JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)

JAGA BUANA (Bangkitnya Kegelapan)
Pahlawan Air Ketuan


__ADS_3

Entah sudah berapa hari Gentayu tidak sadarkan diri. Saat dia membuka matanya, yang dilihatnya pertama kali adalah adalah sebuah ruangan yang seluruhnya terbuat dari batuan hitam. Bahkan atapnya adalah batuan hitam. Atau tidak, bahkan itu bukan ruangan. Itu adalah sebuah goa batu. Benar, Gentayu tersadar dan mendapati dirinya kini berada di dalam sebuah goa batu. Di sebelahnya terbaring, tampak beberapa mangkuk terbuat dari tembikar berisi cairan-cairan beraroma obat, juga buah-buahan segar hutan seperti jambu hutan dan pisang serta beberapa butir buah rotan.


Gentayu mencoba menggerakkan badannya, namun dia tidak berhasil. Seluruh tubuhnya seperti mati rasa dan tanpa tenaga. Apakah dia lumpuh? Bagaimana dia bisa sampai berakhir di tempat ini? Ingatan terakhirnya adalah dia bertarung dengan sisa kekuatan terakhirnya menghadapi Karang Setan. Ah, obat-obatan ini, siapa orang yang merawatnya? Bermacam pertanyaan muncul di kepala Gentayu sebelum kemudian muncul sosok lelaki tua.


“Kau sudah bangun rupanya, anak muda..” suara ramah lelaki tua itu menyapa dan bergema dalam goa itu.


Lelaki tua itu terlihat seperti seorang pertapa yang bersahaja. Rambutnya yang panjang menggimbal digelungkan di atas kepalanya. Pakaiannya hanya celana komprang dengan banyak tambalan, sedangkan bagian atas tubuh kurusnya hanya ditutup secarik kain lusuh tersampir begitu saja di bahunya. Rambut dan janggutnya sudah memutih tampak menghiasi wajah ramah berkeriput yang selalu tersenyum ramah.


“Kau sudah tidak sadarkan diri selama sepuluh hari. Rencananya, kalau hari ini kau belum juga sadarkan diri juga, aku akan membangunkanmu secara paksa.. hehehehe..” Lelaki tua itu terkekeh, menampakkan gigi-giginya yang tampak masih lengkap.


“Maaf kakek, boleh aku tahu siapa kakek ini dan kenapa aku ada di sini?” Gentayu tidak sabar lagi untuk bertanya.


“Hehehehe... anak muda, nama asliku Marobahan, dulu orang mengenalku sebagai Pendekar Jari Petir. Tapi itu dulu,.. dan sudah lama berlalu. Aku sudah lama menarik diri dari hiruk pikuk duniawi. Kini setelah pensiun dari dunia persilatan, orang memanggilku kakek Maro. Sebagian lagi memanggilku Cik Han. hehehehe... “ Lelaki tua itu kembali terkekeh selepas memperkenalkan dirinya.


“Aku menemukanmu jatuh dari atas sana" lanjutnya sambil menunjuk bagian atas dari mulut gua. "Tampaknya kau bertarung dengan seseorang di masa lalu. Dia pasti sangat kuat. Aku menemukanmu dengan kondisi luka parah. Aliran tenaga dalam di tubuhmu kacau dan merusak sel-sel tubuhmu. Aku menduga, itu karena kau menyerap energi dalam jumlah besar sementara tubuhmu sebagai wadah tidak cukup mampu menampungnya. Tapi entah bagaimana kau melakukannya, dengan kondisi seperti itu, seharusnya kau sudah tewas. Nampaknya takdir masih bersikap baik kepadamu, anak muda...” Kakek tua itu menjelaskan singkat sambil tangannya sibuk meramu obat-obatan, mungkin itulah obat yang dikonsumsi Gentayu selama di sini.

__ADS_1


“Aku terpaksa menotok beberapa organ gerakmu agar kerusakan sel tubuhmu tidak semakin parah. Seharusnya, setelah beberapa hari lagi semua sudah pulih” Kakek tua bernama Marobahan itu menjelaskan alasan kenapa Gentayu tidak mampu menggerakkan tubuhnya.


“Bagaimana dengan pedangku?” Gentayu teringat pedangnya. Dia tidak ingin kehilangan pedang warisan mendiang gurunya tersebut di saat dia merasa baru bisa menggunakan pedang itu dengan cara yang benar.


++++++ +++++ ++++ +++++


Sementara itu, di desa Air Ketuan tempat awal mula terjadinya pertarungan Gentayu melawan Karang Setan beserta para pengendali hantu dan pasukan mayat hidup sebelumnya, lokasi bekas pertempuran masih dikunjungi beberapa orang. Mereka adalah warga desa sendiri, para pendekar Bambu Hijau, bahkan para pengembara yang melintas. Mereka menyempatkan diri melihat bekas pertarungan yang meninggalkan kerusakan parah pada lingkungan sekitarnya itu. Ada yang bergidik ngeri, ada yang kagum, ada juga yang merasa beruntung karena tidak berada di tempat itu saat kejadian berlangsung.


Dalam radius satu kilometer, tampak bekas puing dan reruntuhan bangunan, pohon tumbang dan bebatuan yang hancur masih berserakan belum tersentuh. Sebuah parit menganga terbentuk di tengah arena pertempuran tersebut. Itulah bekas yang ditinggalkan oleh tebasan terakhir pedang Satam.


