalanan. Bila ada yang berpapasan atau melihatnya saat ini, tentulah mereka akan mengira Rajo Narako adalah orang gila.


Sentana yang dimaksud Rajo Narako, tentu saja adalah ayah kandung Gentayu, cucunya sendiri.


Memang, seharusnya Sentana masih terhitung pendekar terkuat di antara generasinya. Tapi entah apa yang terjadi, bagi Rajo Narako segalanya serba abu-abu.


Yang dia tahu, adalah saat itu di bawah pengejaran sisa pengikut Mislan Katili, Sentana berteleportasi ke Dipantara, guna menemui Rajo Narako membawa Gentayu yang masih bayi. Gagal melacak aura Rajo Narako, Sentana terpaksa terus berlari beberapa waktu menghindari kejaran sisa pasukan Mislan Katili.


Setelah putus asa tidak berhasil menemukan Rajo Narako yang tengah memulihkan diri, Sentana menitipkan anaknya pada orang yang kemudian menjadi orang tua Gentayu. Sementara dirinya melanjutkan perlawanan melawan sisa pasukan Mislan Katili.

__ADS_1


“Tampaknya, hutang budi membuatnya melemah..” Rajo Narako mendesah memikirkan nasib cucunya. Garis keturunannya.


Tak terasa, saat asyik melamun itu ternyata Rajo Narako telah tiba di depan gerbang kota.


Enam orang penjaga kota memeriksanya. Mereka jelas generasi muda yang tidak memperhatikan sejarah, padahal patung Rajo Narako berdiri megah di Mulageni. Tanpa halangan berarti, akhirnya setelah pemeriksaan menyeluruh Rajo Narako dipersilakan masuk. Tentu saja setelah menunjukkan diri sebagai bagian dari Marga Api.


Tanpa identitas, dilarang masuk!


Dilarang terbang melintasi kota!


Selain Marga Api dan Klan cabang, masuk wajib menyertakan izin para sesepuh atau pejabat Kota!


Bermacam tulisan peringatan sejenis terpampang terang benderang, diukir menggunakan hurup kawi kuno dan terpahat di dinding gerbang serta beberapa tembok jaga. Membuat Rajo Narako menggelengkan kepala.


‘Ini menunjukkan, bahwa rasa saling percaya sudah sedemikian jauh memudar! Semua pasti karena munculnya para penyusup. Mereka perlu mengamankan situasi dan posisi untuk mereka sendiri...’ Rajo Narako terus melangkah memasuki kota.


Ketika memasuki alun-alun, telinga Rajo Narako menangkap hiruk pikuk berasal dari kerumunan warga kota di salah satu sudut. Sebuah keramaian terlihat.


Suara musik tradisional mengalun, dengan irama menghentak. Di tengah kerumunan, sebuah panggung mini berdiri. Tiga orang tampak memainkan sebuah lakon drama di atas panggung. Sebuah pementasan seni drama, sepertinya bercerita tentang sosok legendaris yang dicintai seluruh penduduk.


Sebuah spanduk terbentang di belakang panggung “Legenda Rajo Narako”.

__ADS_1


__ADS_2