JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Menuju Hidama


__ADS_3

Dua hari berikutnya, dihabiskan Gentayu untuk mempelajari ilmu Halimunkasa milik Manik Baya. Orang tua itu begitu menyukai karakter Gentayu yang apa adanya dan sedikit keras. Gentayupun begitu menghormati gurunya, sekalipun tidak menyadari identitas sang guru.


Halimunkasa, sekalipun mirip dengan ilmu menghilang yang didapat Gentayu dari lembah kenangan, namun perbedaan keduanya begitu mencolok.


Ilmu ini bukan sekedar ilmu menghilang dan berpindah tempat, namun juga bisa menentukan lokasi berpindah yang diinginkan. Syaratnya adalah tahu nama lokasinya.


Halimunkasa, lebih mirip ilmu teleportasi. Namun keunggulannya adalah halimunkasa bisa digunakan beberapa kali dalam sehari tanpa batas. Selama memiliki energi daht yang mencukupi. Keduanya, bisa digunakan untuk berpindah lokasi pada dua dimensi dunia yang berbeda. Syaratnya satu, pengamal ilmu ini pernah menjejakkan kaki di dunia tersebut.


“Sekarang, saatnya mencoba penguasaanmu terhadap Halimunkasa, nak Genta..”


Hari itu, Manik Baya terlihat tampil sedikit berbeda. Wajahnya terlihat jauh lebih muda dari biasanya. Selain itu, pakaian yang digunakannya juga terkesan mewah.


Gentayu menyadari hal itu, tapi dia memilih untuk fokus pada pelatihannya.


“Coba, sekarang kau berpindah tempat ke mana saja kau inginkan. Lalu kembalikan lagi. Jangan lupa, bawa oleh oleh.. hehehehe....” Ucap Manik Baya memberi Instruksi.


Gentayu mengangguk, lalu melalakukan sebuah gerakan yang dipelajarinya selama dua hari terakhir. Tangannya disilangkan di depan dana, lalu dibuka membentuk dua palang tangan di depan dada sejajar bahu. Kakinya menghentak dan..


‘Zzzzzzt...!’


Gentayu menghilang.


Dua puluh tarikan nafas kemudian..

__ADS_1


‘Zzzzzt..!’


Gentayu telah kembali di hadapan Manik Baya dengan membawa dua potong utuh bebek panggang, lengkap dengan nasi berikut sambal dan lalapannya.


“Eh, bocah edan! Nyolong di mana kamu?” umpat Manik Baya mengetahui Gentayu membawa makanan dari rumah makan.


“Ampun, guru. Saya tidak merampok. Ketika saya muncul, orang-orang berlarian. Karena mereka meninggalkan makanan dan kufikir mubazir, maka kubawa saja. Ini, guru.. silakan..” Ucap Gentayu menjawab gurunya tanpa beban.


“Otakmu sudah sengkleh..! aku tak butuh makanan curian..” Manik Baya berkata dengan malas. Menanggapi Gentayu ketika dalam kondisinya yang sedang lelah tidaklah menguntungkan. Manik Baya sudah mempelajari karakter Gentayu ini. Ketika lelah dan lapar, sisi tidak biasa dalam dirinya akan muncul.


“Guruuuu.. khan sudah saya jelaskan. Saya tidak mencuri makanan ini. Mereka meninggalkannya. Lagipula, aku mengambilnya dari istana raja Giri Kencana..” Jawab Gentayu mengulangi pernyataannya sekali lagi.


“Oh iya, guru. Putri Cendrawani dikabarkan minggat dari istana. Dan saya masih saja jadi terduga pelaku di balik menghilangnya gadis itu..” Gentayu menyampaikan berita yang didengarnya sepintas sambil asyik mengunyah bebek panggang bagiannya.


“Maksud guru?”


“Selalu saja, yang punya kuasa akan menentukan siapa salah dan siapa benar. Yang dikehendakinya salah akan disalahkan sekalipun benar. Yang dikehendakinya benar akan jadi benar sekalipun salah. Kau harus tumbuh lebih kuat, agar kalaupun kau salah, kau tetap dibenarkan, dan kebenaran yang kau bawa didengarkan! Ingat itu..” Ucap Manik Baya.


“Selesai makan, berangkatlah ke Hidama. Temanmu si penunggu pedang kembar akan senang mengetahui kau akhirnya mengunjungi negerinya... Aku ingn melihatnya sebentar. Bisa kau tunjukkan padaku?” Manik Baya menyela di antara kunyahan Gentayu.


Gentayu buru-buru menghentikan kunyahannya. Mengelapkan tangannya yang berminyak ke pakaiannya dan mengeluarkan pedang kembar dari gelang geroboknya.


‘Crink!’

__ADS_1


Kedua pedang kembar itu telah dikeluarkan dari warangkanya.


“Aih, sepertinya pedang ini dulu berwana hitam gelap.. kenapa sekarang jadi putih mengkilap?” Gentayu memandangi pedang kembarnya yang menurutnya telah berubah.


“Pedang itu menyerap energi di dunia ini. Penghuninya, sudah jauh lebih kuat kalau kau jeli melihatnya..” Manik Baya menjelaskan dengan singkat saja. Tapi penjelasan itu mmembuat Gentayu teringat sesuatu.


“Oh, Begitu.. jadi kau sudah bangun, Tuan Ryu?” Hardik Gentayu kepada pedang kembar di tangannya.


Setelah berkata demikian, asap tipis berwarna hitam muncul dan membentuk sesosok tubuh. Namun masih transparan dan tidak akan bertahan lama.


“Tuan, maafkan aku. Aku sudah bangun sejak pertama kali Sang Dewa Gunung bertemu denganmu..” kata sosok bentukan asap hitam itu.


Gentayu yang mendengarnya sedikit bingung, tapi segera mengabaikannya.


“Guruku ingin bertemu denganmu..” kata Gentayu sembari menancapkan kedua pedang itu di tanah, lalu melanjutkan makan makanannya kembali.


“Dia akan membutuhkanmu di perjalanan. Kau yang lebih memahami negeri asalmu itu sekalipun kau sudah meninggalkannya ratusan tahun lamanya. Kuharap, kau membantunya dengan jiwa ragamu. Jadilah makhluk yang tahu berterimakasih. Kuharap, setelah bersatunya kembali ruhmu dengan badanmu kau bisa terus berkembang..”


Manik Baya membuat gerakan seolah hendak merenggut asap itu, namun ternyata yang dilakukan hanyalah mengambl sedikit dari asap tersebut. Lalu dilepaskan kembali.


“Baik, guru. Terimakasih telah mengizinkanku ikut belajar bersama tuan Gentayu..” ata sosok asap itu sebelum kemudian masuk kembali ke dalam pedang Kembar sebagai ruh.


Hari itu, Gentayu memulai sebuah perjalanan lainnya. Dia ingin kembali mengajak Anjani. Dengan ilmu Halimunkasa-nya, tak akan sulit menemukan kembali lokasi di mana gadis itu berada.

__ADS_1


‘Ah, tapi kalau kubawa dia, maka dia hanya akan kembali dalam wujud trisula..”


__ADS_2