Cerita yang berkembang di antara mereka adalah, bahwa Gentayu tewas saat melawan Karang Setan. Tewasnya Gentayu tentu menjadi pukulan tersendiri bagi Lestini dan adiknya, Jasri yang telah menganggap dan mengangkat Gentayu sebagai kakak mereka. Para Pendekar yang pernah bertemu dan mengenal Gentayu sekalipun tidak percaya bahwa Gentayu akhirnya harus tewas di desa ini. Meskipun begitu, sosok Gentayu tetaplah sosok yang luar biasa hebat dan mengagumkan bagi sebagian besar mereka. Seorang pendekar yang tak segan mengulurkan bantuan, bahkan kepada orang yang sama sekali tidak dikenal dan tidak diperhitungkan masyarakat seperti Lestini dan adiknya, atau kedua pendekar wanita dari kekaisaran Hidama yang ditolongnya.


Mereka juga dibuat takjub karena tidak menyangka bahwa pemuda yang tampak masih lugu itu bahkan mampu menghadapi dan menjadi lawan yang merepotkan bagi Karang Setan, sementara dua orang sesepuh dari Bambu Hijau bahkan tidak mampu walau hanya menyentuh pakaian Karang Setan sekalipun.


Pada malam saat berlangsungnya pertarungan itu, setelah pedang satamnya berhasil menyentuh kepala bagian atas Karang Setan dan menciptakan ledakan dahsyat yang meninggalkan bekas di tanah sekitarnya sebagai sebuah parit besar, Gentayu terpental dan jatuh pingsan. Tapi ternyata, saat terjadi sentuhan antara pedang satam dengan kepala Karang Setan tersebut Gentayu tidak menyadari bahwa ilmu ‘bulan menarik samudra’nya masih aktif dan terus menyerap kekuatan pendekar legendaris tersebut. Hingga akhirnya, Gentayu terpental dan pingsan karena besarnya energi yang dilepaskan Karang setan dan diserap tubuhnya.

__ADS_1


Karang Setan sendiri tidak langsung tewas saat itu. Dia hanya terluka cukup parah ketika meninggalkan medan pertempuran. Luka parah yang belum pernah dialaminya selama berada di pulau Emas Besar ini puluhan tahun lamanya. Tentu saja Karang Setan tersinggung harga dirinya. Maka, dilampiaskannya kemarahan tersebut pada tubuh Gentayu yang sedang tidak sadarkan diri. Dihujaninya Gentayu dengan tendangan dan pukulan tenaga dalam yang tidak terlalu besar namun dirasa cukup untuk membunuhnya. Kondisi Karang Setan yang terluka-lah yang membuatnya tidak mampu mengekuarkan tenaga dalam dalam jumlah besar saat itu. Tak ada pendekar lain yang mendekat. Sakuza dan Yumiko yang berniat menolongpun tetap terlambat datang karena harus menghadapi serangan mayat hidup. Saat mereka datang, tempat itu telah sunyi kembali. Gentayu tidak ditemukan, demikian juga Karang Setan. Mereka menghilang. Tidak, mereka melihat Karang Setan melesat dan menghilang dari tempat itu namun tidak melihat Gentayu hingga saat ini.


Setelah acara penghormatan dan pemberian gelar ‘pahlawan’ kepada Gentayu selesai, para pendekar yang berasal dari Bambu Hijau segera berpamitan kepada Kepala Desa. Tugas dan misi mereka di desa ini telah selesai dengan berakhirnya teror kematian misterius tersebut.


Dari kesimpulan akhir mereka dalam misi ini, ditemukan kenyataan bahwa para penduduk desa memang dibunuh oleh kekuatan tenaga dalam yang disamarkan sebagai hantu pencabut nyawa secara halus. Pelakunya adalah tiga orang yang berhasil dilumpuhkan oleh Gentayu, Wanamar dan Kardak dari Bambu Hijau sebelumnya. Kemudian, sesaat setelah dimakamkan, makam mereka dibongkar dan jenazahnya dijadikan sebagai mayat hidup. Mayat hidup inilah yang kemudian dikerahkan untuk membunuh lebih banyak warga desa malam itu. Tentu saja selama ini aksi penciptaan Mayat hidup oleh ketiga pengendali hantu ini tidak diketahui warga karena mereka segera mengganti mayat di dalam makam dengan batang pisang untuk mengelabui keluarga dan penduduk andaikan ada yang curiga dan membongkar makam kembali untuk memeriksa keberadaan mayat di dalamnya.


Sayangnya, baik Kepala desa maupun para pendekar yang berkumpul sampai saat ini belum mengetahui dengan pasti siapa di belakang semua teror ini dan apa tujuan mereka. Kabar tentang mayat hidup, munculnya Karang Setan dan teror kematianpun segera menyebar ke seluruh wilayah Lamahtang dengan cepat.


****Nb.


Sebenarnya lucu juga, membuat novel dengan pembaca minim. Tapi saya bersyukur walaupun pembacanya belum banyak, setidaknya novel ini bisa diterima.


Untuk itu, saya selalu mengucapkan terimakasih buat pembaca setia, terutama yang rajin kasih like dan vote serta kritik dan sarannya.


Maafkan belum bisa berikan chapter harian sebanyak yang diharapkan**..

__ADS_1


__ADS_2